Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kasus Tumpahan Minyak Montara di Pulau Timor Belum Selesai

Petani rumput laut terdampak kasus Montara/CNN Indonesia.

Puluhan ribu petani rumput laut di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) brhasil memenangkan kasus tumpahan minyak di lapangan Montara yang melibatkan The Petrolium Authority of Thailand Exploration and Production Australasia (PTTEP AAA).

Para petani yang dipimpin Daniel Sanda memenangkan gugatan atas pencemaran minyak yang disidangkan di Pengadilan Tinggi Australia pada Jumat (19/3).

Perusahaan energi asal Thailand itu dihukum untuk memberi ganti rugi sebesar Rp252 juta atau sekitar 22.500 dolar Australia.

Hakim Pengadilan Federal Australia untuk kasus ini, David Yates, dalam putusannya menyatakan, tumpahan minyak di laut Indonesia telah menyebabkan kerugian material.

Tidak hanya itu. Tumpahan minyak ini menyebabkan kematian serta rusaknya rumput laut yang menjadi mata pencaharian para petani NTT.

Meski begitu, pihak PTTEP AAA belum mau kalah. Mereka berencana melakukan pengajuan banding. 

"PTTEP AAA akan mempertimbangkan dengan bijak putusan tersebut serta jalur banding yang tersedia untuk itu," tulis manajemen perusahaan dalam keterangan resminya, Senin (22/3).

"Keputusan pengadilan tidak menghilangkan keharusan bagi setiap individu untuk menunjukkan kerugian yang mereka alami," imbuh PTTEP.

Dengan pertimbangan itu, artinya kasus ini belum selesai setelah putusan pengadilan Australia baru-baru ini.

Kasus ini sebetulnya berawal dari tumpahan minyak yang terjadi pada 21 Agustus 2009 saat anjungan minyak di lapangan Montara meledak di lepas landas kontinen Australia.

Tumpahan minyak dengan volume lebih dari 23 juta liter mengalir ke Laut Timor selama 74 hari dan berdampak hingga ke pesisir Indonesia.

Luas tumpahan diperkirakan mencapai kurang lebih 92.000 meter persegi.

Satgas menemukan ada 13 kabupaten di NTT yang terkena dampak dari kasus Montara tersebut.*

Sumber: Kompas.com; JPNN

Posting Komentar untuk "Kasus Tumpahan Minyak Montara di Pulau Timor Belum Selesai"