Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Netflix Adaptasi Novel Karya Penulis Indonesia Jadi Film

Jesse Q Sutanto. Foto: Istimewa.

Nama Jesse Q Sutanto belum begitu populer dalam dunia sastra Indonesia. Namanya masih asing, dan jarang disebut banyak orang. Namun, dalam diam, ia telah menulis 9 novel berbahasa Inggris.

Novelnya yang terakhir, berjudul "Dial A for Aunties", dikabarkan bakal diproduksi dalam format film oleh perusahaan layanan streaming Amerika Serikat, Netflix. 

Padahal, tidak mudah bagi penulis Asia menembus pasar film Hollywood di AS. Apalagi namanya belum begitu terkenal seperti sastrawan lain di Indonesia. Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Jesse.

Selama menulis novel pun, alumnus Oxford University mengakui tidak mudah menerbitkan novel berlatar belakang Indonesia. Tulisannya selalu ditolak penerbit luar.

Alasannya karena kebanyakan penerbit di AS lebih menyukai cerita mengenai bule. Sementara, cerita-cerita berlatar belakang Indonesia terlalu asing.

"Salah satu buku saya, buku ketujuh, berlatar di Indonesia. Mantan agen saya mengirimkannya ke penerbit, lalu mereka mengatakan, ‘Bolehkah kamu mengubah latarnya menjadi Amerika? Karena ini agak terlalu asing'," ungkap Jesse, yang mengaku sakit hati saat mendengar itu, "Saya rasa bagi kita, khususnya orang Asia Tenggara, kita perlu sangat bersabar dan bekerja lebih keras dari pada yang lainnya, bahkan hanya demi mempertahankan identitas kita sendiri."

Dalam novel "Dial A for Aunties", meski tidak berlatar belakang Indonesia namun tokoh utamanya adalah orang Indonesia keturunan China dengan berbagai budaya Indonesia yang turut dia sematkan dalam alur cerita. Namun latar peristiwa dalam novel ada di AS.

"Kisahnya tentang perempuan China-Indonesia yang tidak sengaja membunuh kencan butanya. Dia harus meminta tolong ibu dan tantenya untuk menyingkirkan mayat itu. Semua itu terjadi di tengah pernikahan ala Indonesia di sebuah pulau di California," ungkap Jesse kepada VOA Indonesia, Senin (7/12) lalu.

Novel kesembilan ini, kata Jesse, akan diterbitkanpada April tahun depan dan langsung difilmkan oleh Netflix.

Dalam produksi menjadi film nanti, Jesse akan menjadi produser eksekutif film, sementara posisi sutradara akan dipegang oleh Nahnatchka Khan, yang terkenal dengan serial TV Netflix-nya, Always be My Maybe.

Hingga saat ini, belum diketahui pasti kapan film Dial A for Aunties akan dirilis. Saat ditanya sudah sejauh mana penggarapannya, Jesse menjawab, “Saya tidak tahu sejauh mana saya boleh membagikan jawabannya."

Adapun, "Dial A for Aunties" bercerita tentang sosok Meddelin Chan, perempuan Indonesia keturunan China, yang tanpa sengaja membunuh kencan butanya.

Sang ibu dan para tantenya yang suka ikut campur lantas membantunya melenyapkan mayat pria itu di tengah pesta pernikahan mewah khas Indonesia yang dihadiri ribuan tamu undangan di sebuah pulau di dekat California, AS. Pada saat bersamaan, Meddelin juga dibuat galau ketika mantan kekasihnya muncul kembali di tengah kekacauan itu.

Ide tersebut bermula tak jauh dari kehidupan keluarga besarnya di Jakarta yang ia akui sangatlah dekat.

"Kami selalu mengobrol, kami punya grup WhatsApp, kami kerap berdebat dan bertengkar, tapi pada dasarnya kami saling menyayangi dan sangat peduli dengan satu sama lain, dan bila salah satu di antara kami sedang kesusahan, yang lain pasti akan datang membantu, seperti halnya cerita dalam buku saya," terang Jesse.

Meski novelnya akan difilmkan, Jesse mengakui bahwa ia tidak menulis skenario "Dial A for Aunties". Ia meminta penulis skenario lain untuk membantunya. Hanya saja, dalam penulisan itu, Jesse akan tetap menyesuaikan dengan naskah asli agar tidak hilang begitu saja, terutama istilah Indonesia.

