Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pura Lingsar: Potret Kerukunan Berbasis Tradisi

Pura Lingsar di Lombok Barat. Dok. jejakpiknik.com.

Indonesia merupakan negara dengan tingkat pluralisme yang amat tinggi. Kemajemukan itu secara eviden tampak dalam perbedaan budaya, agama, suku, ras, ideologi, tradisi, serta filosofi yang dianut oleh masyarakatnya.

Oleh karena begitu banyak perbedaan masyarakat Indonesia, sejak kemerdekaannya, Indonesia telah memiliki satu dasar kokoh yang mampu mengakomodasi keberagaman itu.

Pancasila adalah satu-satunya ikon filosofis yang dimiliki bangsa Indonesia yang membingkai aneka perbedaan. Dengan Pancasila, keutuhan, persatuan dan kesatuan NKRI tidak pernah goyah.

Walaupun muncul begitu banyak gerakan separatisme dan disintegrasi, namun rasa kebersatuan sebagai satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa – tiga poin penting Sumpah Pemuda (1928) – tetap terjaga dan terpelihara. Semboyan “Bhineka Tunggak Ika”, yang artinya “walaupun berbeda-berbeda, tetapi tetap satu jua” telah menjadi “darah (merah) dan air (putih)” yang menyusun elemen keberagaman anggota masyarakat-bangsa (nation-state).

Tidak terlepas dari realitas keberagaman itu, Indonesia dalam bentangan sejarahnya telah menorehkan stigma-stigma sosial yang berlatar-belakang-kan fakta kepelbagaiannya.

Selain bahwa faktum pluralisme menjadi sebuah kekayaan bangsa, potret kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk berubah menjadi “momok”, menjadi sebuah “tembok” yang memecahbelahkan kehidupan masyarakat. Didukung oleh semangat primordialisme yang tinggi, tidak jarang terjadi berbagai ketegangan antar suku yang berdampak pada aksi ”balas dendam”.

Sebut saja aksi kekerasan, atau bisa dikatakan sebagai perang, misalnya antara suku Dayak dan Madura yang hingga saat ini masih akut serta beberapa titik di daerah Jawa dan Papua (Tolikara) yang hingga kini terus menghiasi berbagai layar kaca. Atau karena perbedaan ideologi politik, daerah seperti Aceh, Papua dan Maluku Selatan berupaya untuk melepaskan diri dari pangkuan pertiwi.

Ini baru terjadi pada tataran besar, sedangkan masih banyak mayoritas masyarakat yang secara “bisu” mau memisahkan diri dari kesatuan RI hanya karena persoalan ketidakadilan atau kebijakan timpang yang dikeluarkan pemerintah (pusat).

Di samping persoalan suku, ideologi dan politik, fakta keberagaman Indonesia juga telah memantik aksi-aksi kekerasan bersayapkan fundamentalisme atau radikalisme agama. Sering terjadi di mana agama-agama mayoritas mendominasi panggung politik dan kepentingan negara.

Bahkan kasus-kasus intoleransi atas nama agama menjadi “buah bibir” dan menu harian yang menghiasi layar-layar media. Diskriminasi rasial, perempuan, dan kelompok agama (aliran kepercayaan) minoritas seolah sudah kebal terhadap supremasi hukum.

Namun di tengah carut-marutnya kekerasan atas nama agama yang terjadi di berbagai belahan pertiwi ini, terdapat satu wilayah kecil di Lombok, NTB, yang sudah sejak dulu memelihara kerukunan hidup beragama. Tepatnya di Lingsar, sebuah desa mungil nan indah di Lombok, potret (ikon) keberagaman itu terjaga sejak sebelum Pancasila hadir untuk membingkai kebhinekaan bangsa dan tanah air.

