Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ada 'Surga' di Labuan Bajo

Pink Beach di Labuan Bajo. Dok. istimewa.

Graha Budaya
-- Prospek pariwisata Labuan Bajo terus mengalami kemajuan signifikan. Sejak dinobatkan sebagai daerah strategis pariwisata nasional oleh pemerintah pada tahun 2015, Labuan Bajo kini telah menjelma menjadi sebuah tempat wisata yang paling dicari dan diminati.

Dua tahun berselang (2017), pemerintah lagi-lagi menempatkan Labuan Bajo sebagai lima kawasan wisata yang wajib dikembangkan. Dengan ini dapatlah diasumsikan, bahwa dalam hitungan beberapa tahun ke depan, pariwisata Labuan Bajo akan berkembang pesat dan paling menjanjikan sebagai sumber devisa negara dan pendapatan regional bruto bagi pemerintah daerah.

Persis, awal tahun tahun, tepatnya di penghujung bulan Januari, Presiden Joko Widodo dan rombongan kementrian dari Jakarta mengunjungi Labuan Bajo di Manggarai Barat, NTT. Dalam kunjungan itu, Jokowi menobatkan Labuan Bajo sebagai pariwisata super premium.

Mengutip syair lagu yang sempat viral tahun lalu, "Entah apa yang merasukimu", Jokowi dalam hal ini cukup berani meski ia sendiri tahu bahwa penetapan status itu tidak mendatangkan keuntungan apa-apa. Setidaknya selepas ia menyelesaikan kepemimpinannya.

Ada 'Surga'

Tidak ada yang menyangka, bahwa Labuan Bajo akan terjadi seperti sekarang ini. Padahal beberapa dekade lalu, ketika belum dimekarkan dari kabupaten Manggarai, Labuan Bajo hanyalah sebuah “kampung” kecil di pinggir barat laut pulau Flores.

Labuan Bajo tidak pernah terhitung di antara daerah-daerah strategis lain di Flores dan NTT umumnya. Pariwisata Labuan Bajo berkembang kemudian sekali di belakang kawasan wisata strategis seperti Danau Tiga Warna Kelimutu atau Kampung Tradisional Bena.

Tapi kini, terutama ketika masuknya Taman Nasional Komodo sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia (New Seven Wonders) pada 2013, Labuan Bajo menampilkan wajah yang sama sekali berbeda.

Reptil purba varanus komodoensis. Dok. istimewa.

Salah satu daya tarik yang menonjolkan kekhasan wisata Labuan Bajo, selain TNK di pulau Komodo, adalah gugusan pulau yang berjejer indah dan mempesona di sepanjang perbatasan wilayah provinsi NTT dan NTB itu. Bila kita melakukan perjalanan wisata menggunakan kapal atau speedboat ke sepanjang jejeran pulau itu, tampaklah panorama alam yang mengagumkan.

Semua yang melihatnya pasti berdecak kagum. Apalagi itu wisata dilakukan pada musim hujan (dingin) ketika hamparan hijau sabana memanjakan mata.

Di lain pihak, wisata bahari tidak pernah mengenal musim. Jernih dan birunya laut memberi ketepersonaan tersendiri. Air laut yang tidak terkontaminasi oleh limbah pabrik, menjadi arena yang ramah untuk ber-diving dan ber-snorkeling. Taman bawah laut yang eksotis itu adalah istana bagi beragam jenis ikan, batu karang, dan berbagai biota laut lainnya yang “manja” dipandang mata.

Di Pink Beach, misalnya, selalu menjadi tempat yang wajib dikunjungi. Butiran pasir pink yang indah dan dinginnya air laut memberi “sentuhan” yang menyejukkan dahaga jiwa para pelancong. Begitu juga di Manta Poi, sebuah tempat di mana para wisatawan bisa menyelam sekedar melihat ikan pari manta. Sungguh, Tuhan telah menyediakan “surga yang lain” kepada dunia di Labuan Bajo.

Sebuah pemandangan yang sama pun akan dialami di Pulau Padar. Pulau yang kini sudah menjadi primadona atauikon pariwisata Labuan Bajo karena keindahannya yang ajaib itu menyedot daya tarik yang luar biasa bagi wisatawan.

Pemandangan pulau yang bercabang-cabang yang berpadu dengan lakukan pantai memang sangat eksotis untuk dinikmati. Di sana wisatawan akan sungguh merasakan “Keindahan” yang sesungguhnya setelah berjuang mendaki menuju puncak dari semua keindahan di pulau itu.

Dari atas puncak wisatawan bisa mendapat spot gambar terbaik. Bisa terjadi seperti rasul Petrus, wisatawan tidak akan lekas meninggalkan puncak itu sebelum mendirikan “kemah” bagi Pencipta.

Pulau Padar, ikon wisata Labuan Bajo. -Dok. istimewa.


Daya Tarik Internasional

Keindahan destinasi wisata Labuan Bajo pun sudah menjadi daya tarik internasional, bahkan mendapat pengakuan dari media internasional sekelas National Geographic dan Vogue.

