Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

"Oleh-oleh" dari Maumere Kala Pandemi

Pakaian adat Sikka. Foto/@pesona_maumere


Ledakan virus corona telah menyebar ke seluruh penjuru bumi. Membuat penduduk dunia tak berdaya. Menjerit di antara ketidakpastian: kapan virus ini berhenti menular? 

Sudah lebih dari 23 juta penduduk terinfeksi, dengan lebih dari 800 ribu pasien meninggal dunia, menurut data situs Worldometers, Selasa (25/8).

Indonesia adalah salah satu di antara negara-negara paling terpukul. Kini, negara berjuluk “Nusantara” ini sudah mengantongi total 157.859 kasus dengan kematian 6.858 orang.

Kasus harian bergerak mendatar di angka 1.000-2.000 yang memicu kekhawatiran besar bahwa virus zoonotik ini bakal menular lebih banyak penduduk.

Enam bulan telah lewat. Namun kurva epidemik tak segera menurun.

Untuk sementara kita boleh menyimpulkan, bahwa “new normal” datang bagai Dewa Janus: mengaktiviasi roda perekonomian yang tersendat sekaligus mendorong lonjakan kasus tanpa ampun.

Otoritas wabah gagap, linglung di tengah ketidakpastian. 

Pandemi virus corona barangkali menjebak kita di dalam ruang isolasi: kamar atau rumah, sekaligus membekukan relasi sosial antarkita.

Pada titik ini, kita ingat bencana kemanusiaan yang pernah melanda dunia pada periode Perang Dunia II. Jutaan umat Yahudi dikurung dan dibantai rezim Nazi. 

Virus corona pun menyekap kita dalam ruang isolasi meski dengan tekanan fisik dan psikis yang tidak sama. Namun, jika kita meneropong lebih jauh, kedua bencana ini sama-sama mengunci kebebasan fisik manusia dengan memasukkannya ke dalam inkubator.

Ada banyak hal fundamental dalam hidup kita yang hilang atau berganti. Hal-hal sepele seperti berjabat tangan, bertegur sapa, bersin, atau batuk, dilihat sebagai ancaman. Memakai masker pun menjadi norma baru untuk memperpanjang hidup.

Namun demikian, Viktor Frankl (1905-1997) dalam bukunya “Man’s Searching for Meaning” (1946) menandaskan, krisis atau bencana seperti ini tidak lantas membuat kita menyerah dan putus asa. Mesti ada energi yang bertumbuh untuk melewatinya.

Bagi Viktor Frankl, dalam situasi seperti ini hanya kebebasan untuk memilih atau bereaksi dengan cara kitalah yang membuat kita bertumbuh untuk memaknai hidup.

Tiga Lagu dari Maumere

Memaknai pandemi ini pun dapat dilakukan lewat berbagai cara karena ia bersifat unik dan spesifik.

Salah satunya dengan berkesenian seperti yang dilakukan sejumlah musisi dari Maumere, di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selama musim pandemi ini, mereka telah meluncurkan tiga lagu yang bisa menghibur orang-orang selama krisis terbesar abad ini (terhitung sejak Flu Spanyol 1918).

Saya mengambil contoh musisi dari Maumere karena secara pribadi saya begitu tertarik untuk menyelidiki dan menggali khazanah musik lokal itu dalam sekop ekosistem digital.

Terutama karena lagu-lagu ini langsung populer di jagad musik Flobamora, bahkan Indonesia, dan mendapat sambutan yang luar biasa. 

Lagu pertama adalah “Goyang Koja Doi”, ciptaan Nyong Franco. Lagu komponis dan budayawan Maumere yang pernah merilis lagu “Gemu Famire” (2011) dan langsung meledak di pasaran ini dirilis pada 1 April 2020 di akun Youtubenya.

Lagu ini dinyanyikan bersama dengan atlet bola volley nasional asal Maumere, Shella Bernadetha. Lagu yang merupakan re-aransemen atau transliterasi dari lagu “Gemu Famire” ini telah ditonton 502 ribu orang.

Lagu kedua adalah “Kasih Ami Lau Ata Nian” yang dirilis oleh Miracle Studio pada 17 Juni di akun Youtube Miracle Studio.

Lagu ciptaan Iksandro yang di-rearansemen Gusti Senda ke genre musik kontemporer berkhazanah Sikka-Melayu ini diputar hampir tiap malam di kota Maumere.

Lagu ini menonjolkan budaya Sikka dan telah ditonton 1,2 juta orang. Terakhir, lagu “Dendang Dikideng 2” yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Alfred Gare & PAX Group.

Lagu ini dirilis pada 18 Juli melalui rumah produksi AtmanRec 2020 di Youtubenya dan telah ditonton 1 juta orang.

Lagu ini lebih merupakan seri kedua dari lagu pertama “Dendang Dikideng” yang dirilis pada 5 November 2019 lalu, masih dengan penyanyi dan rumah produksi yang sama.

