Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Quo Vadis Industri Musik NTT

Andmesh Kamaleng. -Dok. tribunnews.com.

Dalam catatan ini, saya ingin mengungkapkan kegelisahan saya terhadap panggung masa depan anak-anak NTT di bidang industri musik dan juga olahraga, yang hingga kini belum dijadikan common platform kebijakan industrialisasi kedaerahan.

Sejak kemunculan Azizah (juara KDI, 2015) di pentas musik nasional, geliat industri musik anak-anak NTT terbilang berkembang maju. Bagaimana tidak, sejak saat itu, satu per satu anak-anak muda NTT muncul ke permukaan musik nasional.

Sebut saja Mario G. Klau (juara The Vioce Indonesia, 2016), berikut Tommy (juara Superstar, 2016), Andmesh Kamaleng (juara Rising Star, 2017), Arina (dan Azizah di Akademi Dangdut 4, 2017).

Hampir bersamaan dengan Azizah ada juga Nona-Mamamia. Terakhir ada Aldo Longa dari Bajawa yang menjuarai The Voice Indonesia 2018.

Ini baru beberapa deretan penyanyi baru yang tergolong masih “hijau”. Belum terhitung penyanyi-penyanyi lokal yang selama ini telah menjadi “legenda” industri musik daerah, sebut saja Nyong Franco, musisi, penyanyi dan pegiat seni tari asal Maumere, yang lagunya: “Gemu Famire” sudah go international.

Untuk tidak dikatakan melupakan Ivan Nestorman, musisi dan penyanyi senior asal Manggarai, yang lagu-lagunya telah go international, dan telah meraih beberapa penghargaan. Agaknya, dialah generasi emas musisi NTT di panggung nasional, yang membawa brand musik jazz hingga ke panggung internasional.

Bahkan masih ada begitu banyak potensi anak-anak muda yang belum punya kesempatan untuk meraih prestasi serupa. Kekhasan dan karakter suara yang begitu berbeda, menjadi “amunisi” yang secara tidak sadar melejitkan nama penyanyi asal Flobamora.

Sebut saja Mario Klau dan Andmesh Kamaleng, dua anak muda asal Kupang, ditengarai akan menjadi “generasi emas” NTT di panggung musik nasional.

Dalam kontestasi yang mereka ikuti, keduanya dipuja-puji bahkan “dicemburui” karena karakter suara yang begitu unik dan memesona para juri. Judika, Ari Lasso, Kaka, Agnes Monica, Anang Hermansyah, dan beberapa juri lainnya terkesima dan berdecak kagum mendengar suara-suara emas keduanya.

Bahkan, oleh Anang Hermasnyah, Andmesh sudah layak dipromosikan ke level yang lebih tinggi, bahkan ia digadang-gadang akan menyamai dan menggantikan posisi (alm.) Mike, jebolan Indonesian Idol. Hal itu terbukti. Usai melejit bersama Rising Star, bintang muda itu langsung merilis beberapa lagu yang kini berada di tangga nada terhits di Indonesia.

Suksesnya Canho Pasirua, pianis cilik asal Kamubheka-Ende, yang mengantongi 5 penghargaan the best dalam ajang pianis cilik internasional di Amerika Serikat pun turut memberi nuansa baru perkembangan dunia musik NTT.

Selain dijuluki sebagai “Joey Alexander NTT”, Canho ternyata memiliki kemampuan yang hampir tidak bisa dicapai pianis seusianya. Kelihaian dan kecepatan jari-jarinya memainkan tuts-tuts memberi kesan bahwa anak-anak NTT patut diperhitungkan.

 Musisi dan penyanyi nasional pun mulai meyakini bahwa sudah saatnya anak-anak muda NTT menguasai persaingan industri musik nasional.

Prestasi yang diraih beberapa putra daerah kita tentu membanggakan, karena, selain mengangkat pamor positif NTT ke level nasional, karena biasanya NTT terkenal sebagai daerah termiskin, terkorup, dan terbelakang, prestasi mereka pun turut membuka sebuah link baru bahwa anak-anak Flobamora layak dipromosikan ke level yang lebih tinggi.

