Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Obituari Romo Pareira: Karmelit Pertama Flores itu Berpulang

Romo Berthold A. Pareira, O.Carm.

Ordo Karmel Indonesia dirundung duka mendalam. Romo Berthold Anton Pareira, O.Carm, telah berpulang di Malang, Jawa Timur, Jumat (8/1/) lalu. 

Romo Pareira, 81, adalah pakar Kitab Suci dan Karmelit pertama asal Flores, Nusa Tenggara Timur.

Menurut informasi para pastor Karmelit di Malang, Romo Pareira meninggal dunia sekitar pukul 22.15 WIB.

Sebelumnya Romo Pareira dirawat beberapa jam di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan atau RKZ Malang.

Romo Pareira diketahui meninggal karena serangan jantung, penyakit yang selama ini dideritanya.

Kabar kepergiaan Karmelit yang sederhana dan berwibawa ini tidak terlalu mengejutkan para Karmelit dan Gereja Indonesia.

Sebab, Opa Pareira, demikian sapaan di kalangan Karmelit yunior, sudah sangat sepuh meski ia masih terlihat energik.

Hari-hari tuanya dihabiskan di Biara St. Yosef Kayutangan, Malang, bersama dengan beberapa imam Karmel lainnya.

Hingga meninggalnya, Opa Pareira masih tercatat sebagai dosen dan Guru Besar Kitab Suci Perjanjian Lama di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana, Malang.

Dedikasinya yang melampaui batas usia wajar seorang pendidik berangkat dari spiritualitas hidup yang dibangunnya selama puluhan tahun di taman Karmel.

Hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk belajar dan terus belajar hal-hal kecil dari Kitab Suci, guru kehidupannya. Di kamar, ia menulis, membaca dan menerjemahkan buku-buku.

Kecintaannya kepada Kitab Suci mengantarkan Opa Pareira masuk dalam tim perbaikan dan penyempurnaan terjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa Indonesia.

Ia bahkan mampu menghafal kata demi kata beserta tanda baca Kitab Suci berbahasa Indonesia dan bahasa asing lain, beserta dengan tafsirannya.

Berkat dedikasinya yang luar biasa, Opa Pareira telah mencetak salah satu pakar Kitab Suci Perjanjian Baru yang paling disegani di Indonesia. Dia adalah Prof. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm, yang sekarang menjabat sebagai Uskup Malang.

Mgr. Pidyarto adalah murid pertama Opa Pareira ketika mendiang baru pertama kali pulang dari studi Doktoralnya di Universitas Gregoriana, Roma, tahun 1975.

Bagaikan pinang dibelah dua, dua Karmelit beda generasi ini seolah menyempurnakan pencaharian intelektual mereka di bidang Kitab Suci: satunya di Perjanjian Lama dan lainnya di PB.

Seolah menjadi benteng yang memperkokoh tembok intelektual dan spiritualitas kampus STFT Malang, terutama tapak perjalanan Ordo Karmel di Indonesia.

Bukan hanya itu, tetapi keduanya sungguh-sungguh merayakannya dalam hidup; menjadikannya lebih bermutu dalam tindakan atau perbuatan.

Di kalangan para murid-muridnya, Opa Pareira dikenal telah meletak dasar pemahaman Kitab Suci yang lengkap dan utuh. 

Bagi Opa Pareira, Kitab Suci adalah kehidupan yang indah dan para muridnya mesti mendongengkan keindahan itu.

Di antara para Karmelit Flores, karena Opa Pareira beberapa kali pernah ke Biara Karmel di Maumere, ia begitu dihormati dan disegani, bahkan ditakuti dan dihindari ketika bertemu, apalagi bertanya meski hal-hal sepele sekalipun.

Bukan semata-mata karena terkenal berambut panjang dan berkumis tebal, tapi lebih karena aura intelektual dan spiritualitas yang begitu dalam diresapinya.

Energi kekarmelitannya yang sederhana dan rendah hati, membuat para yunior yang masih panas belajar filsafat dan teologi mati tak berdaya di hadapannya.

Tidak jarang ia menyiram nasihat-nasihat yang membakar semangat para yunior untuk mencintai Karmel dengan kata-kata yang keras. 

Sering ia mengatai para frater Karmel Flores sebagai "orang bodoh dan tak dapat diandalkan".

Dengan cara seperti itulah ia mendidik murid-muridnya, termasuk para muridnya di Malang.

Ikon STFT Malang

Di antara para senior dan rekan kerjanya di STFT Widya Sasana Malang, Opa Pareira adalah ikon sekolah tinggi tersebut.

Seperti diakui Ketua STFT Malang Romo Armada Riyanto, CM, Opa Pareira sudah mengajar selama 46 tahun. Hampir seluruh hidupnya dibaktikan untuk ilmu pengetahuan.

"Romo Pareira mengajar sejak sekolah ini baru berumur empat tahun. Sebagai bentuk penghargaan kami, STFT akan menyematkan nama beliau di salah satu ruang belajar kami. Harapannya, semangat dan ilmunya terus hidup bersama dengan kami," ungkap Romo Armada, melansir Kompas.

Romo Armada mengakui bahwa Opa Pareira merupakan sosok rohaniwan dan ilmuwan yang sangat berbakti, sederhana, serta sahabat yang memiliki kepedulian.

Begitu sederhana, sampai-sampai Opa Pareira tak memiliki handphone sepanjang hidupnya. Bahkan ia pun tak bisa mengendarai sepeda motor dan tak mau pusing dengan uang.

Riwayat Hidup

Opa Pareira lahir di Maumere pada 13 Juni 1939. Ia menjalani pendidikan calon imam di Seminari Menengah Mataloko.

Kemudian melamar ke Biara Karmel dan melanjutkan pendidikan tinggi di Seminari Tinggi Karmel Batu Malang dan Seminari Tinggi Karmel Pematang Siantar, Sumatra Utara.

Pada 24 Juli 1966, Opa Pareira ditahbiskan menjadi imam Karmelit pertama asal Flores.

Setelah itu, ia melanjutkan studi teologi di Universitas Gregoriana, Roma, dan Kitab Suci di Biblicum, Roma.

Puncak perjalanan intelektualnya diperoleh ketika ia berhasil meraih Doktor Kitab Suci di Universitas Gregoriana. Ia menjadi orang pertama Indonesia yang meraih gelar tersebut.

Pulang ke Indonesia, Opa Pareira menjadi dosen Kitab Suci Perjanjian Lama di STFT Widya Sasana Malang sejak tahun 1975.

Meski sibuk mengajar, Opa Pareira tetap aktif dan terlibat dalam gerakan kemanusiaan.

Tahuan 1994-1999, Opa Pareira menjabat sebagai anggota Komisi Teologi Konferensi Waligereja Indonesia.

Opa Pareira juga menjadi anggota Komisi Internasional "Justice and Peace" Ordo Karmel di tahun 1989-2000.

Selamat jalan, Opa. Genggamlah lembaran suci di hadapan Sang Guru!*

Penulis adalah mantan muridnya.

2 komentar untuk "Obituari Romo Pareira: Karmelit Pertama Flores itu Berpulang"

  1. Caranya mempersembahkan misa kudus, caranya berkotbah, meninggalkan kesan yang mendalam. Terima kasih untuk bhaktimu bagi gereja dan negara.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Betapa beliau mencintai Ekaristi. Seperti disebutnya, ekaristi itu indah.

      Hapus