Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kapolri Kristen di Negara Islam Terbesar Dunia

Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo.

Latar belakang Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo sebagai orang Kristen telah menimbulkan polemik besar di masyarakat. Terutama sejak pencalonannya sebagai Kapolri untuk menggantikan Jenderal Idham Azis yang akan pensiun 1 Februari mendatang.

Banyak orang yang mempertanyakan alasan mengapa Presiden Joko Widodo jatuh hati kepada Sigit Prabowo. Bahkan tidak sedikit yang menolak pencalonannya.

Penolakan umumnya datang dari umat Islam, yang merupakan warga mayoritas di Republik ini. Bahkan Islam Indonesia adalah yang terbesar di dunia.

Namun tidak sedikit pula, di antara umat Islam moderat dan liberal yang tidak mempersoalkan latar belakang agama Sigit Prabowo sebagai orang Kristen.

Mereka amat mendukung penujukan Jokowi terhadap Sigit Prabowo untuk maju sebagai calon tunggal Kapolri, dengan menggeser empat kandidat lainnya.

Penerimaan umat atau kelompok Islam moderat ini lebih karena melihat sederet prestasi dan integritas serta kinerja yang ditunjukkan Sigit Prabowo.

Bagi mereka, apapun agama seorang Kapolri, tidak berpengaruh terhadap upaya penegakan hukum di Republik ini. Yang terpenting adalah kinerja dan visi untuk menjadikan Polri sebagai pengayom dan pelayan masyarakat yang humanis, populis dan bermartabat.

Ketika menjabat sebagai Kepala Bareskrim Polri pada 6 Desember 2019, Sigit Prabowo berhasil mengungkap sejumlah kasus besar, yang barangkali sulit ditembus oleh Kapolri.

Dua belas hari pasca pelantikan, Sigit langsung tancap gas mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.

Pada 27 Desember 2019, mantan Kapolres Solo pada 2011 itu mengumumkan secara langsung penangkapan dua terduga pelaku kasus tersebut. Mereka adalah, RM dan RB, keduanya merupakan oknum anggota kepolisian. Keduanya dipenjara masing-masing 1,5 tahun.

Selanjutnya, Bareskrim Polri juga melimpahkan tahap II kasus tersangka dan barang bukti kasus dugaan korupsi Kondensat PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), ke Kejaksaan Agung (Kejagung) setelah dinyatakan lengkap atau P21.

Kasus ini sudah bergulir sejak 2015 lalu dan mangkrak lama lantaran adanya kendala non-teknis.

Di bawah Sigit, tersangka Honggo divonis 16 tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsidair 6 bulan kurungan. Sementara dua tersangka lainnya Raden Priyono dan Djoko Harsono divonis 4 tahun penjara ditambah denda Rp200 juta subsider 2 bulan.

Setelah itu, Bareskrim juga melakukan penangkapan buronan terpidana kasus hak tagih (cassie) Bank Bali, Djoko Tjandra pada 30 Juli 2020. Dalam kasus ini, Sigit Prabowo memimpin langsung tim ke Malaysia guna menangkap Djoko Tjandra atas perintah Idham Azis.

Penangkapan itu disebut Sigit sebagai komitmen Polri dalam melakukan penegakkan hukum, sekaligus untuk menjawab keraguan publik.

Apalagi, dalam pengusutan perkara ini diketahui adanya keterlibatan dua oknum jenderal yakni, Brigjen Prasetijo Utomo dan Irjen Napoleon Bonaparte. Di bawah Sigit, mereka tak berkutik.

Sebelum menangkap Djoko Tjandra, jajaran Bareskrim Polri bersama Kemenkumham juga menangkap Maria Pauline Lumowa yang telah menjadi buronan selama 17 tahun dalam kasus pembobolan bank senilai Rp1,7 triliun. Sang buronan ditangkap di Serbia, 9 Juli 2020.