Lagu seri kedua ini dipadukan dengan lagu “Inang So Anang So” dari Manggarai dan lagu “Dawi Zale Tangi” dari Ngada. Kekhasan ini persis terlihat pada seri pertama yang mengkombinasikan lagu “Uma Morung Mate” dari Sikka dan ‘Nio Koi” dari Ngada.

Belakangan, lagu ini begitu populer karena genre musiknya yang riang, sehingga langsung dijadikan backsound di aplikasi Tiktok dan digandrungi milenial.

Sejak ketiga lagu bergenre kontemporer ini tayang dan beredar di jagad musik Indonesia, para pencinta musik sontak menyambut gembira.

Khusus masyarakat timur, atau yang dikenal dengan sebutan RAKAT, lagu-lagu ini menarik langsung ke batas-batas etis antara mengikuti protokol kesehatan atau segera menggelar pesta karena bertepatan dengan musim panas.

Maklum, ada desakan untuk menumpahkan semua kepenatan, kesepian dan kesendirian yang tertumpuk selama pandemi. Dan ketika pesta digelar, ketiga lagu ini menjadi tangga lagu untuk melumerkan semua persendian yang kaku sejak pandemi.

Untuk “Oleh-oleh”

Sejak beberapa tahun terakhir, saya selalu melirik lagu-lagu para komponis beken dari Maumere. Tiga musisi yang sudah populer adalah Nyong Franco, Alfred Gare dan Gusti Senda. 

Dua nama pertama pernah saya jumpai ketika masih tinggal di Maumere.

Bagi saya, ketiga musisi lokal inilah yang menghidupkan khazanah musik di NTT di masakini, setelah beberapa musisi beken seperti John Seme dan Obie Mesakh di masalalu.

Atau, jika lebih mempersempit lagi, kedua musisi: Nyong Fanco dan Alfred Gare, adalah seniman yang menggairahkan musik NTT satu dekade terakhir.

Barangkali anggapan ini terlalu subjektif untuk memperluas diskursus mengenai kekayaan khazanah musik lokal di NTT.

Namun jika saya memetakan konteks pengkaryaan para musisi di NTT, kiranya ketiga musisi inilah yang cukup mewakili generasi masakini.

Nyong Franco, yang lagunya “Gemu Famire” meledak di pasaran, dan mencoba memodifikasi ke bentuk baru dalam lagu “Goyang Koja Doi”, adalah musisi Maumere yang menggairahkan kembali khazanah musik lokal ke pentas nasional, bahkan internasional.

Lagu “Gemu Famire-“nya kini sudah ditonton 34 juta orang, menjadi salah satu karya musik terpopuler yang sampai saat ini menjadi penanda identitas Maumere, dan NTT umumnya.

Lagu ini sudah “go international” dan disambut peminat musik dunia. Dalam sekejap, dengan bantuan teknologi media sosial, lagu ini menjadi viral di media Youtube.

Peminat musik dari berbagai negara dan berbagai latar telah menjadikan lagu ini sebagai “flashmoob”, tarian berkelompok dengan gerak dan irama yang sama, untuk dinyanyikan dan ditarikan pada berbagai event besar.

Tahun 2018, “Gemu Fa Mi Re” bahkan memecahkan rekor dunia Museum Rekor Indonesia, ketika lagu ini dibawakan serentak oleh TNI di 15 Kodam dan melibatkan 346.829 prajurit dari seluruh Indonesia. Momen ini dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun TNI yang ke-73.

Dengan populernya lagu ini, konsep tentang “go international” pun bergeser. Jika dulu seorang musisi harus memiliki jam tayang tinggi untuk “go international”, saat ini, dengan bantuan teknologi media sosial, seorang musisi hanya mengunggah karyanya dari titik manapun, tanpa harus membayar mahal ongkos promotor dan perjalanan.

Saban tahun, dalam suatu kesempatan di Maumere, saya pernah bertanya kepada musisi yang bernama lengkap Frans Cornelis Dian Bunda ini mengenai arti lagu “Gemu Famiere” yang diciptakannya.

Sekelebat saya terkejut, karena katanya, lagu ini tidak memiliki arti apa-apa pada dirinya. Lirik lagu ini disusun secara serampangan, tanpa struktur puitik atau estetik tertentu.

Lah, kok bisa ya penyanyi menciptakan sebuah karya tanpa tendensi untuk mengintervensi pesan tertentu di benak pendengar, demikian saya bertanya dalam hati. 

Jawabannya: bisa.

Karena itulah, dalam lagu ini, Nyong Franco tidak fokus pada struktur lirik, tapi lebih pada genre musik. Lewat lagu ini, ia menghidupkan kembali nuansa musik dan tarian rakyat Sikka yang sudah lama hilang.

Lebih tepatnya, pemilik Sanggar Bensa Maumere ini ingin menarik kembali minat masyarakat kepada budaya.

Dengan demikian, hentakan lagu ini memanggil orang untuk, setidaknya, mengenal kembali identitas yang hilang dari lingkungannya.

