Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Paskah 2020 dan Sayur Pahit

Ilustrasi. Dok. popmama.com.

Ada yang terenyuh dengan perayaan Paskah tahun ini. Tidak seperti biasanya, dan mungkin baru pertama kali dalam sejarah manusia, terutama sejak perayaan Paskah dijadikan perayaan Gereja universal, perayaan peringatan akan penderitaan, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus ini diadakan tanpa kehadiran umat di Gereja-gereja.

Di Indonesia, Konferensi Waligereja (KWI), sebagai otoritas tertinggi gereja lokal, sejak pertengahan Maret lalu telah mengeluarkan kebijakan agar perayaan misa dan perayaan Paskah 2020 tidak dilakukan di gereja-gereja tapi dilakukan di rumah, atau mengikutinya secara online atau streaming.

Hal ini diputuskan sesuai dengan imbauan Paus Fransiskus sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik dunia, dan juga mengikuti protokol kesehatan pemerintah Indonesia.

Paus Fransiskus bahkan sejak bulan lalu sudah memutuskan agar perayaan Paskah 2020 di Vatikan tidak dilakukan di gereja. Seruan Paus pun diikuti seluruh gereja di dunia, termasuk Indonesia.

Sungguh, Paskah 2020 menjadi tidak begitu istimewa. Lagipula, himbauan terkini untuk berdiam diri rumah atau mengisolasi diri, sejak wabah global virus Corona muncul di China dan menyebar ke 210 negara di dunia, membuat umat Kristiani tidak dapat menghindarinya.

Tidak ada jabat tangan erat. Tidak ada pesta ria atau kembang api dan hiasan bunga-bunga di altar. Terlalu sederhana. Ucapan 'selamat' pun dilakukan satu-satunya lewat media sosial dan internet.

Sungguh, ada ruang kosong yang belum sepenuhnya terisi di dalam hati umat Kristiani. Ada kerinduan terpendam yang tak bisa diungkapkan hanya dengan ucapan 'selamat' di dunia maya.

Mungkin satu-satunya jalan terbaik adalah bahwa umat Kristen saat ini berdoa dan makan paskah bersama keluarga di rumah. Ini mengingatkan kita pada Paskah perdana umat Israel ketika hendak keluar dari tanah Mesir puluhan abad silam.

Meski bentuk perayaannya berbeda dengan tradisi Kristen sekarang ini, namun setidaknya secara teologis, makna kedua perayaan itu sama: pembebasan dari 'perbudakan' dan 'kegelapan'.

Bangsa Yahudi merayakannya sebagai ucapan syukur atas pembebasannya dari perbudakan Mesir, sedangkan umat Kristiani merayakannya untuk mengambil bagian dalam Paskah Yesus Kristus, yaitu Perjamuan Malam Terakhir, yang kemudian dijadikan sebagai peringatan akan sengsara, wafat dan kebangkitkan Yesus atas perbudakan dosa dan maut.

Orang Yahudi menamakan perayaan Paskah dengan nama Seder, yaitu ritual makan-makan yang menandai dimulainya hari raya Paskah Yahudi (bentuk Inggris dari hari raya ini adalah Passover, berbeda dengan Paskah Kristen yang disebut Easter).

Orang Kristen kemudian mengenalnya sebagai makan Paskah, seperti yang dilakukan oleh Yesus dan murid-murid-Nya (lih. Luk 22:7-8, 22:13).

Kemungkinan besar, umat Kristiani di gereja lokal Indonesia pada umumnya menganggap bahwa Seder merupakan acara yang mirip dengan Perjamuan Kudus Kudus sebelum ia ditangkap, disalibkan dan mati kemudian bangkit.

Namun pada dasarnya, Perjamuan Kudus, meskipun berakar dari Seder Yahudi, memiliki perbedaan yang sangat mencolok (setidaknya dijaman sekarang ini).

Gereja sendiri setelah melewati berbagai perbincangan dan kontroversi secara Kristologi yang luar biasa di Konsili Nicea tahun 325 M, baru secara bulat memutuskan bahwa perayaanPaskah tidak akan berdasarkan tanggal Yahudi.

Tetapi Paskah akan jatuh pada hari Minggu mengikuti bulan purnama setelah musim semi. Perayaan ini dimulai dengan Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Suci.

Pemilihan musim semi ini merujuk pada catatan kuno milik Beda Venerabilis, di mana di Inggris orang sudah mengenal Dewi Eostre (di Jerman: Dewi Austro) sebagai dewi musim semi atau dewi kesuburan dan perpanjangan hidup. Di Indonesia bisa dibandingkan dengan Dewi Sri.