Salah satu kasus paling anyar yang menyedot perhatian publik adalah kasus dugaan penyerangan Laskar FPI kepada aparat kepolisian di Tol Jakarta-Cikampek, 7 Desember 2020.

Penyidikan dilakukan dengan merangkul seluruh pihak seperti Komnas HAM dan lembaga independen lainnya. FPI terbukti bersalah karena menyerang aparat Polisi.

Ketika buronan Rizieq Shihab pulang dari Arab Saudi, Sigit memimpin timnya untuk mengusut kasus dugaan pelanggaran kekarantinaan kesehatan yang menyeret Rizieq Shihab. 

Mulai dari Petamburan, Jakarta Pusat, kerumunan di Megamendung, dan RS Ummi Bogor diambilalih oleh Bareskrim Polri. Dengan kasus ini, Rizieq mati kutu, yang kemudian berbuntut pada pelarangan dan pembubaran organisasi yang dipimpinnya, FPI.

Kasus besar lainnya yang ditangani Sigit dan jajarannya adalah kebakaran Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung). Penyidik Bareskrim telah menetapkan 11 orang sebagai tersangka.

Dengan sederet prestasi membanggakan, siapa yang tidak jatuh cinta pada Sigit Prabowo? Tidak sudikah negara ini memberdayakan potensi cerdas dari seorang Sigit Prabowo?

Presiden Jokowi, yang terkenal diam tapi menghanyutkan, pun jatuh hati. Bahkan, ia telah melihat sinar kesuksesan Sigit sejak keduanya bertemu pada tahun 2011 di Solo.

Waktu itu, Sigit diangkat menjadi Kapolresta Solo, dan Jokowi menjabat sebagai Walikota Solo untuk periode keduanya, setahun sebelum ia hijrah ke Jakarta untuk menaikki tangga politiknya.

Sejak saat itulah ikatan emosional di antara kedua tokoh muda itu terjalin. Melakat seperti jarum dan benang. Itu terbukti, ketika Jokowi duduk di kursi panas sebagai Presiden tahun 2014, Sigit ditarik untuk menjadi ajudan pribadinya. Benih kepercayaan itu pun mulai bertumbuh.

Meski Sigit dituggaskan sebagai kapolda Banten tahun 2016, yang kemudian menuai protes keras dari MUI Banten, Jokowi tetap ingat nama Sigit Prabowo.

Sungguh, benih itu telah dipersiapkan Jokowi matang-matang. Dipenghujung 2019, Sigit kembali ke ibukota, memimpin salah satu divisi penting di tubuh Polri, yaitu Bareskrim.

Kegemilangan nama dan prestasi Sigit makin terang ketika ia berhasil mengungkap sejumlah kasus besar yang melibatkan pejabat dan pebisnis kakap.

Jokowi, yang sedang memasuki periode kedua kepemimpinannya setelah berhasil mempercundangi Prabowo Subianto untuk kedua kalinya, makin terpikat dengan Sigit Prabowo.

Waktunya pun tiba. Sang jenderal yang memimpin Korps Bhayangkara akan pensiun awal tahun ini. Lantas, Kompolnas mulai mengusulkan sejumlah nama ke Jokowi untuk menggantikannya.

Di antara lima nama itu ada Sigit Prabowo. Sementara keempat calon lainnya adalah Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafly Amar, Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri Komjen Arief Sulistyanto, dan Kepala Badan Pemelihara Keamanan Polri Komjen Agus Andrianto.

Melewati berbagai pertimbangan matang, Jokowi akhirnya memutuskan untuk mencalonkan Sigit sebagai calon tunggal Kapolri. Ini sungguh di luar dugaan.

Surat penunjukan Sigit diterbitkan Jokowi dan diantar oleh Menteri Sekretaris Negara Pratikno kepada DPR. Di DPR, surat itu diterima oleh Ketua DPR Puan Maharani.

