Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Rakyat Nagekeo: Dedu dan Ngode

Ilustrasi. Dok. istimewa.

Konon, hiduplah sebuah keluarga kecil di kampung Toto, sebuah kampung tradisional di kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Toto sendiri adalah satu daerah pegunungan, yang menurut keyakinan masyarakat merupakan tempat pertama keberadaan suku Flores, namun tidak banyak informasi yang digali tentang asal-usul kebudayaan dan masyarakat Toto.

Diceritakan, dulu di Flores hanya ada satu wilayah kecil di Toto ini. Sebagai daerah pertama di Flores, menurut mitologi yang hidup di masyarakat, hingga kini banyak masyarakat mengamini kalau orang-orang Toto adalah suku pertama yang menghuni wilayah Flores.

Menurut cerita orang tua-tua, setelah masyarakat di Toto hilang karena mereka berdiaspora, baru tersebarlah masyarakat di berbagai tempat di pulau Flores.

Di banyak tempat itu mereka malah bisa hidup lebih baik. Sehingga orang-orang Toto sendiri seolah kehilangan peradaban. Ibarat sebuah pohon, orang-orang Toto adalah akarnya, sedangkan yang lain-lain itu adalah ranting dan pucuknya. Yang berbuah justru bukanlah akarnya, tetapi ranting-rantingnya. Dari rahim masyarakat Toto inilah lahirlah satu peradaban masyarakat Flores.

Di lain pihak, bahasa yang digunakan sehari-hari memang sangat asli dan khas. Memang mirip dengan bahasa Ende-Lio dan Nage serta Ngada, tetapi sebenarnya Toto memiliki bahasa dan dialek yang sangat khas.

Ada yang khas dari suku Toto, meski tidak semua orang di Flores sendiri mengakuinya. Karena penjelasan historis belum cukup merepresentasikan kekayaan kultur yang berkembang dan dihidupi masyarakat Toto.

Kabupaten Nagekeo terkenal sebagai daerah yang memiliki padang sabana yang luas. Hampir tigaperempat bagian dari daerah ini berupa pandang sabana. Dok. tutehtravel.blogspot.com.


***

Kampung Toto tepat berada di puncak atau pundak gunung Toto, sebuah gunung tertinggi ketiga di wilayah kabupaten Nagekeo setelah gunung Ebulobo dan Amegelu. Karena berada di puncak maka hampir sebagian besar wilayah di pulau Flores bisa dilihat secara kasat mata.

Sebagai kampung induk, Toto berada persis pada sebuah dataran luas di puncak itu. Sedangkan pada sisi yang lain jurang tinggi seolah menjadi benteng perlindungan terhadap serangan musuh. Hanya ada satu jalan kecil untuk memasuki kampung itu.

Sedangkan pada sisi yang lain tidak ditemukan jalan masuk. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah petani ladang. Namun ladang mereka terletak agak jauh dari kampung itu, sehingga jika ke ladang, mereka harus memerlukan lebih banyak waktu untuk berjalan kaki.

Di ujung kampung besar itu terdapat sebuah telaga (Toto: Poma/Tiwu). Walaupun berada persis di dekat kampung, namun masyarakat tidak pernah mengambil air dari telaga itu untuk diminum atau untuk apapun. Sumber air di tempat itu hanya dikhususkan sebagai tempat dilaksanakannya upacara adat untuk ‘mendatangkan hujan‘.

Menurut kepercayaan mereka, dengan dilakukannya upacara di situ maka hujan pun bisa turun. Biasanya upacara itu dibuat ketika menjelang musim hujan. Atau, ketika hendak menanam padi di lahan, tetapi hujan belum juga tiba, maka mereka dengan amat yakin memohon pertolongan nenek-moyang dalam upacara yang sakaral itu.

Dalam bahasa setempat upacara dimaksud disebut dengan Kose. Kose berarti mempersembahkan makanan (kurban) khusus, biasanya kurban binatang seperti ayam atau babi, kepada ‘roh’ atau ‘penghuni tempat sakral’ itu. Makanan itu dimasak dalam sebuah bambu (Toto: Au).

Ketika sudah masak, makanan itu terlebih dahulu dipersembahkan untuk ‘roh’ yang dipercayai dengan menyimpannya dalam satu wadah tertentu. Biasanya menggunakan wadah tempurung kelapa.

Setelah diucapkan mantra, sambil bersujud, orang yang dipercayakan memimpin upacara itu menaruh wadah tersebut di dalam batu besar atau kayu besar: tempat di mana mereka meyakini ‘roh’ itu berdiam. Seusai memberikannya kepada ‘roh’ itu, barulah mereka memakan pula makanan yang telah dimasak tadi. Makanan itu dimakan sampai habis; tidak boleh tersisa.

