Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Medium Apresiasi Siswa

Penulis dan para siswa penulis WF.

Dalam sebuah karya sastra, salah satu aspek yang cukup menonjol untuk menunjukkan bahwa karya-karya itu diterima secara positif adalah apresiasi (sastra). Tanpa apresiasi, sebuah karya akan “mati”. 

Asumsi dasarnya, apresiasi sastra dibangun bukan sekedar karena “perasaan suka”, tapi terutama karena kualitas pesan yang disampaikan. 

Semakin berkualitas sebuah karya tulis, makin tinggi pula tingkatan apresiasinya.

Itulah yang dimulai oleh Warta Flobamora (WF) terhadap siswa-siswi dari SMAK Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo, atau sering disingkat Semyopal.

Hampir dua tahun (2016-2018) mereka boleh dikatakan sebagai penulis aktif dan paling produktif pada bulanan WF. Itu terlihat dari publikasi karya-karya tulis mereka, entah bergenre sastra, misalnya cerpen dan puisi, atau yang bergenre murni jurnalistik (feature). 

Dapatlah dipastikan, bahwa karya-karya mereka diterbitkan hampir pada setiap edisi WF, terutama selama periode 2016-2018. Dari situ setidaknya sudah membentuk dan mencetak kurang lebih belasan siswa yang karyanya sudah dipublikasikan.

Lantas, apa yang mendorong mereka begitu aktif menulis di WF, padahal ada begitu banyak media lokal lainnya. 

Memang selama ini, alasannya adalah soal konektivitas atau link. Bahwa terbitan karya mereka tidak terlepas dari jaringan yang telah dibangun oleh para pembina mereka dengan WF. 

Itu juga yang kemudian menjadi alasan mengapa mereka tidak menembus zona publikasi di media-media lokal. Tapi sebetulnya, lebih dari itu, tanpa link pembina pun mereka pada dasarnya bisa. Dan itulah yang membedakan WF dengan media lainnya.

Di WF mereka menemukan sesuatu yang lain, yang seolah-olah memotivasi mereka untuk terus menulis dan dipercaya pasti memuat tulisan mereka.

“Saya lihat ada yang beda dengan WF. Mereka sangat menghargai terhadap karya sastra, terutama dengan karya-karya saya meski sederhana. Itu yang membuat saya tambah semangat dan percaya bahwa WF akan menerbitkan tulisan saya. Bukan berarti karya saya sangat bermutu, tapi dengan WF saya terpacu untuk terus meningkatkan mutu dari setiap karya yang saya ciptakan, terutama puisi,” ungkap Videlis Roy, siswa kelas XI IPS B.

Siswa asal Ketang, Manggarai Barat ini justru menemukan perubahan kualitas karyanya ketika ada terbitan tulisannya di WF. 

Lebih dari itu, siswa yang akrab disapa Vidi ini telah menemukan bahwa WF sudah menjadi “pita” atau “jembatan” yang bukan saja menjadi media yang bisa mempublikasikan karyanya, tapi juga jadi media yang memperkaya pengetahuannya tentang sastra. 

WF menjadikannya bangga disebut sebagai sastrawan dan itu adalah tugas dan tanggung jawab yang dipertahankan dan ditingkatkan. 

Jika Vidi menemukan bakatnya di WF, lain halnya dengan Eldis Jebatu. Siswi asal Ruteng, Manggarai itu justru menjadikan WF sebagai media untuk menyalurkan sikap kritisnya terhadap realitas. 

Dan ia mendapat inspirasi dari R.A. Kartini. Bahwa sebagai perempuan, ia mau menunjukkan kalau kaumnya juga punya taring untuk menentang aneka bentuk “penindasan” modern. 

“Pertama sekali saya sangat terinspirasi dengan Kartini. Jadi saya maun tunjukkan bahwa saya bisa berbuat sesuatu untuk sesuatu yang lebih baik lewat tulisan. Karena bagi saya, tulisan itu bukan sekedar aksara tanpa makna, tapi dengan menulis kita mengabadikan sejarah. WF menggunakan perspektif yang sangat positif terhadap NTT, dan menuangkannya dalam karya jurnalisme yang sangat simple dan ramah,” katanya. 

Eldis, begitu sapaannya, adalah salah satu siswa paling produktif menulis di WF. Beberapa karyanya, terutama cerpen pernah dimuat pada beberapa edisi. 

Sebagai peminat sastra, ia memiliki mimpi besar untuk membukukan karya-karyanya. Dan kritik-kritik sosial yang tertuang lewat karya Pramoedya A. Toer sangat menginspirasinya.

