Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Representasi Identitas Etnis Papua dalam Film

Pemeran Denias dalam film Denias Senandung di Atas Awan. Dok. youtube.com.

Pusat cultural studies ada pada pertanyaan tentang representasi, yaitu bagaimana dunia dikonstruksi dan direpresentasikan secara sosial, dalam tulisan ini, oleh media (televisi).

Dengan itu mengharuskan kita untuk mengeksplorasi pembentukan makna tekstual (bahasa) sekaligus menyelidiki cara produksi makna dalam segala konteks.

Representasi ini menjadi pusat kajian cultural studies karena ia memiliki materialistik tertentu, seperti bunyi, objek, atau media. Elemen material ini diproduksi, ditampilkan dan dipahami dalam konteks sosial tertentu.

Tulisan ini merupakan review atau tanggapan atas penelitian Lintang Citra Christiani berjudul “Representasi Identitas Etnis Papua dalam Serial Drama Remaja Diam-Diam Suka dalam Jurnal Komunikasi dan Kajian Media, Vol.1, No.1, Oktober 2017.

Lintang dalam penelitiannya menemukan bahwa ada representasi identitas etnik yang pekat dalam serial drama remaja yang ditayangkan sepanjang 11 November 2013-22 Februari 2015 itu.

Diketahui, "Diam Diam Suka" (DDS) adalah sinetron yang ditayangkan di SCTV. Serial ini diproduksi oleh Screenplay Productions.

Dalam DDS, Lintang melihat representasi identitas etnik Papua ditampilkan sebagai sosok yang bodoh, aneh, dan primitif meski telah memasuki wilayah kota.

Representasi itu tampak dalam atribut-atribut kultural melalui bahasa, dialog, setting, dan karakter, bahkan melalui humor dalam film tersebut.

Penelitian ini menarik, karena film ini tidak mengambil latar tempat di Papua seperti dalam beberapa film, tetapi mengambil kota Jakarta sebagai ruang (kota) di mana hibridisasi budaya terjadi.

Artinya, identitas Papua melalui tokoh Pace dan Douglas dalam film menarik diteliti karena mereka adalah Papua diaspora, yang dapat diandaikan, identitas budaya mereka telah mengalami pergeseran, perubahan dan peleburan.

Analisis peneliti menggunakan teori Television Codes John Fiske (1999) untuk membongkar representasi identitas etnik dan ras Papua dalam serial drama DDS berdasarkan tiga kerangka analisis: level realitas, level representasi dan level ideologi sangatlah mendalam dan representatif.

Setidaknya, unit-unit analisis ini berhasil menyingkap perangkat-perangkat ideologis dan represetasi etnik dan ras Papua dalam film bertajuk anak muda tersebut.

Terutama ketika peneliti mampu menentukan unit analisis terkecil yang dinilai lebih representatif untuk melakukan analisis, dengan pendasaran jumlah tampilan aktor Papua lebih banyak dalam film tersebut.

Teori Fiske ini merupakan salah satu pisau teoretik yang sangat membantu peneliti untuk mengeksplorasi konstruksi dan representasi etnik dan ras Papua.

Teori ini juga telah banyak dipakai peneliti lain untuk mengkaji konteks sosial yang sama: televisi.

Namun ada tiga permasalahan teoretik yang saya temukan dalam penelitian ini, yaitu ketidakmendalaman pembahasan teori representasi, teori poskolonial dan identitas budaya hibrida.

Teori Representasi

Pada pembahasan teoretik, peneliti tidak membeberkan secara mendalam konsep-konsep dasar dari teori representasi, termasuk representasi budaya dalam televisi (film).

Selain itu, rujukan pemahaman tentang konsep representasi tidak disinggung peneliti pada satu nama yang konsep-konsepnya menjadi dasar kajian budaya, yaitu Stuart Hall. Padahal Hall adalah salah satu pemikir yang berjasa besar dalam teori representasi.