Akhirnya, pada 19-21 Januari, Sigit Prabowo menjalani sejumlah ujian untuk melihat bakat dan kemampuan kepemimpinannya sebagai calon Kapolri.

Visi Utama: Polri PRESISI

Rangkaian uji kepatutan dan kelayakan calon Kapolri dilalui Sigit Prabowo dengan pertama-tama mempertahankan makalahnya di depan Komisi III DPR, Selasa (19/1).

Pada tahap ini, Sigit menyerahkan makalah dengan judul "Transformasi Menuju Polri yang Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan (PRESISI) kepada Komisi III DPR.

Konsep ini merupakan fase lebih lanjut dari Polri Promoter (PROfesional, MOdern, dan TERpercaya) yang telah digunakan pada periode sebelumnya dengan pendekatan pemolisian berorientasi masalah atau "problem-oriented policing".

Dalam proposal itu, Sigit menekankan pentingnya kemampuan pendekatan pemolisian prediktif (predictive policing) agar Polri mampu menakar tingkat gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) melalui analisis berdasarkan pengetahuan, data, dan metode yang tepat sehingga dapat dicegah sedini mungkin.

Sementara itu, responsibilitas dan transparansi berkeadilan menyertai pendekatan pemolisian prediktif yang ditekankan agar setiap anggota Polri mampu melaksanakan tugasnya secara cepat dan tepat, responsif, humanis, transparan, bertanggung jawab, dan berkeadilan.

Peta jalan Transformasi Polri Presisi itu diturunkan dalam empat bagian utama, yaitu Transformasi Organisasi; Transformasi Operasional; Transformasi Pelayanan Publik; dan Transformasi Pengawasan.

Dengan Polri PRESISI, Sigit berharap dapat mengubah "wajah" Polri di hadapan masyarakat.

Sigit mengakui bahwa kritikan masyarakat yang paling pokok adalah pelayanan yang diberikan Polri masih berbelit, sikap dan perilaku insan Bhayangkara yang arogan serta kasar, dan adanya pumungatan liar (pungli) di sektor pelayanan.

Selain itu, anggota Polri dinilai masih menggunakan kekerasan dalam penanganan kasus, penyelesaian kasus yang tebang pilih, dan berbagai perilaku yang menimbulkan kebencian di masyarakat.

Sigit yakin Polri Presisi ini akan menjadi dasar untuk mewujudkan harapan masyarakat sekaligus akan menekankan pada pemolisian yang prediktif sehingga menciptakan pelayanan publik yang baik.

"Konsep prediktif diimplementasikan agar mampu memprediksi situasi dengan dasar analisis fakta dan data yang didukung teknologi informasi (TI) sehingga tindakan Polri lebih tepat dan mengatasi masalah dengan tuntas," katanya.

Implementasi pemolisian prediktif di Indonesia, lanjut dia, dapat dikembangkan dengan mengedepankan pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (harkamtibmas) melalui pelaksanaan fungsi-fungsi terdepan kepolisian dalam sistem deteksi.

Menurut dia, apabila hal itu terwujud, akan membuahkan agregat data hasil deteksi yang dapat dikelola melalui optimalisasi pemanfaatan teknologi digital berupa artificial intelligence (AI), internet of things (IOT), analysis big data, termasuk sistem pendukung lainnya dalam taksonomi bloom penguatan kelembagan Polri.

Sigit berjanji akan menghadirkan wajah Polri yang memberikan masyarakat penegakan hukum yang berbasis keadilan, menghormati HAM, dan mengawal demokrasi.

Ia tidak ingin lagi ada kasus seperti nenek Minah yang mencuri kakao untuk bertahan hidup yang diproses hukum dan dipenjara.

Menurut dia, Polri ke depan tidak perlu memaksakan suatu kasus diproses hukum secara tuntas hingga divonis hukum karena harus dilihat kasusnya secara arif dan bijaksana.

Misalnya, Polri menginisiasi pertemuan masing-masing pihak untuk diselesaikan secara baik, bukan melalui jalur hukum.

