Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kesaksian Hidup: Melayani dengan Cinta

Maria Yemato Yenjeli Asmat dalam sebuah acara Makan Siang Nata. Dok. Yen Asmat.

Mentari mulai membentuk kemiringan kira-kira 135 derajat ketika mereka memasuki gerbang bruderan Missionary of The Poor (MOP) Labuan Bajo. Biara itu punya sebuah panti bagi anak-anak dengan kemampuan berbeda (different ability).

Komunitas religius yang khusus melayani kaum difabel itu terletak persis di jantung kota Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sehingga bisa mengakomodasi jarak dan waktu bagi mereka untuk berjumpa dan berbagi.

Waktu itu kira-kira pukul 16.00 WITA. Anak-anak panti menyambut mereka persis di depan pintu gerbang biara. Bukan dengan nyanyian dan tarian, atau pukulan gong gendang dan tarian Caci khas tradisi Manggarai, tapi dengan salaman dan senyuman polos.

Sambutan hangat anak-anak ketika dikunjungi setiap Sabtu sore itu memberi sesuatu yang berbeda dalam hidup mereka. Ada sebuah ruang kosong di dalam diri yang terisi seketika. Meski tidak sepenuhnya terisi, tapi ruang itu tetap terbuka hingga diisi lagi, dan lagi.

“Kami tidak tahu perasaan apa yang muncul ketika anak-anak itu menyalami kami di pintu gerbang. Tapi yang pasti hati kami tersentuh. Senyuman mereka yang jujur dan polos membuat kami terpanggil untuk menjalin persahabatan yang lebih sungguh. Setiap Sabtu sore mereka pasti sudah tunggu kami di gerbang. Sepertinya mereka sudah hafal kapan kami datang. Memang pertama kali kami ke sana tidak begitu. Tapi lama-lama mereka mulai mengerti dan spontan menanti kehadiran kami,” ungkap Maria Yemato Yenjeli Asmat (27), penanggung jawab komunitas Sant’ Egidio Labuan Bajo dalam sebuah wawancara medio 2018 lalu.

Yen, demikian sapaan akrabnya, disebut penanggung jawab dan bukan ketua komunitas seperti organisasi atau kelompok struktural-kategorial lain, karena sebagaimana garis kebijaksanaan komunitas, tidak ada jabatan struktural atau hierarki di dalam komunitas mereka.

Memang ada struktur organisasi seperti penanggung jawab, bendahara, sekretaris, dsb., tapi itu bukan jabatan organisatoris, tapi lebih kepada jabatan fungsionaris.

Cici dan Yun Asmat foto bersama seorang anak disabilitas di Bruderan MOP Labuan Bajo. Dok. Yen Asmat.

Tentang Sant' Egidio


Komunitas Sant’ Egidio sendiri adalah sebuah komunitas awam Katolik, khususnya kaum muda, yang didirikan Andrea Riccardi pada 7 Februari 1968, di Roma, Italia. Komunitas ini sudah tersebar ke seluruh dunia seperti di Amerika, Afrika, Eropa, dan Asia.

Komunitas ini masuk ke Indonesia pada tahun 1991 di kota Padang lalu berkembang di beberapa kota seperti Yogyakarta, Aceh, Nias, Medan, Duri, Pontianak, Jakarta, Bogor, Kupang, Semarang, Denpasar, Maumere, dan Atambua. Sementara itu, di Labuan Bajo baru didirikan pada 6 Mei 2017.

Komunitas ini pertama-tama dididirikan untuk membangun jembatan cinta kasih di antara semua umat manusia, tanpa membedakan agama, suku, ras, dan golongan.

Fokus pelayanan mereka adalah ada bersama dengan orang-orang lemah, kaum miskin dan terlantar, lansia, korban perang, gelandangan, orang sakit, penderita kusta dan HIV/AIDS, serta bentuk-bentuk kemiskinan lainnya.

Ada empat spiritualitas yang mencirikan cara hidup komunitas ini: pertama, Doa: merupakan pusat dan dasar bagi hidup komunitas; kedua, komunikasi Injil: jantung hidup komunitas, yaitu dengan menjadi Gereja bagi semua orang terutama kaum miskin; ketiga, ekumenisme: hidup dalam persahabatan dan doa dengan persekutuan umat Kristiani di seluruh dunia; dan keempat, dialog: sebuah jalan damai dan kerjasama antar agama.

