Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Jokowi Anak Desa yang Kini Jadi Presiden Dua Periode

Presiden Jokowi di sawah/Setkab.

Siapa yang tidak mengenal Presiden Joko Widodo, atau akrab disapa Jokowi?

Tidak bisa dipungkiri bahwa Jokowi adalah salah satu tokoh paling populer saat ini, setelah Soekarno.

Bukan saja karena kepemimpinannya, tapi juga karena cerita di balik kesuksesannya meraih kursi kepemimpinan di Indonesia sebagai presiden selama dua periode.

Banyak orang kagum dan jatuh hati dengan kepribadian Jokowi yang santun, ramah dan sederhana namun tegas dan berwibawa.

Jalan menjadi presiden dengan mudah ia raih karena ia telah berhasil mengambil hati para pemilih dari golongan masyarakat kecil, seperti dirinya yang adalah orang kecil.

Nah, untuk mengetahui lebih jauh cerita tentang Jokowi, kali ini saya berusaha menggambarkan secara singkat dan padat perjalanan hidupnya.

Kelahiran dan Masa Kecil

Jokowi lahir pada tanggal 21 Juni 1961 di Poliklinik Brayat Minulyo, Solo, Jawa Tengah. 

Pemberian nama Joko Widodo tersebut bukan tanpa maksud karena orangtuanya sangat berhati-hati dalam memberikan nama kepada anak-anak mereka.

Dalam bahasa Jawa, Joko berarti "anak muda" (pemuda), sedangkan Widodo berarti "selamat". 

Jadi maksud dari pemberian nama Joko Widodo mengandung arti bahwa suatu saat anak tersebut (Jokowi) bisa menjadi "orang yang sukses dan selamat di dunia akhirat." 

Namun karena nama Joko Widodo kelak menjadi nama pasaran di Jawa, oleh Micl Romaknan, seorang buyer (pembeli) asal Prancis, sejak tahun 1998, namanya disingkat menjadi Jokowi untuk membedakannya dengan Joko-Joko yang lain.

Jokowi terlahir dari keluarga miskin atau tergolong dalam keluarga kelas menengah bawah. Hidup keluarganya selalu berpindah-pindah. 

Masa kecilnya dihabiskan di Kampung Srambatan, Banjarsari, Solo, dan kemudian harus mengangkat kaki dari sana karena sungai  Bengawan Solo yang meluap (tahun 1965). 

Dari sana ia dan keluarga lalu berpindah ke daerah pasar kayu dan bambu di Gilingan, Banjarsari, Solo, yang berada di selatan bantaran Kali Anyar.

Di situlah akhirnya orangtuanya menetap beberapa lama dan memulai usaha berjualan kayu. 

Kehidupan nomaden keluarganya tidak terhenti di situ. Ketika Jokowi duduk di kelas IV SD, mereka harus pindah karena rumah mereka digusur oleh pemerintah Surakarta. 

Akhirnya, atas perintah dari pemerintah setempat, mereka kembali berpindah ke bagian utara bantaran Kali Anyar dan hanya diberi sepetak tanah tanpa diberi uang untuk pembangunan rumah baru. 

Tidak lebih dari setahun, mereka akhirnya membuat rumah baru dan menetap di daerah Manahan, yakni di jalan Ahmad Yani No. 331 Solo.

Ia lahir dari pasangan suami-istri Notomihardjo dan Sujiatmi, dan memiliki tiga saudara perempuan, sekaligus anak sulung dalam keluarganya. 

Karena ekonomi keluarga yang minim, Jokowi menjadi terbiasa untuk hidup sederhana. 

Bahkan Jokowi sering keluar masuk pasar tradisional untuk berdagang apa saja yang ia bisa. 

Ayahnya, Notomiharjo (meninggal tahun 2002), harus bekerja keras untuk menafkahi keempat anaknya dengan bekerja sebagai tukang kayu. 

Dari ayahnya inilah Jokowi kecil belajar tentang dunia perkayuan yang kelak membawanya menjadi eksportir mebel yang sukses.

Jokowi mengenyam pendidikan Taman Kanak-Kanak di TK Ketelan, Banjarsari. 

Kemudian ia melanjutkan sekolah di SD Negeri 111 Tirtoyoso, Solo. 

