Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membongkar Rekam Jejak Abu Janda

Abu Janda. Foto/Instagram.

Nama Abu Janda melambung kencang di jagad maya setelah dugaan rasisme terhadap aktivis HAM asal Papua Natalius Pigai beberapa waktu lalu.

Bernama lengkap asli Permadi Arya, sosok pria yang satu ini sudah cukup populer di kalangan masyarakat.

Salah satunya karena pernyataan-pernyataan provokatif dan kocak yang dilontarkannya terhadap umat Islam di Indonesia. Narasi provokasinya biasanya disampikan melalui media sosial.

Narasi-narasi tersebut kerap menimbulkan polemik dan kecaman dari umat Islam karena dianggap terlalu menyudutkan dan menghina Islam.

Meski demikian, tidak sedikit pula yang belum sungguh-sungguh mengenal sosok buzzer pendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo ini.

Dari berbagai sumber tersedia, disebutkan bahwa Abu Janda merupakan nama fiksi yang dibuatnya karena bekerja sebagai buzzer.

Sejak 2016 akhir, ia bekerja full time sebagai penggiat media sosial seperti Denny Siregar, dan memakai nama Abu Janda sejak tahun 2017.

Pada 2018, tim sukses Jokowi mengajaknya bergabung menjadi influencer untuk kampanye Pilpres 2019.

Sebagai buzzer, Abu Janda mengaku dibayar bulanan dengan nominal besar. Tapi dia tak menyebut berapa besaran rupiah yang diterimanya itu.

Selain honor bulanan, selama kampanye dia ikut keliling ke berbagai kota di tanah air, bahkan hingga ke luar negeri.

Di Hong Kong dan Jepang, ia dipercaya tim Jokowi untuk menjadi juru bicara.

Tapi begitu pilpres selesai, kontraknya dengan tim sukses Jokowi pun berakhir dan ia bekerja secara independen.

Namun jauh sebelum sosok kontroversial ini muncul ke publik sebagai buzzer, ia pernah menjajaki dunia pekerjaan layaknya pria dewasa lainnya.

Ia sempat bekerja pada sebuah perusahaan swasta Jepang di Jakarta.

Namun, akhirnya ia memilih resign dan menjalani pekerjaan sebagai buzzer dengan nama Abu Janda.

Sebagai buzzer, Abu Janda bukan orang biasa-biasa. Ia adalah lulusan universitas luar negeri sehingga memiliki pengetahuan yang cukup luas.

Ia menamatkan jenjang pendidikan pertamanya sebagai Diploma Ilmu Komputer dari Informatics IT School Singapura, April 1997.

Kemudian, ia melanjutkan studi dan lulus sebagai Sarjana Business & Finance dari University of Wolverhampton Inggris tahun 1999.

Selepas kuliah, Abu Janda juga pernah bekerja sebagai karyawan di berbagai perusahaan mulai dari perusahaan sekuritas, bank swasta, hingga tambang batu bara dari tahun 1999-2015. 

Tahun 2015, ia mulai merintis nama Abu Janda di media sosial dengan tagline "Melawan Teror dengan Humor".

Salah satu kritikannya ditujukan kepada kelompok Islam radikal di tanah air sehingga mereka sering kebakaran jenggot ketika diserang Abu Janda.

Di balik semua yang tampak di permukaan dan diketahui publik, seorang penulis bernama Von Edison Alouisci mengungkap siapa Abu Janda yang sebenarnya.

Von Edison sendiri bukanlah penulis Barat, tapi memakai nama Barat, layaknya Andrea Hirata.

Dari sumber tersedia, Von Edison dikenal sebagai penulis yang aktif menulis di blog dan website, dan mengelola sejumlah halaman media sosial.

Meski namanya terdengar asing dan aneh bagi lidah Indonesia, pria asal Palembang ini adalah seorang muslim.

Kegiatan yang ditekuninya antara lain sebagai peneliti dan penulis aliran Ahlusunnah wal jamaah, sebagai senior bidang Teknik Elektro di salah satu perusahaan besar BUMN, anggota ORARI (Organisasi Radio Amatir RI) di bawah lisensi Kominfo. 

Von Edison disebut cukup menguasai IT dan merupakan alumni al-Quds University, Gaza, Palestina.

Melansir Akurat News, Von Edison Alouisci mengungkap kedok Abu Janda dengan segala kiprahnya di panggung sandiwara politik di Indonesia saat ini.

Menurut Von Edison, Abu Janda adalah agen ganda dan pemecah umat Islam jaringan proxy war Zionis.

