Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pater Bollen Tutup Usia, Berkarya 60 Tahun di Maumere

Pater Boolen, SVD. Foto: Istimewa.

Pater Heinrich Bollen, SVD akhirnya tutup usia setelah berkarya selama 60 tahun di Kabupaten Sikka. Pater Bollen meninggal dalam usia 91 tahun di RSUD TC. Hillers Maumere.

Jenazah pastor yang dikenal sebagai pejuang kemanusiaan disemayamkan di Kapela Agung Ledalero. Upacara penguburan dilangsungkan hari Rabu (23/12) di pekuburan SVD Ledalero.

Pater Bollen adalah misionaris asal Jerman. Ia lahir pada 2 Juli 1929 di Landstuhl, Jerman Barat, anak kedua dari pasangan Johann Bollen dan Katharina Leitheiser.

Setelah ditahbiskan sebagai imam Serikat Sabda Allah (SVD) pada 14 Agustus 1959, Pater Bollen kemudian diutus sebagai misionaris ke tanah Misi Indonesia, tepatnya pada tahun 1960.

Di Indonesia, Tuan Bollen bertugas sebagai gembala di Paroki Watublapi, Maumere, yang dulunya masih menjadi bagian dari Keuskupan Agung Ende.

Di sana, nama Pater Bollen begitu melekat dalam benak umat Keuskupan Maumere. Dia dikenal sebagai Tuan Pater yang mengabdikan dirinya sepenuhnya bagi kepentingan umat. 

Bersama umat, melakukan banyak pemberdayaan ekonomi dan sosial. Pater Bollen mampu beradaptasi dengan semua kalangan, baik umat golongan tua maupun muda.

Selama bertugas, misionaris Jerman ini berhasil menanamkan iman Katolik secara kukuh di sanubari umat, tanpa mencabut nilai kearifan lokal dan agama domestik setempat.

Di sisi lain, Tuan Bollen juga berbaur dengan budaya setempat. Sanggar kesenian dan budaya di Paroki Watublapi, yang dikenal dengan Sanggar Watublapi adalah hasil karyanya.

Salah satu karya misi yang monumental dari Tuan Bollen adalah keberhasilannya mengubah cara bercocok tanam masyarakat. Ketergantungan masyarakat pada tanaman musiman dan hasil hutan, dikonversi dengan pertanian budi daya komoditi jangka panjang bernilai tinggi.

Bermitra dengan bupati Laurens Say yang didukung Viator Pareira, dkk, ekstensifikasi kakao, cengkeh, kopi, alpukat, dan aneka komoditi lain, merupakan pilot project di wilayah Watublapi dan sekitarnya yang sangat berhasil dan segera menjadi contoh bagi para petani di Maumere bahkan di seluruh Flores. 

Bahkan Bupati Jan Jos Botha dari Ngadha, Gadi Djou dari Ende dan Sales Lega dari Manggarai, datang belajar tentang pertanian dan mengambil bibit di Maumere. 

Gubernur El Tari yang bersemboyan "tanam, tanam tanam" berkali-kali di berbagai forum memuji Ikatan Petani Pancasila (IPP) yang digawangi oleh Tuan Bollen.

Sayangnya, para petani di Watublapi dan sekitarnya hanya dilatih Tuan Bollen untuk  berproduksi dan tidak dilatih berdagang. 

Lantas, yang paling beruntung secara ekonomis oleh ledakan komoditi jangka panjang tersebut di tahun 70-an adalah papalele dan pedagang perantara di Geliting dan Maumere.

Tuan Bollen juga dikenal sangat piawai dalam hal membangun pemberdayaan masyarakat melalui lembaga swadaya masyarkat (LSM).

Ia mendirikan Yayasan Pembangunan (Yaspem) yang kini memiliki aset luar biasa. Tuan Bollen memang memiliki akses ke berbagai lembaga donor di Eropa maupun Amerika.

Sekira tahun 1975, sebuah resort  wisata di pantai Waiara yang dikelola oleh bule Italia mengalami masalah manajemen dan keuangan. Pemilik resort tersebut bertemu Bupati L. Say untuk melepaskan sahamnya kepada pemerintah daerah.

Karena Pemda Sikka tidak boleh berbisnis, maka Bupati L. Say mencoba menawarkan bisnis tersebut kepada beberapa pihak. 

Tuan Bollen ternyata memiliki insting bisnis pariwisata luar biasa. Tuan Bollen pun bersedia mengambil alih resort tersebut yang sekarang menjelma menjadi Sea World Club Waiara yang mendunia. Pastor Bollen adalah perintis pariwisata Sikka.

Tahun lalu, Tuan Bollen meluncurkan buku biografi berjudul Melebur di Tanah Flores yang ditulis oleh Hsu Monica, bertepatan dengan HUT ke-90 tahun.

Perayaan ulang tahun yang dipusatkan di pesisir Pantai Waiara berlangsung dengan penuh kemeriahan. Para tamu undangan yang hadir dihibur dengan aneka lagu khas Sikka.

Bagi generasi tua Sikka, Tuan Bollen adalah sosok yang memiliki kharisma membentuk anak-anak muda menjadi orang-orang hebat. Banyak orang yang telah diasuhnya dan kini menjadi pejabat penting di Sikka.

Sesepuh Kabupaten Sikka, Daniel Wodapale, misalnya, mengatakan bahwa Pater Bollen adalah tokoh yang menjadi contoh dari seluruh kegiatan penghijauan yang dimulai dari Watublapi. 

Program penghijauan yang diinisiasi Bupati Laurens Say ditunjang 100 persen oleh Pater Bolen kemudian berlangsung dimana-mana.

Sementara itu, Relawan Kemanusiaan asal Belgia, Maria Jeanne Colson Emma Anton atau yang dikenal dengan panggilan Mama Belgi pun mengisahkan, dirinya merasa berterimakasih kepada Pater Bollen karena diterima untuk sama-sama menjalankan karya misi di Maumere.

Mama Belgi juga menyampaikan harapannya agar Pater Bollen bisa membantu dan memberi motivasi pada pastor-pastor baru terutama pastor-pastor Indonesia agar mereka juga punya hati sama seperti Pater Bollen.

Kesaksian tentang Pater Bollen juga dikisahkan oleh dua orang anak didik Pater Bollen yakni Politisi Sikka, Rafael Raga dan Direktur Sea World Club Maumere, Martinus Wodon.

Keduanya memberi kesaksian betapa besarnya jasa Pater Bollen sehingga mereka bisa bersekolah dan menjadi orang sukses seperti sekarang ini. (Diolah dari berbagai sumber)*

Selamat jalan Tuan Bollen. Surga tempatmu. Damai Natal menyertai perjalanan ke Rumah Bapa!

Posting Komentar untuk "Pater Bollen Tutup Usia, Berkarya 60 Tahun di Maumere"