Prestasi akademiknya mulai menonjol sejak masih SD. Walau jarang belajar, tetapi Jokowi muda selalu mendapat juara di kelasnya. 

Setelah lulus pada tahun 1974, ia meneruskan pendidikannya di SMP Negeri 1 Solo. 

Saat inilah kesadaran belajarnya meningkat. Tradisi juara kelas pun tetap direngkuhnya. 

Apalagi didorong oleh motivasi teman-temannya yang menganggap SMPN 1 Solo sebagai sekolah unggul. 

Setamat dari sana, ia melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi di SMA Negeri 6 Solo karena ia gagal masuk di SMA Negeri 1 Solo.

Namun niatnya untuk sekolah tidak pernah surut. Di tahun pertama sekolahnya ia masih kehilangan semangat. 

Ketika memasuki tahun kedua dan ketiga SMA, letupan motivasi dan gairahnya kembali normal. 

Setelah lulus SMA pada tahun 1980, ia masuk ke Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, dengan mengambil jurusan Teknologi Kayu, Fakultas Kehutanan. 

Keputusannya untuk kuliah di UGM menjadi beban tersendiri bagi ayahnya yang hanya seorang tukang kayu dan pendapatannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Melihat keadaan ekonomi keluarga yang serba pas-pasan itulah yang memicu gairah belajar Jokowi agar tidak mengecewakan orangtuanya. 

Pada saat kuliah inilah Jokowi menemukan tambatan hatinya, yaitu Iriana, istrinya. 

Jokowi memutuskan untuk menikah dengannya pada 24 Desember 1986, satu tahun setelah ia tamat dari perkuliahannya (1985). 

Dari hasil pernikahannya dengan Iriana, ia dikaruniai tiga (3) orang anak, yaitu Gibran Rakabuming, Kahiyang Ayu dan Kaesang Pangarep. 

Saat masih sekolah di SMP Negeri 1 Solo, Jokowi dikenal sebagai penggemar berat musik rock. 

Katanya, "Musik rock adalah kebebasan. Liriknya liar, tegas, semangat, dan mampu mendobrak perubahan." 

Jokowi pun mengoleksi kaus-kaus bergambar grup musik rock kesayangannya, misalnya: Napalm Death dan Dream Theatre.

Kecintaannya pada musik rock bertahan hingga sekarang ketika ia menjabat sebagai pejabat negara. 

Bahkan ketika masih menjabat sebagai Walikota Solo, ia sering nonton konser musik rock, di antaranya: Linkin Park, Lamb of God dan Rock in Solo. 

Ia juga sangat menggandrungi musik metal seperti yang dimainkan oleh Lamb of God, Metalica, dan Sepultura. 

Karena kecintaan pada musik rock inilah yang membawanya memimpin kota Solo, DKI Jakarta dan Indonesia dengan filosofi rocker: cepat-tepat. 

Meniti Karier sebagai Pengusaha Mebel

Setelah lulus kuliah pada tahun 1985, Jokowi langsung mendapatkan pekerjaan di PT. Kertas Kraft Aceh, di Aceh, sebuah perusahaan BUMN yang bergerak di bagian pulp (bubur kertas).  

Di sana ia hidup di kawasan hutan bersama dengan beberapa karyawan perusahaan karena ia ditempatkan di bagian pembibitan tanaman.

Berkat keuletan dan kepintarannya, ia sempat diangkat menduduki jabataan setingkat manager di BUMN tersebut.

Tidak berapa lama kemudian, sekitar satu setengah tahun, ia kembali ke Solo untuk membuka usaha sendiri.

Hal itu sangat beralasan karena Jokowi tidak mau diperintah-perintah oleh orang lain; ia ingin hidup lebih mandiri.

Di Solo ia bekerja di CV Roda Jati, sebuah CV milik pakde-nya,  di mana ia langsung diangkat menjadi direktur dengan gaji yang cukup besar.

Namun nalurinya untuk hidup mandiri selalu ada. Cita-cita untuk membuka usaha mebel sendiri kemudian terjawab setelah selama satu tahun ia bekerja di perusahaan pamannya itu.

Pada awalnya modal untuk membuka usaha mandirinya tidak seberapa dan bisa dikatakan ia tidak mempunyai modal. 

Untuk memuluskan mimpinya maka ia meminjam uang sebesar Rp 30 juta di sebuah bank dengan jaminan sertifikat orangtuanya, di samping pemberian dari simpanan ibunya sebesar Rp 50 juta. 

