Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Senjakala Media di Era Revolusi Industri 4.0

Ilustrasi konvergensi media. Dok. bisotisme.com.

Graha Budaya -- Di tengah arus perubahan teknologi akibat revolusi industri, organisasi media sudah seharusnya menyesuaikan dirinya dengan realitas lingkungan di luar dirinya. Karena lingkungan, dalam hal ini "pasar" telah menjadi "raja" di mana industri media harus masuk dan bertarung.

Hal itu sejalan dengan dialektika fungsi media itu sendiri, yaitu sebagai lembaga informasi dan industri atau lembaga bisnis. Akhirnya, hukum rimba berlaku: yang bertahan hanya bagi mereka yang memenangkan pertukaran pasar.

Miles dkk. (1997) mendeskripsikan format organisasi sebagai logika yang membentuk strategi, struktur, dan proses manajemen perusahaan menjadi efektif terhadap perubahan yang ada. Ketika lingkungan berubah, strategi berubah dan bentuk organisasi yang ada dipaksa untuk bereksperimen dengan cara-cara baru dan mengkonsolidasikan sumber daya.

Dalam organisasi media pun, di mana perubahan besar dalam lingkungan strategis secara bersamaan mengikis dasar pemikiran struktur organisasi dan mendorong pengembangan alternatif. Akhirnya muncullah trend seperti merger, akuisisi, aliansi dan usaha patungan, spin-off, start-up, dan jaringan internal dan eksternal lainnya.

Permasalahan pokok semua dari perubahan itu adalah karena sebagian besar perusahaan saat ini dijalankan untuk meminimalkan risiko, tetapi di lain pihak, ingin mengakumulasi keuntungan sebesar mungkin. Sebagian lainnya karena ada beberapa pemain media yang tidak cepat merespon perubahan atas dasar kekurangan sumber daya, kompetensi dan persaingan, sehingga muncul kecenderungan menimbun informasi dan data penting.

Atau dengan cara lain, ingin menguasai akses dan panggung informasi seluas mungkin. Kegagalan dianggap mahal dan pengambilan keputusan dan kekuasaan media berada di tangan segelintir orang. Menurut Schmidt, pendiri Google, kecenderungan demikian tidak lagi berlaku di era internet (dotcom age).

Para ahli telah menyatakan bahwa sejak tahun 1970-an, perusahaan-perusahaan besar yang secara tradisional terintegrasi secara vertikal tidak lagi menjadi model struktural standar organisasi, karena perlahan-lahan struktur organisasi telah menjadi lebih longgar dengan aliansi antar perusahaan yang muncul sebagai alternatif.

Gejolak perubahan ini diidentifikasi oleh ekonom Ronald Coase, ketika ia mengidentifikasi konsep biaya transaksi dan menyarankan bahwa salah satu tujuan mendasar dari organisasi adalah untuk mengatasi hal itu.

Hukum Coase (1937) menyatakan bahwa organisasi akan meluas jika biaya penyelenggaraan transaksi tambahan dalam perusahaan sama dengan biaya untuk melakukan transaksi yang sama melalui pertukaran di pasar terbuka.

Asumsinya, ketika lebih murah melakukan transaksi secara internal dan organisasi melakukan lebih banyak kegiatan di kantor, maka perusahaan akan bertumbuh pesat. Sebaliknya, ketika lebih murah untuk melakukan transaksi secara eksternal di pasar terbuka, perusahaan akan melakukan outsourcing kepada pemasok eksternal, sehingga tetap kecil biayanya.

Namun dengan kemajuan teknologi memacu sejumlah prediksi mengenai bentuk organisasi masa depan, di mana organisasi cenderung akan mengurangi ukuran, dengan pergeseran dari struktur pemerintahan hierarkis ke pertukaran pasar.

Atau menurut Druker (1985) akan muncul fenomena paralel, yaitu munculnya “pekerja pengetahuan” yang akan menggunakan keterampilan intelektual daripada fisik.

Apalagi di era milineal, banyak orang tidak akan cocok dengan struktur organisasi hierarkis, karena penciptaan pengetahuan memerlukan interaksi dan pertukaran pengetahuan dalam skala luas. Pertemuan pekerja pengetahuan dan organisasi jaringan digitalisasi akan memacu munculnya organisasi “era informasi”.

Lembaga-lembaga ini akan memungkinkan informasi dibagikan secara instan dan murah di antara unit-unit kecil yang tersebar secara geografis. Meski demikian, organisasi besar dan mapan tetap bertahan dan masih terorganisasi secara hierarkis.

Model organisasi modern, di mana customer menjadi raja.

