Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

CERPEN: ABADILAH CINTA


“Dulu, pada batas senja ini, aku sepenuhnya bertaruh, hatiku hanya tercurah padamu. Dulu, semua kita alami bersama. Selalu bersama. Memang, dulu kita masih tahu tentang cerita-cerita itu. Sekarang, semua telah berbeda. Detakan hari senja segera turun untuk mengadu kita pada malam yang asing.”

Batas senja,
Job

Demikian mozaik huruf-huruf itu terangkai di awal secarik surat yang ditemukan Atha di bawah bantalku sesaat ketika aku meninggalkan tempat tidur menuju kamar mandi. 

Surat itu ditemukannya tanpa sengaja ketika dia hendak merapikan tempat tidurku. Surat itu tanpa amplop, hanya dilipat rapi menjadi tiga lipatan yang simetris. 

Kata-kata yang berdiri tegak di dalamnya merupakan guratan penaku yang sejak kemarin kutulis sehingga sedikit carut-marut. Apalagi aku gemetaran dan lemas merangkai kata-kata itu. 

Aku bukan hanya karena terpaksa menulisnya, tetapi lebih karena dorongan perasaanku. Aku menulisnya, karena aku tahu, seperti dulu aku pernah tahu, dia akan membesukku hari ini. Itu hal yang biasa dilakukannya, sebanding dengan semua kebaikan yang pernah aku rasakan bersamanya.

Surat itu masih berada dalam genggamannya ketika aku kembali dari kamar mandi. Aku melihat lama ia terdiam tanpa kata menatap kertas biru itu. Namun dari tatapannya, aku menebak bahwa itu bukan gelagat tatapan yang kosong. 

Aku seolah-olah terlempar jauh ke pusaran waktu saat pertama kali aku mengungkapkan isi hatiku padanya. Masih bening dalam ingatanku kalau tatapan itu mirip sekali. Aku bisa membaca jalan pikirannya bahwa dia bukan saja memaknai apa yang telah ia baca. Atau ia mau mencari tahu kepada siapa aku menulis sepucuk surat biru itu. 

Aku memahami benar perasaannya bahkan dari dulu saat semuanya berjalan normal. Aku yakin kalau dia sedang menelanjangi diriku lembar demi lembar, walaupun itu ia lakukan hanya dalam ilusinya.

Aku ingat persis pandangan yang sama ia tunjukkan dulu ketika aku menunggu jawaban pasti dari gerakan bibirnya untuk merespon ungkapan gejolak perasaanku yang makin menyatu dengan dirinya. 

Memang dia tidak banyak berubah. Yang berubah hanya gaya rambutnya karena sudah terkontaminasi dengan dominasi kehidupan modern di pulau Jawa sana. Sebelumnya ia hanyalah cewek biasa-biasa, simpel dan low profile yang tidak mudah terhanyut dalam arus dunia aksesoris. Cantiknya alami.

Lama ia terdiam, terpaku, beku pada keadaannya. Aku mendapati lidahku kelu untuk mengeluarkan suara. Aku mencoba sekuat tenaga namun selalu gagal dan gagal lagi. Apalagi dengan kondisiku yang masih lunglai. Dokter pernah menganjurkan agar waktu istirahatku diperpanjang. Sementara di tanganku masih melekat jarum infus yang menjadi suplemen alternatif untuk pemulihan energi tubuhku.

Atha baru saja pulang dari perkuliahannya di Jawa. Dia sejenak mengambil waktu teduh sambil menggali literatur dan bahan-bahan untuk skripsinya. Kebetulan tema skripsinya adalah mengenai fenomena penindasan anak-anak yang terjadi di wilayah NTT. 

Sudah hampir satu minggu ia berada di sini. Setelah menghubungiku melalui telepon seluler, ia akhirnya mencuri waktu barang satu-dua jam untuk membesukku. 

Saat ini, dia ada di hadapanku dengan tatapan nanar, gundah. Akhirnya dengan sedikit keberanian dan tenaga yang masih tersisa aku memecah kesunyian itu.