Konsentrasi peneliti pada level analisis Fiske seakan mengabaikan dua elemen penting dalam proses representasi menurut Hall.

Pertama, representasi mental, yaitu konsep tentang sesuatu yang ada di kepala kita masing-masing (peta konseptual) dan masih merupakan sesuatu yang abstrak. Kedua, bahasa berperan penting dalam proses konstruksi makna.

Konsep abstrak yang ada dalam kepala kita harus diterjemahkan dalam bahasa yang lazim, supaya kita dapat menghubungkan konsep dan ide-ide kita tentang sesuatu dengan tanda dari simbol-simbol tertentu.

Media sebagai suatu teks banyak menebarkan bentuk-bentuk representasi pada isinya. Representasi dalam media menunjuk pada bagaimana seseorang atau suatu kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan dalam pemberitaan.

Menurut Hall (2003), representasi dipahami sebagai gambaran sesuatu yang akurat atau realita yang terdistorsi. Representasi tidak hanya berarti “to present”, “to image”, atau “to depict”. Representasi menurutnya selalu bersifat politis.

Dengan dua konsep ini, Hall mencoba beralih dari pemahaman konvensional tentang representasi cara memaknai apa yang diberikan pada benda yang digambarkan.

Konsep ini didasarkan pada premis bahwa ada sebuah gap representasi yang menjelaskan perbedaan antara makna yang diberikan oleh representasi dan arti benda yang sebenarnya digambarkan.

Hall berargumentasi bahwa representasi harus dipahami dari peran aktif dan kreatif orang memaknai dunia.

Hall menunjukkan bahwa sebuah imaji akan mempunyai makna yang berbeda dan tidak ada garansi bahwa imaji akan berfungsi atau bekerja sebagaimana mereka dikreasi atau dicipta.

Hall menyebut representasi sebagai konstitutif karena representasi tidak hadir sampai setelah selesai direpresentasikan, tetapi bagian dari objek itu sendiri.

Representasi merujuk kepada konstuksi segala bentuk media terutama media massa terhadap segala aspek realitas atau kenyataan seperti masyarakat, objek, peristiwa, hingga identitas budaya.

Representasi ini bisa berbentuk kata-kata atau tulisan bahkan juga dapat dilihat dalam bentuk gambar bergerak atau film. Representasi tidak hanya melibatkan bagaimana identitas budaya disajikan atau dikonstruksikan di dalam sebuah teks, tapi juga dikonstruksikan di dalam proses produksi dan resepsi oleh masyakarat yang mengkonsumsi nilai-nilai budaya yang direpresentasikan.

Dalam kasus film sebagai representasi budaya, film tidak hanya mengkonstruksikan nilai-nilai budaya tertentu di dalam dirinya sendiri tapi juga tentang bagaimana nilai-nilai tadi diproduksi dan bagaimana nilai itu dikonsumsi oleh masyarakat yang menyaksikan film tersebut.

Jadi ada semacam proses pertukaran kode-kode kebudayaan dalam tindakan menonton film sebagai representasi budaya.

Hall menganggap bahwa “ada yang salah” dengan representasi kelompok minoritas dalam media, bahkan ia meyakini bahwa imaji-imaji yang dimunculkan oleh media semakin memburuk.

Hall mengamati bahwa media cenderung sensitif pada gaya hidup kelas menengah ke atas, mayoritas masyrakat yang sudah teratur, sementara orang kulit hitam digambarkan sebagai “kelompok luar”, “di luar konsensus”, “relatif tidak terorganisir”, “kelas pekerja” atau sebagai “yang lain”.

Lebih lanjut, media semakin mengagungkan institusi masyarakat, di mana masyarakat kulit hitam 'bermasalah' dalam area kekuasaan sensitif tersebut.

Mengenai televisi (serial drama) dan representasi etnik dan ras Papua yang menjadi objek kajian peneliti dalam pembahasan ini juga semestinya merujuk pada penelitian semisal Cantor dan Cantor (1992) yang menemukan bahwa di Amerika Serikat sampai dengan akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an kita belum mendapatkan adanya tampilan keluarga kulit hitam dalam drama televisi.