Potensi-potensi besar yang selama ini tertutup semata di ruang-ruang musik lokal (misalnya jadi penyanyi acara pesta, karaoke), dengan fasilitas dan akses yang terbatas, mesti dikembangkan dan direproduksikan.

Katakan, produktivitas musisi dan penyanyi lokal NTT tidaklah kecil, tetapi upaya untuk membuka jejaring lintas batas jarang dibuat, baik oleh musisi/penyanyi dan kelompoknya maupun oleh pemerintah daerah (Pemda), dan lembaga-lembaga donor swasta (sponsorship) yang mengikutinya.

Di satu sisi, malah ada juga semacam “ketakutan” dan perasaan “inferior” dalam diri anak-anak muda NTT sendiri yang secara psikososial menyebabkan daya juang, kreasi, dan inovasi mereka buntu.

Sementara itu tanggung jawab etis Pemda dan lembaga donor amatlah minim. Anehnya, bilamana ada putra NTT yang sukses di bidang olahraga (Yabes, dkk. atau PSN di Liga Nusantara 2016 dan beberapa lainnya), misalnya, Pemda nampaknya amat antusias.

Tim atau atlet tersebut disambut secara gegap gempita, dikalungkan bunga teridah, bahkan dijamin masa depannya (misalnya, diangkat menjadi PNS). Di sini ada sesuatu yang “pincang”, yang jarang dilihat publik NTT, alih-alih turut berbangga diri.

Pencapaian tim PSN Ngada di level nasional dengan menjadi runner-up Liga Nusantara 2016 menjadi “kebangkitan” yang patut diapresiasi, selain musik. Begitu juga dengan suksesnya tim U-21 provinsi NTT yang bisa jadi runner-up Liga Desa tahun 2015.

Apresiasi tertinggi bukan sekedar menjamin masa depan para pemain, tetapi lebih pada upaya untuk mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi tim di even-even selanjutnya. Dengan suksesnya tim berjulukan “Jaramasi” tersebut terlihat bahwa sepakbola NTT pun sedang on fire.

Hal itu terbukti ketika beberapa pemain NTT dibidik dan dipanggil untuk memperkuat klub-klub besar Liga Indonesia, bahkan kemudian dipromosikan ke timnas Indonesia. Sebut saja ada Yabes, Alsan Sanda, Bili Keraf, dll.

Pelatih timnas U-19, Indra Safri, adalah pencari bakat yang sangat tertarik dengan pemain-pemain NTT. Sama halnya dengan industri musik, anak-anak muda kita mesti diorganisasikan sedemikian rupa, bahkan dibiayai, agar bakat-bakat mereka tidak menguap begitu saja.

Pemda adalah satu-satunya lembaga donor yang mesti mendukung segala daya juang, kreativitas dan inovasi anak-anak muda NTT, entah dalam bidang apapun.

Kalaupun tidak, pihak swasta pun bisa mengambil peran untuk turut mengembangkan potensi anak-anak muda yang sedang naik daun. Ada begitu banyak potensi anak-anak muda NTT yang jarang, bahkan tidak diperhatikan dan diorganisasikan, tapi malah dibiarkan terpolarisasi lalu menghilang begitu saja.

Punya Modal


Secara ekonomi/bisnis, kita bisa rugi, karena tidak mengembangkan “modal” yang sudah siap untuk diproduksikan. Dengan kata lain, bahan mentahnya sudah tersedia, sekarang tinggal Pemda atau pihak swasta mau mengidentifikasi potensi yang ada lalu dikembangkan melalui lembaga atau klub musik dan olahraga yang ada.

Karena hasilnya bukan saja demi pribadi atau kepentingan tertentu, tapi secara luas berpengaruh terhadap destinasi wisata daerah yang lebih progresif. Kita jangan sampai akhirnya seperti “tikus yang mati di lumbung padi”.

Karena itu, panggilan nurani Pemda dan sponsor untuk memberdayakan aneka potensi generasi muda yang berseliweran menjadi urgen, relevan, dan aktual.

Azizah, Mario Klau, Tommy, Aldo, dll., telah membuka “tautan” untuk go national. Saya amat yakin tidak lama lagi anak-anak muda NTT yang lain secara besar-besaran turut “meriahramaikan” industri musik nasional, bahkan internasional.