Di Poma Toto biasanya mereka akan menebarkan makanan itu ke dalam telaga. Baru setelah itu mereka mengambil sebatang kayu untuk meriak-riakan air di telaga tersebut. Sebab mereka yakin bahwa air itu adalah air hujan (Toto: Ae Uya).

Sehari setelah upacara dibuat biasanya hujan langsung turun, bahkan langit akan mendung sekonyong-konyong ketika mereka belum pulang ke rumah.

Pulalu Kinde adalah salah satu destinasi wisata baru di Kabupaten Nagekeo. Letaknya ada di Desa Tendakinde, Kecamatan Wolowae. Dok. egindo.co.


***

Keluarga kecil itu memang amat sederhana, namun mereka cukup terpandang dalam masyarakat di kampung itu karena memang mereka berasal dari keluarga “kelas atas”. Keluarga itu memiliki kedua putri yang jelita. Yang sulung bernama Dedu dan yang lain bernama Ngode. Sedangkan hingga kini, nama kedua orangtua Dedu dan Ngode masih tersimpan sebagai rahasia. Nama mereka seolah begitu sakral, sehingga terlalu lazim untuk diwariskan kepada anak cucu.

Nama mereka tidak diketahui oleh siapapun. Walau berparas cantik tidak membuat keduanya berbangga atau merasa paling hebat. Bersama kedua orangtuanya, mereka selalu berusaha menyenangkan hati dengan melakukan apapun pekerjaan yang diberikan. Entah berat ataupun ringan tidak menjadi tantangan bagi mereka. Apapun halnya sama saja.

Sejak kecil mereka memang telah diajarkan untuk bekerja. Sebagaimana tata sosial masyarakat di kampung itu, bahwa anak-anak harus berbakti kepada orangtua. Baik laki-laki atau perempuan bukanlah hal yang mesti diistimewakan. Laki-laki dan perempuan sama-sama bekerja.

Namun bagi keduanya pengalaman kehidupan agak berbeda dari anak-anak lain di kampung itu. Sejak kepergian ibu mereka ke alam baka, karena keduanya masih kecil, maka ayahnya memperistri lagi seorang perempuan muda di kampung itu.

Akhirnya mereka mempunyai seorang ibu baru, seorang ibu tiri. Dari perkawinan ayah mereka dengan ibu tiri itu tidak mendapatkan seorang anak pun. Ibu tiri mereka semakin hari semakin keras terhadap mereka.

Hal itu tentu disebabkan oleh tiadanya anak yang terlahir dari perkawinannya, padahal sebagai ibu yang masih muda, ia layak untuk mendapatkan anak yang sehat dan baik. Dan ketika semua mimpinya itu tidak dipenuhi, maka kedua putri tirinya menjadi lahan empuk untuk menyalurkan emosinya yang terbungkam. Sebenarnya dianggap wajar kalau ia mengeluhkan hal itu kepada suaminya. Namun itu tidak dilakukannya.

Hal ini tidak cukup mengherankan karena pada masa itu, laki-laki amat mendominasi strata sosial masyarakat. Laki-laki selalu menjadi nomor satu, sedangkan perempuan berada pada nomor yang terakhir. Jika laki-laki harus makan di depan ruang tamu, maka perempuan (istri), dan juga anak-anak secara otomatis duduk (makan) di dapur. Ini sebuah tradisi kebudayaan. Bagi mereka hal itu bukanlah buruk, atau mengadung unsur diskriminasi. Itu sangat lazim.

Pada musim kemarau, ketika musim panen usai, sang ibu tiri menugaskan keduanya untuk menumbuk jagung solot (Toto: Yodo). Setiap hari selalu saja diberi tugas yang sama yaitu menumbuk jagung solot itu. Walaupun demikian, keduanya tidak pernah mengeluh atau melawan. Waktu itu keduanya sudah memasuki masa-masa remaja sedang perbedaan umur keduanya tidak terlalu jauh. Dedu berumur kira-kira 18 tahun sedangkan Ngode berumur sekitar 16 tahun.

Sebagai gadis remaja, tentu keduanya selalu berkeinginan untuk bermain bersama teman-teman sebaya. Namun itu tidak pernah terjadi. Keduanya sangat dijaga ketat oleh orangtua.

Jarang sekali keduanya bermain bersama teman-teman atau anak-anak di kampung itu. Mereka begitu tertutup. Dan salah satu jalan terbaik untuk mengungkung naluri keremajaan mereka adalah dengan menugaskan mereka menumbuk jagung solot tiap hari.