Selain itu, oleh pamannya ia dipinjamkan mobil pick-up untuk kelancaran usahanya. 

Usaha mebelnya diberi nama CV Rakabu yang diambil dari nama anak pertamanya, dan yang paling pertama dibuatnya adalah bedroom set.

Seiring dengan perjalanan waktu, usaha mebelnya berkembang pesat hingga menembus pasar luar negeri (menjadi eksportir).

Tidak jarang ia terpaksa harus tidur di pabrik untuk menyelesaikan pesanan dari luar kota. Perjuangannya menjadi eksportir dimulai ketika ia menjadi "anak angkat" PGN (Perum Gas Negara). 

Mula-mula ia hanya dipinjamkan modal sebesar Rp 50 juta namun ia menolaknya karena uang sebesar itu tidak cukup untuk menjadi modal usaha. 

Ia kemudian menunjukkan rencana kerjanya kepada PGN dan akhirnya mereka berani meminjamkan uang lebih besar kepadanya, hingga menembus angka Rp 600 juta.

Hanya dalam rentang waktu tiga tahun Jokowi berhasil melunasi utangnya itu. 

Perjalanan bisnisnya pun mengalami jatuh bangun. Pernah ditipu pembeli, tidak dibayar oleh pemesan bahkan pada tahun 1990, usahanya mengalami kemandekan, sehingga tidak beroperasi selama delapan bulan. 

Walaupun demikian, sedikit demi sedikit, bisnisnya kembali bangkit. 

Ketika pada tahun 1998 terjadi krisis moneter, usahanya bukannya bangkrut, tetapi malah makin berkembang.

Nilai tukar dollar Amerika yang menguat terhadap rupiah membuat mebel Jokowi laris terjual di luar negeri. 

Dan salah satu negara yang menjadi langganannya adalah Prancis. 

Sampai saat ketika ia sudah menjabat sebagai Walikota Solo pun dan ketika terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, usaha mebelnya makin terpercaya bahkan berkembang sangat pesat. 

Terjun ke Dunia Politik

Pada dasarnya, keinginan Jokowi untuk terjun ke dunia politik diinspirasi dan dilatarbelakangi oleh kecintaannya pada Bung Karno, sang Proklamator dan Presiden pertama Indonesia. 

Kesamaan ide politik dengan mendiang Bung Karno inilah yang membawanya untuk maju dalam percaturan politik dalam pemilihan Walikota Surakarta dulu melalui pintu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).

Menurutnya, Soekarno merupakan tokoh dan figur politisi (pemimpin) yang mempunyai visi yang terencana dan disiapkan secara baik sejak dini.

Pemikiran-pemikiran Soekarno adalah suatu paket yang komplet.

Mulai dari bidang ekonomi, sosial, pertahanan dan keamanan, politik, seni budaya, pendidikan dan religiusitas. 

Namun sebenarnya Jokowi tidak punya rencana pribadi untuk terjun ke dunia politik, apalagi untuk memimpin sebuah daerah seperti Solo pada waktu itu. 

Tetapi hal itu terjadi atas desakan teman-temannya di Asmindo (Asosiasi Mebel dan Industri Kerajinan Indonesia), sebuah organisasi di mana ia menempa bakat kepemimpinannya. 

Padahal Jokowi tidak begitu terkenal atau populer di mata masyarakat Solo; ia hanya dikenal oleh rekan-rekan sesama bisnisnya. 

Karena karakter kepemimpinannya yang visioner dan baik, Jokowi pun didorong untuk maju dalam bursa pemilihan walikota Solo periode 2005-2010 berpasangan dengan F.X. Hadi Rudyatmo. 

Dalam pencalonannya sebagai walikota Solo tersebut, Jokowi mengalami kendala, 1) yaitu karena ia bukanlah orang partai. Artinya, ia tidak mempunyai kendaraan politik, tempat di mana ia pernah bergabung sebagai kader partai. 

Namun akhirnya ia dipertemukan dengan Hadi Rudyatmo, dan dengan demikian ia mempunyai basis partai.

Kendala kedua karena ia tidak terkenal. Sebagai langkah strategis, selama masa kampanye, ia bersama Hadi Rudyatmo menerapkan pola door to door. 