Hal yang sama terjadi di Inggris, di mana pada tahun 1980-an, Komisi Kesetaraan Rasial (1984) mencatat bahwa meski di AS warga kulit hitam lebih sering muncul di televisi, namun di Inggris hanya 5 persen tokoh drama berkulit hitam.

 Ini yang kemudian muncul permasalahan terhadap jenis-jenis representasi yang membentuk etnisitas dan ras (Barker, 2004:219).

Menurut Martindale (1986) dan Campbell (1995), gambaran paling umum tentang masyarakat Amerika keturunan Afrika dalam tayangan berita adalah sebagai penjahat dengan senjata dan kekerasan.

Pada akhirnya masyarakat kulit hitam dikonstruksi sebagai ancaman bagi masyarakat yang memunculkan stereotipe untuk merujuk kepada pandangan negatif tentang orang yang berbeda dengan kita. Menurut Hall (1997c:258), stereotipe ini mereduksi, mendasarkan dan mengekalkan serta mematok perbedaan.

Akar teoretik penelitian ini sebenarnya mesti diletakkan dalam konteks sosial seperti ini. Misalnya dalam pertanyaan: mengapa kaum kulit hitam selalu ditampilkan secara buruk dalam televisi Indonesia.

Atau kapan kaum kulit hitam di Indonesia masuk televisi atau bermain film yang ditonton secara massal. Bilamana serial drama ini mendapat rating program yang tinggi, sejauh mana konstruksi makna yang tercipta di kalangan penonton karena representasi terjadi ketika ada peran aktif dan kreatif orang-orang dalam memandang konteks sosial tersebut.

Jika merujuk pada argumentasi Hall yang menganggap bahwa “ada yang salah” dengan representasi kelompok minoritas dalam media, maka benar, maka pembahasan dalam penelitian mestinya mendasarkan pemikiran pada konsep-konsep dasar representasi, baru kemudian dianalisis dalam konteks teori pascakolonial dan orientalisme.

Karena persis setelah peneliti melakukan analisis menurut konsep Fiske, terungkap bahwa ada representasi etnik dan ras dalam serial drama tersebut. Karena itu, teori representasi Hall menjadi relevan untuk mempertajam analisis dan pembahasan peneliti.

Hal mana ternyata benar bahwa argumentasi Hall yang mengatakan media cenderung memperburuk representasi etnik dan ras menyata dalam DDS.

Di mana kedua aktor asal Papua: Pace dan Douglas, dipandang atau ditempatkan sutradara (dan juga penonton), sebagai pelengkap (dengan memberikan humor) dan “yang lain” dari budaya konvensi kulit putih (Jawa).

Dalam konteks bahasa pun, kedua aktor ini ditempatkan berbeda dengan aktor lainnya, baik dialek, gestur, karakter, dan lainnya.

Teori Poskolonial

Ada kerancuan yang ditimbulkan peneliti dalam karya penelitian ini. Tanpa membaca literatur yang memadai, peneliti seolah membedakan teori postkolonial dan orientalisme.

Padahal tonggak kelahiran teori postkolonial ditandai dengan terbitnya buku Edward W. Said (1978) berjudul Orientalism. Karena itu kedua konsep ini tidak berbeda tanpa saling terhubung.

Tesis utama Said (Santoso, 2012) menggunakan pendekatan hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan. Kaum orientalis berpendapat bahwa masalah studi ilmiah Barat mengenai Timur tidaklah semata-mata didorong oleh kepentingan pengetahuan, tetapi juga kepentingan kolonialisme.

Pengetahuan bagi kaum orientalis adalah untuk mempertahankan kekuasaanya, yakni pengetahuan yang dipenuhi dengan visi dan misi politis ideologis. Studi tersebut juga semata-mata merupakan bentuk lain atau kelanjutan dari kolonialisme.