Namun, saat ini perusahaan-perusahaan media besar pun telah bergabung (merger), aliansi, konglomerasi, dan cara kerja jejaring; dengan kecepatan yang lebih cepat dari sebelumnya (Kung, 2017). Ada sebuah ekspansi besar-besaran tidak hanya dengan pesaing di sektor bisnis yang sama, tetapi juga dengan perusahaan yang terlibat dalam bidang lain yang dapat dijadikan sebagai pelengkap.

Dalam beberapa dekade milenium terakhir, gelombang merger dan akuisisi ini memunculkan satu perubahan struktural yang paling signifikan dalam industri media, yang meniscayakan pertumbuhan konglomerat media global. Perusahaan-perusahaan menciptakan kader konglomerat global multidivisional kompleks yang besar dengan kegiatan yang mencakup beberapa bidang industri konvergen yang mewakili restrukturisasi yang mendalam.

Ada berbagai faktor lain yang turut memengaruhi perubahan ini:

1) Globalisasi memungkinkan integrasi pasar-pasar nasional sebelumnya menjadi pasar transnasional yang lebih besar;

2) Perubahan teknologi menciptakan peluang bagi perusahaan media untuk berekspansi ke bidang baru dan mengimbangi penurunan yang sebenarnya atau diantisipasi dalam bisnis utama;

3) Pengembangan infrastruktur modal global dan internasionalisasi lembaga keuangan menyediakan sumber keuangan bagi perusahaan media besar untuk memperluas dan menjadi lebih global;

4) Perusahaan-perusahaan terkonsolidasi cukup besar menawarkan peningkatan potensi bagi skala dan cakupan ekonomi dan sinergi;

5) Perusahaan media yang terdiversifikasi besar memperoleh manfaat dari peningkatan kontrol dan pengurangan paparan resiko;

6) Dengan asumsi bahwa dalam dunia media konvergen, “konten akan menjadi raja”, perusahaan media perlu mencari sumber konten baru yang menarik untuk memperluas jangkauan produk atau pasar mereka (Kung, 2017).

Jaringan yang terjadi pada media global.


Ada kekhawatiran akan dampak potensial dari gejala organisasi media besar seperti itu. Kecemasan itu beralasan karena dapat menciptakan oligopoli global dan menghalangi pemain baru (start-up) memasuki sektor ini.

Selain itu ada tendensi homogenisasi produk, sehingga organisasi media besar harusnya meminimalisasikan perluasan inovasi sehingga dapat meningkatkan pluralisme. Di satu sisi aliansi memang menghemat biaya tetapi berisiko terhadap perbedaan pendapat, ketegangan budaya, dan kinerja mitra yang berbeda.

Untuk mengakomodasi semua risiko yang ada, maka muncullah struktur jaringan digital global biaya transaksi perusahaan yang akan menyebabkan struktur yang besar, rumit, dan diatur secara hierarkis.

Kelompok organisasi yang berjejaring, terutama mereka yang berada dalam teknologi informasi dan komunikasi menjadi topik yang dominan dalam studi struktur organisasi selama tahun 1980-an hingga saat ini.

Jaringan dipandang memberi manfaat dalam lingkungan yang kompleks dan tidak pasti, dalam hal fleksibilitas, peningkatan ruang lingkup, akses ke sumber daya, kompetensi, teknologi dan pasar, dan jaring pengaman untuk proyek eksplorasi yang tidak pasti.

Meski begitu, restrukturisasi organisasi media juga datang dari “pemain kecil” (start-up) yang dianggap lebih kreatif, fleksibel dan inovatif. Namun mereka belum memiliki struktur yang utuh, brand, aset konten dan finansial, dan terkadang terkontaminasi oleh logika organisasi konvensional.

Beberapa organisasi media baru yang paling kreatif – MTV, CNN, YouTube – muncul untuk menciptakan kategori baru bisnis media. Bisa dikatakan situasi baru memungkinkan mereka untuk mengembangkan peluang bisnis dan mengurangi potensi kerusakan dari organisasi yang sudah mapan.

Perusahaan rintisan baru ini diminati anak-anak muda (generasi milineal) dan pembuat kebijakan karena berdampak positif terhadap inovasi dan penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi dan daya saing. Namun dikhawatirkan bahwa konsolidasi dalam industri media akan menghalangi pendatang baru karena mereka tidak dapat menandingi skala ekonomi dan penetrasi pasar pemain media terbesar.

Pertanyaan kita, masih cerahkah masa depan industri media? Atau, malah jadi lebih suram dari "lampu pelita" warisan para tua-tua. Lebih konkret, di mana segmentasi dan positioning media-media konvensional.