Saya kemudian menjadi lebih kaget lagi, ketika musisi yang pernah meniti karir musik di ibukota dan menyukai musik rock, ini katakan bahwa lagu ini memang sengaja diciptakan sebagai “Oleh-oleh” bagi mereka yang datang dan pergi ke Maumere, atau Flores dan NTT umumnya.

Artinya, ketika orang mendengar lagu ini, mereka tidak mengingat atau menghafal syairnya, tapi mereka mengingat bahwa mereka pernah ke Maumere, Flores atau NTT, atau setidaknya mendengar nama Maumere.

Tahun 2016, ketika saya berjumpa dengan dengan beberapa teman dari Jawa dalam suatu kesempatan, mereka terkejut ketika saya katakan bahwa lagu ini berasal dari NTT.

Dalam benak mereka, Maumere barangkali bukanlah kota atau identitas kultural dan spasial tertentu, tapi sebuah nama yang begitu saja populer lewat lagu ini.

Saya kemudian sadar bahwa apa yang disebut Nyong Franco sebagai “Oleh-oleh” sangat relevan untuk diletakkan dalam model pembangunan industri budaya masakini.

Kita barangkali bisa mendengar sendiri, khusus warga RAKAT, syair atau lirik dalam lagu “Dendang Dikideng 2” Alfred Gare & PAX Group.

Lagu ini, seperti “Gemu Famire”-nya Nyong Franco, tidak memiliki makna apa-apa. Ia dengan sendirinya menelanjangi dirinya untuk tidak terikat pada struktur teks tertentu dan tidak mau lagi diintervensi oleh bahasa.

Dalam lagu ini, ada campuran berbagai bahasa daerah di Provinsi NTT, mulai dari Sikka, Ngada, Nagekeo, Manggarai dan Kupang, serta, terutama Bahasa Indonesia.

Beberapa bahasa ini saling tumpang tindih, saling menggeser untuk memampatkan rima dan bunyi, dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Antara satu lirik dari satu bahasa tidak memiliki keterkaitan makna dengan lirik dari bahasa yang lain.

Lirik-lirik dalam lagu ini disusun secara arbitrer sesuai maksud pencipta, tanpa mau diintervensi penafsiran bermacam-macam dari pendengar. Demikianlah, lagu ini sudah terlepas dari intervensi estetik, dan hidup satu-satunya sebagai penanda budaya.

Ketika orang mendengar lagu ini, mereka akan mengetahui bahwa lagu ini berasal dari Maumere atau NTT.

Dengan demikian, cukuplah bagi kita untuk mengklaim bahwa dalam dua lagu ini: “Gemu Famire” dan “Dendang Dikideng 2”, mesti diletakkan sebagai identitas kultural atau apa yang Nyong Franco sebut “Oleh-oleh”. Tidak lebih tidak kurang.

Karena itu, saya berpandangan bahwa dalam gerak pembangunan industri pariwisata di NTT, yang juga mesti diperhatikan pemerintah lokal adalah pembangunan industri budaya (musik, sastra, tari, rumah adat, teater rakyat, dan sejenisnya). 

Sebab entitas-entitas kebudayaan inilah yang hilang dari perhatian pemerintah, baik di pusat, apalagi pemerintah lokal. Industri budaya masih hidup seperti anak tiri.

Hemat saya, “Oleh-oleh” terindah bagi wisatawan, dengan perhatian pemerintah pusat telah diarahkan ke pariwisata super premum Labuan Bajo, tidak lagi melulu berupa bentangan alam atau laut dan pulau-pulau yang eksotik. Ini semua berwujud material.

Namun yang juga penting adalah pembangunan industri budaya yang sifatnya immaterial karena ia berupa pemikiran, gagasan dan filosofi atau kearifan.

Saya hampir tidak mendengar politik atau gagasan kebudayaan yang dicanangkan pemerintah Provinsi NTT untuk mengintegrasikan geliat industri pariwisata di NTT dengan perkembangbiakan sektor kesenian yang juga tidak kalah kayanya.

Untuk sementara waktu, sembari menunggu gagasan pemerintah, saya membayangkan bagaimana kalau lagu-lagu populer ini diputar di Bandara Komodo Labuan Bajo untuk menyambut Presiden Joko Widodo atau pejabat tinggi negara dan wisatawan.

Atau juga diputar di Bandara El Tari Kupang dan bandara-bandara lain di NTT untuk menyambut dan melepaspergikan tetamu yang sudah jauh-jauh mengunjugi NTT.

Seingat saya, lagu-lagu Ivan Nestorman pernah diputar di Bandara Komodo Labuan Bajo. Baik pula bila pemerintah juga buka mata untuk melihat karya-karya musisi lokal lain untuk ditayangkan secara komersil dan dibayar oleh Angkasa Pura, perusahaan BUMN.*

Artikel ini pernah tayang di NTT Progresif dengan judul "Corona dan Tiga Lagu “Oleh-oleh” dari Maumere" pada 28 Agustus 2020.

Posting Komentar untuk ""Oleh-oleh" dari Maumere Kala Pandemi"