Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ibu Muda dan Krisis Identitas

Ilustrasi. Foto: thinkstock.

 Menjadi seorang ibu merupakan cita-cita mayoritas perempuan. Memiliki suami dan anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Tak heran, sewaktu remaja atau dewasa muda, mereka merawat diri  agar kelak mereka menjadi ibu yang baik bagi anak-anak.

Untuk mengungkapkan kebahagiaan sebagai ibu yang baru saja memiliki anak, misalnya, mereka kerap mengunggah foto-foto bayi ke media sosial pribadi. 

Ada letupan kenikmatan ketika melihat wajah mungil sang bayi. Apalagi ditemani suami yang setia.

Namun, memiliki peran sebagai ibu muda, bukanlah perkara mudah. Tidak setiap orang mampu melewati siklus ini dengan baik. Apalagi jika seorang ibu muda sedang merintis karir.

Tidak jarang, ibu muda mengalami krisis atau stres karena tekanan pekerjaan dan tanggung jawab sebagai ibu di rumah. Polarisasi dan pembagian peran yang tak seimbang kerap membuat ibu muda, yang baru memasuki rumah tangga, tenggelam.

Konsentrasi mereka terbagi; antara merawat anak-anak dan suami, atau meniti karir profesional. Dilema pun melanda. Di situlah, identitas mereka sebagai perempuan mengalami krisis. Menjadi apa yang kemudian disebut "krisis identitas".

Istilah krisis identitas pertama kali dicetuskan oleh Erik Erikson, seorang psikolog dan psikoanalis asal Jerman.

Erikson mengatakan, tantangan psikologis seperti itu tidak hanya dapat dialami oleh remaja, tetapi juga orang paruh baya.

Artinya, identitas merupakan sesuatu yang terus tumbuh sepanjang hidup saat seseorang menghadapi tantangan baru dan berhasil mengatasi berbagai masalah.

Erikson percaya bahwa pengembangan kepribadian seseorang bergantung pada apakah ia dapat menyelesaikan konflik dengan baik dalam kehidupannya atau tidak. 

Krisis identitas adalah ketika Anda mempertanyakan siapa diri Anda atau identitas diri. Biasanya, kondisi ini muncul ketika seseorang tengah mengalami perubahan besar dalam hidupnya.

Beberapa contoh perubahan tersebut, misalnya, ketika seorang perempuan memiliki anak. 

Kondisi krisis identitas juga umum dialami oleh orang dengan masalah mental. Misalnya, depresi, bipolar, dan gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder).

Tingkat Krisis Berbeda-beda

Krisis identitas setiap ibu muda berbeda-beda, ada yang beberapa hari setelah melahirkan, beberapa bulan bahkan beberapa tahun.

Sebelum memiliki anak, ibu yang berkarir dengan yakin membuat rencana untuk kembali bekerja dalam waktu dekat pasca melahirkan. Tetapi setelah melahirkan, Ibu akan berpikir kembali untuk mengatur waktu antara pekerjaan dan anak.

Penataan ulang prioritas ini dapat menyebabkan krisis identitas. Karena alasan sosial dan neurologis mereka merasakan perpecahan antara tuntutan rumah dan pekerjaan yang akut.

Janna Koretz, seorang psikolog klinis, berbicara tentang Rachel, seorang klien lamanya yang menjadi pedagang sukses dan tidak pernah gagal dalam apapun di hidupnya. 

Ia tidak pernah mengira bahwa menjadi ibu yang bekerja akan menjadi sesuatu yang tidak dapat ditangani. Ia mengerjakan tugas ganda di lingkungan stres yang tinggi.

Namun, ketika Rachel kembali bekerja setelah cuti melahirkan, Rachel tidak bisa menyamai standar kantor dan merasa kehilangan peran di rumah.

Menulis di "Harvard Business Review", Koretz menjelaskan bahwa penelitian terbaru tentang neurobiologi keibuan telah memberikan beberapa petunjuk mengapa ibu baru sering mengalami kesulitan untuk kembali bekerja.