“A…Atha…,lama kita tidak pernah bertemu…!”

Dalam detik yang sama aku sebenarnya ingin menelan kembali muntahan kata-kataku karena aku takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi saat itu.

“Kakak,…!” balasnya setengah bingung karena dia juga tidak tahu apa yang hendak diungkapkannya. 

Dia berusaha mendekatiku beberapa sentimeter. Kemudian dalam sekejap ia berdiri dengan ekspresi muka yang keruh dan sedikit pucat. Seolah-olah ia sedang memikul beban salib nan berat.

“Kak, jauh sebelum aku membaca suratmu ini, perasaanku tidak pernah berubah terhadapmu. Aku masih seperti dulu yang mencintaimu. Mungkin jarak telah tercipta untuk memisahkan kita selama ini, namun satu hal yang pasti bahwa waktu ini telah tercipta pula untuk mengurung kita dalam cinta.”

Dia meraih tanganku pelan. Kurasa ia mengerti sekali apa yang sedang aku rasakan, yang sedang kualami. Dia mencium punggung tanganku, tepat di dekat suntikan jarum infus. Aku merasa sedikit geli.

Aku segera beranjak ke tempat tidur karena sudah terlalu lama aku berdiri canggung. Aku sadar bahwa memang kondisi kesehatanku tidak pernah mengizinkanku mengecap sedikit kebahagiaan. Walalu hanya beberapa detik.

“Sebenarnya aku tidak mengharapkanmu datang di saat seperti ini. Itu sama artinya kamu menguburkan semua impian cintamu. Keadaanku saat ini mungkin menjadi pilihan terbaikmu agar kamu bisa menghapuskan semua cerita yang pernah terlintas dalam hidup kita.”

Hening.

Atha kemudian mendekapku sambil mengusap-usap jemariku. Dalam hati mencuat rasa sakit yang mulai hilang akibat sentuhan itu. Rasa itu begitu cepat terbersit dalam selang waktu yang sangat singkat.

“Kak, aku tidak pernah berpikir bahwa kedatanganku hanya mau menambah penderitaanmu. Aku datang ...”

Aku melihat titik-titik air mata mulai berderai menghalangi bola matanya yang bening lalu pelan-pelan mengalir mengikuti lekukan kedua pelipisnya. Aku mulai terharu. 

Lebih dari itu aku mulai merasakan gelora empatiku membengkak dalam hatiku. Atha tidak bisa lagi merangkai mozaik ungkapan hatinya dengan serpihan kata-kata. 

Namun fakta air mata yang menganak sungai itu meyakinkanku akan sebuah deretan kalimat panjang yang menyelam di dalamnya. Mungkin aku akan memahaminya sendiri. 

Adrenalinku berereksi untuk mengungkap fenomen yang bisa kutangkap dengan seluruh indraku itu. Kali ini ia memainkan perannya, sedangkan aku hanya mengangguk. Aku seperti orang bodoh saja. 

Aku mencoba menghapus derai air matanya dengan jari-jariku. Saat itu aku berusaha agar tampak begitu lembut dan aku merasa ini agaknya aneh. Ini sungguh di luar biasanya. 

Tangan-tanganku yang sudah terbiasa dengan pekerjaan berat disulap menjadi sangat lembut. Memang untuk satu hal ini aku mesti tampil beda. Dan keheningan yang terpaku selama beberapa menit kemudian terburai saat aku meneteskan kristal-kristal kata.

“Atha, sudahlah! Aku mengerti. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara untuk meyakinkanmu bahwa kamu semestinya menerima keadaanku sekarang. Aku hanya bisa berserah pada Yang Kuasa. Karena Dia adalah jawaban terakhir dari semua perkara yang kita hadapi. Apapun itu.”

Atha kelihatan belum bisa melenyapkan keharuannya. Tenaganya yang tersisa saat itu mungkin hanya untuk menangis dan menangis. Lama ia terisak; begitu mendalam.