Ia juga memastikan Polri tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat dengan pengawasan yang ketat agar tidak menyalahgunakan wewenangnya.

Sigit juga berencana agar polisi sektor (Polsek) ke depannya hanya menjalankan tugas preventif, preentif, dan menegakkan keadilalan restoratif sehingga penegakan hukum hanya akan dilakukan di tingkat Polres.

Langkah itu diharapkan sosok Polsek akan lebih dekat dengan masyarakat karena melakukan upaya pencegahan, pemecahan masalah di tengah masyarakat dengan pendekatan keadilan restoratif dan mengutamakan kegiatan yang hindari penegakan hukum.

Selanjutnya, pada Rabu (20/1), calon Kapolri menyampaikan arah dan kebijakannya. Kemudian dilanjutkan dengan dialog dan tanya-jawab dengan anggota Komisi III DPR RI, dan penandatanganan surat pernyataan yang telah disiapkan oleh Komisi III DPR RI.

Proses uji kepatutan dan kelayakan terhadap Sigit Prabowo pada Rabu berlangsung lebih kurang 3 jam 15 menit atau dari pukul 10.15 WIB sampai dengan pukul 13.30 WIB.

Dalam proses tradisional itu, Sigit Prabowo terlihat amat menguasai materinya dan visi misi kerjanya sebagai Polisi.

Komisi III DPR bahkan melayangkan pujian setinggi langit kepada mantan ajudan dan orang kepercayaan Presiden Joko Widodo tersebut.

Tidak hanya fraksi pendukung pemerintah, fraksi oposisi pun mengakui bahwa makalah Sigit Prabowo merupakan yang terbaik dari yang pernah ada dalam sejarah uji materi Kepolisian.

Akhirnya, setelah melewati berbagai ujian, Sigit Prabowo ditetapkan dan disahkan sebagai Kapolri baru pada Kamis (21/1) dalam Rapat Paripurna DPR RI Ke-12 Masa Persidangan III Tahun Sidang 2020- 2021 di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta.

Dengan pengesahan ini, Sigit Prabowo akan menjadi Kapolri termuda, bahkan lebih muda dari Tito Karnavian. Ia juga menjadi Kapolri beragama Kristen kedua setelah Widodo Budidarmo.

Profil Sigit Prabowo

Untuk mengenal lebih jauh tentang Sigit Prabowo, berikut profil lengkapnya:

Listyo Sigit Prabowo lahir di Ambon, Maluku, 5 Mei 1969. Sigit adalah lulusan Akademi Kepolisian tahun 1991 dan ulusan S-2 di Universitas Indonesia. 

Ia membuat tesis tentang penanganan konflik etnis di Kalijodo, Jakarta.

Listyo pernah beberapa kali menduduki jabatan di daerah Jawa Tengah. 

Tercatat, Listyo pernah menjadi Kapolres Pati. Setelah itu, dia menduduki posisi Wakapoltabes Semarang, dan pernah menjadi Kapolresta Solo tahun 2011.

Pada tahun 2012, Listyo dipindahtugaskan ke Jakarta untuk menjabat sebagai Asubdit II DitTipdum Bareskrim Polri.

Sejak bulan Mei 2013, ia bertugas di Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulawesi Tenggara.

Ia kemudian menjabat Kepala Kepolisian Daerah Banten, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Kepolisian Negara dan terakhir sebagai Kepala Bareskrim Polri.

Selamat bertugas Bapak Listyo Sigit Prabowo. Semoga Tuhan memberkati agar menjadi pemimpin yang amanah bagi masyarakat.*

4 komentar untuk "Kapolri Kristen di Negara Islam Terbesar Dunia"

  1. Yg menjadi pertanyaan saya kenapa ada yg ga setuju klu orang kristen menjadi pemimpin....??
    Yg kedua apakah saat perang melawan penjajahan cuman agama islam ...??
    Yg ketiga pahami dan maknai beyul2 dari panca sila....??