Jika pasangan lain melakukannya dengan memasang baliho, poster dan iklan di mana-mana, 'muka' Jokowi dan Hadi tidak pernah muncul di arena publik seperti itu. 

Keduanya mendatangi warga secara langsung, atau mengutip istilah PDI-P, "turun ke bawah". 

Tak pelak kepada warga yang diajak berdialog disodorkan program-program strategis, sehingga mereka langsung mengetahui warga mendukung mereka atau tidak.

Program strategisnya meliputi tiga bidang penting, yaitu perbaikan kesehatan, pendidikan dan penataan kota. 

Dan ternyata program-programnya disenangi masyarakat karena menyentuh langsung kebutuhan hidup mereka. 

Akhirnya secara mutlak, pada periode itu (2005-2010), keduanya menang dalam Pilwalkot Solo dengan mengantongi suara lebih dari 37%.  

Berkat kerja keras dan kemajuan pembangunan yang  ditunjukkannya, keduanya akhirnya terpilih lagi pada Pilkada periode II (2010-2015) dengan mengantongi suara sebesar 90,09%. 

Jalan mulus menuju tangga pejabat penting negara pun diraihnya dengan mudah ketika pada tahun 2012 ia terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta dan pada Pilpres 2014 terpilih menjadi Presiden. 

Semuanya bermula bukan hanya karena program-program populis yang ditawarkannya, tetapi juga karena karakter kepemimpinannya yang berbeda dari pemimpin lain: unik, nyentrik, dan sederhana, tetapi di dalam hatinya terkandung "mutiara" murni untuk membawa perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik, yaitu terciptanya bonum commune.

Riwayat Kepemimpinan

John F. Kennedy (1917-1963)  pernah mengatakan, "Leadership and learning are indispensable to each other."

Secara gamblang, ini berarti bahwa kepemimpinan adalah sesuatu yang mutlak dibutuhkan oleh setiap orang.

Kepemimpinan bukan semata-mata sebuah 'bakat' alamiah, atau sesuatu yang terberi, tetapi bisa mungkin merupakan hasil dari sebuah proses belajar yang panjang.

Dalam proses tersebut terjadi suatu pembiasaan. Dari pembiasaan melahirkan karakter, dan dari karakter pribadi itulah lahirlah jati diri menjadi seorang pemimpin.

Jokowi, sejak masa kecilnya, hampir tidak pernah terlihat karakter atau bakat kepemimpinan. Apalagi ia hidup dalam situasi keluarga yang sulit dan tertekan.

Pengembangan bakat dan kemampuannya pun sangat minim. 

Padahal bila ditelusuri lebih jauh, ternyata keluarga Jokowi tidak asing dengan dunia kepemimpinan. 

Dulu, kakek dari ayahnya, Weryo Mihardjo, pernah menjadi Lurah di Boyolali, Jawa Tengah. Dan sejak kecil pun Jokowi sangat akrab dengan kakeknya, Wiroredjo (ayah dari ibunya). 

Bahkan kakeknya pernah meramalkan bahwa cucunya (baca: Jokowi) kelak akan menjadi orang pintar. 

Hal senada diakui oleh sang ibunda, bahwa anaknya Jokowi tidak pernah mau dipimpin, tetapi hanya mau memimpin. 

Dan bakat kepemimpinan itu ditunjukkannya dengan mengayomi dan membimbing adik-adiknya yang semuanya perempuan. 

Saban hari ketika ia meniti karier profesional sebagai pengusaha mebel, apa yang diramalkan oleh kakek dan ibunya ternyata benar. 

Di sinilah bakatnya sebagai seorang pemimpin mulai nampak hingga pada puncaknya ia terpilih menjadi Ketua Asmindo.

Padahal semasa di sekolah, ia jarang dipilih sebagai ketua kelas atau yang lainnya walaupun ia cerdas dan berprestasi. 

Menurut beberapa kesaksian para mantan gurunya, Jokowi terkenal sebagai murid yang pendiam, sopan, polos, dan tidak nakal. 

Secara terperinci saya akan menguraikan riwayat kepemimpinan Jokowi dalam empat masa dan tahap yang berbeda, yaitu ketika ia masih aktif dalam dunia usaha (swasta), periode sebagai Walikota Solo, kemudian menjabat Gubernur DKI Jakarta dan terakhir ia menjadi Presiden dua periode.

