Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ada Rindu di Ende

Monumen Pancasila di Ende.


Jika ada rindu yang lebih besar dari seorang kekasih kepada pujaannya, maka Ende adalah salah satu kota di mana rindu itu tertanam begitu dalam.

Di kota ini saya hampir menghabiskan seluruh masa muda saya; dari SMP hingga SMA. Bahkan sampai sekarang, Ende selalu menjadi kota singgah.

Di kota ini pula saya menemukan cinta pertama saya. Meski cukup telat karena baru ketika Kelas 3 SMA baru berani 'menembak' seorang cewek.

Tapi tidak masalah bagi seseorang yang menganut falsafah 'dalam waktu tidak ada yang terlambat' seperti saya.

Sialnya, di kota ini cinta pertama itu begitu cepat menguap sehingga lukanya masih membekas hingga sekarang.

Semua kenangan ini menjadi seperti buih di atas air, tapi juga menjadi seperti emas yang dibakar dalam api.

Rindu akan kota ini membuat saya selalu yakin bahwa ada satu hal yang membuat kita 'nyaman', seperti kenyamanan pada seorang kekasih yang tepat.

Kota ini memang kini telah berubah. Tidak saja menjadi lebih padat karena derasnya arus urbanisasi, tapi juga karena percepatan pembangunan.

Ketika terakhir kali meninggalkannya pada tahun 2008, kota ini belum memiliki ikon kota yang populer selain patung pelajar di perempatan Wirajaya.

Ada Stadion Marilonga di tepi timur kota, tapi seperti tak terurus kala itu.

Selain pelabuhan kota dan pasar yang menjadi pusat keramaian, belum ada destinasi publik yang bisa mengungkit daya tarik warga kota.

Meski begitu, kota ini telah menjadi salah satu destinasi pendidikan dengan kualitas terbaik di Flores. Sehingga sering disebut sebagai 'kota pelajar'.

Banyak pelajar dari ujung barat hingga timur Flores mendatangi kota ini untuk menimba ilmu dari guru terbaik.

Dengan adanya Universitas Flores di pusat kota ini menambah daya tarik bagi pelajar dari berbagai penjuru Flobamora.

Kehadiran kampus swasta dengan mahasiswa mencapai ribuan orang itu pun memberi nuansa keramaian yang esoteris di tiap sudut kota.

Meski lampu-lampu kota belum segemerlap sekarang, tapi cukup banyak tempat tongkrongan anak muda yang kemudian melahirkan apa yang disebut kelompok geng di masing-masing gang.

Kini, wajah kota Ende memang berbeda, seolah menjemput rindu yang membuncah di kalbu.

Tiga tahun lalu, ketika menghampiri kota ini sebelum meninggalkan lagi untuk kedua kalinya, kota ini berubah drastis.

Hampir di setiap sudut kota ada pusat keramaian. Membuat ekosistem kota makin terasa dan terpadu.

Stadion Marilonga yang telah dimodifikasi sebagai bagian dari proyek ambisius mantan Bupati Ende (alm.) Marsel Petu kini berdiri tegak.

Pusat olahraga itu tidak saja menjadi simbol kemegahan kota, tapi juga simbol perlawanan terhadap dominasi PSN Ngada dalam sepakbola NTT.

Di stadion itulah Perse Ende memukul kalah PSN Ngada dalam laga final El Tari Memorial Cup tahun 2017.

Di tepi barat kota, patung Soekarno duduk tegak seolah sedang memandang tentara kolonial dari arah laut.

Proyek untuk membangun ingatan terhadap pencetus Pancasila dan proklamator kemerdekaan Indonesia itu dibuat pada tahun 2013.

Soekarno yang pernah dibuang Belanda ke Ende tahun 1933 disebutkan menemukan butir-butir Pancasila dalam perenungannya di bawah pohon sukun yang kini masih hidup, tumbuh persis di samping kiri patung Bung Karno.