Musim semi adalah musim yang memperlihatkan munculnya kembali kehidupan. Pohon-pohon yang selama musim gugur dan musim dingin menjadi gundul, kini mulai bertunas. Bunga mulai bermekaran. Binatang-binatang mulai keluar dari perlindungannya; suatu kehidupan dimulai lagi. Karena itulah nama Paskah dalam tradisi Kristen disebut Easter.

Lukisan Yesus memeluk bumi dari atas Salib, karya Gun Dede (2020).

Sayur Pahit

Kembali lagi ke tradisi perjamuan Paskah, seperti yang dikatakan dalam Kitab Suci, bahwa kala itu, "mereka (umat Israel) harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit (Kel 12:8)".

Bagi orang Israel, ada dua macam sayur pahir, yaitu Maror atau Chazeret. Sayur pahit itu melambangkan pahitnya perbudakan di tanah Mesir.

Untuk Marror banyak yang menggunakan Horseradish segar yang diparut atau akar horseradish utuh. Sementara untuk Chazeret, biasanya dipakai letus romaine yang akarnya pahit.

Bagi Gereja pada masa krisis ini, Paskah yang tidak dirayakan di gereja sebagai persekutuan umat dengan imam kita, sungguh merupakan 'sayur pahit' yang harus ditelan. Perasaan kacau, galau, dan haru, menjadi maror atau chazeret yang harus mereka kunyah selama masa krisis ini.

Kepahitan itu bertambah ketika kita harus mengisolasi diri di rumah, yang membuat kita seperti sedang menjalankan 'padang gurun' kehidupan; benar-benar menjadi asing dengan dunia kita sendiri.

Banyak umat Kristen, termasuk saya, yang begitu terrharu dan sedih melihat kenyataan ini. Seolah-olah tak dapat diterima begitu saja. Lagipula, ini merupakan pertama kali dalam sejarah umat manusia, di mana Paskah tidak dirayakan di gereja-gereja.

Otoritas gereja, dalam hal ini paroki dan katedral di keuskupan seluruh Indonesia kemenyiarkan perayaan selama Paskah, lebih karena ini merupakan hari besar, melalui Televisi, Youtube, Facebook streaming, dan media sosial lainnya.

Namun medium-medium itu tak dapat menjembatani kerinduan untuk mengecap Tubuh dan Darah Kristus. Ada jarak emosi yang begitu jauh dan tak terjembatani oleh kanal platform online.

Dengan adanya platform-platform online tersebut, kita mungkin cukup terbantu untuk terhubung lebih luas dan menjadikan dunia ini sebagai satu gereja global, meminjam istilah lain dari McLuhan tentang 'kampung global'.

Di mana orang dari satu paroki atau keuskupan dapat mengikuti perayaan Paskah, atau misa kudus, di keuskupan atau paroki lain, hanya dengan menggunakan media sosial atau TV.

Namun secara pribadi, saya kadang bertanya dalam hati, setelah saya berusaha cukup keras agar terhubung secara emosi dan batin dengan tayangan perayaan ekaristi melalui platform online: "Saya sekarang sedang merayakan Misa, atau sedang 'menonton' perayaan Ekaristi?"

Sebuah pertanyaan yang konyol. Memang. Tapi saya pikir mungkin benar juga. Karena ketika mengikuti misa online, kita tidak sungguh-sungguh bisa masuk secara sakramental ke dalamnya.

Saya kadang berpikir seperti sedang menonton pertandingan olahraga. Tapi itulah, kenyataan tak bisa dihindari. Kita harus berusaha keras menyambung batin dengan perangkat online.

Saya ingat dulu ketika masih menuntut ilmu di bangku kuliah, kebetulan saat itu masih berstatus sebagai calon imam, kami pernah berdebat soal: apakah perayaan ekaristi bisa dilakukan secara online di tengah kemajuan teknologi zaman ini?

Bahkan dosen kami waktu itu, ia seorang pastor/imam, mengatakan bahwa sangat tidak bisa karena dengan itu mengurangi kualitas sakramental dari sebuah perayaan ekaristi. Medium online tidak dapat menghubungkan umat dengan sakramen yang dirayakannya.

Namun karena kondisi pandemi yang sulit dihindari, baru-baru ini, Pastor Andreas Atawolo OFM, Dosen Teologi Dogmatik di STF Driyarkara, Jakarta, mengulas tentang hal ini dalam artikel yang berjudul “Misa Online Banyak Maknanya", tertanggal 21 Maret 2020.

Pastor Andreas mengatakan, Misa online dilakukan karena adanya situasi khusus. Situasi khusus yang dimaksudkan adalah wabah Corona yang saat ini melanda dunia.

Ia menggarisbawahi, bahwa dengan kemajuan teknologi, dunia tetap terkoneksi dan kita dapat berpartisipasi bersama dalam perayaan atau Ibadat Liturgi yang kita butuhkan.

