Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jokowi Berpotensi Tiga Periode

Jokowi dan Prabowo: Foto: Ist.

Presiden Joko Widodo berpotensi tiga periode memimpin Indonesia jika nantinya berapasangan dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pada Pilpres 2024.

Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari saat menjawab pertanyaan moderator tentang dinamika politik 2021 dalam webinar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) yang bertajuk “Indonesia’s Economic and Political Outlook 2021” Kamis (17/12) lalu.

Menurut Qodari, salah alasannya adalah karena tidak ada dinamika politik penting beberapa tahun ke depan, terutama karena tidak adanya Pilkada Gubernur di daerah seperti Jakarta dan Jawa.

Jika merujuk Undang-Undang Nomor 10 tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota, Pilkada baru diadakan pada November 2024 seusai Pemilu.

“Jadi tidak ada Pilkada pada tahun 2022 dan 2023 jika melihat peraturan yang ada di UU nomor 10 tahun 2016. Artinya tidak ada Pilkada Gubernur di daerah strategis  seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur,” ujarnya.

Qodari menuturkan, kemungkinan tahun depan akan ada pembahasan mengenai revisi UU Pilkada dan Pemilu oleh DPR. 

Salah satu isu yang akan dibahas diantaranya terkait kemungkinan akan diadakan lagi Pilkada tahun 2022 dan 2023.

Namun Qodari melihat bahwa kemungkinan partai besar seperti PDIP, Gerindra dan Golkar akan menolak revisi tersebut.

Penolakan tiga partai tersebut, kata Qodari, dengan syarat mereka sudah mempunyai rencana atau kesepakatan mengenai desain politik pada pilpres 2024 yang akan datang.

“Desain politiknya seperti apa, ada beberapa kemungkinan termasuk kemungkinan-kemungkinan yang ‘extreme’ atau luar biasa,” ucapnya.

Qodari menjelaskan, kemungkinan yang luar biasa itu setidaknya ada dua. Pertama, kemungkinan  Jokowi maju  presiden untuk ketiga kalinya, tetapi kali ini dengan Prabowo sebagai Wakil Presiden.

"Tentu saja hal ini memerlukan amandemen UU Dasar 1945,” terang Qodari.

Skenario kedua yang mungkin terjadi, kata dia, adalah Prabowo maju sebagai calon Presiden dengan wakilnya berasal dari PDI Perjuangan.

“Kemungkinan skenario pertama bisa saja terjadi untuk menciptakan stabilitas politik sekaligus menghindari pemilu yang mengerikan seperti pada Pilpres sebelum-sebelumnya,” katanya.

Qodari menilai, sosok Jokowi dan Prabowo merupakan representasi atau simbol dari pengelompokan di masyarakat Indonesia dengan adanya istilah ‘cebong’ dan ‘kampret’ yang bertahan sampai saat ini.

"Jika keduanya bergabung maka tidak ada lagi dikotomi ‘cebong’ dan ‘kampret’ pada pemilu yang akan datang," ujarnya.

Gelombang dukungan tiga periode jabatan Jokowi tidak hanya datang dari pengamat. Masyarakat pendukung Jokowi pun amat mendukung Jokowi memimpin Indonesia tiga periode.

Dalam berbagai platfrom diskursus, khususnya di Facebook, terlihat bahwa masyarakat amat merindukan Jokowi terus memimpin Indonesia untuk merealisasikan agenda pembangunan nasional untuk pemerataan dan akselerasi infrastruktur dan SDM.*

Posting Komentar untuk "Jokowi Berpotensi Tiga Periode"