“Kak, aku datang untukmu,” ia melanjutkan lagi kata-kata yang sempat pause sebelumnya. “Aku datang bukan untuk siapa-siapa. Dan aku rasa mungkin ini alasan yang cukup.”

Terdengar suara lembut yang menyontak lamunanku. Suara itu begitu manis. Suara yang membangkitkan energi baru untuk sedikit melenyapkan rasa sakitku. 

Aku berharap ini terjadi selama keberadaan kami, namun kenyataan selalu paradoks. Bahwa aku harus menderita dengan beban penyakit yang  yang seakan-akan melumat semua impian dan masa depanku. 

***

Ruangan tempat di mana aku dibaringkan selama masa perawatanku hari ini kelihatan agak sepi. Biasanya sahabat-sahabatku, teman, dan keluargaku selalu datang melawatiku. 

Mereka datang silih berganti. Ada yang datang, ada juga yang pergi. Atau kadang-kadang secara kebetulan mereka datang dan berjubel di sekelilingku untuk menengok keadaan fisikku. 

Hari ini yang berjaga denganku sejak tadi malam adalah Wanto. Dia adalah sahabat yang sudah karib denganku. Sudah lama kami selalu bersama-sama. 

Sejak SMA hingga saat ini, kami senasib dalam berjuang mempertahankan hidup. Dia adalah curahan hatiku, orang terdekatku, yang bahkan sudah terikat secara emosional. Padahal di antara kami tidak ada hubungan pertalian darah.

Namun satu hal yang membedakan di antara kami adalah mengenai klub sepak bola favorit. Dia lebih mendewakan Real Madrid, sementara aku sangat terobsesi bahkan begitu kompulsif pada Barcelona. 

Di setiap pertandingan El-Clasico, sering terjadi perang dingin. Dengan argumen dan pembenaran yang meyakinkan berusaha untuk mengalahkan lawan, kadangkala tidak bisa terelakkan.

Hari ini masih pagi sekali. Matahari pun baru saja menyengat bumi. Dedaunan bunga melati di depan kamarku menguapkan titik-titik embun yang semalam menyelimuti dirinya.

Sejak kedatangan Atha, Wanto memohonkan diri diri untuk sebentar melamun di teras sambil menyulut rokok LA Lights kesukaannya. Sahabatku yang satu ini memang pandai membaca gelagat situasi. 

Dia membiarkan aku dan Atha berdua saja di kamar inap itu. Terima kasih bro, bergitu ungkapan yang berbisik dalam hati kecilku.

***

“Atha, apakah kamu tidak melihat keadaanku sekarang. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain rutinitas bangun-tidur-makan. Setiap hari aku hanya bisa melakukan hal yang sama. Tidak ada sesuatu yang lebih baik dari ini semua. Surat yang kamu baca tadi aku tulis sesaat ketika aku tahu bahwa kamu akan ke sini. Itu saja yang bisa kulakukan sekarang untukmu.”

Melihatku yang duduk terlalu lama, dia berusaha membaringkanku. Kemudian dia mengambil kursi dan menempati posisi tepat di hadapanku. Aku melanjutkan,

“Sudah dua minggu aku berada di sini.” 

Sejak tadi aku berusaha untuk merangkai mozaik kataku dengan sedikit lebih lancar karena itu yang bisa kuusahakan.

“Sudahlah Kak. Yang penting sekarang kakak bisa lebih kuat, lebih sehat, dan paling tidak bisa berada di depanku. Hanya itu yang aku harapkan.”

“Tapi, kuliahku Atha. Semuanya terbengkalai. Beberapa minggu lagi teman-temanku mau mengikuti ujian semester. Apalagi bahan-bahan praskripsiku belum digarap semuanya."

“Tenanglah Kak! Jangan panik lagi dong! Nanti sakit lagi. Jangan dulu pikirkan itu. Kalaupun tidan bisa ikut ujian, nanti bisa dikredit ulang. Waktu ini masih terlalu banyak, Kak.”