Lantas alasan apa yang paling fundamental kokohnya kerukunan beragama di Lombok, satu-satunya adalah ikatan kultur yang telah begitu berakar. Bagi mereka, bukan sekedar agama yang mempersatukan, tetapi budaya (tradisi) yang menjadi perekat batiniah dalam komunitas mereka.

Pura Lingsar

Nama Pura atau Kemaliq Lingsar ini mulai muncul ketika orang Bali pertama kali datang ke Lombok. Rombongan orang Bali tersebut berasal dari Karangasem yang jumlahnya ± 80 orang. Mereka  mendarat di pantai Barat dekat Gunung Pengsong, Lombok Barat.

Dari Gunung Pengsong, rombongan Raja tersebut melanjutkan perjalanan ke Perampuan, lalu ke Pagutan kemudian ke Pagesangan. Dari Pagesangan, rombongan berjalan kaki tetapi belum menemukan tanda. Sesampai rombongan di daerah Punikan, seluruh anggota rombongan merasa haus dan lapar sehingga beristirahat untuk makan minum.

Setelah selesai makan  tiba-tiba ada suara seperti letusan dan bergemuruh. Kemudian mereka mencari asal suara tersebut yang ternyata adalah sebuah mata air yang baru meletus, lalu ada wahyu mengatakan kalau sudah menguasai Lombok maka buatlah Pura di sini. Luapan air itu diberi nama Ai’ Mual yang artinya “air yang mengalir”.

Selanjutnya nama Ai’ Mual berubah menjadi Lingsar. Lingsar berasal dari kata Ling, yang artinya “wahyu” atau “sabda” dan Sar yang artinya “syah” atau “jelas”. Jadi Lingsar artinya “wahyu yang jelas”. Sedangkan sumber mata airnya terletak tidak jauh dari daerah tersebut, dan diberi nama Ai’ Mual (Air Timbul) yang letaknya di sebelah timur Lingsar. Nama Lingsar sendiri diambil dari Kitab Sansekerta, yaitu “Ling” berarti “suara”, dan “Sar” berarti “air”.


Tempat ini dibangun di wilayah yang banyak terdapat sumber airnya, dan dikelilingi oleh hamparan sawah yang sangat subur. Sementara itu Kemaliq berasal dari bahasa Sasak yang berarti suci dan keramat.

Kemaliq merupakan perkembangan dari kata Al-Maliq dalam Kitab Al-Qur’an, yang berarti “kembali”. Kemaliq adalah kata simbol untuk kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan tempat kembali (kemaliq) seluruh makhluk.

Pura atau Kemaliq Lingsar diduga pembangunannya dilakukan pada tahun 1759, yaitu tahun berakhirnya kekuasaan Mataram yang pada waktu itu berpusat di Cakranegara.

Pembangunan Pura ini oleh Raja Ketut Karangasem Singosari dimaksudkan untuk menyatukan secara batiniah masyarakat Sasak (Islam) dengan masyarakat Bali (Hindu), sehingga Pura Lingsar dibangun berdampingan dengan Kemaliq Lingsar yang merupakan tempat pemujaan masyarakat Sasak.

Namun jauh sebelumnya di lokasi ini masyarakat Sasak (Muslim) telah melakukan pemujaan terhadap sumber mata air yang mereka sebut Kemaliq. Kemaliq berasal dari kata maliq dalam bahasa Sasak yang artinya keramat atau suci.

Sumber mata air yang ada di Kemaliq ini oleh masyarakat Sasak dikeramatkan atau disucikan karena tempat tersebut mereka yakini sebagai tempat hilangnya (moksa) seorang penyiar (wali) Agama Islam Wetu Telu (tiga waktu) yang bernama Raden Mas Sumilir dari Kerajaan Medayin.

Keberadaan ajaran Islam Wetu Telu di daerah Lingsar ini berasal dari Jawa melalui Bayan, atas instruksi Sunan Pengging dari Jawa Tengah pada permulaan abad XVI. Islam Waktu Telu ini adalah sinkretisme Hindu-Islam.