1. Dalam Dunia Usaha

Kesuksesannya sebagai pengusaha mebel membuat Jokowi sangat terkenal di kalangan sesama pebisnis, tetapi sedikit dikenal di kalangan masyarakat umum. 

Banyak rekan bisnisnya yang ingin belajar dan menimba pengetahuan dari pengusaha sederhana ini. 

Tidak heran jika mereka akhirnya mengangkatnya menjadi pemimpin dalam jaringan bisnis mereka. 

Beberapa catatan di bawah ini akan menguraikan secara singkat riwayat karier kepemimpinan Jokowi ketika ia masih aktif di dunia kerja sebagai pengusaha swasta di Solo, Jawa Tengah. 

Pada tahun 1990, Jokowi mendirikan Koperasi Pengembangan Industri Kecil Solo sekaligus sebagai Ketua.  

Pada tahun 1992-1996 ia menjabat sebagai Ketua Bidang Pertambangan dan Energi Kamar Dagang dan Industri Surakarta.

Pada tahun 2002-2007 ia kembali terpilih sebagai Ketua Asosiasi Permebelan dan Industri Kerajinan Indonesia (Asmindo) Surakarta.  Organisasi ini didirikannya sendiri bersama dengan rekan-rekan bisnisnya.

Pada periode tahun 2002-2008 oleh rekan-rekannya ia dipilih menjadi Ketua Komda Solo Raya selama dua periode berturut-turut. 

Di sini karakter kepemimpinannya mulai terlihat yang berpuncak pada pencalonannya sebagai Walikota Solo (2005).

2. Walikota Solo (2005-2012)

Pada periode 2005-2012 (dua periode) Jokowi menjabat sebagai Walikota Solo dengan wakilnya F.X. Hadi Rudyatmo. 

Catatan masa kepemimpinannya di Solo makin mentereng seiring dengan terserapnya program-program pro rakyatnya. Jokowi membuat banyak gebrakan hampir di segala lini. 

Gebrakan yang dibuatnya, antara lain pembenahan sistem pembuatan KTP, kemudahan perizinan usaha kecil dan menengah. 

Dengan gebrakan baru tersebut tampak jelas kalau sistem birokrasi-pemerintahan di Indonesia pada umumnya masih rumit dan bertele-tele. 

Dengan itu Jokowi menerapkan birokrasi yang populis. 

Di bawah tangan dingin seorang Jokowi, kota Solo dalam sekejap mengalami perubahan yang signifikan. 

Dengan menerapkan branding, "Solo: The Spirit of Java", ia mampu mendongkrak prestasi kota Solo. 

Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota Solo pun meningkat. Apalagi ia sangat terbuka untuk menarik para investor untuk berinvestasi di daerahnya. 

Pada akhirnya kota Solo mendapat banyak penghargaan, antara lain sebagai kota dengan tata ruang terbaik kedua di Indonesia. 

Penghargaan tersebut tidak bermaksud untuk menunjukkan hasil kerja Jokowi, tetapi bagaimana prosedur, cara dan strategi Jokowi mengembangkan kota Solo menjadi kota yang patut diperhitungkan di Indonesia, bukan saja secara fisik, tetapi juga secara mental, sosial dan budaya. 

3. Gubernur DKI Jakarta (2012-2014)

Pencalonan Jokowi dalam Pilkada DKI Jakarta banyak menuai kritikan pedas, terutama dari lawan-lawan politiknya. 

Kritikan dan sindiran itu semakin tajam terdengar ketika ia memilih untuk berpasangan dengan Basuki Tjahja Purnama (Ahok) yang beretnis Tionghoa dan beragama Kristen.

Jokowi dinilai tidak pantas memimpin Jakarta yang begitu kompleks permasalahannya. 

Apalagi Jokowi hanya bermodalkan pemimpin kota sekecil Solo.

Di luar dugaan, ternyata rakyat Jakarta kebanyakan sangat menyukai dan mengidealkan Jokowi memimpin DKI. 

Ini sungguh sebuah pembalikan total. Di satu sisi, para elit politik lokal DKI menolaknya, tetapi pada sisi yang lain, masyarakat, yang merupakan konstituen dan sasaran pembangunan, sangat antusias dan terlibat dalam upaya pencalonan Jokowi-Ahok. 

