Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

2020, Pandemi dan Hilangnya para Maestro

 

Sapardi Djoko Damono dan Glenn Fredly.

Tahun 2020 adalah tahun yang sulit dan melelahkan. Gelombang virus corona dari China telah memukul semua umat manusia di bawah kolong langit, tak satupun yang luput.

Pandemi merongrong sendi-sendi utama kehidupan manusia, baik di bidang ekonomi dan politik maupun di bidang sosial, agama dan budaya.

Manusia terpaksa harus beradaptasi dengan berbagai norma kehidupan baru yang tak pernah dilakukan sebelumnya.

Pandemi datang bagaikan 'air bah Nuh' puluhan ribu tahun silam yang menenggelamkan peradaban selama 40 hari 40 malam.

Berjalan selama kurang lebih setahun, pandemi Covid-19 telah merenggut 1,8 juta umat manusia. 

Lebih dari 80 juta orang kini tersiksa di rumah sakit, dan miliaran lainnya terkatung-katung mencari perlindungan.

Dengan pandemi, manusia tidak hanya dihadapkan pada refleksi tentang arti kehidupan, tapi terlebih refleksi soal kematian.

Apa artinya kematian bagi manusia ketika melihat ribuan nyawa melayang akibat serangan virus dikubur tak biasanya.

Selain tidak dihadiri banyak keluarga dan diiringi ratap tangis pilu, jasad umat manusia, dari agama manapun, dilemparkan ke dalam liang kubur tanpa ada yang mau melihatnya dari dekat lagi.

Tanpa daras doa-doa dan wewangian dupa, tanpa wajah yang berduka, selain menangisi kepulangan mereka dalam diam.

Sungguh, pandemi memantulkan bayangan kematian yang makin mengerikan; semua orang takut mati pada masa-waktu ini.

Namun, kehendak Tuhan tak ada yang bisa ditolak. Toh, semua orang akan menghadap-Nya pada suatu waktu; kapanpun.

Seperti yang terjadi pada masa pandemi ini, di antara banyak orang yang kehilangan nyawanya, tidak sedikit orang-orang hebat di Indonesia yang juga berpulang.

Salah satu orang hebat yang akan dikenang sepanjang masa adalah Sapardi Djoko Damono, sastrawan terkemuka Indonesia.

Maestro sastra ini meninggal dunia pada 19 Juli 2020 di Rumah Sakit Eka Hospital BSD, Tangerang.

Meninggalnya sosok sastrawan kebanggaan Indonesia itu meninggalkan duka mendalam bagi para penikmat karyanya.

Pasalnya, SDD telah leahirkan karya bermutu yang menjadi peletak dasar karya sastra konteporer Indonesia.

Puisi-puisinya yang umumnya berbentuk soneta, meski terlihat sederhana tapi memiliki arti mendalam bagi kehidupan.

Itulah yang membuat SDD begitu populer di masyarakat, bukan hanya di kalangan para seniman.

Tidak sedikit puisi-puisinya dibacakan dan dibuat ulang dalam berbagai genre, seperti musikalisasi puisi, untuk dipentaskan dalam berbagai event kesenian di tanah air.

"Yang Fana adalah Waktu" menjadi salah satu puisi romantis dari Sapardi yang begitu populer. 

Ada pula puisi "Hujan Bulan Juni" yang bahkan sampai diangkat ke layar lebar. Padahal selain dua puisi itu, masih banyak lho puisi-puisi SDD lainnya yang tak kalah romantis.

Bagi para pencari cinta, puisi-puisi SDD seringkali menjadi persembahan atau ucapan bagi kekasih pujaan. 

Salah satunya berjudul "Aku Ingin". Berikut petikannya:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Selain SDD, berturut-turut dikabarkan meninggal para maestro dari industri musik tanah air. Kabar tersebut sangat mengejutkan publik.

Salah satunya adalah Didi Kempot yang meninggal pada 5 Mei 2020, di Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, Jawa Tengah.

Kematian penyanyi 53 tahun ini mengejutkan publik karena sebelumnya ia tidak memiliki riwayat penyakit.

Dengan meninggalnya sang maestro lagu-lagu campur sari, para penggemarnya yang disebut Ambyar, pun patah hati.

Pasalnya ia sedang berada di puncak karir dan memiliki banyak sekali penggemar fanatik. Ia meninggal persis beberapa bulan sebelum dilangsungkan konser akbar di Jakarta.

Tiga hari berselang, aktor kawakan Adi Kurdi pun diberitakan meninggal dunia. Tepatnya pada 8 Mei 2020.

Ia meninggal di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) di bilangan Cawang, Jakarta Timur, setelah sempat mendapatkan penanganan intensif dari pihak rumah sakit.

Sempat beredar kabar Adi Kurdi meninggal karena Covid-19. Namun tidak lama kemudian hal itu dibantah. Adi Kurdi meninggal akibat terjadi sumbatan pada bagian otak.

Seminggu kemudian, aktor gaek Hengky Solaiman pun dikabarkan meninggal dunia, persis pada 15 Mei di usia 78 tahun.