Anggota komunitas Sant' Egidio melayani anak-anak disabilitas di Bruderan MOP Labuan Bajo. Dok. Yen Asmat.

Pada Mulanya adalah 'Panggilan'


Kehadiran komunitas Sant' Egidio di Labuan Bajo telah memberi sesuatu yang positif bagi kehidupan kaum muda di kota itu, terutama bagi anak-anak panti yang mereka layani.

Kesaksian hidup yang mereka sharing-kan memuat kesan bahwa hidup mereka telah diubah dalam perjumpaan mereka dengan komunitas ini. Yen salah satunya.

Perkenalannya dengan komunitas Sant’ Egidio dimulai ketika dia masih kelas 3 SMA di tahun 2008. Saban hari, ketika dia melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi di Kupang, gadis kelahiran Macang Pacar, Manggarai Barat ini tetap aktif di dalam kegiatan komunitas.

Hingga akhir kuliahnya dan mulai bekerja, niatnya terus bertumbuh, dan akhirnya direkomendasikan teman-temannya untuk mendirikan sebuah komunitas baru di Labuan Bajo.

Awalnya komunitas mereka hanya beranggotakan 5 orang muda. Namun perlahan bertambah dan kini berjumlah 11 anggota tetap dan beberapa lainnya simpatisan.

Dari segi jumlah, tidak seberapa keanggotaan mereka. Tapi justru karena itulah mereka berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pelayanan, sehingga lebih banyak lagi kaum muda terpanggil untuk bergabung.

“Kami tidak mendaftarkan para anggota, atau buat promosi, tapi barangsiapa yang terpanggil, dengan senang hati kami terima untuk bergabung," ungkapnya.


RP. Laurens Gafur, SMM, pastor pendamping komunitas Sant' Egidio Labuan Bajo. Dok. Yen Asmat.

Melayani Kaum Difabel


Pelayanan mereka pertama kali dibuat di bruderan MOP pada 24 Juli 2017. Pelayanan dimulai pada pukul 16.00–18.00, yang diisi dengan kegiatan seperti pengajaran, nyanyian, pemandian, dan selalu ditutup dengan doa. Doa inilah yang paling penting dalam kehidupan komunitas.

Doa membuat mereka tetap setia untuk datang dan bersahabat dengan adik-adik. Pada Sabtu I dan II dalam bulan dibuat pelayanan berupa pengajaran, seperti latihan membaca, menulis, berhitung.

Hari Sabtu III diadakan misa bersama, dan pada Sabtu IV dibuat lagi pelayanan berupa tarian, nyanyian, dll. Tidak hanya itu, dalam setiap hari pelayanan, mereka selalu memandikan anak-anak. Saat itulah mereka merasakan getaran keibuan, bahwa anak-anak itu membutuhkan perhatian dan kasih sayang.

Sampai sekarang pun, tempat pelayanannya masih terfokus ke komunitas bruderan. Alumnus SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng itu mengungkapkan bahwa alasan utamanya bukan saja karena keanggotaan yang sedikit, tapi juga karena keikutsertaan atau keterlibatan anggota untuk pelayanan masih pasang surut.

Tentu ada faktor kunci mengapa terjadi demikian. Tapi karena sudah menjadi panggilan, tamatan Teknik Sipil Universitas Nusa Cendana Kupang (2013) itu dan beberapa teman lainnya (Cici, Yun, Seli, misalnya) tetap menjalani tanggung jawabnya.

“Kita juga tidak bisa batasi teman-teman punya kegiatan pribadi. Karena kami semua kebanyakan sudah bekerja, maka banyak juga yang berhalangan, misalnya karena hari libur atau cuaca buruk, untuk buat pelayanan pada hari Sabtu sore itu. Kalaupun hadir, palingan 2-5 orang saja. Kita harus memaklumi keadaan ini. Tapi kalau tidak ikut pelayanan biasanya mereka beritahu lewat whatsapp. Dan kalau sudah beberapa kali tidak ikut maka kami akan mengontak mereka, atau berkunjung ke rumah atau kos teman-teman. Kami tidak mungkin batalkan kegiatan. Ini kan bagian dari komitmen dan panggilan,” ungkapnya.