Sebagai umat Katolik, kita juga patut bersyukur bahwa komunitas-komunitas Gereja tetap terkoneksi berkat kesatuan simbol dan tanda dalam ritus Liturgi, sehingga kita dengan mudah mengikuti dan memaknai suatu Perayaan Ekaristi Live Streaming dari Gereja Katolik di seluruh dunia.

Iman dari Ordo Fransiskan itu menekankan aspek partisipasi, sehingga bukan sekedar menonton. Partisipasi adanya Imam Katolik merayakan Ekaristi yang disiarkan secara live, dan di saat yang sama umat berpartisipasi melalui media digital, tentu sejauh dapat dijangkau. Sehingga ini berbeda dengan menonton sebuah film atau video tentang perayaan Ekaristi.

Menurut Pastor Andreas, hal ini mirip ketika seorang yang sakit serius atau terhambat oleh alasan lain, sehingga tidak mendapat pelayanan Ekaristi Paskah dari Gereja lokalnya, tetapi dapat mengikuti dengan niat hati seluruh siaran langsung perayaan Ekaristi dari Basilika Santo Petrus di Vatikan.

Selain itu, dalam situasi khusus ini, kita perlu menonjolkan aspek communio spiritual atau persekutuan spiritual, yaitu bahwa meskipun Ekaristi tidak dapat dirayakan dalam bentuk kehadiran secara menubuh, Ekaristi itu tetap sah, sebab persekutuan Gereja yang merayakan Ekaristi tidak melulu badani atau material, tetapi juga spiritual dan batiniah.

Karena itu, meskipun bersifat streaming, Ekaristi live streming itu sah karena meski tidak mengecapnya secara fisik, ini menjadi kesempatan bagi kita untuk berdoa mengundang Tuhan hadir dalam hati kita. Bahwa kasih Tuhan yang tidak dibatasi oleh simbol; bahwa kita makhluk terbatas dan sering kali menuntut tanda, namun kita dikasihi Tuhan tanpa batas ruang dan waktu.

Katekese Keluarga

Mengikuti pemikiran Pastor Andreas, dan mungkin sebagian besar keyakinan umat Kristiani saat ini, maka di masa depan kita perlu mengantisipasi dengan baik bagaimana Gereja sudah mulai memikirkan untuk memberdayakan ibadat keluarga.

Gereja tidak perlu terlalu berharap adanya konektivitas internet, sementara masih banyak umat kita yang masih sulit untuk mendapatkan akses ekonomi dan sosial.

Dengan pendasaran bahwa keluarga merupakan gereja mini, maka kebijakan gereja-gereja perlu kembali direvisi sambil memperhatikan tantangan di masa depan yang lebih besar lagi.

Ketika simbol gereja seolah dikembalikan kepada keluarga, para imam pun tidak banyak berdiam diri di menara gading. Sudah saatnya para imam dan calon imam melakukan katekese seluas-luasnya kepada seluruh umat agar lebih mandiri dan kuat ketika menghadapi badai seperti ini.

Baru-baru ini saya mendapatkan sebuah teks tata perayaan ibadat keluarga yang cukup lengkap untuk perayaan Paskah dari seorang imam dari Biara Karmel di Keuskupan Maumere, Flores, NTT.

Selain itu, ada sebuah salinan teks lain yang dibuat oleh seorang iman SVD di Roma. Pastor tersebut berasal dari Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Maumere, dan saat ini sedang menempuh pendidikan doktoralnya di Roma. Teks ibadat itu di-share lewat WhatsApp.

Saya berpikir, ini merupakan sebuah langkah yang sangat baik mengingat tidak semua umat di dunia, khususnya Indonesia, yang dapat mengikuti perayaan secara streaming. Keterbatasan sumber daya dan kesenjangan ekonomi menjadi alasan yang cukup rasional untuk membuktikannya.

Karena itu, teks-teks offline yang disusun seperti ini sangat efektif bagi keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas untuk merayakan doa/ibadat di rumah.

Barangkali saat ini teks-teks ibadat keluarga seperti ini tidak dikeluarkan oleh paroki atau keuskupan di Indonesia. Lebih karena gereja lokal kita belum siap sehingga memilih cara-cara praktis seperti siaran langsung melalui TV atau media sosial.

Bila perayaan Paskah 2020 sudah lewat, maka pada masa-masa krisis ke depan ini, Gereja perlu menyiapkan teks-teks ibadat agar umat dapat berdoa dari rumahnya.

Sebagai catatan akhir, Gereja di masa depan akan menghadapi badai yang lebih besar.

Karena itu, Gereja perlu turun ke keluarga-keluarga dan mengajar serta berkatekese tentang doa, ibadat, dan Ekaristi, agar umat benar-benar mandiri dan bertahan dalam imannya ketika ia harus menyepi dari dunia sosial seperti kondisi saat ini.*

Posting Komentar untuk "Paskah 2020 dan Sayur Pahit"