Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ada Emas di Balik Karang

Ilustrasi. Foto: Istimewa.

Namaku Tarry. Aku gadis desa yang punya cita-cita menjadi dokter. 

Aku berbeda dengan sahabat seusiaku. Mereka tinggal di perkotaan yang hidupnya serba berkecukupan, sementara aku hanya seorang gadis lugu yang keseharianku berada di desa saja melakukan rutinitas belajar, membereskan pekerjaan rumah, termasuk menjajakan jualan roti goreng sepulang dari sekolah atau di hari libur untuk membantu ibuku memperoleh penghasilan tambahan dan sebagai penyambung hidup keluarga kecilku.

Aku baru saja lulus dari SMP. Keberhasilanku membuat Ibu, kedua adikku, dan almarhum Ayah berbangga, karena aku adalah peserta didik lulusan terbaik sekabupaten.

Aku diberikan piagam penghargaan dan bantuan lain berupa uang tunai. Bentuk penghargaan diberikan bukan semata melihat prestasiku, tetapi juga termasuk keberhasilan lain yaitu aku pernah mengharumkan nama almamaterku selama masa sekolah. 

Bukan hanya bangga, tetapi aku sangat bersyukur kepada para pendidik yang dengan rela, pantang menyerah membimbingku selama masa studi. 

Ayahnda tercinta yang selalu mendoakan, Ibu dan kedua adik yang selalu bersamaku dalam suka dan duka. Terutama berkat Tuhan yang selalu mengiringi langkah hidupku hingga kini.

Kepergian Ayah membuatku merasa kehilangan. Namun aku yakin ini takdir Tuhan. Keyakinan ini mendorong aku untuk semakin kuat menghadapi cobaan dunia yang datang silih berganti. 

Tetapi itu bukan menjadi sebuah perkara untuk jatuh melainkan bangkit dan berlari menjemput sesuatu yang ada di puncak gunung. 

Tinggalah Aku, Ibu, dan kedua adikku. 

Seketika aku merasa dunia ini berubah. Berubah karena kehilangan sosok Ayah. Ayahku adalah tempat kami berpelukan, tertawa, menangis, dan pemberi nasehat untuk kami semua dalam gubuk kecil ini. 

Ayah, di mana kedua telapak tanganmu yang mengusap pipiku ketika air mataku tumpah? Ayah, aku rindu padamu, gambar dirimu selalu dalam relung hatiku. Sukacitalah di keabadianmu. 

Seperti misi yang telah aku utarakan sendiri dalam sanubariku, bahwa aku harus berlari menjemput sesuatu di depan sana. Kini aku membuka lembaran hidup yang baru, di mana saya harus melanjutkan mimpi besarku. Mimpi yang bukan saja untuk aku dan keluarga, tetapi mimpi yang dapat berguna bagi orang-orang sederhana. Aku akan buktikan!

Lima belas tahun sudah usiaku kini. Di mana aku harus melanjutkan studi ke jenjang berikutnya, di bangku SMA. Aku memilih di salah satu SMA yang cukup favorit di kalangan orang-orang elit.

Sebagai bagian dari sekolah yang notabene ternama di kota ini, justru aku tidak pesimis dengan latar belakangku yang seperti ini. Bahkan aku menemui pimpinan sekolah, aku terbuka kalau diriku terlahir dari orang biasa, dan aku menunjukan pelbagai prestasi yang aku miliki. 

Di hadapan pimpinan sekolah aku agak nervous  karena ia orang baru dalam hidupku. Tetapi pribadinya sangat baik, dan sangat welcome dengan siapa pun. Seketika perasaan gugup ini hilang karena sudah berkenalan secara langsung, sembari memberi kesan kelucuan kepadaku. 

Proses pendaftaran selesai, segala administrasi sudah beres. Tapi belum ada satu orang pun yang saya kenal di lingkungan baru ini selain pimpinan sekolah. 

Keesokan harinya aku menerima telepon dari salah satu pagawai sekolah untuk hadir ke sekolah dan disertai orang tua. Lalu berangkatlah aku dan ibu ke sekolah. 

Sesampainya di sekolah, ternyata ada kabar baik untukku bahwa aku diberikan beasiswa bebas biaya alias “sekolah gratis”. 