Jaringan-jaringan sukarelawan pun dibentuk di mana-mana.

Jokowi-Ahok mampu menyedot perhatian dan antusiasme warga DKI. 

Jokowi benar-benar berdiri di atas pangkuan kekuatan gerakan rakyat ini. 

Rakyat Solo pun justru mendukung pencalonan Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta. 

Mulai dari tukang becak, pedagang, dan masyarakat seluruhnya. 

Lebih dashyat lagi, mereka rela mengumpulkan uang sebagi biaya kampanye Jokowi. 

Pada Pilgub 11 Juli 2012, Jokowi-Ahok meraup suara mayoritas warga dengan mengantongi suara sebanyak 42,60%. 

Namun karena belum mencapai setengah dari pemilih Jakarta, yaitu 50,1%, akhirnya mereka harus bertarung lagi di putaran kedua. 

Pada pemilihan putaran berikutnya (20 September 2012) pasangan Jokowi-Ahok melesat jauh dari pasangan Foke-Nara dengan memperoleh persentase suara sebesar 53,82%. 

Dengan hasil itu Jokowi-Ahok terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur dan dilantik pada 7 Oktober 2012 oleh Menteri Dalam Negeri, Gemawan Fauzi. 

Oleh beberapa media luar negeri, seperti BBC (Inggris), Reuters (Inggris), dan New York Times (Amerika Serikat) hasil Pilkada Jakarta ini pun disoroti. 

Situs berita BBC menilai kemenangan Jokowi pada Pilkada itu lebih dikarenakan pasangan ini memposisikan dirinya sebagai pemimpin yang merakyat. 

Di pihak lain, surat kabar New York Times pun menilai kemenangan Jokowi disebabkan oleh ide-ide baru yang dihembuskan ke dalam ibukota untuk membawa perubahan radikal bagi warga, terutama terkait dengan masalah banjir, kemacetan, polusi, kejahatan, sampah, dan lain-lain. 

Dalam sebuah artikel tertulis demikian: "Di negara, di mana politikus seringkali berasal dari elite yang terkait atau memiliki hubungan dengan mendiang Presiden Soeharto dan militer, Jokowi muncul untuk mewakili generasi baru politikus."

Mereka menyebut Jokowi sebagai "orang luar" untuk menunjukkan bahwa, selain Jokowi bukan orang partai, ia juga berpotensi memimpin Indonesia ke depan. 

Setelah terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi langsung bergerak cepat, yaitu dengan aksi blusukan-nya. 

Pelbagai wilayah dan kawasan di Jakarta disambangi. 

Jokowi juga menyediakan layanan publik elektronik berupa e-budgeting dan e-government sebagai wadah di mana masyarakat bisa menyampaikan aspirasinya secara langsung, terbuka dan bebas, entah itu melalui jejaring sosial, melalui surat pembaca di koran, majalah, telepon atau tabloid, maupun melalui aksi demo yang damai, atau melalui lembaga-lembaga swadaya masyarakat. 

Jokowi juga benar-benar melayani warganya dengan membenahi sistem birokrasi, terutama berkaitan dengan perizinan dan tranparansi anggaran. 

4. Presiden RI (2014-2024)

Setelah resmi dicalonkan menjadi Presiden RI oleh Megawati pada tanggal 14 Maret 2014, sikap Jokowi menghadapi kepercayaan itu tidaklah muluk-muluk dan menganggap kepercayaan itu sebagai tugas yang mesti diemban. 

Hal itu terbukti dalam ekspresi spontan ketika mencium bendera merah-putih di Rumah Pitung setelah mendapatkan informasi peresmian pencalonannya. 

Sejak saat itu jaringan rakyat pun mulai bergerak. 

Dalam konser bertajuk Salam Dua Jari Menuju Kemenangan Jokowi di Stadion Gelora Bung Karno pada 5 Juli 2014, ratusan ribu massa menghadiri momen bersejarah tersebut.

Acara itu diadakan oleh kelompok-kelompok pendukung Jokowi yang terdiri dari para pemusik, seniman, selebritis, dan jaringan yang berafiliasi dengannya.

Ketika terpilih menjadi Presiden pada Pilpres 2014, Jokowi pun langsung 'tancap gas'. 

Berbagai program yang sudah dicanangkan selama masa kampanye secara perlahan diaplikasikan kedalam kebijakan pemerintahan. 

