Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jadi Kaum Rebahan Tatkala Pandemi, Sungguh Membosankan


Tidak ada yang lebih buruk sepanjang peradaban kontemporer manusia selain pandemi virus corona, setelah krisis keuangan global tahun 2008 lalu.

Sengatan virus yang bermula dari Kota Wuhan, China, akhir tahun lalu, ini begitu menyakitkan. Telah menginfkesi lebih dari 18 juta penduduk global.

Apakah harus diperbandingkan dengan rasa sakit hati seorang kekasih ketika ditinggalkan pujaan hatinya setelah menjalin hubungan bertahun-tahun? Saya kurang tahu. Karena tiap orang memiliki takaran perasaan masing-masing.

Yang pasti, dampak dari pandemi yang telah menewaskan lebih dari 600 ribu penduduk dunia ini begitu mengerikan, seperti ledakan atom di Kota Hiroshima-Nagasaki.

Ia menusuk persis di jantung kehidupan manusia. Menggungat eksistensi kehidupan dan kematian manusia. Serentak mempertanyakan sosok Allah yang Mahakuasa.

Virus yang menyebar pun seperti hantu bergentayangan di udara untuk siap menghinggapi mereka yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Mereka yang suka berkerumum dan berada di keramaian; yang masih berpesta pora di tengah jerit tangis para korban.

Satu hal yang paling dirasakan adalah kehidupan ekonomi, jantung dari keberlangsungan hidup manusia. Pandemi telah memporak-porandakan kehidupan ekonomi banyak orang. Banyak agenda dan kegiatan ekonomi, atau kegiatan lain dengan tujuan mengumpulkan pundi-pundi ekonomi, tahun ini yang terpukul.

Lantas, banyak yang hanya bisa mengurung diri di kamar dan terpaksa harus menjerit. Mereka adalah orang-orang yang terdampak karena kantor harus ditutup dan gajian yang tak pasti. 

Mau meraba-raba pekerjaan di tempat lain pun susah karena banyak perusahaan ikut terdampak dan harus mengurangi jumlah karyawan.

Untuk berharap pada bantuan pemerintah pun sulit karena pemerintah masih berkutat dengan urusan administrasi, yang bisa saja butuh waktu berbulan-bulan. 

Padahal masyarakat terdampak sangat membutuhkan bantuan langsung tanpa harus mengasah skil. Toh, untuk apa juga kalau pandemi masih bergelayut seperti ini.

Ibarat maju kena mundur kena, masyarakat terdampak berhadapan dengan pilihan ekstrem: tetap bergiat secara ekonomi dengan risiko tertular virus, atau mengisolasi diri di rumah dan menghabiskan sisa-sisa pundi rezeki di rekening bank.

Yang berkeras kepala tetap bergiat akhirnya menyebabkan klaster penularan virus makin banyak di beberapa kota/daerah. Selama Juli, jumlah kasus harian berada di angka 2.000 kasus, dan sejauh ini belum pernah turun lagi dari angka 1.000 kasus.

Sementara mereka yang mengurung diri di rumah atau di kamar (bagi penghuni kos-kosan) terpaksa menjadi apa yang disebut dengan kaum rebahan. Menjadi kaum rebahan sebenarnya bukan hanya mereka yang terdampak penutupan kantor atau tempat kerja atau yang "work from home", tapi juga dialami pelajar, mahasiswa yang melakukan pembelajaran daring dari rumah.



Kaum rebahan umumnya tak banyak bergerak atau melakukan aktivitas di luar rumah. Mereka menghabiskan waktu selama berjam-jam dengan tidur, masak, makan, internetan, tidur lagi. 

Aktivitas yang menjemukan ini dilakukan berulang-ulang, tiap hari, tiap minggu, dan tak terasa, sudah berbulan-bulan. Ini kadang membuat orang berpikir gila.

Lagu Mbah Surip yang populer tahun 2000-an seolah menjadi justifikasi terhadap aktivitas kaum rebahan ini. “Bangun lagi, tidur lagi, bangun lagi, tidur lagi”, dan seterusnya.

Jam tidur pun makin larut, tidak seperti biasanya. Demikian pula, waktu bangun pagi pun jadi lebih panjang. Kalaupun bangun, tidak langsung bersiap diri seperti hendak ke kantor atau mengerjakan sesuatu yang penting. Tapi, memperpanjang rebahan dengan terlebih dahulu memeriksa isi kotak masuk di WhatsApp, Mesenger, Line, Instagram, email, dll.



Terkadang, kaum rebahan dari kalangan pelajar dan mahasiswa mendengarkan kuliah di sofa, atau bahkan sambil tidur-tiduran di kasur.

Bagi pencinta bola, yang pertama dilakukan adalah memeriksa hasil pertandingan liga-liga di Eropa. Kemudian, menontonnya di Youtube. Ini terasa menggairahkan, untuk sesaat menambal energi positif yang rasanya makin loyo.

Sarapan pagi tak lagi dipikirkan karena memang jam bangun pagi sudah menjelang siang. Sehingga sarapan dan makan siang disatukan, alih-alih menghemat pengeluaran.

Di Jakarta, untuk menghilangkan kebosanan tidak lagi dengan mengunjungi ruang-ruang publik di mana kita bisa “mencuci mata” dengan pemandangan yang baru, karena tempat-tempat wisata favorit di kota ini belum dibuka menyusul kasus yang membengkak.

Kita pun hanya bisa berkumpul bersama teman-teman. Ini pun berisiko karena acara “kumpul-kumpul” bisa menyebabkan klaster baru penularan virus.

Memang, menjadi kaum rebahan tatkala pandemi ini membosankan sekaligus mendegradasi libido untuk bertumbuh secara kreatif, dan bahkan berbahay bagi kesehatan. 

Dikutip dari IDN Times, ada beberapa penyakit yang muncul bilamana aktivitas rebahan dilakukan dalam waktu yang lama. Misalnya memicu terjadinya obesitas, hipertensi, penyakit jantung, diabetes, stroke, kolesterol tinggi, gangguan metabolisme, kanker usus besar, payudara, dan rahim, osteoporosis, dan lain-lain.

Selain itu, menghabiskan waktu dengan tidur-tiduran, chatting, makan, bukanlah sesuatu yang produktif. Ini hanya akan menumbuhkan kemalasan, baik untuk berpikir maupun berproses menghasilkan sesuatu yang kreatif.

Tapi inilah dampak besar pandemi Covid-19, krisis kemanusiaan terbesar abad ini. Dampaknya tidak hanya satu-dua orang, tapi dirasakan oleh masyarakat global.

Karena itu, mari kita berpikir positif dan mengambil hikmah dari krisis ini. Pandemi ini membuat kita lebih jernih melihat diri kita, lingkungan dan spiritualitas kita. 

Pandemi juga membuat kita menghitung hari-hari hidup kita dengan lebih cermat. Membuat waktu hidup kita berjalan begitu lambat dan terasa lama. 

Ia membuat kita menyelidiki kembali mentari yang terbit di pagi hari dan tenggelam di sore hari. Hingga malam, kita beradu lambat pada mimpi-mimpi yang tak terkendali.*

Posting Komentar untuk "Jadi Kaum Rebahan Tatkala Pandemi, Sungguh Membosankan"