Musisi daerah seperti Nyong Franco, yang selain bergelut di dunia musik, tapi juga di bidang seni tari, dengan sanggarnya bernama “Sanggar Bensa”, agaknya baik untuk dipromosikan sebagai karya terbaik daerah. Jarang pemerintah kita yang mengidentifikasi karya-karya putra daerah untuk dijadikan destinasi wisata atau produk daerah yang layak dikembangkan.

Pemilihan tokoh-tokoh terbaik atau tokoh teladan daerah bahkan hampir-hampir tidak terdengar. Yang terdengar publik malah kasus-kasus korupsi, kasus pemerkosaan, suap, jargon-jargon politik, dan wacana lain semacam.

Hemat saya, dukungan Pemda, terutama melalui kebijakan anggaran dan perluasan jaringan kerja akan sangat membantu akses dan kesinambungan “tautan” yang sedang diciptakan untuk mengubah citra NTT sebagai daerah produk musik dan pemain-pemaian nasional.

Kita punya modal, kita punya potensi besar. Peluang untuk merebutnya tidaklah sulit. Buktinya, tanpa sokongan Pemda pun Azizah, Mario Klau, Andmesh, dkk., dinyatakan “berhasil” mengharumkan nama NTT. Pertanyaannya, siapa yang lebih berbangga: pemerintah atau masyarakat?

Karena itu, desakan untuk me-reorganisasi anggaran (APBD, misalnya) mutlak dibuat, agar tiap dimensi pembangunan tersentuh dengan porsi yang setara. Jangan sampai kita tersedot ke dalam hingar-bingar politik nasional, lalu lupa membentuk jati diri kedaerahan kita.

Pendek kata, yang sangat ditekankan dalam geliat perubahan tersebut adalah perubahan kultur dan kebijakan politik. Suatu strategi yang dipusatkan pada pembangunan tidak hanya fisik tapi juga spiritual, melalui industrialisasi dan modernisasi dengan investasi besar-besaran dalam segala sektor ekonomi, sosial dan budaya harus digalakkan.

Apalagi, sekarang telah terjadi pergeseran pemahaman tentang arti go international. Dulu bila kita omong tentang go international selalu berarti musisi/penyanyi mesti pergi ke luar negeri.

Tapi saat ini, go international bisa saja dicapai tanpa pergi ke luar negeri. Dengan kemudahan teknologi internet (Youtube, misalnya), orang tidak perlu lagi membuang-buang uang untuk promosi di luar negeri.

Seorang musisi/penyanyi bisa mempromosikan karya-karyanya dari tempatnya. Kisah kesuksesan Canho Pasirua dan Nyong Franco adalah fakta bahwa internet justru menjadi media yang menjadikan keduanya bisa go internastional.

Teranyar, kisah kesuksesan lagu "Karna Su Sayang" Dian Sorowea Feat Andra Near, adalah tanda bahwa prospek industri musik daerah punya daya komersial yang tidak kalah dengan musisi profesional. Artinya, musisi lokal punya peluang untuk sukses jika mereka bisa memanfaatkan kemutakhiran teknologi internet untuk go international.

Sebagai industri komersial, sayangnya penyanyi dan pencipta lagu di Indonesia, terutama di daerah, belum mempunyai "performing rights",  yakni hak untuk mendapatkan royalti (fee) dari setiap kali lagu itu dinyanyikan oleh artis lain untuk kepentingan komersial. Misalnya lagu Near yang pernah dinyanyikan oleh artis Via Vallen untuk kepentingan komersialnya.

Dalam media/pers, ada yang disebut exclusive rights,  yaitu hak yang dmiliki media/jurnalis untuk mendapatkan hak eksklusif (priviledge) atas pemberitaannya. Sebab, di era sekarang, tidak ada yang gratis, semuanya mesti diuangkan.

Sebagai penutup, saya berharap agar Pemda dan lembaga seni dan budaya di daerah mesti punya jalan untuk membangun industri musik karena dengan itu serentak meningkatkan produktivitas dan daya saing sumber daya manusia.*

Posting Komentar untuk "Quo Vadis Industri Musik NTT"