    BalasHapus
  2. Terima kasih kak sdh mampir di kolom komentar. Ada banyak hal yg membuat saudara2 kita tdk suka dgn orang Kristen. Selain krna tdk mau minoritas memimpin atas mayoritas, mrka melihat bahwa sebagian sumber daya di negeri ini dikuasai oleh sekelompok orang Kristen tapi rata2 kaya dan sukses. Tengoklah orang2 kaya di Indonesia. Rata2 dari org Kristen. Sentimen agama sgt kental di negeri kita, sehingga menjadi sgt religius, meski kita sering menolak sebutan negara agama. Intervensi agama sgt dominan dlm kebijakan dan hukum di negara ini. Pada zaman Soekarno Dan Soeharto isu agama untuk seorang pejabat tdk begitu kuat muncul. Lihat saja bnyak org Kristen yg dipercaya menjadi org penting di negeri ini selama kepemimpinan Soekarno dan Soeharto. Tapi setelah itu, yaitu setelah Reformasi, sentimen agama kembali muncul dari mrka yg slma di masa sebelumnya tdk mendapat jatah kekuasaan maupun pengelolaan sumber daya. Dgn demikian, makin bencilah mrka dgn org Kristen. Tapi harus diakui bahwa banyak teman2 muslim yg sgt menghormati dan mencintai org Kristen. Jadi jgn khawatir meski menjadi minoritas.
    Soal perjuangan bangsa ini, kita semua terlibat, dari agama dan suku manapun. Hanya, bahwa yg menguasai negara ini bukan hanya satu, tapi banyak org. Maka trjadi konflik di antara Agama dan suku tertentu. Lagipula, ketika melawan penjajah, Indonesia blm terbentuk dan blm ada pemikiran untuk mengusir penjajah lalu membentuk negara sendiri. Perjuangan yg dilakukan suku2 di kampung melawan penjajah semata-mata dilakukan krna ketidakadilan dan kekerasan, bukan untuk merdeka. Perang kemerdekaan baru terjadi pada tahun 1945-1949 ketika Belanda dan Inggris mau menjajah lgi indonesia. Hanya bahwa ketika penjajahan terjadi di Jawa atau Sumatra, banyak org pribumi yg mulai berpikir untuk melawan dan mengusir. Salah satunya dilakukan oleh Soekarno dkk. Tapi mrka ini bergerak dari level pendidikan, bukan spt pahlawan yg spt kita kenal skrg. Yg mana mrka berjuang melawan penjajah krna daerah atau tanah mrka dirampas. Mrka berperang blm atas nama Indonesia. Krna Indonesia msih terpecah atau terbagi2. Lihat saja, Timor Leste baru bergabung ke Indonesia tahun 1975 dan Papua tahun 1969 padahal kita merdeka thn 1945. Jika msh blm cukup menjawab, saya akan meresponnya lagi.

    BalasHapus
  3. Tolong perbaiki judulnnya kk..karena judulnnya sedikit memprovokasi ..seharusnnya judulnnya bukan negara islam tapi negara indonesia dengan mayoritas umat islam terbesar.salam kedamaian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks brother. Saya terbiasa menggunakan term pendek dari terjemahan Indonesia as world's largest muslim nation. Term ini sdh umum dipakai dlm tulisan2 bhs Inggris. Sama halnya dgn sematan untuk Indonesia sbg negara demokrasi terbesar kedua dunia setelah India. Ini bukan soal demokrasi Indonesia maju, tapi soal penduduk yg lbh banyak dibandingkan US, Prancis, atau Kanada. Demokrasi terbesar merujuk pada jumlah penduduk, sedangkan demokrasi maju merujuk pada kualitas demokrasi. Mgkn demikian penjelasan saya brother. Memang agak provokatif, tapi itulah tujuan penulis merangsang pemikiran pembaca.
      Syalom.

      Hapus