Von Edison diketahui melakukan penelusuran mendalam tentang sosok yang satu ini.

Disebutkan bahwa Abu Janda bernama asli Permadi Arya Wirasmawa, adalah anak dari Sujatna dan Lina.

Abu Janda adalah tokoh fiksi yang dibuat oleh Permadi Arya pada Desember 2014.

Itu adalah nama plesetan dari nama teroris ISIS asal Malang bernama Abu Jandal Al Indonisiy. 

Belakangan Abu Jandal diberitakan tewas di medan tempur di Suriah. 

Oleh simpatisan ISIS, Abu Jandal salah satu idola Permadi Arya. Ia pun membuat halaman Facebook dengan nama Abu Janda Boliwudi.

Sementara, nama Boliwudi sendiri, Permadi Arya terinspirasi dengan artis-artis Hindi yang juga disukainya.

Sebagai buzzer, Abu Janda selalu memancing benih provokasi di media yang bertujuan untuk membenturkan sesama Islam, Islam dengan Kristen bahkan agama manapun.

Triknya mengadu domba ulama, ustadz, tokoh-tokoh muslim terutama NU yang sepertinya menjadi target utamanya.

Abu Janda menyusup ke tubuh NU dan menggunakan atribut Ansor dan Banser agar terlihat ke-NU-annya padahal perilakunya jauh dari itu.

PWNU Jatim baru-baru ini sudah menegaskan semua pernyataan Abu Janda selama ini sama sekali tak ada kaitannya dengan NU. Sebaliknya, pernyataan Abu Janda banyak merugikan NU.

"Yang perlu dipahami juga, Abu Janda juga tak ada kaitannya dengan NU. Sama sekali tak ada," tegas Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim KH Abdusalam Sokhib, Jumat (29/1) lalu.

Gus Salam kemudian menyoroti kebiasaan Abu Janda yang kerap berpakaian baju banser. Menurut Gus Salam hal itu sangat tidak dipatut dilakukan Abu Janda.

Gus Salam juga tidak tahu asal-usul Abu Janda. Sementara, GP Ansor telah membantah bahwa Abu Janda merupakan anggotanya.

Menurut Von Edison, Abu Janda ini cenderung terlihat seperti AGEN PROXY WAR yang memang bentukan zionis untuk memecah belah umat Islam dan non Islam di Indonesia.

Proxywar adalah perang ketika lawan menggunakan pihak ketiga sebagai pengganti berkelahi satu sama lain secara langsung.

Pihak asing berkolaborasi dengan kelompok dalam negeri untuk memecah belah bangsa atau suatu negara.

Agen Proxy War sesungguhnya adalah kelompok jaringan atheis Zionis.

Agen ini bertugas menghancurkan Islam di seluruh dunia dengan memasuki kelompok kelompok Islam, Kristen yang kemudian mereka adu sedemikian rupa sehingga terjadi benih perpecahan.

Abu Janda bahkan mengklaim dirinya tidak bergama dan tidak percaya Tuhan. Ia lebih tunduk pada pemikirannya. Ia menyebutnya sebagai pemikir bebas.

Ada fakta menarik bahwa disamping Arya Permadi seolah orang Banser NU namun disidi lain dia juga bergaul akrab dengan kelompok Syiah.

Abu Janda diketahui berteman akrab dengan Surya Hamidi orang Syiah tulen.

Surya dulu mengaku aswaja. Nyaris banyak yang terkecoh dengannya.

Dia mencoba Taqiyah dan mengaku seolah-olah dia adalah Aswaja yang dicap Syiah karena tahlilan dan berdoa ke orang yang sudah meninggal.

Ada bukti bahwa Abu Janda melakukan parodi melecehkan umat Islam dengan Surya Hamidi ini.

Selain itu, Abu Janda juga dikenal dekat dengan kelompok pro Nazi Jerman.

Diantara beberapa video yang diunggahnya ke media sosial, ada video berjudul "Nazi Cafe Soldaten Kaffee REOPENS PRESS CONFERENCE".

Dalam video itu dia bertindak sebagai juru bicara Soldaten Kaffee.

Soldaten Kaffe dulu terletak di Jalan Cikawao No.12, Bandung, Jawa Barat dan pernah ditutup karena dituduh sebagai cafe kaum pro Nazi.

Permadi Arya biasa kongkow-kongkow disitu dengan orang-orang Jerman, berciuman dengan wanita Jerman sambil minum bir.