Sumber ajarannya berasal dari ajaran Sunan Kalijaga. Sinkretisme ini dalam kepercayaan mistik merupakan kombinasi dari Hindu (Adwaita) dengan Islam (Sufisme), dengan ajaran pantheisme, sehingga animisme masih berlaku terus dan mistik dari segi agama bisa diterima secara sukarela oleh semua penduduk Lombok yang masih paham animisme. Ajaran inilah yang kemudian dinamakan Wetu Telu.

Menurut ajaran Hindu, orang yang beragama lain tidak boleh dipaksa menerima ajaran agama Hindu. Tetapi yang dipaksa oleh raja Bali adalah ajaran bahwa semua orang harus berterima kasih kepada Tuhan dengan agama, kepercayaan dan caranya masing-masing.

Dengan adanya kepercayaan ini maka pembangunan yang dilakukan oleh Anak Agung Anglurah Gede Karang Asem pada tahun 1759 di Lingsar diperuntukan bagi dua jenis golongan masyarakat, yaitu masyarakat Bali (Hindu) dan Sasak (Islam).

Bagian bangunan bagi masyarakat Hindu dinamakan Gaduh, yang artinya Pura, sedangkan bagian bangunan bagi masyarakat penganut Wetu Telu dinamakan Kemaliq, yang artinya keramat.

Gaduh dan Kemaliq ini boleh dipakai kapan saja menurut keperluan agamanya masing-masing, tetapi hanya sekali setahun harus diadakan upacara bersama, yaitu Perang Topat (Perang Ketupat), yang biasanya diadakan pada bulan purnama menurut kalenderium masyarakat Sasak.

Perang Topat adalah suatu kegiatan upacara dalam bentuk perang-perangan dan topat atau ketupat sebagai senjata yang dipakai dengan cara saling lempar dengan sesama teman. Perang Topat diadakan sebelum menanam padi tetapi setelah datangnya musim hujan. Maksud dari acara ini adalah untuk mengembalikan hasil tanah (berupa topat) kepada asal (Lingsar).

Hasil tersebut akan menjadi rabuk (bubus lowong) untuk bibit padi yang akan ditanam. Yang utama menghadiri upacara tersebut adalah anggota Subak Kecamatan Lingsar dan Narmada.

Perang Topat merupakan ungkapan sukacita atau terima kasih kepada Sang Pencipta. Tiap tahun sebelum Perang Topat, ada beberapa orang dari Subak ini yang naik ke Gunung Rinjani dengan membawa benda-benda yang terbuat dari emas berbentuk udang, gurami, nyale, dan kura-kura.

Benda-benda ini nantinya akan dibuang ke Danau Segara Anak dengan maksud untuk memohon kemakmuran. Pada Sasih (bulan) ke-7 dalam kalender tradisional Sasak, sekitar bulan Desember dalam kalender Masehi, di Pura Lingsar digelar upacara adat Pujawali.

Upacara Pujawali ini dilaksanakan secara bersama-sama oleh masing-masing umat beragama (suku) pada tempat yang berdampingan.

Umat Hindu sendiri dipimpin oleh Amangku dan melaksanakan persembahyangan di dalam Pura. Sedangkan upacara umat Islam Wetu Telu dipimpin oleh Pemangku dan melaksanakan ritual di Kemaliq (http://sejarah.kompasiana.com).

Berdasarkan fungsinya, bangunan-bangunan yang terdapat di Pura/Taman lingsar ini dapat kita kelompokan menjadi 3 kelompok bangunan, yaitu: Kompleks Pura Lingsar (Pura Gaduh), Kompleks Kemaliq dan Kompleks Pesiraman. Kompleks Pura Lingsar (Pura Gaduh) terletak di bagian atas sebelah utara menghadap ke barat dan merupakan tempat ibadah umat Hindu.