Setelah melahirkan, beberapa perubahan neurologis dan struktural yang terjadi dapat menyulitkannya untuk mereplikasi fungsi sebelumnya dengan tepat.

Ibu muda mempunyai kemampuan luar biasa untuk menganalisis tangisan bayi dan menebak dengan tepat apa yang dibutuhkan bayi. Namun otak tidak tahu tentang lingkungan kerja modern. 

Yang lebih mengerikan, adalah naluri yang dirasakan beberapa orang untuk seutuhnya menjadi ibu di atas pekerjaan lainya. Inilah yang menyebabkan bentrokan antara identitas menjadi ibu dan di dalam pekerjaan ibu muda.

Alami Gangguan Mental

Seorang ibu muda akan merasa sangat bahagia apabila mengunggah foto-foto bayinya ke media sosial. Misalnya, foto bayi sedang menangis, sedang makan, sedang tidur dan seterusnya.

Namun, menurut Sarah Schoppe-Sullivan, Profesor of Human Sciences and Psychology, di The Ohio State University, AS, ibu yang terlalu rajin mengunggah foto bayi di media sosial bisa jadi sedang mengalami krisis identitas sehingga mencari pujian dan sanjungan dari teman-temannya.

Mereka mencoba menavigasi fase rumit dalam kehidupan mereka dalam menyeimbangkan identitas baru dan identitas lama sebagai seorang wanita.

Sarah dan Sullivan mengatakan bahwa para ibu tersebut bisa jadi tengah mengalami guncangan emosional menjadi ibu baru, tetapi mereka tidak menyadarinya.

Dalam hasil studi yang dipublikasikan dalam jurnal "Sex Roles" tersebut, mereka menemukan bahwa para ibu muda yang hobi mengunggah foto anak di medsos merasakan tekanan menjadi ibu yang sempurna.

Selain itu, mereka juga kesulitan dalam menerjemahkan peran sebagai ibu sebagai aktivitas utama dalam hidup.

Alhasil, peran sebagai ibu tersebut, mereka menerjemahkannya dengan foto bayi dan anak di media sosial untuk menegaskan bahwa mereka telah menjadi seorang ibu.

Keduanya menemukan bahwa pujian dan sanjungan dari teman-teman di media sosial meredakan kekhawatiran dan rasa panik seorang wanita dalam menjalani peran sebagai ibu.

Untuk ibu muda, Koretz pun merekomendasikan beberapa hal yang perlu diperhatikan agar bisa menyeimbangkan pekerjaan ganda sebagai ibu muda. 

Pertama, pikirkan kembali kesuksesan. Bahwa sejak dulu, seorang ibu muda pernah bercita-cita menjadi orang yang sukses. Dengan status baru, ibu muda harus mendefinisikan kembali arti kesuksesan itu.

Kedua, berpikir tentang diri sendiri. Seiring berjalannya kehidupan, identitas akan banyak mengalami perubahan. Bahkan menjadi ibu baru, adalah identitas yang jauh diperluas maknanya.

Sebab, menambahkan "orang tua" ke identitas ibu muda semestinya tidak mengharuskan mereka untuk meninggalkan bagian lama dari diri mereka sendiri.

Karena itu, seorang ibu muda harus menjadi versi yang lebih baik agar dapat membantu memerangi krisis yang sedang dialami.

Menerima adanya perubahan juga merupakan kunci penting untuk menghadapi krisis identitas ini. Sebab kalau terlalu khawatir terhadap identitas baru sebagai seorang ibu akan menghabiskan waktu.

Selebihnya, dengan adanya media sosial, ibu muda bisa menceritakan berbagai kisah positif hidupnya sehingga bisa mendapat dukungan berarti. (Diolah dari berbagai sumber)*

Posting Komentar untuk "Ibu Muda dan Krisis Identitas"