Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apa Betul NTT Tak Istimewa?

Anggota Komisi V DPR A. Bakri HM.

Baru-baru ini, telinga masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dibuat panas oleh pernyataan salah seorang anggota DPR RI.

Adalah Anggota Komisi V DPR dari Fraksi PAN A. Bakri HM, yang menyebut NTT tak memiliki keistimewaan, selain reptil purba komodo di Pulau Komodo, Labuan Bajo.

Pernyataan itu disampaikan Bakri dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dirjen Cipta Karya dan Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian PUPR di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (26/1).

Dalam rapat itu, Bakri sebetulnya mempersoalkan alasan mengapa pemerintah menganggarkan pendanaan untuk pariwisata di Provinsi NTT yang begitu besar.

Sebagai wakil rakyat, ia mencium bau ketidakadilan porsi anggaran. Karenanya ia memprotes jika pemerintah terlalu menganakemaskan NTT.

Padahal, kata dia, Provinsi NTT tidak memiliki keistimewaan yang berarti. NTT tidak bedanya dengan daerah lain di Indonesia. Jika NTT punya potensi pariwisata, maka daerah juga punya itu.

Sebagai putra daerah Jambi, Bakri mengklaim bahwa daerahnya punya potensi wisata yang bagus tapi belum diperhatikan pemerintah.

Beberapa diantaranya, seperti Candi Muaro Jambi, Sungai Batanghari, Geopark Merangin, Rumah Tuo Tabir, dan gunung tertinggi di Indonesia, Gunung Kerinci.

Itulah sebabnya, Bakri tidak terlalu mengistimewakan NTT.

"Alangkah baiknya, mungkin ke depan, setiap anggota didata program-program wisata yang ada di daerah. Ini soal rasa keadilan. Saya kemarin diajak teman-teman komisi V (DPR) kunjungan ke NTT. Tidak ada yang istimewa di sana. Paling yang istimewanya komodo saja," kata Bakri dalam RDP itu.

Bakri berpendirian bahwa pemerintah mesti menganggarkan pembangunan wisata secara berkeadilan agar tidak ada daerah yang lebih maju dari yang lainnya.

"Lihat pantai, lihat apa, di tempat saya (Jambi) banyak. Tapi, anggarannya (NTT) bukan main besar sekali. Kan saya tidak tahu. Untuk rasa keadilan, alangkah bagusnya setiap anggota dikasih. Sebagai contoh, umpamanya, berbicara kunjungan wisata di Jambi tidak kalah," paparnya.

Video rekaman pernyataan Bakri pun viral di linimasa media sosial masyarakat NTT. Ada yang mengunggah potongan video itu beranda Facebook, WhatsApp, ataupun di FB dan IG Story.

Ramai-ramai rakyat Flobamora mengkritik narasi Bakri yang cenderung diskriminatif. Seolah menegasikan semua potensi wisata unggulan di NTT.

Padahal, selain reptil purba di kawasan TNK, NTT memiliki sederet tempat wisata eksotik. 

Sebut saja ada TN Kelimutu, TN 17 Pulau Riung, Kampung Adat Bena, Waerebo, Fulan Fehan, Pantai Liman, Perairan Mulut Seribu dan wisata alam dan budaya Fatumnasi.

Selain itu, wisata Kampung Adat Praimadita, wisata pantai di Moru, dan Pantai Meko di Adonara, serta masih banyak lagi.

Keunggulan wisata di NTT adalah memadukan pariwisata alam dan bahari dengan pariwisata budaya, sehingga orang tidak hanya berjemur di pantai atau snorkeling di pantai.

Tetapi juga bisa melihat mama-mama di NTT menenun; melihat anak-anak bermain di halaman rumah; serta belajar bagaimana praktik berbahasa di masing-masing daerah.

Lebih menarik lagi, hampir semua destinasi wisata ini terintegrasi langsung dengan Labuan Bajo di ujung barat Pulau Flores. 

