Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Seminari Tinggi Ledalero Maumere Jadi Seminari Terbesar Dunia

Kapela Agung Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Maumere (NTT). Dok. Istimewa.

Bagi sebagian orang, Flores menjadi “dunia lain” yang menjamin ketenangan dan kedamaian batin karena negeri paling selatan itu menyimpan alam, budaya dan spiritualitas yang kaya.

Namun, bagi mayoritas lainnya, Flores lebih merupakan daerah terpencil yang miskin dan gersang, dengan orang-orang yang keras dan hitam (menurut struktur sosiologis Indonesia), meski keindahan wisata Labuan Bajo telah sedikit mengangkat derajat penilaian orang tentang Flores.

Dalam sekop religiusitas, bagi kalangan umat Kristen Indonesia dan dunia, Flores telah disebut-sebut sebagai “Vatikan yang lain”, merujuk kepada Vatikan di Roma, Italia, sebagai pusat spiritualitas umat Katolik sedunia, setelah Rasul Paulus membuka kran misi evangelisasi pada masa-masa setelah kematian Yesus atau Isa Almasih.

Di Flores inilah, yang bangsa Portugis sebut sebagai “Pulau Bunga” (pulau terindah dari semua pengalaman ekspansi Portugis pada masa itu) ketika pertama kali menghirup aroma kekuatan mistis dan keindahan yang luar biasa, berdiri sebuah pusat studi spiritualitas terbesar di dunia.

Pusat studi itu terbentuk bersamaan dengan didirikannya lembaga pendidikan calom imam pada tahun-tahun akhir kejayaan Belanda di Indonesia.

Namanya adalah Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Lembaga pendidikan calon imam ini serentak menandai periode spesifik dalam tatanan kehidupan masyarakat dan keumatan di Flores dan dunia.

Dari tahun ke tahun, lembaga ini terus bertransformasi beriringan dengan berdirinya perguruan tinggi khusus calon imam bernama Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero tahun 1935.

Para pastor dan calon pastor (frater) Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Maumere (NTT) berpose sesaat setelah perayaan syukur Ekaristi. Dok. Istimewa.


Beberapa dekade masa sulit berlalu, hingga menemukan dirinya sebagai salah satu wadah pendidikan bergengsi di mata Indonesia, misalnya dengan menempati peringkat ke-133 Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia pada 2015, dan telah menjadi rujukan bagi pembangunan sistem pendidikan yang baik.

Bukan hanya prestasi akademik, tapi lembaga ini akhirnya diakui sebagai lembaga pusat pendidikan calon imam terbesar di dunia oleh lembaga rekonsiliasi internasional Faith Matters pada Mei 2019.

Lewat peluncuran film dokumenter berjudul The Miracle Of Flores-The World’s Largest Seminary, lembaga yang berpusat di Inggris itu mengungkapkan kekagumannya karena Flores kini telah menjelma sebagai pusat spiritualitas kontemporer dengan jumlah imam dan calon imam yang terus bertambah tiap tahunnya. Semuanya hampir lahir dari rahim seminari dan sekolah tinggi ini.

Dalam pandangannya, lembaga pejuang anti-ekstremisme itu membuka mata dunia bahwa pulau berjuluk “Nusa Nipa” itu kini telah mengembalikan kejayaan spiritualitas Eropa (Barat) pada masa lalu karena benih panggilan tertanam begitu subur di “Pulau Ular” ini.

“Gereja-gereja di Eropa pada umumnya cukup kosong. Tetapi di Indonesia, dengan populasi mayoritas Muslim, seminari-seminari Katolik dipenuhi para pelamar. Di sebuah bukit di tengah hutan di pulau Flores terletak seminari terbesar di dunia. Lebih dari 1000 siswa belajar di Ledalero, dan setidaknya 600 dari mereka adalah calon imam,” kata lembaga itu.

Sejumlah mahasiswa yang belajar di pendidikan tinggi yang khas dengan aroma spiritualitas St. Arnoldus Jansen ini mula-mula hanya merupakan calon-calon imam pribumi (Projo) dan Serikat Sabda Allah (SVD). Namun terhitung sejak tahun 1990-an, diterima pula calon-calon imam dari kongregasi atau tarekat lain. Salah satunya calon imam dari Ordo Karmel.