Apalagi hasil panen mereka dari ladang melimpah pada tahun itu dan cukup untuk hidup setahun. Bagi masyarakat setempat, dengan hasil yang demikian, bisa dijamin bahwa selama tahun itu mereka akan cukup bahan makanan.

Karena tidak jarang terjadi bahwa banyak masyarakat yang kehabisan bahan makanan ketika memasuki musim tanam. Itu biasanya terjadi di sekitar bulan Januari sampai dengan April. Itulah masa-masa di mana masyarakat hanya bisa mendapatkan bahan makanan dengan memakan ubi-ubian, ubi hutan (Toto: Ondo) misalnya.

Musim kemarau sebagai musim di mana orang-orang, anak-anak khususnya, untuk bergembira-ria dengan melakukan banyak permainan tidak pernah dialami oleh Dedu dan Ngode. Memang dulu ketika Ibu mereka masih hidup, mereka diberi kebebasan yang cukup untuk itu. Ibunya sangat mengerti bagaimana seharusnya memperlakukan anak-anak perempuannya.

Karena secara sosial, mempunyai anak perempuan sangat berarti. Bahwa dengan anak perempuan, suatu saat, ketika anaknya menikah, maka mereka akan mendapatkan banyak mahar kawin berdasarkan tradisi-adat setempat.

Bagi mereka yang berasal dari keluarga berada, akan dibayar mahal oleh mempelai laki-laki. Entah hewan besar seperti kerbau, sapi, kuda, ataupun hewan kecil seperti kambing, domba, dll.

Bersama Ibu mereka yang terdahulu, mereka senantiasa mendapat kebahagiaan tersendiri. Satu kebahagiaan yang tidak pernah mereka alami setelah Ibu mereka itu menghembuskan nafas terakhir.

Mereka bahagia karena Ibu mereka tidak menugaskan pekerjaan-pekerjaan berat bagi seorang anak perempuan. Mereka juga bahagia karena Ayah mereka tidak diam saja seolah tidak peduli dengan keadaan mereka.

Ayah mereka selalu diam saja ketika Ibu mereka meninggal dan mempunyai istri baru. Sehingga apa yang dilakukan oleh istrinya itu selalu dianggap baik karena ia tidak pernah mau bicara. Diamnya Ayah mereka berarti setuju.

Begitulah mereka menyimpulkan ketika sedang berduaan mereka saling mencurahkan isi hati satu sama lain. Satu keluhan batin yang tidak pernah terungkapkan hingga ajal menjemput keduanya. Entah kepada Ayah mereka ataupun ibu tiri mereka. Semuanya disimpan dalam hati terdalam. Keduanya hanya berdoa kepada nenek moyang agar segalanya cepat berlalu.

Hampir setiap hari keduanya mendapat tugas yang sama. Namun keduanya tidak bersungut-sungut. Dengan ikhlas hati mereka menerima beban berat itu.

Suatu hari ibu tiri mereka menyuruh keduanya menumbuk jagung solot lebih banyak dari yang sebelum-sebelumnya. Sejak pagi hingga siang hari keduanya melakukan tugas itu. Sedangkan orangtua mereka ke ladang untuk memberi pakan kepada hewan piaraan. Entah apa yang menggerakan mereka hari itu, mereka kelihatan sangat bersemangat.

Berkarung-karung jagung solot ditumbuk, tetapi tidak terasa bahwa jagung itu telah habis. Rasa lelah pun sirna. Sambil menumbuk mereka melantunkan syair-syair pantun yang indah sekali sekedar menghibur hati yang kecut. Pantun itu diucapkan berulang-ulang dengan kata-kata yang sama. Pantun itu berbunyi demikian:

“Dho Yodo mada, dho ha dho ha;

Pi’a Ke’o kedi, pi’a hei pi’a hei”.

Artinya kira-kira mendekati pengertian seperti ini:

“Tumbuklah Jagung Solot, tumbuklah dengan sukacita;

Titi-lah jagung, titi-lah dengan gembira-ria”.

Tak terlalu banyak istirahat, sehingga tubuh mereka bergatalan di mana-mana. Karena terlalu gatal maka mereka memutuskan untuk mandi. Entah apa yang berbisik dalam batin mereka, bukannya mereka mandi di tempat biasa di mana mereka sering mengambil air untuk minum atau mandi, tetapi mereka mandi di telaga Toto (Poma Toto) di ujung kampung itu. padahal sebelumnya jarang sekali orang mengunjungi telaga tersebut.