Mendengar itu, emosiku bercampur aduk, bingung aku harus bicara mulai dari mana. Hanya ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada pimpinan dan pihak sekolah yang telah membantu meringankan perjalanan hidupku selanjutnya. 

Aku merasa gembira sementara ibuku membisu berlinangkan air mata tanda rasa suyukurnya. 

Sesungguhnya kemurahan yang aku terima ini tidak membuat diriku terlena dengan situasi yang sedang menggebu-gebukan, justru ini adalah tantangan agar aku semakin mantap dalam melangkah dengan cara belajar lebih giat, meraih prestasi yang lebih baik dari sebelumnya, menjadi kebanggaan bagi lingkungan sekolah, tentu tetap menjaga kerendahan hati dan tetap menjadi diri sendiri. 

Minggu depan adalah waktu awal tahun ajaran baru. Senin hingga Rabu diisi dengan kegiatan orientasi sekolah. Peserta didik baru diwajibkan hadir ke sekolah pukul 06.30. 

Seperti biasanya kalau ke sekolah aku mengayuh sepeda atau mengendarai motor. Kebetulan jarak rumah dan sekolahku saat ini agak jauh, maka ibu yang senantiasa menghantarku dengan mengendarai sepeda motor yang agak usang peninggalan Ayah. 

Aku tidak malu dengan motor butut dari Ayahku, karena sepeda motor ini diibaratkan seperti Ayah yang selalu menemaniku sepanjang perjalannku. 

Selama masa orientasi, sekolah mengatur beberapa agenda kegiaatan salah satunya diadakan psikotest dan penjurusan. Alhasil aku lolos pada program studi IPA. 

Tiba waktunya untuk mengawali kegiatan belajar di sekolah. Hari demi hari aku lalui bersama teman-teman dan para guru. Sebagai bagian dari kelas X IPA 1, aku terpilih menjadi ketua kelas. Aku siap menjalankan tugas yang diberikan oleh wali kelasku. 

Suasana kelasku damai sekali walupun terdapat banyak perbedaan di antara aku dengan yang lainnya. Tetapi itu bukan dijadikan sebagai alasan untuk menjadi minder. 

Kami selalu bersama-sama belajar, mengerjakan tugas-tugas kelompok, kadang aku juga sering membantu mereka ketika menemukan kesulitan dalam belajar. 

Waktu terus berjalan, begitu pun dengan proses belajar yang turut mengubah mindsetku untuk menjadi peserta didik yang berkarakter. 

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, tetapi aku tidak ingin semuanya berlalu tanpa ada hasil. Cita-citaku sedang menunggu di gerbang, jadi aku tetap tekun dalam belajar. 

Dua tahun berlalu, kini aku duduk di kelas XII, dengan jurusan yang masih sama. Waktu ini adalah kesempatan terakhir penentuan apakah aku lulus atau tidak. Aku selalu menanamkan sikap optimis dalam seluruh perjuangan belajarku.

***

Tarry sangat menarik di mata para teman lelaki di sekolahnya. Menarik bukan saja soal paras, tapi kecerdasannya, sikap humble yang membuat satu lelaki yang menaruh hati kepadanya.

Lelaki itu adalah Mickhel. Ia seorang peserta didik satu sekolahan dengan Tarry. Hanya mereka berbeda jurusan. Mickhel berada pada jurusan Bahasa. 

Keesokan harinya Mickhel menghampiri Tarry. Mereka sudah saling kenal sebelumnya. Ketika itu waktu istirahat, dan Tarry sedang berada di kantin. Datanglah Mickhel sembari menyapanya.

"Hai Tarry... Sory saya mengganggu."

"Oh iya tidak apa-apa," sahut Tarry sambil mengajak Michkhel untuk duduk di hadapannya. 

Dengan sikap ramahnya itu, Tarry memesankan makanan untuk Mickhel. Lalu beranjak dari tempat duduk untuk memberitahu kepada tukang kantin. Tanpa disadari tali sepatu Tarry copot dan sangkut di ujung kaki meja kantin, hingga membuat Tarry terjatuh. 

Mickhel yang tidak tega melihat Tarry, langsung menolongnya sambil memperhatikan sekadar memastikan tubuh Tarry akan baik-baik saja. Mickhel tidak sempat makan karena harus mengantar Tarry ke UKS karena sedikit memar di lututnya. Mickhel tampak sangat setia menemani Tarry di UKS.  