Sedangkan kompleks Kemaliq dan kompleks Pesiraman terletak di bagian bawah di sebelah selatan, juga menghadap ke barat tetapi letaknya sedikit ke utara mengarah kiblat.
Selain bangunan-bangunan tersebut di atas, di sebelah selatan Pura atau Kemaliq terdapat pancuran Siwak (sembilan buah pancuran), yaitu bangunan yang merupakan tempat mandi kaum laki-laki dan tempat mandi kaum perempuan.

Di sebelah utara halaman luar (bencingah) terdapat Kolam Kembar. Halaman tempat Kolam Kembar ini dikelilingi oleh tembok yang bahannya dari batako. Pada sisi sebelah selatan dan sisi sebelah utara terdapat candi bentar dari batu bata. Candi Bentar yang ada di sebelah selatan merupakan pintu masuk ke halaman Bencingah, sedangkan Candi Bentar yang ada di sebelah utara merupakan pintu masuk ke halaman parkir (Jabaan).

Keanggunan dan keindahan Pura atau Kemaliq Lingsar telah menjadikannya sebagai salah satu cagar budaya nasional.  Hal ini tentu didukung oleh arsitektur bangunan yang khas Hindu, yang menyimpan banyak misteri kehidupan (peradaban) masa lalu. Ketiga bangunan di Pura Lingsar ini selain sebagai tempat wisata, juga merupakan tempat ibadah bagi kedua agama besar ini.


Tempat ini juga dikenal sebagai tempat yang sakral-suci. Kesakralannya tetap terjaga baik tentu karena didukung oleh penerapan aturan yang ketat bagi para pengunjung (wisatawan), salah satunya adalah tidak diperkenankan “perempuan haid” datang ke tempat ini.

Bingkai Pemikiran MacIntyre

Sangat sulit dipercayai, bahwa ada dua umat yang mempunyai latar belakang kultur, etnis serta keyakinan agama, bisa hidup berdampingan dalam menjalankan ritualnya masing-masing.

Dengan perbedaan yang mereka miliki, adalah sesuatu yang logis dan wajar, yang dirasakan sebagai hikmah dari Tuhan Yang Maha Esa. Namun bagaimana perbedaan bisa membuat mereka saling mengenal dan saling menghormati keyakinan satu dengan yang lain merupakan sesuatu yang amat istimewa dan langka.

Di Pura Lingsar ada sebuah sanggar kekeramatan yang diusung oleh kedua umat sesuai persepsi dan versi keyakinan agama masing-masing. Dalam hal tertentu, mereka dapat mengerjakannya bersama-sama, dan, di lain hal, hanya boleh dikerjakan umat yang bersangkutan.

Tradisi dan kepercayaan untuk mensyukuri sebuah mata air yang ada di sanggar itu atau dikenal dengan istilah Kemaliq, dipercaya sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa menjadi sebuah sumber kehidupan, memantik semangat untuk menyusun sebuah pranata sosial, rasa tanggung jawab dan pengorbanan tanpa pamrih sebagai ungkapan rasa syukur yang mereka wujudkan dalam sebuah upacara Perang Topat (Pujawali).

Dan amatlah lazim bila untuk memantapkan rasa kesungguhan umat, cita-cita berkorban tersebut diusung melalui dukungan susunan mitologi atau legenda (http://lombokbaratkab.go.id).

Seturut pemikiran MacIntyre, yang menelurkan etika “keutamaan”, kerukunan antaragama di komunitas Lingsar mengandung satu nilai, sebagaimana ditekankannya, bahwa pendasaran moral-etis kehidupan mesti dikembalikan kepada tradisi masing-masing komunitas.

Adalah sangat urgen hal ini dilakukan. Menyimak fakta pluralisme seperti Indonesia, hidup berdampingan dalam keberbedaan tidak semestinya yang mayoritas menekan yang minoritas. Atau sebuah kelompok dominan mencaplok kaum lemah-marginal.