Selain karena telaga itu dianggap mistis karena telah mereka jadikan tempat dibuatnya upacara adat, telaga Toto juga dipercayai oleh masyarakat sebagai “ubun-ubun” laut Flores.

Sejak zaman itu, mereka meyakini bahwa ada satu jalur air yang menghubungkan Poma Toto dengan laut Flores di pantai utara. Walaupun merupakan sebuah jalur air laut, namun air di Poma Toto itu tetaplah air tawar; tidak seperti rasa air laut: asin. Hingga kini kepercayaan mistis itu masih bertahan.

Hari itu tidak dianggap kebetulan bahwa masyarakat kampung Toto semuanya berangkat ke ladang masing-masing. Yang tersisa di kampung hanyalah Dedu dan Ngode berdua dengan seorang nenek yang umurnya sudah uzur. Sedangkan nenek tua itu tidak bisa lagi berjalan; hanya duduk di rumah. Situasi kampung memang benar-benar tenang. Sehingga apa yang akan mereka kerjakan tidak lagi mesti berada di bawah pengawasan orang-orang yang lebih dewasa.

Ketika keduanya memutuskan untuk mandi di telaga itupun tidak dihalangi oleh siapapun. Namun sang nenek bisa melihat keduanya berjalan melewati depan rumahnya. Sang nenek agak curiga dan memang kecurigaannya benar. Keduanya mandi di telaga Toto. Sang nenek mempunyai firasat kurang bagus ketika mereka berjalan ke arah telaga itu.

Memang keduanya agak tergesa-gesa melintasi jalan ke telaga itu. Mungkin itulah saat bagi keduanya untuk pergi selamanya. Dan menurut kepercayaan orang-orang di kampung itu, meninggalnya seseorang bisa diterawang melalui bagaimana ia bersikap pada satu momen tertentu yang dianggap aneh dan mustahil; tidak seperti biasanya. Seperti Dedu dan Ngode, sang nenek meramalkan bahwa keduanya ke telaga Toto untuk menjemput ajal mereka.

Sesampai di telaga, keduanya menurunkan semua pakaian dan segala perhiasan. Tidak butuh waktu terlalu sebab tubuh mereka sedang kegatalan. Sebagai putri dari keluarga terpandang (baca: bangsawan), keduanya melepaskan perhiasan kebangsawanan, yaitu apa yang disebut dalam bahasa Toto sebagai Mitekunda (Indonesia: manik-manik).

Manik-manik itu biasanya disematkan pada leher perempuan dengan warna-warninya. Jadi manik-manik dipakai hanya mau menunjukkan bahwa seseorang itu berasal dari keluarga apa: keluarga bangsawan atau keluarga hamba.

Walau demikian, Dedu dan Ngode tidak pernah enggan untuk bergaul dengan teman-teman sebaya, ketika dulu mereka masih cukup kesempatan untuk bebas. Namun dengan hadirnya ibu tiri, mereka hanya bisa bermain di dalam rumah. Tambahan pula, keduanya diberi tugas, atau bisa dikatakan sebagai bentuk sanksi, untuk menumbuk jagung solot hingga selesai.

Semua pakaian dan perhiasan telah ditanggalkan. Telaga begitu tenang. Air-nya pun sangat jernih, sehingga bisa memantulkan wajah mereka yang kusam. Telah berhari-hari mereka tidak bercermin. Apalagi ketika siluet matahari siang yang terik beriak-riak di atas air seperti berkepak-kepak. Di bawah naungan beringin, membuat telaga Toto begitu pesona.

Seperti seorang gadis, Poma Toto tersenyum kepada keduanya. Senyum itu begitu memesona. Lantaran selama ini jarang mendapatkan senyum, karena ibu tiri selalu marah-marah dan Ayah mereka yang diam saja, keduanya tidak sabar lagi untuk merasakan hangatnya air di telaga itu. Rasa gatal yang menjamur di seluruh tubuh keduanya menambah pula gairah untuk mandi.

Padahal menurut keyakinan adat di kampung itu, pada siang bolong tidak diperbolehkan untuk mandi. Apalagi mandi di tempat yang sakral semisal Poma Toto. Bukan hanya mandi, mengambil air pun menjadi hal yang tabu bagi mereka.

Menurut kepercayaan mereka, waktu siang hari selalu diidentikkan dengan saat di mana para jin atau roh-roh halus menampakkan diri. Mereka selalu berpegang teguh keyakinan bahwa jika roh-roh atau jin-jin itu menjumpai orang yang berada sendirian di tengah hari, atau yang berani mengganggu keberadaan mereka, maka mereka akan mengambil (baca: menghilangkan nyawa) orang itu (Toto: Nitu Poto).