Bangsa Timur dikontruksikan sebagai bangsa yang identik dengan irasionalitas, berakhlak bejat, kekanak-kanakan, dan “berbeda” dengan Barat yang rasional, bijaksana, dewasa, dan “normal”.

Pandangan Said tersebut seolah-olah menyuarakan secara eksplisit apa yang terpendam dalam kesadaran banyak orang, terutama orang-orang di negara bekas jajahan Barat, yang kini disebut sebagai “Dunia Ketiga”, untuk bangkit berjuang menemukan kesadaran dengan menuntut keadilan dan kesetaraan.

Gayatri Spivak menulis pengantar yang demikian panjang untuk buku Jacques Derrida, Of Grammatology (1982), di mana ia menolak segala kekuasaan yang membatasi, sekaligus mengungkapkan pengutamaannya atas kebebasan.

Masyarakat yang tertekan dan terjajah, subaltern, harus berbicara, harus mengambil inisiatif, dan menggelar aksi atas suara mereka yang terbungkam.

Menurut Santoso (2012), poskolonial dipahami sebagai teori, wacana, dan istilah yang digunakan untuk memahami masyarakat bekas jajahan, terutama sesudah berakhirnya imperium kolonialisme modern.

Poskolonial juga mengacu pada objek sebelum dan pada saat terjadinya kolonialisme. Nyoman K. Ratna dalam bukunya Poskolonialisme Indonesia Relevansi Sastra (2008) mengemukakan lima pokok pengertian poskolonial:
  1. menaruh perhatian untuk menganalisis era kolonial
  2. memiliki kaitan erat dengan nasionalisme
  3. memperjuangkan narasi kecil, menggalang kekuatan dari bawah, sekaligus belajar dari masa lampau untuk menuju masa depan
  4. membangkitkan kesadaran bahwa penjajahan bukan semata-mata dalam bentuk fisik, melainkan juga psikis
  5. bukan semata-mata teori, melainkan kesadaran bahwa banyak pekerjaan besar yang harus dilakukan, seperti memerangi imperalisme, orientalisme, rasialisme, dan berbagai bentuk hegemoni lainnya.
Peneliti dalam pembahasannya mengasosiasikan kelompok mayoritas Indonesia (Jawa) sebagai bagian dari dunia “Barat” (Eropa) dalam konsep Orientalisme (lih. Barker, 2004:217).

Sementara kelompok minoritas, termasuk Papua, sebagai simbol budaya “Timur”. Dunia barat dilihat sebagai kelompok yang berpengetahuan, berbudaya dan maju, sedangkan budaya timur dipandang rendah, buruk, dan primitif.

Asosiasi ini hemat saya terlalu sempit untuk dikontekstualisasikan dalam kerangka teori poskolonial. Sebab dalam konteks kebangsaan, teori poskolonial membingkai Indonesia secara keseluruhan sebagai bangsa yang pernah dijajah, atau menjadi daerah koloni. Barat.

Itu berarti, narasi, literatur dan bahasa yang diekspresikan kedua kelompok ini, baik mayoritas (Jawa) atau minoritas (Papua) berada dalam satu garis yang sama, yakni berjuang memerangi imperialisme, orientalisme, dan hegemoni budaya Barat, dalam hal ini Eropa.

Mengutip Barret (dalam Barker, 2000:100), peneliti melihat pandangan stereotipe dan rendah terhadap kelompok minoritas Papua sebagai imperialisme budaya.

Namun hemat saya, argumentasi ini segera mendapat sanggahan karena yang dimaksudkan Barret adalah imperialisme kultural yang mewakili sebuah bangsa atau negara tertentu.

Misalnya imperialisme budaya pop ke Indonesia, atau budaya jazz, dan musik klasik, fashion atau mode, barang konsumsi, dan ragam atribut budaya lainnya. Barret tidak melihatnya dalam konteks imperialisme antar budaya dalam satu bangsa.