Eppler (2009) mengkhawatirkan dampak revolusi industri terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan, karenam menurutnya, revolusi bukannya menciptakan lapangan pekerjaan baru, tapi malah menghancurkannya. Yang bertambah adalah bangkitnya pekerjaan di bidang jasa.

Hadirnya revolusi 4.0 atau yang dalam proyek raksasa industri Barat menyebut sebagai kedatangan generasi 5 (5G), pasca generasi 4 (4G), di mana digitalisasi dan otomatisasi telah menjadi hal yang tidak dapat dihindari, dan perkembangannya begitu cepat, masif dan tak terkendali.

Inilah era disrupsi (chaos), di mana terjadi perampingan struktur organisasi, penyusutan jumlah angkatan kerja karena telah diganti oleh teknologi digital (digitization). Karena itu ramalan Eppler benar, bahwa tenaga manusia semakin tidak dibutuhkan setelah diganti oleh kecerdasan buatan (artificial inteligence).

Percaya atau tidak, yang dibutuhkan dan yang bertahan di era baru (new age) adalah pekerja-pekerja di bidang komputer, teknologi, arsitektur, ritel, manufaktur, asuransi, dan pekerja penyedia jasa.

Lihat saja perkembangan Tokopedia, Bukalapak, Gojek, dan perusahaan rintisan lain saat ini. Ketiga perusahaan start-up ini telah menjadi "orang kaya baru" di Indonesia, dan menjadi prototipe bagi perusahaan baru lainnya.

Tapi ini tidak berarti jenis pekerjaan lain akan mati dengan sendirinya. Mereka sama-sama tumbuh, tapi pada akhirnya jenis-jenis pekerjaan jasa akan berkembang lebih pesat jauh di atasnya.

Memang ada kekhawatiran perusahaan baru cenderung tidak bertahan dan gagal, seperti telah terjadi di Barat, tapi teknologi telah menciptakan ruang yang lebih leluasa bagi start-up untuk menemukan segmentasi (market), brand, dan pemasoknya (supplier).

Karena itu, media-media konvensional perlu berekspansi dengan melakukan inovasi digital untuk tetap mempertahankan loyalitas pembacanya (loyalty customer). Beberapa media Indonesia telah melakukannya. Sebut saja Kompas, Tempo, Jawa Pos, dll. Inovasi ke arah digital, bukan saja untuk kepentingan brand dan glokalisasi, tapi juga untuk ekspansi bisnis dan loyalty customer.

Dan lebih penting dari itu, era industri baru (4.0) telah menciptakan terjadinya konvergensi berbagai teknologi ke dalam satu genggaman jari-tangan (digit), semisal smartphone atau tablet. Jika sebelumnya ada pecahan data ke dalam aplikasi tertentu (komputer, laptop), kini semuanya sudah disatukan jadi satu dan bisa lebih mudah kemana saja.

Dan di Indonesia telah teridentifikasi 4 jenis perusahaan start-up yang perkembangannya kian menjanjikan. Misalnya aplikasi penyedia informasi, aplikasi game online, aplikasi penyedia layanan edukasi dan aplikasi e-commerce (fintech).

Kemajuan teknologi telah membuat dunia berada dalam satu genggaman tangan (digitization).

Saat ini yang paling berkembang adalah aplikasi penyedia jasa fintech seperti Tokopedia, Lazada, Dana, Bukalapak, dan sejenisnya. Menurut survei, aplikasi fintech ini diminati paling banyak anak-anak muda di kota-kota besar. Selain karena mudah dan cepat, aplikasi ini menjadi simbol modernisasi dan telah menjadi trend baru gaya hidup generasi milineal Indonesia.

Meski demikian, kita juga perlu mencermati karena ada "celah" atau "sphere" yang bisa digunakan para sindikat/mafia keuangan untuk mencuri data keuangan dan memeras atau menipu para pengguna aplikasi cashless atau non tunai.

Karenanya, tidak bisa lagi disebut menciptakan konglomerat media, karena beberapa pemain baru telah muncul dan menemukan segmennya, misalnya kumparan.com, tirto.id, kaskus, dan beberapa lagi lainnya, meski beberapa konglomerat media "diduga" ingin menguasai pangsa pasar informasi di Indonesia dan global.

Senjakala media, sebenarnya sekaligus menanti fajar jemput di hari pagi. Dalam tradisi spiritualitas maupun tradisi botanik, justru pada senjakala (malam), terjadi pertumbuhan yang luar biasa.

Industri media justru berkembang dari situasi "malam gelap"-nya, asalkan ia tetap berpendirian untuk memproduksi kebenaran dan kepercayaan informasi, di tengah distorsi dan tsunami hoaks di era post-truth.*

Posting Komentar untuk "Senjakala Media di Era Revolusi Industri 4.0"