Jarang ‘orang biasa‘ bisa menerawang keberadaan mereka. Sebab hanya ‘orang-orang khusus‘ yang bisa ‘melihat’ (menerawang) di mana mereka berada.

Sebelum menceburkan dirinya ke dalam telaga, mereka berdua saling berdebat soal siapa yang terdahulu melompat ke dalam telaga. Dedu memaksa adiknya, Ngode, untuk menceburkan lebih dahulu, namun Ngode menolaknya.

Sebaliknya, adiknya pun meminta sang kakak untuk mendahuluinya. Hal ini tentu wajar karena berdasarkan tradisi, yang terdahulu melakukan sesuatu adalah yang lebih kakak. Di sini Ngode benar. Namun Dedu pun seolah mencemarkan tradisi ini. Ia memaksa Ngode untuk mendahuluinya.

Di lain tempat, dalam hal perkawinan, seorang adik (perempuan) tidak boleh melanggar seorang kakak (perempuan) untuk mengambil suami. Jika itu terjadi, maka sang adik mesti membayar mahar tertentu sesuai kesepakatan sebagai ‘penebusan‘ atas kesalahan (“pelanggaran“) yang dibuatnya.

Setelah cukup lama berdebat, Lelu akhirnya mengalah karena memang ia sadar bahwa sebagai kakak ia mesti lebih dahulu mandi. Sebenarnya wajar jika keduanya berdebat lama. Sebab tidak pernah ada orang yang mandi di telaga itu.

Kedua kakak-beradik ini adalah yang pertama. Entah apa yang menggerakan mereka, itu sangat misteri. Mungkin itulah jalan bagaimana keduanya harus mengakhiri nasib buruk bersama ibu tirinya. Di dalam batin mereka sebenarnya ada perasaan takut karena tempat itu sangat angker.

Aroma kemistisan bisa dihirup jika berada sendirian di sana. Selain itu, birunya air di telaga itu pun turut memengaruhi emosi keduanya untuk memutuskan siapa yang terdahulu mandi. Telaga itu memang sangat dalam. Warnanya seperti air laut.

Setelah Dedu melompat dan menceburkan dirinya ke dalam telaga, ia tidak lagi muncul di permukaan. Hingga riakan air berhenti, Dedu tidak juga muncul. Ngode kelihatan bingung. Ia agak ragu untuk mandi. Ia bertanya-tanya kemanakah gerangan sang kakak.

 Apakah ia sedang menyelam, ataukah ia membuat satu lelucon dengan bersembunyi di dalam air. Ngole mulai khawatir. Bulu kuduknya mulai berdiri.

Kepalanya terasa semakin besar. Ia berjaga-jaga jangan sampai ada orang yang sekonyong-konyong menculiknya. Ia menerawang ke dalam telaga, tetapi tidak ada riakan air yang menandakan bahwa kakaknya ada.

Air kembali tenang.

Ketika di menengok lagi yang didapatnya hanyalah wajahnya sendiri. Akar-akar beringin yang menjulur tinggi dari tanah hingga ke ranting-rantingnya seolah hendak mengisapnya masuk ke pelukan mistisnya. Ngole semakin takut. Tubuhnya gemetaran. Padahal ia belum mandi. Di siang hari tubuh menggigil selalu berarti buruk.

Akal sehatnya sudah tidak lagi berfungsi. Pikirannya kini terpusat pada titik-titik air yang terjalin. Ia bisa melihat sulur-sulur air karena memang ia hanya fokus pada telaga di depannya.

Tanpa berpikir panjang lagi, Ngode pun menceburkan dirinya ke dalam telaga. Ia pun tidak muncul lagi. Ia hilang seperti kakaknya. Sebenarnya ia ingin mencari kakaknya di dalam air. Mungkin saja kakaknya tenggelam.

Tetapi apakah memang orang yang tenggelam tidak lagi terapung? Pertanyaan itulah yang membuat ia mengikuti jejak kakaknya bercebur ke dalam air. Di dalam sana ia tidak melihat kakaknya.

Dedu telah hilang jejak.

Kemanakah sang Kakak menghilang. Sepertinya mereka tidak tahu kalau Poma Toto itu adalah ‘ubun-ubun’  dari laut Flores. Sangat lazim dalam kebudayaan mereka bahwa jarang sekali orangtua mewariskan atau menceritakan sesuatu yang penting kepada anak perempuan.

Bagi mereka perempuan tidak bisa dipercaya dalam menjaga suatu rahasia yang penting. Keputusan untuk mandi di telaga Toto pun merupakan konsekuensi dari ketidaktahuan mereka.

