Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Meliput Keberagaman Merangkai Cerita

Peserta workshop Pers Kampus, Mataram, Mei 2015. Dok. pribadi.


Graha Budaya -- Media massa telah menjadi instrumen yang amat penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia ini. Salah satu tugas mendasarnya ialah memberikan pendidikan kepada masyarakat mengenai urgensi toleransi dan sikap saling menghargai di antara penduduk yang pluralis (fungsi edukasi).

Melalui pengaruh yang dimilikinya, media berperan penting untuk menumbuhkan sikap-sikap positif sesuai nilai-nilai Pancasila, agar bonum commune yang diharapkan dapat tercipta.

Hal ini sejalan dengan visi Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (SEJUK) yakni terbentuknya masyarakat Indonesia, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi, dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan atas hak asasi manusia.

Pergumulan jurnalis dengan isu keberagaman mesti terus-menerus dilakukan agar tercipta pemberitaan-pemberitaan bernada positif yang menghormati serta mempromosikan sikap toleransi di antara masyarakat.  Jurnalisme keberagaman menjadi kemestian para juru warta dalam mengolah fakta pluralitas di Indonesia yang kian hari kian kompleks.

Sebab, tidak sedikit media yang memberitakan kasus-kasus keberagaman yang justru meminggirkan hak-hak minoritas yang dianggap berbeda, bahkan dituduh menyimpang dan sesat dari mainstream (agama, keyakinan, etnis, dan orientasi seksual). Karena itu, penyuguhan berita tentang keberagaman, bagaimanapun juga, tidak memadai lagi menggunakan standar jurnalistik konvensional, seperti cover both sides, netral, dan objektif.

SEJUK berpendirian, perspektif keberagaman itu bukan hanya perlu dimiliki oleh wartawan media-media mainstream, tetapi juga oleh media-media kampus. Aktivis pers kampus adalah calon-calon jurnalis yang akan mengisi redaksi media-media mainstream.

Persfektif mengenai  kebebasan beragama dan berkeyakinan, HAM, dan gender amatlah penting untuk ditanamkan kepada mereka sehingga ketika mereka lulus dan menjadi jurnalis, mereka sudah memiliki bekal pengetahuan yang cukup untuk membuat pemberitaan terkait isu keberagaman.

Dengan beberapa argumentasi dan pertimbangan tersebut  di atas, SEJUK berinisiatif menggelar Workshop Pers Kampus dengan tema Meliput Keberagaman, untuk menggerakkan media-media alternatif yang independen agar lebih nyaring menyuarakan isu keberagaman dan multikulturalisme.

Karena itu, lembaga-lembaga pers mahasiswa/i didorong untuk mengambil peran lebih aktif dalam memberitakan isu yang dianggap kontroversial ini. Selain alasan independensi media-media kampus, regenerasi dalam menghidupkan jurnalisme keberagaman juga penting untuk terus dilakukan.

Tulisan ini merupakan laporan kegiatan workshop pers kampus "Meliput Keberagaman" oleh SEJUK di Mataram, Nusa Tenggara Barat, 4-6 Mei 2015.

Adapun Workshop Pers Kampus ini diselenggarakan oleh(SEJUK dalam kerjasama dengan KANUSA (Kajian Nusantara)-Mataram dan Friedrich Naumann Stiftung Für Die Freiheit.

Panitia menyediakan para narasumber atau pemateri yang merupakan dosen, jurnalis, dan wartawan profesional yang bekerja di media-media Nasional seperti Kompas, Tempo, dan The Jakarta Pos. Para mahasiswa/i yang terpilih dan hadir sebagai anggota berjumlah 22 orang (11 perempuan dan 11 laki-laki), dengan latar belakang kampus dan agama yang berbeda (Islam, Katolik, dan Hindu).

Workshop kali ini secara khusus menghimpun mahasiswa/i dari wilayah Indonesia Timur yang mencakup pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, NTB, Flores, dan Sumbawa. Segala urusan finansial dan akomodasi bagi para peserta, ditanggung oleh panitia.

Mengunjungi pasar oleh-oleh khas Suku Sasak. Dok. pribadi.

Workshop ini bertujuan untuk membangun kapasitas jurnalis kampus dalam meliput isu-isu keberagaman yang berperspektif HAM, mulitikulturalisme, pluralisme, dan keadilan gender.

Selain itu, juga diarahkan untuk mengalami dan memahami secara langsung fakta keberagaman (perjumpaan dengan teman-teman dari aneka kampus dan daerah, serta melalui Field Visit),  mengembangkan minat dan bakat dalam dunia jurnalistik.

Termasuk untuk memperkenalkan aktivitas pers mahasiswa/i di tiap kampus, menimba wawasan baru dan membaktikannya bagi antusiasme dan tumbuh-kembang pers di kampus, dan menjaring serta memotivasi semakin banyak mahasiwa/i di kampus-kampus untuk berpartisipasi dalam membangun bangsa melalui dunia jurnalistik.

Bung Denis dan Andre Lega. Dok. pribadi.


Rekomendasi


Setelah mengikuti kegiatan Workshop Pers Kampus ini dan mempertimbangkan beberapa tujuan dari kegiatan dimaksud, kami menganjurkan beberapa rekomendasi penting untuk sama-sama kita diperhatikan.

Pertama, dibandingkan dengan porsi waktu perkuliahan di kampus, momentum untuk belajar dan mengembangkan diri tersedia lebih banyak di masing-masing konvik. Oleh alasan mendasar ini, peran konvik amatlah signifikan.

Kedua, aktivitas pers komunitas (patut disyukuri bahwa masing-masing komunitasmemiliki pers-nya tersendiri) haruslah menjadi wadah pertama sebelum mahasiwa/i maju menuju ruang yang lebih luas, yakni kampus.

Ketiga, masing-masing komunitas atau kampus bertanggung jawab dalam menjaga konsistensi pers-nya, sembari terus menjaring dan mengorbitkan bibit-bibit baru dalam dunia jurnalistik.

Para pengasuh dan penanggung jawab pers komunitas mesti memaksimalkan kerja sama dengan para pimpinan komunitas agar menjamin ruang kebebasan berekspresi bagi mahasiswa/i.

Keempat, selain fungsi koordinasi, SEMA atau BEM berperan juga dalam mengakomodasi setiap inisiatif dan kreativitas para mahasiswa/i. Dalam kaitannya dengan aktivitas pers kampus, BEM atau SEMA dalam hal ini Seksi Akademi dan Publikasi, bertanggung jawab untuk memaksimalkan ruang dan jaminan berekspresi yang diberikan masing-masing kampus.

Kelima, pelbagai kegiatan jurnalistik maupun perlombaan-perlombaan menulis harus semakin sering dihidupkan, sebagai bentuk optimalisasi kerja seksi dan wujud kecintaan pada kehidupan pers kampus. SEMA atau BEM bertanggung jawab untuk menjaring, mendampingi, mengorbitkan, dan melahirkan bibit-bibit baru yang berminat dalam dunia jurnalistik.

Keenam, tiap lembaga atau kampus mesti terus mendorong dan mendukung para mahasiswa/i-nya, baik secara moril maupun material, dengan terlebih dahulu memberi ruang dan sarana, secara khusus bagi aktivitas pers kampus.

Penulis: Daniel Deha dan Reinard L. Meo.*

Posting Komentar untuk "Meliput Keberagaman Merangkai Cerita"