Bersamaan dengan ulang tahun berdirinya komunitas yang ke-50 (1968-2018), komunitas Sant’ Egidio Labuan Bajo berniat untuk lebih giat membuat pelayanan, termasuk juga membuka ruang pelayanan baru. Salah satu tempat yang menjadi target komunitas adalah panti lansia susteran Kottongae Labuan Bajo.

Memang selama ini mereka sudah menjalin kerjasama yang positif dengan komunitas susteran tersebut. Tapi itu juga sangat bergantung pada komitmen dan kesetiaan masing-masing anggota.

Sebab membuka tempat pelayanan baru pun membutuhkan tenaga pelayan yang tidak sedikit. Karena itu, mereka berniat untuk mendekati orang-orang muda, terutama siswa/I SMA.

Karena menurutnya, ketika nanti kalau mereka kuliah, mereka bisa bergabung di komunitas Sant' Egidio di mana mereka menimba ilmu.

Karena Cinta


Yen dan teman-temannya menyadari bahwa ada sebuah kesukaan dan kegembiraan tersendiri ketika melayani. Seolah-olah ada kerinduan yang terobati di ruang jiwa. Yen, yang saat ini bekerja sebagai konsultan pada PT Siar Plan Utama Labuan Bajo, sungguh-sungguh merasakan getaran itu.

Secara pribadi, ia mengakui bahwa semua orang pasti sibuk dengan berbagai aktivitas,  tapi ketika mau berhenti sejenak dari kesibukan yang hanya berfokus pada diri sendiri dan mau meluangkan waktu untuk berjumpa dan menjalin persahabatan dengan adik-adik di panti, itu adalah hal yang istemewa.

Dengan pelayanan itu, ia dan teman-temannya begitu merasa terpanggil. Puji Tuhan, dari sebelumnya belum ada kesepahaman antara anak-anak dengan mereka, tapi perlahan-lahan muncul saling pengertian, entah lewat bahasa tubuh atau lewat bicara.

“Kami tidak punya apa-apa. Uang, harta, sumbangan materi pun tidak ada untuk anak-anak panti. Tapi saya selalu berpegang pada semboyan komunitas yaitu: Kekayaan kita tak punya juga emas dan permata, yang kumiliki hanya Sabda Tuhan. Bangun dan jalan bersama. Sabda Tuhan ini adalah kegembiraan yang harus saya bagikan kepada sesama khususnya kepada adik-adik panti. Saya telah menerima anugerah cinta dan rahmat secara cuma-cuma dari Sang Pencipta dan sudah menjadi tanggung jawab saya untuk membagikan cinta kepada adik-ad di panti,” ungkap anak sulung dari tiga bersaudara itu.

Kini, komunitas Sant' Egidio Labuan Bajo adalah satu kelompok yang kategorial yang cukup intens melakukan pelayanan di panti Bruderan MOP Labuan Bajo.

Jika Hari Natal tiba, mereka akan mempersiapkan segala sesuatu untuk memberikan yang terbaik, semacam hadiah Natal, bagi anak-anak panti.

Ada satu acara besar yang biasa mereka adakan, yaitu Makan Siang Natal. Acara ini dipersembahkan bagi anak-anak disabilitas. Boleh dibilang sangat spesial karena pada saat itu mereka akan dilayani dengan penuh cinta oleh kakak-kakak mereka dari Sant' Egidio.

Pelayanan yang sungguh-sungguh bukan hanya soal ketersediaan menu makan yang lebih spesial, tapi lebih kepada bentuk kebaktian hidup yang utuh dari komunitas ini.

Sejak berdirinya, komunitas ini memiliki seorang pastor/imam pendamping, yaitu RP. Laurens Gafur, SMM. Pater Lorens, begitu sapannya, adalah biarawan yang sedang bertugas di Seminari St. Paulus Labuan Bajo. Bersama dengan beberapa imam, ia menjadi pendamping di lembaga pendidikan calon imam Keusukupan Ruteng tersebut.*

Posting Komentar untuk "Kesaksian Hidup: Melayani dengan Cinta"