Sedang mereka menghilang dalam telaga, pakaian dan perhiasan tertinggal di pinggir telaga. Poma Toto menjadi begitu hening. Seolah puas karena telah melahap dua nyawa gadis tak berdosa, beringin meliuk-liuk karena diterpa angin sepoi basa yang sejuk.

Bunyi yang dihasilkan karena gesekan batang-batang beringin pun memberi pesan bahwa ‘sang penghuni‘ cukup gembira menyambut kedatangan dua nyawa: Dedu dan Ngode.

Sore menjelang malam pulanglah kedua orangtua mereka ke rumah. Setibanya di rumah didapati rumah kosong. Tenang sekali. Seolah tidak ada penghuni. Jagung solot yang sudah ditumbuk disimpan rapi di sudut rumah. Sudah dibersihkan. Jagung solot itu siap untuk dimasak. Di belakang rumah, api dapur padam.

Memang, sejak kepergian orangtua mereka ke ladang, Dedu dan Ngode tidak menyentuh dapur sekedar untuk memasak air atau menanak nasi. Keduanya hanya meminum air saja. Pantun seolah telah menghipnotis mereka sehingga bisa bertahan terhadap lapar. Segera sang Ayah memanggil nama keduanya.

Nihil. Tidak ada yang menyahut.

Dipanggilnya lagi nama mereka berdua. Hening. Ibu tiri pun mulai panik. Ia mencari-cari di sekitar belakang rumah. Juga di sudut-sudut rumah. Tidak menemukan bayangan siapa-siapa. Orangtua mereka semakin panik, marah-marah sambil menyumpah-nyumpahi mereka.

Setelah memanggil-manggil anak-anaknya, akhirnya mereka keluar agak jauh dari rumah untuk memanggil pula. Tidak ada yang menyahut.

Malah banyak orang dengar dan mereka bertanya-tanya pula. Kehilangan dua orang anak gadis pasti menyisakan satu kesan atau dilema tertentu. Hanya ada dua kesimpulan umum: atau mereka diculik oleh para pemuda, atau mereka ‘kawin lari‘ dengan seseorang pemuda.

Hari belum terlalu malam.

Walau cukup lelah karena bekerja seharian di ladang tidak menyurutkan niat orangtuanya untuk mencari anak mereka yang hilang tanpa jejak. Di rumah pun lampu belum dipasang. Rumah gelap. Sedang mereka menjadi sangat panik, datanglah seorang nenek yang sudah amat renta. Ia merasa perlu untuk menyampaikan apa yang tadi siang dilihatnya.

Dari depan rumahnya ia memberitahukan kepada orangtua Lelu dan Ngole bahwa tadi siang secara tidak sengaja ia sempat melihat kedua anak itu melintas di depan rumahnya.

Mereka berjalan ke arah telaga Toto. Entah kemana mereka pergi, yang penting bahwa nenek itu melihat mereka tergesa-gesa melintas menuju Poma Toto. Tedeng aling-aling, sang Ayah langsung bergegas menuju telaga. Banyak ortang lain pun yang mengikutinya.

Sepanjang jalan ia menyumpahi anak-anaknya. Mengapa mereka sampai pergi ke telaga itu? Apa yang mereka lakukan di sana? Tidak takutkah mereka ke sana di waktu siang bolong? Begitulah gemuruh pertanyaan yang melintas di dalam pikiran sang Ayah.

Dengan amat tergesa-gesa gerombolan sang Ayah menuju telaga sambil memanggil-manggil nama keduanya: Dedu dan Ngode. Suasana kampung menjadi amat ribut. Kebanyakan masyarakat yang menyesalkan perbuatan anak-anak itu.

Sebagaimana kepercayaan yang berakar dalam masyarakat, bahwa anak-anak (perempuan) yang di siang hari mandi di telaga itu sama dengan mengantar nyawa kepada nenek moyang (Toto: Nitu Pa‘i).

Setibanya di telaga mereka mendapati pakaian dan perhiasan yang sebelumnya dipakai Dedu dan Ngode tertinggal di pinggir telaga. Sang Ayah tidak lagi bertanya-tanya. Ia sangat yakin kedua putri tercintanya tenggelam di dalam telaga.

Getaran kepanikan makin membuncah di dalam jantungnya. Sedang air di telaga itu begitu tenang, teduh sekali. Tidak ada pula indikasi bahwa mereka sebelumnya mandi seperti percikan air di pinggir telaga. Pakaian dan perhiasan ditaruh dengan sangat rapi.

Tak lama berselang datanglah sang ibu tiri. Setelah mengetahui pasti bahwa kedua putrinya telah tenggelam dalam telaga, ia tak bisa lagi menahan tangis. Air mata jauh berderak dan pecahlah tangisannya. Semua orang yang ada di situ menatap kosong ke dalam telaga.