Orang-orang terkenal di dunia pun tertarik untuk mengunjungi Labuan Bajo. Sebut saja pesepakbola Zlatan Ibrahimovic, pebalap MotoGP Valentino Rossi, aktris peraih Oscar Gwyneth Paltrow, dan Miss Universe Demi Leigh Nel-Peters.

Begitu juga deretan artis dan pesohor Indonesia, seperti Luna Maya, Daniel Mananta, pun beberapa orang terkenal lainnya pernah menginjakkan kakinya di Labuan Bajo.

Dan terbaru adalah perhelatan Familirization Trip (Famtrip) 2018 hasil kerjasama Kemetrian Pariwisata dengan Komisi Kepemudaan KWI pada 25-28 Februari lalu.

Famtrip itu menghasilkan video klip yang dibuat oleh anak muda, yang nantinya ditayangkan pada perhelatan akbar World Youth Day (WYD) 2018 di Panama, Tiongkok dan sekitarnya. Ada sekitar 3 jutaan anak muda yang menyaksikan video klip tersebut.

Dengan asumsi setiap orang muda mengajak kedua orangtunya, maka akan ada 9 jutaan wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo. Angka ini setidaknya bisa melebihi target pemerintah pusat yang berkisar di angka 1,5 juta pengunjung terhadap pariwisata di NTT tahun 2018.

Pulau Kanawa dengan lautnya yang bersih dan jernih. Dok. istimewa.


Kontribusi Ekonomi


Data dari Republika.co.id menyebutkan bahwa nilai pendapatan berupa penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari kunjungan wisata di Pulau Komodo, Labuan Bajo, mencapai Rp27 miliar lebih dari total sekitar 200-an ribu pengunjung selama tahun 2017.

Penerimaan untuk kas negara ini naik sekitar Rp 5 miliar lebih dari capaian tahun sebelumnya. Angka ini akan terus bertambah seiring meningkatnya arus wisata ke Labuan Bajo apalagi pada bulan Oktober tahun 2018, bertepatan dengan dilaksanakannya pertemuan IMF-World Bank di Bali.

Namun pada 2018, pendapatan daerah dari sektor pariwisata untuk Kabupaten Manggarai Barat mencapai Rp34,7 miliar. Padahal potensi keuntungan dari sektor pariwisata di Labuan Bajo dapat mencapai Rp2,3 triliun per tahun. Pencapaian ini boleh dibilang masih sangat kecil.

Secara keseluruhan, kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTT pada tahun 2017 hanya mencapai 0,7 persen. Tahun lalu ditargetkan mencapai 0,9 persen. Dan hingga tahun 2023, Pemprov NTT menargetkan capaiannya sebesar 2 persen.

Data-data ini memperlihatkan bahwa sektor pariwisata berkontribusi positif terhadap pendapatan daerah, terutama PDRB NTT. Namun tidak cukup signifikan, sebagaimana ditemukan Annia Ninda Rachmawati dalam penelitiannya tahun 2019 berjudul " Kontribusi Sektor Pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto Provinsi NTT".

Dalam temuannya, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta itu menyebutkan bahwa jumlah objek wisata di NTT berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap PDRB. Demikian halnya dengan investasi di sektor pariwisata yang masih negatif.

Disebutkan, NTT memiliki 458 objek wisata yang tersebar di 22 kabupaten, dengan mayoritas objek wisata berupa wisata alam, yaitu berjumlah 115 tempat (25% dari total objek wisata). Memang kunjungan wisatawan tiap tahun terus naik perlahan, namun tidak signifikan.

Puncak Waringin di Kota Labuan Bajo. -Dok. istimewa.


Perlu Promosi dan Investasi

Karena itu, promosi menjadi penting bagi pengembangan pariwisata, baik oleh pemerintah, swasta, maupun pegiat dan agen pariwisata lokal. Demikian halnya dengan menarik sebanyak mungkin investor untuk menanam modalnya untuk pengembangan pariwisata, dan bukan sekedar mengkapling lahan rakyat setelah dijual murah.

Namun hanya itu belum cukup. Labuan Bajo membutuhkan satu tangga ekspansi agar sektor pariwisata di Manggarai Barat, dan NTT pada umumnya dapat terangkat.

Salah satu bentuk ekspansi tersebut, yaitu seperti Sail Komodo pada 2013 yang telah melambungkan nama Komodo dan Labuan Bajo. Namun wajahnya kini dapat berubah bentuk. Misalkan saja, sebuah festival budaya skala besar dan periodik yang digelar dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat se-NTT.

Langkah ini mesti diambil agar aktivitas wisata tidak hanya terlokalisasi, tapi terhubung dengan industri budaya yang menjadi kekayaan masyarakat setempat.

Dengan itu, kita berharap bahwa event tahunan itu, misalnya digagas oleh pemerintah atau lembaga swasta, dapat terus berjalan dan menjadi satu daya tarik lain, selain wisata alam.

Saatnya kita bergerak!

Posting Komentar untuk "Ada 'Surga' di Labuan Bajo"