Sebab, sebagai satu kelompok masyarakat yang sama-sama memekik nasionalisme untuk mengusir penjajah, baik Jawa maupun Papua memiliki 'folklore' sejarah yang sama.

Persoalan adanya superioritas oleh kelompok dominan dalam televisi itu merupakan persoalan jenis-jenis representasi yang konteks historisnya dapat kita lacak secara ilmiah dalam penelitian-penelitian para sarjana di AS dan Inggris, dua negara yang menjadi lokus studi budaya.

Dengan demikian, hemat saya, penerapan teori poskolonial dalam analisis penelitian ini tidak kontekstual, meski ini merupakan studi antarbudaya.

Lagipula, belum ada studi-studi kebudayaan yang mengatakan bahwa budaya kelompok mayoritas (Jawa) sebagai produk budaya Barat, dan budaya kelompok minoritas sebagai produk budaya Timur.

Term Barat dan Timur ini, selain ditempatkan dalam konteks kebudayaan, juga merupakan konsep kemajuan teknologi, pengetahuan dan industri.

Lebih dari itu, lebih bersifat politis. Di mana sejak zaman Soekarno, Orang Timur di Indonesia selalu dicap sebagai primitif, terbelakang, dan jelek. Atau dalam terma pembangunan, kawasan timur menempati porsi terakhir setelah Jawa atau Sumatra.

Sementara untuk mendudukkan persoalan yang menjadi basis pertanyaan penelitian tersebut pada dasarnya terkait erat dengan konsep representasi (bdk. Hall, 1997; Fiske 1995).

Bauran Budaya

Salah satu hal yang muncul dalam penelitian ini, namun seakan diabaikan peneliti, yaitu mengenai hibridisasi budaya. Peneliti berargumentasi bahwa penelitiannya berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya yang mengkaji film Papua dengan latar geografis tanah Papua.

Namun dalam serial drama DDS, lokasi geografis itu tidak lagi di Papua, tetapi di sebuah kampus di kota Jakarta.

Masalahnya tetap sama menurut peneliti, yaitu bahwa dalam film-film bertajuk Papua, selain orang-orang Papua menjadi aktor utama (dalam DDS diperankan sebagai aktor pembantu), aktor-aktor ini selalu ditempatkan secara inferior di bawah dominasi pemain berkulit putih.

Tampak bahwa pemain-pemain itu begitu dominan sepanjang laga, serentak memperlihatkan adanya segregasi kebudayaan dan pengetahuan antara kedua kelompok tersebut.

Meski demikian, ada yang luput dari perhatian peneliti. Bahwa lokasi syuting serial drama DDS ini tidak berada di Papua, yang bisa saja segera ditangkap penonton untuk mengkonstruksi masyarakat Papua, tetapi berada di Jakarta. Tentang peralihan atau pemusatan lokasi ini memberi satu bingkai analisis baru yang perlu tersingkap.

Ketika masyarakat Papua melakukan migrasi dari ruang alamiahnya di Papua dan menetap di Jakarta, entah sebagai mahasiswa, pekerja, atau apapun (kemudian disebut sebagai kelompok diaspora Papua), maka telah terjadi pergeseran, perubahan dan peleburan atribut kebudayaan dalam diri orang-orang Papua. Hal itu dapat saja terjadi pada siapapun yang disebut sebagai 'kaum diaspora'.

Identitas diaspora ini merupakan konsep relasional yang mengacu kepada konfigurasi kekuasaan yang membedakan diaspora secara internal maupun menempatkan mereka dalam kaitannya satu sama lain. Identitas diaspora adalah jaringan identifikasi yang mencakup 'komunitas terbayang' dan komunitas yang saling bertemu (lih. Brah, 1996, dalam Barker, 2004:207).

Dengan ini kita dapat menduga bahwa orang-orang Papua yang berada di Jakarta telah mengalami banyak perubahan dalam kode kebudayaan mereka, karena mereka telah belajar dan terlebur dalam satu kebudayaan baru, yaitu metropolitan.