Sebut saja kebijakan paling pertama yang diambil pemerintahan Jokowi adalah menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). 

Maksud dari kebijakan tersebut adalah untuk meningkatkan distribusi kesejahteraan rakyat dengan memplotkan anggaran lebih besar kepada pembangunan daerah pinggiran yang berpotensi dan strategis.

Selain itu, pemerintahan Jokowi juga mengeluarkan kebijakan penyediaan Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) serta pembangunan perumahan bagi warga yang benar-benar tidak mampu dan infrastruktur di daerah terluar dan terpinggir. 

Hingga saat ini, evaluasi terhadap kebijakan pemerintah cukup memuaskan masyarakat karena mempunyai dampak yang signifikan.  

Langkah strategis Jokowi tidak berhenti di situ. Selain kebijakannya untuk memudahkan proses perizinan usaha atau investasi,  pungutan liar, Amnesti Pajak,  Jokowi juga membuka diplomasi bilateral dan investasi perusahaan asing ke dalam negeri untuk memacu pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. 

Pada masa awal pemerintahannya, pergolakan politik sangat kuat dan tajam. 

Beberapa peristiwa penting yang mempertaruhkan posisinya sebagai Presiden adalah kasus pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),  pengangkatan Komisaris Jenderal Budi Gunawan (BG) sebagai Kapolri,  kenaikan BBM, pemberhentian impor beras, resuffle Kabinet, dan pengangkatan Archandra Tahar sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Menyelesaikan masa pemerintahan periode pertama, Jokowi kembali maju sebagai capres pada Pilpres 2019 dengan dukungan penuh dari PDIP.

Kali ini, ia berdampingan dengan Ma'ruf Amin, seorang ulama besar dan pakar ekonomi syariah (Islam).

Pemilihan Ma'ruf Amin sebetulnya lebih karena isu agama yang dimainkan kubu Prabowo Subianto, lawannya sejak Pilpres 2014 lalu.

Dukungan masyarakat makin tak terbendung setelah kubu Prabowo dianggap terlalu memainkan isu agama dan menyebarkan hoaks.

Akhirnya, Pilpres 2019 dimenangkan dengan mudah oleh Jokowi-Ma'ruf.

Setelah menjabat, Jokowi tetap melanjutkan agenda pembangunan, dengan lebih fokus pada pengembangan sumber daya manusia.

Jokowi memiliki cita-cita mulia untuk Indonesia, yaitu ingin menjadikan Indonesia sebagai negara besar pada usia yang ke-100 di tahun 2045.

Berbagai inovasi kebijakan dilakukan dengan dukungan kalangan profesional di kabinetnya dan juga para staf ahli.

Di periode kedua ini, banyak regulasi dikeluarkan, terutama untuk menyiapkan Indonesia sebagai negara hukum demokratif yang berbasis pada keadilan dan kesejahteraan bersama bagi seluruh rakyat.

Salah satu yang paling penting adalah UU Omnibus Law yang digadang-gadang bisa menjadi pintu masuk bagi investor asing untuk membuka usaha di dalam negeri sehingga membuka kran lapangan kerja yang lebih luas.

Kiin, di pundak Jokowi, seluruh masyarakat menggantungkan harapan.

Jokowi diharapkan bisa menyelesaikan kepemimpinan dua periode dengan menuntaskan pembangunan yang masih belum merata di tanah air.

Ada isu yang beredar bahwa dukungan masyarakat begitu kuat untuk mendukung Jokowi menjabat selama tiga periode.

Namun karena belum UU yang mengatur soal jabatan tiga periode, akhir-akhir ini, dinamika politik berjalan begitu cair dan krusial.

Ada intrik politik yang dilakukan para elit untuk mendukung Jokowi memimpin lebih lama untuk Indonesia.

Dari berbagai pendapat terbuka yang disampaikan masyarakat, ada harapan agar presiden terbaik yang pernah dmiliki Indonesia ini bisa menjabat presiden tiga periode, bahkan seumur hidup.

Dukungan itu bukan omong kosong belaka, tapi lebih karena agenda pembangunan yang jelas dan terukur yang dilakukan Jokowi untuk negeri.*

Diolah dari berbagai sumber

Posting Komentar untuk "Cerita Jokowi Anak Desa yang Kini Jadi Presiden Dua Periode"