Mendengar kata-kata konseling darinya, aku merasa sedikit bisa bernapas lega. Namun tetap saja virus kegelisahan merambat dalam diriku. 

“Atha, bagaimana kalau besok aku keluar dari sini? Aku tidak bisa terus begini. Aku mau kembali lagi ke duniaku yang lama, jauh sebelum penyakit jahanam mengoyak tubuhku.”

Hamparan air mata hampir saja menumpah dari pelupuk mataku. Aku berusaha menahan. Dengan adrenalin seorang laki-laki.

“Kakak, mungkin ini bisa kita lakukan. Tapi kakak harus banyak istirahat dulu,” katanya.

Atha tidak pernah kendur untuk menghiburku. Lamat-lamat aku mulai merasakan hawa cinta yang menguap dalam kata-katanya. Campuran kata-kata dan nada suaranya mengingatkanku akan kenangan yang pernah kami ukir bersama empat tahun lalu saat masih di bangku SMA.

“Kakak, bagaimana keadaan kak yang sebenarnya. Mmm, maksudnya, penyakit apa yang sedang kak derita.”

Ia berusaha mengalihkan pokok obrolan kami sebelumnya dengan menanyakan kondisi penyakitku. Memang perempuan selalu pandai mengalihkan pembicaraan.

“Sebelumnya aku minta maaf, Atha. Sebenarnya aku harus merahasiakan ini. Aku tidak mau orang lain, bahkan teman-temanku tahu tentang penyakitku. Tapi sebenarnya aku tidak menderita penyakit apa-apa. Aku  hanya kecapaian.”

Atha sepertinya tidak percaya akan pengakuanku. Ia nampak bingung, menggeutu.

“Tapi kenyataannya kakak menderita sakit berat. Aku akan menerima apapun yang terjadi pada diri kak, dengan sepenuh hati. Aku tidak menginginkan apa-apa dari Kak, tapi ketulusan yang membuat aku menginginkan diri Kkak. Termasuk penderitaan Kak.”

Mendengar ungkapan perasaan yang belum pernah putus-putus ini, aku merasa seolah-olah diriku terangkat ke udara. Begitu ringan. Bukan hanya karena pujian yang ia berikan, tapi lebih-lebih karena keikhlasan cintanya itu yang menerbangkanku  ke langit. Aku ingin sekali memetik bintang untuknya. Bintang terindah dari semua jenis bintang di jagat ini.

“Kakak, coba katakan apa yang ada dalam perasaan Kak sekarang,” ia melanjutkan sesaat kemudian. 

“Atha, aku rasa kamu tidak semestinya harus tahu tentang sakitku. Tapi hanya karena cintamu, aku percaya sepenuhnya kalau kamu menerima kenyataan pahit ini. Atha….,"
 
Napasku terasa tersendat di antara kerongkonganku. Aku tidak bisa melanjutkan kalimatku lagi. Air mata serasa menumpuk di kelopakku. Namun terbata-bata, aku merangkainya lagi.

“Atha, aku didiagnosis mengidap penyakit komplikasi yang mulai parah. Aku, ... aku menderita TBC, typhus, dan ginjal.”

Atha kelihatan sudah tidak bisa membendung sungai air mata keharuannya. Ia menangis dalam hening. Kepalanya tertunduk lesu. Mukanya sembab. Matanya pun layu. Namun dalam detik itu juga ia kembali mengangkat muka. Sedikit saja.

“Kak, aku akan tetap mencintai Kak, dan bersama menanggung penderitaan Kak. Aku rela, Kak. Aku mencintai Kak kapanpun, dalam suka maupun duka.”

Semakin lama, aku makin terhanyut dalam keharuan bisu itu. Aku merasa bahwa tertinggal satu saja kekuatanku saat ini, yaitu mencoba untuk mengungkapkan apa yang terbenam di dalam hatiku.

“Sayang, aku merasa bahwa aku makin tidak layak untuk hidup dan mendapatkan semua cinta darimu. Aku merasa hidupku sudah terlempar jauh ke dalam sebuah lingkaran yang gelap mengakap. Lingkaran itu seperti sebuah lingkaran maut yang siap mengisap aku ke pusaran kematian.”