Selanjutnya, pada tahun 2000-an, ada gelombang masuk besar-besaran di mana kongregasi-kongregasi yang berpusat di Filipina mulai membuka rumah-rumah studi baru mereka di Maumere, Flores, sekaligus untuk menarik lebih banyak para calon imam masuk ke tarekat-tarekat tersebut.

Saat ini setidaknya sudah ada belasan kongregasi atau biara yang berhimpun di sekitar “bukit sandar matahari” itu. Mereka adalah kongregasi SVD, Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret (Pr), Biara Karmel (O.Carm), Biara Camelian (MI), Biara Scalabrinian, Biara Rogasionis (RCJ), Biara Stigmata, Biara Vokasionis (SDV), Biara Agustinian, kongregasi MGL, kongregasi MSSCC dan Somascan.

Karya Misi SVD

Kelahiran kembali peradaban spiritualitas ini tidak terlepas dari kiprah dan karya misi kongregasi SVD yang telah aktif menanam benih iman di Pulau Flores sejak tahun 1912.

Sebelumnya, pernah ada kongregasi atau tarekat lain seperti Dominikan (OP) dan Serikat Jesuit (SJ), untuk menyebut beberapa yang terekam sejarah, namun kemudian tidak bertahan dan memilih bermisi di daerah lain di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

Kita tahu, Gereja Katolik yang masa lalu semata-mata mengandalkan para misionarisnya dari Barat, sehingga harus mengalami kenyataan bahwa perubahan situasi politik tiba-tiba dapat mempersulit pengiriman para misionaris ke berbagai tempat di dunia. Sebab itu, Paus mendorong secara serius perekrutan tenaga imam dan biarawan dari wilayah-wilayah misi.

Saat ini, tercatat ada lebih dari 2.000 imam dan calon imam (frater) SVD di seluruh Indonesia, belum termasuk para imam dan calon imam dari tarekat lain serta para imam SVD yang menjadi misionaris di seluruh penjuru dunia, mulai dari Amerika Latin, Amerika Serikat, Eropa, Afrika, Australia, China, Jepang, dan negara-negara Asia lainnya.

Sebelum para misionaris dari Eropa tiba pada masa-masa akhir perang Indonesia-Belanda di Flores (menurut catatan Daniel Dhakidae berakhir tahun 1917), bukit Ledalero, tempat di mana seminari ini didirikan nyaris ditinggalkan.

Masyarakat lokal di Flores menghindari daerah itu karena mereka percaya itu dihuni oleh roh-roh jahat, sehingga tidak dijadikan hunian ataupun lahan pertanian.

Namun, berkat keberanian para imam SVD, dibangunlah sebuah seminari Katolik di atas bukit itu dan secara positif telah mengubah nama Ledalero hingga saat ini. Di atas bukit angker itulah, para imam mendirikan masa depan gereja lokal dan global.

“Sekarang tidak hanya dilihat secara positif oleh orang Indonesia, tetapi oleh orang Katolik di mana saja. Seminari di Ledalero mendidik para imam yang pergi ke seluruh dunia, memberitakan Injil tidak hanya dengan berkhotbah, tetapi dengan memerangi kemiskinan dan ketidakadilan,” kata Faith Matters.

Bahwa telah terjadi peralihan pusat spiritualitas umat dari Eropa ke Flores, ini menjadi sebuah kebanggaan besar yang mesti dirawat dan dijaga seterusnya.

Jika dulu misionaris Eropa yang membuka mata batin umat lokal di Flores (Indonesia) dengan membaptis dan menyerukan pertobatan dari berhala, sekarang terjadi sebaliknya, bahwa misionaris produk Seminari Tinggi Ledalero dan tarekat lainnya yang tersebar ke segenap penjuru dunia untuk memperkokoh keimanan umat Katolik yang sudah tergerus sekularisme dan materialisme.

Hal mana pernah diungkapkan oleh penelitian Phil Zuckerman dalam bukunya Society without God (2008), yang mengatakan bahwa bangsa-bangsa Skandinavia, yaitu Denmark dan Swedia, dan sebagian Eropa lainnya, misalnya Belanda dan Jerman, sudah meninggalkan gereja dan agama, bahkan sudah tidak lagi ber-Tuhan (ateis), meski bangsa-bangsa ini merupakan negara dengan tingkat kedamaian dan kebahagiaan tertinggi di dunia.