Saya dapat saja berasumsi, karakter-karakter yang dihadirkan dalam adegan DDS merupakan rekayasa sutradara, sementara kedua aktor asal Papua tersebut sudah lebih maju memaknai kode kebudayaan baru di ibukota.

Analisis ini tentu akan berbeda ketika pemain dalam film ini merupakan anak-anak Papua yang lahir dan besar di Papua, terutama dengan mengambil latar masyarakat Papua.

Jika kita memahami kebudayaan sebagai sebuah wisata, pelancongan, perjalanan, dan penyebaran, maka identitas diaspora Papua di Jakarta akan berbeda dengan identitas orang Papua yang hidup di Papua.

Karena itu, karakter dalam serial drama ini lebih merupakan ketidakberhasilan sutradara untuk mengeluarkan kebudayaan Papua dari orang-orang Papua dan masih menganggap bahwa orang-orang Papua di Jakarta masih menggenggam karakter aslinya.

Inilah bentuk-bentuk representasi ketika kebudayaan masih dipandang sebagai artefak yang kaku, statis dan beku. Padahal Pieterse (1995, dalam Barker, 2004:206) mengajak kita untuk melihat kebudayaan lebih sebagai arena bertemunya para pelancong.

Penutup

Representasi etnisitas dan ras yang digambarkan dalam DDS merupakan produk dari keterbelakangan budaya para konseptor serial drama tersebut. berupaya menghadirkan identitas Papua asli yang humor, bodoh dan primitif, film ini tampak kontradiktif, karena lokasi syutingnya justru berlatarkan kota Jakarta.

Penelitian ini baik untuk menyingkap lebih banyak dimensi ideologis yang terpapar dalam serial drama DDS. Namun, peneliti terbatas membahas hal-hal konvensional dan tidak beranjak dari ruang gelap yang menyelimuti alam pemikirannya bahwa kebudayaan di era globalisasi ini telah berpindah dari ranah mekanistik ke dimensi relasional dan dinamis.

Penelitian ini menarik sebagai batu loncatan bagi studi-studi budaya berikutnya. Namun, landasan teoretik dan pembahasan yang cenderung repetitif membuat penelitian ini tidak menghasilkan pengetahuan atau konsep baru yang khas dan mendalam.

Teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini tumpang tindih. Salah satunya disebabkan oleh keterbatasan peneliti untuk melakukan studi kepustakaan yang lebih komprehensif dan luas. Belum ada koherensi teoretik dengan alur pembahasan yang menjadi basis analisis penelitian ini.

Sebagai saran, saya memandang perlunya perluasan basis analisis dalam penelitian ini. Salah satunya adalah dengan melakukan wawancara dengan para aktor, atau dengan orang-orang Papua diaspora, untuk melihat alih-kode kebudayaan dalam diri individu atau komunitas masyarakat Papua diaspora.

Hal itu perlu mengingat penelitian ini mengambil objek kajian serial drama DDS yang berlatar kota Jakarta. Tentu politik ruang (kota) turut berpengaruh dalam kseluruhan proses produksi film ini.

Daftar Pustaka

  • Barker, Chris. 2004. Cultural Studies. Teori dan Praktik. London: Sage Publication.
  • Fiske, John. 1995. Television Culture. London: Routledge.
  • Hall, Stuart. 2003. "The Work of Representation: Cultural Representation and Signifying Practices. Ed. Stuart Hall. London: Sage Publication.
  • Puji Santosa, Puji. Oktober 2012. “Kritik Postkolonial: Jaringan Sastra atas Rekam Jejak Kolonialisme”, dalam www.researchgate.net.
  • https://sosiologibudaya.wordpress.com/2013/03/13/cultural-representation-re-presentasi-budaya/, 13 Maret 2013.

Posting Komentar untuk "Representasi Identitas Etnis Papua dalam Film"