Lelaki berkaca mata ini rupanya menyukai Tarry. Begitu pun dengan perasaan Tarry. Tetapi Tarry lebih memilih untuk berteman biasa, teman untuk belajar dan hal-hal positif lainnya. 

Waktu datang silih berganti, begitu pula dengan masa studi yang akan segera rampung. Itu pertanda Tarry sudah siap untuk mengikuti Ujian Nasional (UN). 

Waktu ujian telah tiba, Tarry mengikuti ujian dengan tekun hingga selesai. Rasa syukur Tarry ucapkan dalam doanya. Sambil menunggu pembagian hasil kelulusan, Tarry lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya, mengingat sebentar lagi merka akan saling pisah. 

Banyak rencana yang ia dengarkan dari teman-temannya perihal kampus maupun program yang disukai ketika kuliah nanti. Sementara Ia tetap pada pendirian yaitu bercita-cita sebagai dokter. 

Hari yang tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Peserta didik kelas XII menerima hasil ujian. Prosentase kelulusan sebesar 100% lulus. Itu artinya Tarry akan segera pergi meninggalkan ibu dan kedua adik tercinta guna melanjutkan studi yang lebih tinggi lagi. 

Sebelumnya Tarry sudah membicarakan kepada ibunya bahwa ia akan mengenyam pendidikan kedokterannya disalah satu universitas kedokteran di Jawa. Ibunya pun setuju.

Rasanya tinggal menghitung hari Tarry akan pergi meninggalkan sang ibu dan kedua adik tercintanya. Tarry, dan ibu serta kedua adik siap menerima perpisahan sementara itu. 

Hati Tarry tidak berubah sedikit pun hanya karena nanti akan meninggalkan ibu dan adiknya. Sikap dewasanya yang terus meyakinkan Ibunda dan adiknya untuk sabar dan bahagia selalu ketika suatu saat Tarry berangkat ke Jawa. Ia memberi kekuatan kepada mereka.

"Saya akan pulang ke rumah kita ini, jadi jangan sedih ya," kata Tarry. 

"Saya pulang bukan dengan tangan kosong, tapi nanti saya membawakan sesuatu yang paling berharga untuk Ibu, dan kamu berdua adikku," ucap Tarry dengan mata yang bekaca-kaca sambil berpelukan mesra dengan ibu dan adiknya. 

Akhirnya mereka merelakan Tarry pergi jauh. Sesampainya di Jawa,  Tarry merasa kehidupannya kosong karena terpisah jauh dibatasi lautan luas yang membentang. Hari-hari Tarry selalu menyempatkan diri untuk menelpon ibunya untuk menanyakan kabar mereka. 

Perjuangan Terry luar biasa pada masa studinya. Tarry memang pantas menjadi gadis dewasa yang mandiri sebab segala seauatu diurusi sendiri tanpa merepotkan ibunya yang jauh. 

Langkah demi langkah dilalui. Hari demi hari Ia lewati. Suka duka itu hal biasa untuk seorang Tarry. Sebab Ia telah terbiasa menghadapi getirnya kehidupan semenjak kepergian Ayah terkasih. 

Tarry sudah lama di Jawa. Ia begitu fokus dengan studinya karena Ia ingin cepat rampung dan bisa bersua kembali dengan ibunda dan adik berdua. 

Alhasil perjuangan Tarry membuahkan hasil. Ia menjadi peserta lulusan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dengan meraih nilai sebesar 3.99 artinya Tarry masuk pada kategori cumlaude

Sebagai pribadi yang rendah hati, tentu ia tidak ingin bersikap angkuh atas keberhasilannya itu. Niatnya hanya satu yaitu membahagiakan keluarga kecil dan berguna bagi orang-orang sekelilingnya. 

Ia pun kembali ke rumahnya karena ada yang sedang menunggu kedatangannya. Kedatangan Tarry seakan beban berat, gunda-gulana yang mendalam pun sirna seketika. 

Air mata bahagia tercurahkan saat kembali bertemu dalam keadaan selamat dan sehat. Mimpi Tarry telah menjadi nyata. Ia membawa pulang sebuah lembaran berharga dengan berstatus sebagai dokter.

“Sabar dan tekun adalah kunci kesuksesan”. 

Maumere, 31 Agustus 2020

Agnes Loys

Posting Komentar untuk "Ada Emas di Balik Karang"