Siswi yang baru saja menjuarai lomba Matematika tingkat Manggarai Raya di Ruteng pada bulan Maret lalu itu optimis, bahwa suatu waktu karya-karyanya akan jadi lebih baik. 

Meski punya cita-cita besar untuk terjun ke dunia kesehatan dengan menjadi dokter, tapi nalurinya untuk menulis akan membantunya berprestasi.

Hal itu diakui langsung oleh Ibu Y.E. Sumarni, S. Pd, guru Bahasa Indonesia di sekolahnya. Menurut Ibu Fi, Eldis punya daya tarik yang luar biasa dalam hal tulis menulis. Dari karya-karyanya, terutama cerpen dan opini-opini, menunjukkan bahwa anak muridnya itu punya kemampuan luar biasa.

“Saya selalu tekankan kepada mereka, bahwa semua kita bisa tulis. Tapi yang penting adalah budayakan membaca. Dari semua siswa, saya lihat Eldis termasuk siswa yang sangat tekun membaca. Kalau boleh kata, dia punya bakat yang melebihi teman-temannya. Memang ada beberapa yang lainnya. Tapi tulisannya sangat khas dan berbeda. Dia punya kelebihan yang tidak dimiliki anak seusianya,” kata Ibu Fi.

Hal yang sama dialami oleh teman kelasnya di XI IPA, Paula Flora. Siswi asal Lembor, Manggarai Barat ini termasuk yang sering menulis di WF. 

Bila Eldis terinspirasi dari Kartini, Flora, begitu ia akrab disapa, justru terinspirasi dari Eldis. Tapi bukannya untuk bersaing dan melihat mana yang terbaik, tapi untuk mengasah dan menyalurkan minat menulis. 

Buktinya, ia berhasil menjuarai lomba menulis opini tingkat kabupaten Manggarai Barat (2017) dan menjadi duta anak NTT mengikuti kegiatan Forum Anak Nasional (FAN) di Pekanbaru, Riau bulan Juli 2017 lalu.
  
“Saya menulis di WF karena media ini adalah wahana yang paling baik untuk mempublikasikan tulisan. Meski tulisan saya sederhana tapi bisa terbit. Saya sangat bangga dan senang. Eldis yang membuat saya bisa menulis lebih baik. Memang ada bakat menulis, tapi ketika saya di sini (seminari), saya merasa perlu terus memperbaiki kualitas tulisan saya,” ungkapnya antusias. 

Penulis dan para siswa SMAK Seminari St. Yohanes Paulus II Labnuan Bajo.


Melihat banyak kemampuan yang dimiliki siswa, terutama dalam hal tulis menulis, Praeses Semyopal II Labuan Bajo Rm. Laurens Sopang, Pr, menggarisbawahi satu pokok penting. 

Baginya, perpustakaan adalah sarana paling penting, yang menunjang lebih jauh ketrampilan menulis siswa. Sebab dengan membaca pasti siswa dapat menulis dengan baik. Karena itu, perpustakaan yang memadai mesti dimiliki sekolah sekelas seminari.

“Perpustakaan adalah dasar bagi siswa untuk menulis. Karena dengan perpustakaan mereka bisa membaca banyak lebih banyak lagi. Saya melihat kita masih sangat kurang soal ini, dan ini akan terus kita usahakan ke depan. Saya ambil contoh seminari St. Pius XII Kisol. Mereka punya perpustakaan yang sangat bagus. Meski begitu, mereka harus tetap kreatif dengan menulis di majalah dinding seminari. Itu sebuah latihan kecil yang bisa membuat mereka jadi besar,” katanya.

Administrator Keuskupan Ruteng periode 2008-2009 itu merujuk pada seminari Kisol karena memang, selain sudah berdiri cukup lama, seminari Kisol telah menjadi sekolah bergengsi di tingkat provinsi NTT. Katakan, beberapa tahun belakangan mereka selalu meraih peringkat teratas akumulasi nilai UN. 

Sejatinya ada begitu banyak penulis-penulis lokal, termasuk siswa/i yang kompeten. Hanya saja banyak media yang belum menampung aspirasi mereka. 

Karena itu, seperti pendirian WF, jurnalisme sebetulnya dihadirkan bukan untuk kepentingan pragmatis dan oportunis, tapi mesti menjadi “pasar ide” dalam membentuk opini publik dan perspektif tentang realitas yang positif. 

WF sudah selangkah lebih maju dalam mengayomi karya-karya jurnalistik berciri “popular” demi kemajuan pembangunan pendidikan di NTT.*

Artikel ini pernah dimuat pada Warta Flobamora edisi April 2018.

Posting Komentar untuk "Medium Apresiasi Siswa"