Pendirian patung itu turut berkontribusi terhadap legitimasi pemerintah atas peringatan 1 Juni sebagai Hari Pancasila.

Di kota inilah Soekarno diakui sebagai tokoh yang memiliki kekuatan supranatural, lebih dari manusia biasa.

Ada dongeng yang hidup di tengah masyarakat, bahwa Soekarno tidak pernah mati dan selalu mengalami reinkarnasi pada tiap generasi.

Seokarno seperti hidup di antara mitos dan fakta, kebenaran dan keyakinan.

Kemudian, sepanjang jalan utama di mana dulu selalu saya lewati ketika pergi dan pulang sekolah, kini telah dipadati ruko dan aneka pusat perbelanjaan.

Kenangan romantis yang sempat kami ukir di sepanjang trotoar jalanan itu, kini menghilang tanpa jejak. Ditimpa aneka bangunan, rindu pun merayap pergi.

Barangkali rindu itu merayap di antara kegemerlapan lampu lima, persis di depan Bandara Haji Aroeboesman Ende.

Persimpangan itu kini menjelma menjadi ikon kota yang populer; dengan atribut modernisme yang kental.

Ada satu jalan di persimpangan itu yang membelah hampir simetris kota itu dari bawah sampai ke atas, yaitu Jalan Eltari.

Jalan itu tidak terlalu ramai, tapi menjadi pusat administrasi daerah.

Di bagian jalan lain dari persimpangan itu, digadang-gadang akan menuju pusat destinasi baru kota yang terletak di atas puncak Gunung Meja.

Katanya, dari pundak sampai puncak gunung itu akan dijadikan taman wisata publik bergaya kontemporer.

Destinasi baru itu juga merupakan proyek ambisius mantan Bupati Marsel Petu (alm.) yang meninggal tahun 2019.

Belum diketahui motivasi laten pembangunan pemerintah di daerah itu.

Sebab untuk menjadikan Ende sebagai ibukota Provinsi Kepualaun Flores sangatlah tidak mungkin.

Mbay, ibukota Nagekeo, telah disebut-sebut sebagai kota potensial untuk membangun ekosistem kota berwajah kontemporer di masa depan.

Sementara Ende, selain limitasi ruang, kota ini tidak lagi mampu menampung lebih banyak penduduk dalam kurun waktu 10 tahun mendatang.

Kota ini sebaiknya diarahkan untuk menjadi wilayah terintegrasi dengan Mbay karena letaknya yang cukup dekat.

Jika Mbay dijadikan pusat keramaian baru di bagian utara Flores, maka Ende ditargetkan menjadi penyelaras keramaian di bagian selatan.

Bagi saya yang hidup persis berada di tengah garis perbatasan administrasi kedua kota, hal ini tentu strategis.

Saya bisa menjangkau kedua kota dalam jeda waktu yang tidak terlalu lama sehingga menghemat biaya logistik.

Terlepas dari perdebatan kedua kota, saya hanya ingin mengenang lagi tanaman rindu di pot asrama di kota ini.

Ada yang membuat saya begitu cepat berubah di kota ini. Tidak saja perubahan fisik, tapi juga perubahan cara melihat dunia dan nilai-nilai.

Ende telah mengarahkan saya untuk melihat sesuatu yang berbeda tentang dunia dan tentang cara meraihnya.

Di kota ini ada cinta, kasih, perjuangan, perhatian, kesabaran dan ketekunan saya terasah untuk meraih hidup.

Ada teman, sahabat dan keluarga yang senantiasa mendorong, mendoakan dan menaruh cinta yang besar untuk saya.

Tidak lupa pula, ada teman-teman sekolah yang menanti untuk memeluk rindu setelah sekian lama tak bertemu.

Ende memang bukan kotaku. Karena saya berasal dari kota tetangga.

Tapi Ende telah seperti rumah (home) yang selalu memanggil pulang ketika kita selesai berkelana di sebuah situs dan ingin memulai referensi yang lain.*

Posting Komentar untuk "Ada Rindu di Ende"