Mereka tidak yakin kalau Dedu dan Ngode telah tenggelam di dalamnya. Mereka mempunyai firasat lain. Mungkin saja kedua perempuan jelita itu diambil oleh Nitu, ‘roh penghuni tempat itu‘. Sang ibu tiri duduk tersedu-sedu sambil meremas-remas pakaian putrinya dan memeluk manik-manik erat-erat di dalam dadanya. Ia benar-benar menyesali perbuatannya.

Selama ini ia telah bertindak melebihi taraf kekerasan. Sanksi untuk menumbuk padi bukan lagi semacam hukuman fisik, tetapi lebih jauh ia berpikir itu adalah caranya untuk mengasingkan kedua putrinya dari lingkungan. Lebih kejam lagi, sanksi itu diberlakukan sebagai peluapan emosi dan naluri keibuannya yang menginginkan anak, tetapi tak kunjung hamil.

Setelah terpekur lama menatap beningnya air, sang ayah pun merasa firasatnya sejalan dengan orang-orang lain itu. Tidak mungkin mereka tenggelam di dalam telaga sedangkan pinggir telaga pun tidak tertimpa basah. Tubuhnya hancur berantakan. Ia yang selama ini diam saja melihat perlakuan sang ibu tiri, hari itu ia tidak tega kehilangan putrinya yang jelita. Anak-anaknya telah membanggakan dirinya.

Selain bahwa satu hari kelak ia akan memperoleh mahar kawin yang besar, di dalam hatinya ia selalu menginginkan kedua putrinya itu membuatnya tersenyum. Itu saja cukup.

Dan untuk membuktikan apakah putri-putrinya benar tenggelam di dalam telaga, ia, bersama dengan yang lain, membuat satu perjanjian. Diambilnya alu yang selama hari-hari terakhir itu digunakan oleh kedua anaknya untuk menumbuk jagung solot.

Sambil memegang alu, dengan lantang sang Ayah bernazar: “Jika memang benar kalian berdua tenggelam di dalam telaga ini, maka alu ini tidak akan muncul lagi di permukaan air. Tetapi jika tidak, maka alu ini akan muncul lagi.“

Sang Ayah dengan teguh mengucapkan kata-kata itu. Dalam hati ia berharap agar alu itu muncul lagi. Itu bisa berarti bahwa kedua putrinya tidak tenggelam dan mati. Di sudut lain hatinya, ia cukup berat mengucapkan nazarnya itu.

Namun apapun terjadi, ia dengan lapang hati menerimanya. Ia sadar bahwa selama ini ia telah membiarkan anak-anaknya ditindas oleh istri barunya. Ia sangat berdosa atas ke-diam-annya. Ia sadar bahwa ia telah takhluk di bawah tumit istrinya.

Itu ia lakukan hanya karena ia mencintai istri mudanya; ia tidak ingin melukai perasaan istrinya. Walau jauh di lubuk hatinya, ia menahan kepedihan.

Alu telah dilempar. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan muncul. Sampai riakan air berhenti, alu tetap di bawah sana. Telaga menjadi tenang kembali. Semua mata yang hadir menatap penuh tanda tanya ke dalam telaga.

Dahi mereka berkerut.

Mereka mengamini bahwa Dedu dan Ngode telah tenggelam di dalamnya. Mereka telah mati. Semua orang menepuk-nepuk dada dan menggeleng-gelengkan kepala. Dalam hati banyak orang di kampung itu, mereka mengutuki perbuatan sang ibu tiri. Dasar ibu yang jahat! Ibu yang tidak tahu merawat anak; ibu yang tidak punya hati!

Tak dinyanai, selang beberapa saat setelah pelemparan alu itu, seolah telah terbawa halusinasi kemistisan telaga itu, mereka melihat jauh ke arah laut Flores dan mendapatkan dua patung batu berdiri kokoh di sana. Mereka yakin bahwa itu adalah Dedu dan Ngode.

Keduanya telah berubah menjadi patung batu. Hal itu tentu tidak aneh bagi mereka. Bahwa mereka telah percaya bahwa telaga Toto merupakan ‘ubun-ubun’ dari laut Flores di pantai utara.

Sedangkan laut Flores bisa dilihat secara kasat mata dari puncak Toto. Bahkan gulungan ombak dengan buih-buih putihnya bisa dipandang dari atas kampung itu.