Dengan penerbangan domestik, wisatawan bisa menjelajahi eksotisme alam dan budaya di seluruh penjuru Flobamora dari Labuan Bajo.

Berbicara setelah rapat kepada media, Bakri membantah pernyataan bahwa NTT tidak memiliki hal yang spesial, terutama pariwisata.

Dia mengatakan hal itu karena justru ingin memperjuangkan anggaran dana untuk Provinsi Jambi.

"Saya lihat di NTT cuma pulau Komodo saja yang bagus, kalau hanya pulau Jambi juga punya. Kami minta agar anggaran tersebut juga diberikan untuk Jambi," ujar Bakri.

Bakri mengatakan ada anggaran untuk kembangkan pariwisata di Indonesia senilai Rp5 triliun, namun Jambi tidak masuk dalam alokasi tersebut.

Padahal Jambi punya potensi wisata yang bagus. Sebagai wakil rakyat Jambi, ia pun ngotot memperjuangkan keadilan anggaran.

"Kalau ada yang tersinggung berarti dia tidak mengetahui subtansinya," ungkap Bakri.

Pemerintahan Joko Widodo memang sedang melirik dan jatuh hati pada NTT. 

Karena itu, melalui Kementrian PUPR, ia ingin mengembangkan pariwisata di NTT, khususnya pengembangan KSPN Labuan Bajo agar menjadi lebih besar.

Kementerian PUPR sendiri menganggarkan pembiayaan pembangunan KSPN Labuan Bajo sebesar Rp1,3 triliun pada tahun 2020, naik dari tahun sebelumnya Rp83,2 miliar.

Dari besaran anggaran tersebut, digunakan antara lain untuk penataan kawasan sejumlah destinasi pariwisata melalui Ditjen Cipta Karya Rp646,3 miliar di antaranya kawasan Puncak Waringin, kawasan Goa Batu Cermin, dan Pulau Rinca.

Untuk mendukung jaringan jalan Labuan Bajo, Ditjen Bina Marga juga melakukan penanganan ruas jalan dalam kota, penataan trotoar dan drainase (pedestrian), perbaikan geometrik jalan, pelebaran dan preservasi serta pembangunan jalan baru.

Anggaran pengerjaannya untuk tahun ini sebesar Rp420,1 miliar diantaranya peningkatan jalan, trotoar, dan drainase Jalan Soekarno Atas.

Besaran anggaran untuk Labuan Bajo dan NTT umumnya, merupakan ambisi Presiden Jokowi yang ikhtiar memindahkan venue wisata dari Bali ke Labuan Bajo.

Bali yang disebut-sebut sebagai "surga" bagi wisatawan Eropa akan perlahan-lahan ditarik ke Labuan Bajo, atau setidaknya menjadikan dua venue paling eksotik berjalan bersama.

Salah satu bukti perhatian Jokowi adalah dengan memindahkan venue pertemuan KTT G20 tahun 2023 ke Labuan Bajo, dari sebelumnya biasa dilakukan di Bali.

Jokowi bahkan menaikkan status Labuan Bajo sebagai pariwisata super premium, menyebut bahwa Labuan Bajo merupakan wisata eksklusif dengan tarif hingga US$1.000 atau setara Rp14,5 juta.

Memang pembangunan KSPN Labuan Bajo mendapat tantangan karena ditolak masyarakat lokal setelah dinilai berpotensi menenggelamkan kearifan lokal.

Namun bagaimanapun, pembangunan ini mesti berjalan. Suara miring dalam sebuah kebijakan penting dilayangkan agar pemerintah tetap memperhatikan koridornya.

Yang perlu ditekankan dalam geliat pembangunan itu adalah peningkatan kesejahteraan dan memadainya ketersediaan sumber daya lokal agar tenaga kerja di industri pariwisata tidak lagi diimpor dari luar daerah.*

Posting Komentar untuk "Apa Betul NTT Tak Istimewa?"