Abu Janda juga suka koleksi pakaian tentara legiun asing terutama Jerman.

Dibanding sekarang, dia dulu tidak memelihara kumis bahkan terkesan elite layaknya agen profesional.

Ia sama sekali tidak terlihat aura NU  tetapi lebih kepada mata-mata asing.

Ia menggunakan banser hanya sebuah strategi dalam memecah belah umat.

Kita bisa lihat videonya soal bendera baik saat ILC dan termasuk kasus soal pembakaran bendera tauhid di Garut.

Dalam kasus itu, kita bisa menduga bahwa Banser tidak mungkin membakar bendera di Garut atas inisiatif sendiri dan tanpa pesanan tertentu.

Abu Janda juga sering merendahkan Rizieq Shihab terkait kasus bendera di kediaman ulama besar itu.

Menurut Anda siapa yang memasang bendera di kediaman MRS?

Jawaban adalah orang yang cukup profesional dan mengetahui situasi MRS di Mekkah sehingga cukup alot melacak siapa dalang peristiwa itu.

Tinggal sekarang siapa yang paling diuntungkan dalam kasus MRS?

Abu Janda pernah menyatakan jika dirinya adalah warga Nahdliyin.

Untuk menguatkan hal itu dia pernah mengunggah fotonya bersama Ketua PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj.

Selain itu, Abu Janda juga mengaku penganut dan alumni pesantren Thariqat Naqshabandiyah. 

Dia bahkan menyebut dirinya merupakan murid dari H. Teuku Muhammad Husin (Ulama Aceh).

Sangat tidak mungkin seorang NU tulen dan orang thariqat bertingkah laku seperti Abu Janda. Itu sulit diterima.

Bahkan ketika kasus rasismenya mencuat baru-baru ini, petinggi NU meminta agar jangan mengaitkannya dengan NU sebagai organisasi.

Von Edison pun meminta agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh ucapan Abu Janda.

Abu Janda perlu diwaspadai umat muslim sebab pola yang dia tampilkan selama ini mengacu pada sistem kelompok jaringan mata-mata internasional dengan mengandalkan media sebagai strategi pemecah belah umat Islam dan bahkan membenturkan antar agama di tanah air, alih-alih terlihat seperti membela kaum minoritas.

Menurut Von Eison, perilaku Abu Janda sejak dulu sangat mirip dengan pola agen-agen zionis.

Dalam jaringan itu, dia tidak sendiri tetapi memiliki jaringan internasional di mana dia salah satu tim yang direkrut menjadi bagian dari jaringan itu.

Baru-baru ini, bahkan ratusan pengacara dari generasi '98 siap membekengi Abu Janda ketika KNPI melaporkannya ke Bareskrim Polri terkait ujaran kebencian terhadap Natalius Pigai dan agama Islam.

Kepada Pigai, Abu Janda mencapnya sebagai orang yang belum mengalami evolusi sempurna sebagai manusia sebagaimana dalam teori Darwin.

Namun Abu Janda membela dirinya dengan mengatakan bahwa ia penentang Teori Evolusi Darwin, sesuatu yang sangat dibuat-buat.

Sementara kepada agama Islam, Abu Janda menyebutnya sebagai agama arogan karena mengharamkan segala praktik budaya atau kepercayaan lokal.

Menurut Abu Janda, Islam di Indonesia telah berlaku tidak adil karena melarang kearifan lokal masyarakat.

Secara tidak langsung, ia menyerang Islam sebagai agama impor yang ingin meniadakan kepercayaan lokal.

Dari apa yang dikatakan Von Edison ada betulnya juga. Abu Janda patut dicurigai. Ia tidak murni berniat membela kaum minoritas.

Lebih dari itu, ada motivasi lain yang ingin disampaikan Abu Janda.

Salah satunya untuk membenturkan umat Islam, dengan kelompok radikal sebagai sasarannya.

Kita perlu belajar dari cara-cara kerja agen-agen Zionis di Timur Tengah yang berhasil memecah belah kelompok Islam di negara-negara Islam seperti Suriah, Irak, Iran dan Afganistan.

Dalam beberapa sumber tersedia, bahkan disebutkan bahwa pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi adalah seorang Yahudi yang dipakai untuk memecah belah umat Islam.

Ini sudah terkait dengan teori konspirasi. Tapi setidaknya kita bisa belajar bagaimana menghargai perbedaan, religiusitas dan perdamaian.*

Posting Komentar untuk "Membongkar Rekam Jejak Abu Janda"