Memang kampung Toto sangat strategis, persis berada di ketinggian yang membagi langsung pantai utara dan pantai selatan Pulau Flores. Dari kampung itu pula, sekarang sudah tinggal sebuah gunung, kita juga dapat melihat kota Ende atau Nangapanda di pantai Selatan.

Selain karena kampung itu terletak ± 1000 meter dpl, atau sebagai kampung induk, dan berada persis di tengah-tengah pulau Flores, dari gunung Toto seolah mengalir dua anak sungai yang membelah di bagian pertengahan Pulau Flores. Satunya mengalir ke Wolowae dan yang lainnya mengalir ke Nangamboa, di Kecamatan Nangaroro.

Lalu keesokan harinya, berangkatlah orangtua Dedu dan Ngode beserta keluarga yang lain ke pantai di mana lokasi patung itu ada. Patung itu berdiri tegak di pinggir pantai Watubhaya, dekat Kotajogo, Anakoli, kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo.

Wajah patung batu itu sangat mirip manusia, persis membentuk wajah keduanya. Yang satu agak bungkuk karena Dedu, sebagai yang sulung, lebih tua, sedangkan yang lain berdiri tegak karena menunjukkan bahwa Ngode yang lebih muda. Tinggi patung itu mencapai ± 3 meter dpl.

Riakan ombak yang menghantam sisi-sisinya seolah ingin mengatakan bahwa mereka bahagia dan terus menyenandungkan syair-syair pantun seperti yang dilantunkan ketika mereka menumbuk jagung solot. Wajah mereka tak pernah muram. Keceriaan terpancar dan berseri-seri dari balik mata yang menyapa setiap orang yang memandang keduanya.

Hati kedua orantuanya hancur berantakan. Luruh. Berkeping-keping jatuh berderai. Air mata seolah lelah untuk menangisi. Mata tak mampu memandang putri-putri mereka yang kini telah membatu. Wajah merunduk. Tak ada lagi cukup kalori untuk kembali ke rumah. Sang ibu tak tega menepis bayangan penyesalan di batinnya. Sambil mencakar-cakar, ia mencium tanah di mana kedua putrinya kini berada.

Selamanya mereka telah menjadi batu.

Pantai Kotajogo di Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo. Dok. novieaazizah.blogspot.com.


Setelah cukup untuk memandang-mandang putri mereka, pulanglah mereka ke rumah. Setiba di rumah, sang Ayah memilih untuk mengurung diri. Ia tidak ingin diganggu siapapun, istrinya bahkan. Ia berpuasa untuk menebus semua dosa-dosanya.

Sementara sang ibu pun menjadi lebih diam. Dia diam karena memang tidak ada lagi orang yang mau diajaknya bicara. Pun tak ada orang yang menjadi sasaran kemarahan dan depresinya. Semua kata ditelan di dalam dadanya. Rumah mereka berubah menjadi tempat meditasi. Tenang, sangat tenang.

Selama beberapa hari keduanya tidak pernah keluar rumah. Ladang dan semua hewan piaraan dibiarkan begitu saja. Namun untunglah ada saudara ipar (saudara dari sang istri) mereka yang mengurus semua hal di ladang.

Sang istri hanya bergerak untuk menanak nasi atau memberikan makan kepada sang suami. Dedu dan Ngode telah hilang. Keduanya kini seperti orang yang dirasuki kesepian di penghujung usia. Segala sesuatu tampak absurd.

Dalam batin mereka menginginkan putri-putrinya tetap ada. Sang Ayah telah kehilangan wajah yang selalu tersenyum untuknya. Bukan hanya itu. Ia kehilangan segalanya.*

Sumber: Wawancara dengan Om Matheus Dengu dan Kakak Blasius Mare.

7 komentar untuk "Cerita Rakyat Nagekeo: Dedu dan Ngode"

  1. Cerita yang bagus..berbobot.

    Semoga makin banyak blogger dari NTT

    Admin

    biropesona.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Trima kasih Abang. Salut.

    BalasHapus
  3. Luar biasa...pernh dngr crtax tp wktu msh kcl๐Ÿ˜๐Ÿ‘

    BalasHapus
  4. Mantap ro, Ada banyak nilai2 positive kehidupan yang dapat diresapi dari cerita ini. Sukses selalu dalam semua usaha dan karymu. trmksh bnyak.

    BalasHapus
  5. Terimakasih postingannya,,sya asli Watuapi,,sejak kecil sya sering mendengar cerita ini,dan sya jga pernah berkunjung ke patung Dedu & Ngode.,, dan masih banyak lg cerita rakyat Watuapi. Salam๐Ÿ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 kae. Semoga masih banyak cerita rakyat yang bisa kita angkat. Salam ke Watuapi.

      Hapus