Ia meninggal bukan karena Covid-19 melainkan karena penyakit komplikasi yang dideritanya.

Jenazahnya dikremasi dan abunya dilarung di laut lepas Minggu (17/5) atas permintaan almarhum.

Sebulan sebelum kematian ketiga aktor senior, artis papan atas lainnya, yaitu Glenn Fredly telah berpulang.

Glenn Fredly juga cukup mengejutkan bagi banyak orang. Ia meninggal pada usia muda, 44 tahun pada 8 April 2020.

Sama seperti Didi Kempot, publik tak mengetahui penyakit pasti Glenn. Namun sejatinya ia sudah merasakan sakit beberapa waktu sebelum menghembuskan napas terakhir.

Glenn Fredly kemudian mengalami sakit radang selaput otak atau meningitis. Jelang meninggal, ia rajin mengikuti acara konser virtual untuk acara penggalangan dana guna membantu orang-orang terdampak Covid-19. 

Salah satunya, Glenn mengikuti konser virtual yang diadakan oleh Narasi di bawah komando Najwa Shihab.

Setelahnya, penyanyi gaek Yopie Latul menyusul Glenn dan Didi Kempot. Yopie Latul meninggal pada 9 September akibat Covid-19.

Jenazah musisi asal Ambon itu dikremasi dan kemudian abunya dibawa ke TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Selain para maestro, dunia seni tanah air juga kehilangan banyak tokoh, mulai dari yang tua sampai yang paling yunior.

Ada Erwin Prasetya, mantan basis Dewa-19, yang meninggal setelah mengalami pendarahan pada bagian lambung. 

Dia wafat pada 2 Mei 2020. Pemakamannya dilaksanakan di pemakaman Keputih, Surabaya.

Setelah Erwin, pencipta lagu anak Papa T Bob dikabarkan meninggal dunia pada 10 Juli 2020 pada usia 63 tahun.

Sebelum meninggal ia sempat mengeluhkan sesak napas, kemudian menghembuskan napas terakhir di rumah sakit Budi Asih Jakarta Timur.

Selain itu, ada Allan Wangsa yang meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta pada 4 Februari 2020 akibat gagal ginjal.

Berikutnya, ada Purwaniatun, pesinetron spesialis ART yang meninggal dunia pada 23 Maret 2020. Sebelum meninggal, ia sempat menjalani operasi kanker rahim.

Kemudian ada pelawak Omas yang meninggal dunia setelah cukup lama sakit dan dirawat di rumah sakit. 

Ia meninggal setelah sempat berjuang melawan penyakit paru-paru dan diabetes yang dideritanya. 

Omas mengembuskan napas terakhir pada 17 Juli 2020. Jenazahnya dimakamkan di TPU Cisalak, Depok, Jawa Barat.

Menyusul desainer Barli Asmara yang meninggal pada usia 42 tahun. Ia meninggal di sebuah rumah sakit di Pulau Dewata Bali.

Kemudian, ada juga Ade Firman Hakim, aktor muda yang sedang naik daun. Ia meninggal pada 14 September 2020 akibat Covid-19. 

Jenazahnya tetap dimakamkan mengikuti protokol kesehatan Covid-19 di TPU Tegal Alur Kalideres, Jakarta.

Berikutnya, ada Abi Cancer, aktor laga pemeran Wiro Sableng meninggal dunia pada 22 Maret 2020. Ia mengembuskan napas terakhir pada usia 70 tahun akibat serangan jantung.

Mantan Ketua Umum PARFI Gatot Brajamusti pun meninggal di Rumah Sakit Pengayoman Jakarta pada 8 November 2020 lalu.

Ia mengembuskan napas terakhir akibat penyakit diabetes dan hipertensi. Jenazahnya dimakamkan di daerah asalnya yaitu Sukabumi, Jawa Barat. Gatot Brajamusti meninggal selama masa menjalani hukuman atas sejumlah kasus yang menjeratnya.

Yang paling terakhir adalah kontestan Indonesian Idol 2021 Melisha Sidabutar yang meninggal pada 8 Desember 2020.

Ia wafat saat usia belia, 19 tahun, akibat pembengkakan pada saluran pernapasan dan memiliki penyakit tipes. Jenazah Melisha dimakamkan di TPU Pedurenan Bekasi Jawa Barat.

Selain yang tercatat, masih banyak tokoh lain yang juga meninggal pada masa pandemi ini.

Lantas, kita bertanya, mengapa banyak maestro yang meninggal pada masa yang begitu sulit, ketika semua orang menghindarinya.

Lagi-lagi, pandemi mengajarkan kita bagaimana caranya bersikap di depan peti kematian para saudara kita. Pandemi juga mengajarkan kita cara terbaik untuk memelihara kehidupan.

Meski suatu masa Tuhan memanggil umat-Nya, paling tidak kita sudah lebih siap masuk ke meja pengadilan-Nya.*

Posting Komentar untuk "2020, Pandemi dan Hilangnya para Maestro"