"Saya tidak tahu cara menulis skenario film, tapi saya sudah mengobrol dengan penulisnya, dan ia pun meminta saya mengiriminya daftar kata dan istilah dalam bahasa Indonesia yang biasa kita ucapkan," ungkapnya.

Dalam proses pembuatan film nantinya, Jesse tidak menampik bahwa akan banyak aktor Indonesia yang terlibat. Karena ia sepenuhnya tanggung jawab itu ke agen filmnya.

"Sebenarnya, ketika The Hollywood reporter pertama kali memberitakan soal adaptasi Netflix, saya dihubungi cukup banyak sineas Indonesia, para aktor, pekerja set. Saya bilang bahwa saya tidak punya wewenang untuk melakukan casting, tapi saya pasti akan menyampaikannya ke agen film saya, karena saya ingin lebih banyak orang Indonesia terlibat dalam film ini," katanya.

Dengan pintu masuk ini, Jesse berharap bisa menjadi momentum bagi sineas Indonesia tampil di muka dunia, karena menuruntya, "kita punya banyak sekali insan kreatif yang seringkali diabaikan".

Pengakuan bahwa karya Indonesia sulit menembus pasar AS diakui oleh Endah Redjeki, pencetus Los Angeles-Indonesia Film Festival. Namun ia berharap, momen ini dapat digunakan oleh sineas Indonesia untuk tampil.

Setelah kesuksesan komersial film Crazy Rich Asians, yang diangkat dari novel dengan judul sama karya Kevin Kwan, disusul film Korea Selatan, Parasite, yang meraih gelar Film Terbaik di ajang Piala Oscar tahun 2020, Endah melihat momen ini sebagai kesempatan yang harus dimanfaatkan sineas-sineas Asia, khususnya Indonesia.

Meski demikian, Endah mengaku ada satu ganjalan bagi film Indonesia untuk bisa menembus Hollywood.

Selain kekurangan dana untuk mempromosikan film Indonesia, tantangan lain yang harus dihadapi pekerja film Indonesia untuk bisa menaklukkan Hollywood adalah masalah koneksi atau jejaring kerja.

Namun demikian,  menurut pengamat film sekaligus Direktur Program LA-Indonesia Film Festival, Stanley Chandra, tantangan itu bisa diatasi dengan memilih agen representatif yang tepat, portofolio yang kaya, hingga ambisi besar sineas.

Hal itu dicontohkan Stanley melalui sosok-sosok seperti Iko Uwais dan Joe Taslim, yang belakangan terlibat dalam sejumlah produksi Hollywood berskala besar, dari film Stuber (2019), Fast & Furious 6 (2013), hingga Star Trek Beyond (2016).

Satu hal yang mungkin lebih sulit dikontrol adalah praktik stereotipe yang masih terjadi dalam industri film di Hollywood.

"(Isu) inklusivitas sekarang tidak seproblematik sebelumnya dengan lebih banyaknya orang kulit berwarna yang terlibat di Hollywood di segala lininya. Akan tetapi, stereotyping peran itu masih masif, masih pekerjaan rumah di sana untuk dibenahi," ungkap Stanley.

Ia berharap aktor dan aktris Indonesia yang mencoba berkiprah di Hollywood bisa menawarkan sesuatu yang berbeda dan beragam, “tidak melulu orang Indonesia itu harus yang pencak silat, harus parkour."

Selain "Dial A for Aunties" dan "The Obsession", setidaknya empat buku lain karya Jesse sudah antre untuk diterbitkan dalam tiga tahun ke depan, diantaranya: Satu buku bergenre dewasa muda, sekuel kisah Dial A for Aunties, Theo Tan and the Fox Spirit, dan Sekuel dari Theo Tan.

Selain itu, Jesse juga baru merampungkan satu buku lain yang siap diterbitkan. Buku ini mengambil latar Jakarta dan Bali.

"Saya sebetulnya baru saja menyelesaikan satu buku baru yang kali ini latarnya benar-benar di Indonesia – di Jakarta dan Bali, saya senang sekali. Saya baru mengirimkannya ke agen saya, moga-moga ia cukup senang untuk mau mengirimkannya ke penerbit," ujar Jesse.(Kompas/Liputan6)*

Posting Komentar untuk "Netflix Adaptasi Novel Karya Penulis Indonesia Jadi Film"