Namun seperti yang terjadi di komunitas besar Lingsar, justru dalam kemajemukan itu penghormatan dan solidaritas antar kelompok menjadi begitu tinggi.

Sebagaimana pernah diungkapkan oleh Suparman Taufik (Pemangku Adat suku Sasak (Islam) sekaligus pemimpin upacara di Pura Lingsar/70 th), bahwa walaupun mereka satu tetapi tidak berarti harus menyatu; walaupun terpisah tetapi mereka tidak terpisahkan. Ini sungguh sebuah filosofi, kebijaksanaan, sebuah keutamaan yang sudah mulai jarang ditemukan dewasa ini.

Menarik untuk diselami lebih lanjut, bahwa di komunitas Lingsar, menurut pengakuannya sejak dulu tidak pernah terjadi konflik atau aksi kekerasan yang melibatkan kedua agama ini. Mereka hidup tanpa ada sentimen (pribadi atau sosial).

Walaupun berbeda agama, etnis dan budaya, tetapi semangat kerukunan begitu terjaga. Memang sejak zaman kerajaan Majapahit, di kolam bangunan Kemaliq ada sebuah ukiran berbentuk burung Garuda. Ukiran ini diyakini mempunyai arti yang sangat mendalam. Inilah simbol “Bhineka Tunggal Ika”.

Sebuah ikon sejarah yang menjadi landasan filosofis keberagaman di Indonesia. Lantaran sebagai landasan filosofis, ia secara ajaib bertahan di tengah amukan waktu. Diduga kuat bahwa penggunaan term “Nusantara”, yang lazim dipakai para Raja Majapahit, merupakan sebuah usaha untuk menyatukan keberagaman di segenap daerah kerajaan pada waktu itu.

Dan hingga saat ini term Nusantara menjadi lebih cocok dipakai ketimbang penggunaan term nasional. Sebagai contoh, dalam kasus kebudayaan Nusantara dan kebudayaan nasional. Tak dinyana, term kebudayaan Nusantara lebih merangkum keberagaman daripada dikatakan kebudayaan nasional, sedangkan yang dipertunjukan adalah salah satu dari kebudayaan tradisional.

Patut diakui juga bahwa potret kerukunan hidup beragama di Lombok pada umumnya begitu tinggi. Di sana hadir tiga agama besar, yaitu Islam, Hindu dan Kristen (Katolik).

Di gerbang kota Mataram dibangun sebuah monumen yang menyimbolkan tali kerukunan antaragama itu. Bangunan itu dibuat sekian sehingga ia seolah dibentuk oleh tiga simbol keagamaan. Yang mana di bagian atas berarsitektur Islam (Masjid), di tengahnya berbentuk Gereja (Kristen) dan di bagian bawahnya berbentuk pura (Hindu). Hal ini juga terjadi di komunitas Lingsar.

Di dalam Pura Lingsar, yang telah dibagi menjadi tiga bangunan utama, seperti tersebut di atas, walaupun komunitas itu bermayoritaskan Islam, tetapi bangunannya sangat khas Hindu. Dan dalam sebuah upacara bersama yang disebut dengan Pujawali atau Perang Topat, mereka berkumpul bersama untuk mengadakan upacara di masing-masing bangunan.

Uniknya, umat Hindu bisa mengikuti upacara secara Muslim, atau sebaliknya, umat Muslim bisa mengikuti upacara secara Hindu. Demikianpun dengan perkawinan. Seorang laki-laki Hindu bisa saja mengawini perempuan Muslim atau sebaliknya.

Dan bagi mereka hal ini tidak menjadi masalah atau tantangan. Yang penting adalah pengertian dan pemahaman yang sama tentang hidup bersama, sehingga tidak ada diskriminasi rasial atau agama.