Penuh Lika-Liku

Seminari Tinggi Ledalero yang juga sering dikaitkan dengan STFK Ledalero, memiliki sejarah yang panjang dan berliku-liku. Itu tentunya tercatat dalam ingatan kolektif para pastor SVD.

Namun saya di sini hanya perlu diulas kisi-kisi dari rentetan sejarah yang panjang itu, bahwa pendirian seminari ini tidak terlepas dari dukungan pemerintah setempat.

Hal itu tampak dari tawaran Raja Sikka (Maumere) saat itu Don Thomas Ximenes da Silva yang meminta agar para pastor mendirikan seminari di atas bukit angker Ledalero.

Raja Sikka sendiri merupakan kaki tangan bangsa Portugis yang sudah berdiri ketika Portugis memasuki tanah Flores pada abad ke-15. Secara genealogis, para turunan Raja Sikka hingga saat ini memiliki nama-nama seperti nama rakyat Portugis, misalnya: Parera, da Silva, da Gomez, dll.

Selain mendirikan pusat calon imam SVD, para pastor juga serentak mendirikan lembaga pendidikan calon imam yang bernama Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, di mana tahun 1935 menjadi tahun pertama perkuliahan kepada 13 orang mahasiswa.

Dua tahun kemudian, lembaga pendidikan ini bari disahkan oleh Tahta Suci Vatikan, tepatnya pada 20 Mei 1937. Tanggal itulah yang kini dijadikan sebagai tanggal resmi berdirinya STFK Ledalero.

Pengakuan Negara dan Gereja

Pengakuan negara dan Gereja terhadap lembaga pendidikan ini sejak dulu cukup tinggi. Hal itu ditunjukkan oleh kunjungan Santo Paus Yohanes Paulus II ke Flores pada tahun 1989 dan memilih menginap di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, di mana kamar tidur orang kudus itu telah menjadi tempat umat Katolik mendaraskan doa-doa mereka.

Selain itu, para pejabat negara dan tokoh nasional pun melawat lembaga yang telah memproduksi ribuan alumni berprestasi ini. Presiden ke-4 Indonesia Abdurrahman Wahid pernah berkunjung kesana pada 6-7 Februari 2004.

Setelahnya, banyak pejabat negara yang melakukan kunjungan dan silahturahmi ke lembaga pendidikan tinggi yang cukup terpandang di provinsi NTT ini.

Keterpandangan itu bukan hanya karena lembaga ini mendidik para calom imam Katolik, tapi lebih karena kontribusi para alumni, baik yang berpredikat imam maupun awam, yang dinilai sangat signifikan terhadap pembagunan masyarakat lokal, nasional dan dunia.

Sebut saja, setidaknya mayoritas orang sukses di ibukota Jakarta asal Flores (NTT) dan telah menjadi tokoh nasional, merupakan alumni lembaga ini, atau sekurang-kurangnya pernah mengenyam pendidikan seminari menengah di Flores dan NTT umumnya.

Namun, lembaga pendidikan tinggi calon imam ini selalu menghadapi masalah keuangan untuk mendorong implementasi pengetahuan dan teknologi yang lebih mumpuni. Selama ini, para mahasiswa dibekali pengetahuan yang memadai tapi minim eksplorasi teknologi.

Bahwa di tengah dunia yang mengandalkan teknologi, kemampuan berfilsafat dan berteologi mesti diimbangi dengan kemampuan mengoperasikan peralatan dan kecanggihan agar pesan kebaikan dan kebenaran makin nyata di dalam benak manusia.

Karena itu, dukungan pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia tentu menjadi penggerak bagi lembaga ini untuk berinovasi lebih maju di usianya yang memasuki 51 tahun.*

Tulisan ini pertama kali tayang di Sinergitas.id (http://sinergitas.id/seminari-tinggi-ledalero-di-flores-jadi-seminari-terbesar-dunia/.).

Posting Komentar untuk "Seminari Tinggi Ledalero Maumere Jadi Seminari Terbesar Dunia"