Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Arsitek Jerman Bangun Bandara Pertama di Pedalaman Papua

Bandara di pedalaman Papua/Facebook.


Di mata banyak orang, Papua adalah daerah konflik, miskin dan terbelakang.

Tapi itu tidak berlaku bagi mata orang-orang di dunia internasional. 

Bagi mereka, Papua adalah sekeping surga yang jatuh dari langit.

Papua memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. 

Masih banyak potensi yang belum tergali di Papua.

Tambang emas yang digarap Freeport hanya salah satu yag terbesar. 

Tanah ini seperti berlimpah susu dan madu.

Karena itulah, sejak zaman penjajahan, Papua dilirik oleh peneliti asing.

Saking cintanya Belanda pada Papua, baru pada tahun 1969 diserahkan ke Indonesia, setelah Soekarno berhasil menginvansi daerah paling timur Indonesia ini melalui operasi militer.

Bahkan demi Papua, seorang peneliti asal Jerman pun membangun sebuah lapangan terbang atau bandara di pedalaman Papua.

Pedalaman Papua yang dimaksudkan adalah kawasan yang umumnya berupa hutan dan pegunungan. 

Daerah ini sulit dijangkau oleh kendaraan dan juga manusia dari satu kabupaten ke kabupaten lain.

Peneliti bernama Wulf Schiefenhoevel, seorang profesor antropologi medis Max Planck Institut Jerman, adalah salah satu orang asing yang menaruh hati untuk Papua.

Ia prihatin dengan kondisi masyarakat Papua yang terkendala akses kendaraan karena tidak meratanya pembangunan barat dan timur.

Wulf dalam penelitiannya di Papua akhirnya menemukan bahwa salah satu solusi terbaik adalah dengan membangun bandara di pedalaman.

Ia memulai penelitian di Eipomek, Pegunungan Bintang yang berada pada ketinggian 2500 m dpl. 

Untuk memperlancar kegiatan penelitiannya, pada tahun 1974, ia dibantu seorang suku Dani bernama Tayiniyak dan beberapa orang Eipo untuk membuat sebuah lapangan terbang untuk pesawat kecil.

Pembuatan lapangan terbang ini sepenuhnya mengandalkan tenaga manusia, yaitu dengan menggunakan alat linggis dan sekop.

"Saya dan tim peneliti Jerman menamakan Eipomek untuk daerah yang kami bangun lapangan terbang, sebelumnya di peta hanya disebut sebagai Lembah X saja," kata Wulf.

Wulf menambahkan, orang Eipo yang tinggal di Lembah X adalah penutup jalan paling dramatik dari masa kapak batu prasejarah ke dunia digital dalam satu generasi tanpa membaca buku karya Aristoteles.

Atas rintisannya, pada Juli 1975, lapangan terbang hasil kerjanya pertama kali didarati pesawat kecil. 

"Saat itu kami sangat senang dapat berfoto dengan orang Eipo, mereka obyek foto yang bagus, namun di era digital ini, kebalikannya, justru kami orang kulit putih yang jadi pusat perhatian, dan mereka jadikan obyek foto," ungkap Wulf.

Kini, hampir semua daerah pedalaman Papua dilayani perintis, terrmasuk salah satunya Susi Air.

Dengan adanya pesawat domestik, arus distribusi logistik semakin dipermudah.

Mereka tidak hanya bepergian dengan menggunakan pesawat, tetapi pesawat menjadi satu-satunya alat transportasi yang bisa menghubungkan petani dengan pasar.

Tidak terlalu mengejutkan jika pesawat yang ditumpangi masyarakat baisanya juga memuat barang jualan mereka ke pasar, salah satunya babi.

Sebelum tahun 1974, tidak ada ikan sama sekali di sungai-sungai Pegunungan Bintang Papua. 

Setelah adanya penerbangan perintis, ikan air tawar didatangkan dari Sentani dan dibudidayakan di kolam. 

Dan kini, barang-barang keubuthan lebih mudah didistribusikan atau diperoleh dengan adanya penerbangan di daerah pedalaman.

Sumber: Detik.com

Posting Komentar untuk "Cerita Arsitek Jerman Bangun Bandara Pertama di Pedalaman Papua"