MacIntyre dalam pemikiran etisnya mencoba mempertenggangkan antara tradisi dan keutamaan. Bagi dia, sebuah keutamaan hanya bisa direalisasikan dalam sebuah tradisi yang panjang. Sejauh seseorang meninggalkan tradisinya, sejauh itu pula manusia itu kehilangan identitas dirinya. Sebab identitas manusia ditentukan dan dipelihara oleh tradisi kelompoknya.

Di komunitas Lingsar, kebijaksanaan dan keutamaan hidup ditentukan oleh masing-masing tradisi agama. Penghormatan, solidaritas, toleransi atau istilah apapun yang cocok, hanya bisa mungkin jika memang ada pemahaman mendalam terhadap masing-masing komunitas.

Menelisisk sejarah panjang komunitas Lingsar, kita bisa berasumsi bahwa pasti ada sesuatu hal yang membuat mereka begitu terikat, bersatu dan sepaham. Atau kita katakan sebagai nilai universal yang sama-sama dimilikinya.

Menurut beberapa catatan, dulu sekali komunitas ini dikuasai oleh mayoritas Islam. Ketika ada ekspansi kerajaan Bali, umat Islam dijadikan “budak”.

Namun justru dalam keadaan demikian umat Islam berkembang pesat. Hal ini tentu didukung juga oleh filosofi agama Hindu yang sangat menghargai keyakinan agama masing-masing individu.

Kita bisa membayangkan bahwa seandainya itu terjadi pada orang Islam dan Kristen yang dalam penyebaran agamanya berusaha untuk mempertobatkan yang lain. Inilah dasar kerukunan hidup beragama di komunitas Lingsar.

Dan sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa di sana ada ukiran burung garuda. Itu berarti komunitas Lingsar sebenarnya merupakan miniatur keberagaman di Indonesia.

Saya berasumsi bahwa jika Indonesia sejak dahulu kala menganut nilai-nilai keutamaan seperti di komunitas ini, maka sampai saat ini kerukunan hidup beragama tetap terpelihara baik. Asalkan ada pemahaman yang rasional terhadap masing-masing tradisi keagamaan.

Kemaliq atau Pura Lingsar, yang terletak di tengah-tengah pemukiman masyarakat dari kedua agama ini (juga agama Kristen), telah menjadi “mercusuar” yang menuntun umat kepada hidup rukun dan damai.

Ia hadir seperti “pelita” yang menerangi upaya untuk menjaga tradisi toleransi dan nasionalisme yang memang sejak dulu telah dipelihara dengan baik dan ketat.

Toleransi bagi mereka adalah sebuah “budaya” dan budaya adalah menyangkut adat-kebiasaan. Dan apa yang telah menjadi “budaya” akan kebal terhadap perubahan ruang dan waktu.

Dalam kebudayaan toleransi dan kerukunan itu, komunitas Lingsar sedang mewariskan sebuah tradisi yang alamiah, asli dan murni.

Penutup

Jauh sebelum MacIntyre mengemukakan pemikiran etisnya, di komunitas Lingsar, tradisi penghormatan keutamaan terhadap masing-masing agama telah berakar.

Namun ini tidak berarti pemikiran MacIntyre tidak relevan lagi untuk konteks mereka. Justru pemikiran MacIntyre membingkai tradisi Lingsar dengan lebih aktual dan baru.

Bisa diasumsikan bahwa masyarakat Lingsar tidak pernah membaca pemikiran MacIntyre, tetapi mereka sebenarnya telah menjadi “pemikiran yang hidup”, yang aktual dari etika keutamaannya.

Dalih bahwa keutamaan mesti dikembalikan kepada tradisi masing-masing komunitas semakin urgen di tengah realitas pluralisme seperti Indonesia.

Komunitas Lingsar mesti hadir sebagai miniatur dan bingkai keberagaman Indonesia. Dengan demikian kerukunan hidup beragama dan berbagai perbedaan bisa didamaikan.*

Posting Komentar untuk "Pura Lingsar: Potret Kerukunan Berbasis Tradisi"