Suasana kamarku kembali sepi, hening. Wanto pun masih menyambung batang-batang LA Lights-nya di beranda. Yang bisa kurasakan saat ini hanyalah kehangatan dalam diriku yang tertembus dari hawa genggaman tangan kami. 

Kemudian Atha mengangkat kepala, mengarahkan tatapan tepat di mataku. 

Untuk waktu yang lama kami saling beradu pandang sambil mengupas dan menelanjangi diri kami masing-masing. Seolah melemparkan kami ke masa-masa kisah cinta kami.

Lalu, dalam beku, aku menyadari bahwa cintanya kuat seperti maut. Bahkan sengat mautpun tidak bisa merongrong kedalaman cintanya. Kesejatian cintanya membuatku kuat dalam penderitaanku. 

Kukecup tangannya, lalu keningnya, dan akhirnya aku menangis dalam kebahagiaan bersama dengan rasa hatiku.

***

Pintu kamarku diketuk. Berbunyi tiga kali. Ada sedikit suara bisik-bisik di balik pintu.

Atha segera beranjak menuju sumber suara itu dan membukanya. Dalam hati aku mengira kalau itu adalah sahabatku Wanto yang sudah bosan dengan gulungan-gulungan tembakau. 

Mungkin ia kecanduan. Namun firasatku membaca gelagat yang agak berbeda. Itu bukan Wanto. Lalu aku mendengar sebuah sapaan. Sapaan itu begitu menyentuh di ulu hatiku. 

“Selamat pagi, Nak!”

Suara itu begitu akrab, begitu familiar di telingaku. Aku menoleh ke arah sumber suara itu. Aku tersontak kaget, karena aku tidak menyangka siapa yang datang mengunjungiku kali ini. Mereka adalah orangtuanya Atha. 

Aku berusaha menyapa kehadiran mereka dengan senyuman. Mereka mendekatiku dan menanyakan berbagai hal perihal kesehatanku. Aku menjawabnya dengan mengangguk-angguk atau menggeleng-geleng. 

Mereka kelihatan sangat dekat walaupun baru pertama kali kami bertemu. Atau jangan-jangan aku salah menafsirkan firasatku. Tapi aku begitu yakin, mereka menerimaku. Tulus.

Lama kami berbincang-bincang. Namun aku selalu memilih untuk diam. Atha yang selalu membantuku untuk menjawab pertanyaan orangtuanya. Ia nampaknya sangat bersemangat. 

Mengenai dirinya terbersit dalam alam pikiranku bahwa ia senang karena hubungan kami seolah-olah direstui. Dan akhirnya percakapan kami selesai. Orangtuanya memohon diri untuk pulang.

“Nak, maaf ya! Kami harus ke bandara sekarang. Bapakmu akan ke Kupang hari ini karena ada satu-dua pekerjaan. Kami pamit dulu,” kata Ibu Atha.

Sapaan ‘Nak’ seolah-olah membuat hatiku melonjak keluar menembusi batas-batas rasa sakitku. 

Namun semakin aku berusaha melonjak keluar, semakin aku terpuruk untuk kembali ke dalam kenyataanku bahwa aku sakit. 

Setelah bayangan orangtuanya menghilang, aku menarik tangan Atha, lalu bertanya dalam nada canda: “Atha, kapan kita menikah?” 

Ia menatapku, dan membisikan kata-kata yang membuatku melayang: “Setelah Kak sembuh dulu.”

“Hmmm... tapi kamu juga harus selesaikan kuliah”, aku bergeming.

Atha tersenyum geli. Lalu kudaratkan ciuman ke keningnya. Sedikit lama. 

Pipinya merona seperti guratan lembayung di batas senja. Kemudian ia nampak sumringah. Bahagia.*

Kota yang akan pindah,
2020

Posting Komentar untuk "CERPEN: ABADILAH CINTA"