Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kronologi Tentara dan Polisi Aniaya Warga di Manggarai Barat

Ilustrasi penganiayaan.

 Kasus pengeroyokan oleh aparat penegak hukum kembali terjadi.

Kali ini menimpa seorang warga Kampung Siri Mese, Desa Golo Poleng, Kecamatan Ndoso, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

Pria korban pengeroyokan aparat itu bernama Yosef Sudirman Bagu (41).

Yosef dianiaya tentara dan polisi di rumah kepala desa hingga pingsan. Peristiwa itu terjadi bulan lalu, tepatnya pada 16 Februari.

Namun, kejadian malang itu baru terungkap pada 9 Maret lalu ketika dimintai keterangan oleh media.

Kronologi Kejadian

Adapun kronologi pengeroyokan, sebagaimana diungkapkan Yosef, adalah sebagai berikut.

Mula-mula, seorang pemuda bernama Vendi membunyikan sepeda motor dengan knalpot racing di depan rumah Yosef pada Selasa (16/2) pagi.

Ulah si pemuda itu terasa sangat mengganggu Yosef.

Setelah menenangkan anaknya, Yosef pun ke halaman rumah, menghampiri Vendi dan menegurnya. 

Namun, Vendi yang sedang mabuk berat mengabaikannya. 

Meski sempat menghindar belasan meter dari depan rumah Yosef, Vendi kembali membunyikan sepeda motornya keras-keras.

Melihat sang pemuda kembali berulah, Yosef mendatanginya lagi.

Namun Vendi menyerang Yosef hingga keduanya berkelahi. Perkelahian terhenti ketika keluarga Vendi datang dan Yosef menyuruh mereka untuk mengamankan pemuda mabuk itu. 

Setelah situasi sudah tenang, Yosef kembali ke rumah lalu pergi ke sawah untuk bekerja. 

Selanjutnya, sekitar pukul 15.00 WITA, ia didatangi kedua anaknya. 

Ia diminta segera kembali ke rumah karena Kepala Desa Golo Poleng Siprianus Mansur bersama beberapa tentara dan polisi mencari.

Melalui kedua anaknya, tentara dan polisi berpesan, jika tidak pulang Yosef akan dipukul di sawah dan rumahnya akan dibakar. 

Yosef berusaha menenangkan kedua anaknya lalu bergegas pulang.

Setiba di rumah, ia mendapati sepeda motor milik kades dan beberapa sepeda motor berplat tentara dan polisi parkir di halaman. 

Ia membersihkan diri untuk menyambut tamu yang hendak menemuinya itu.

Cukup lama ia menunggu, namun kades bersama tentara dan polisi tidak juga datang. 

Dari salah seorang warga yang datang memanggil, ia baru mengetahui ternyata mereka menunggu di rumah tetangganya. Yosef pun bergegas menuju rumah tetangga. 

Setiba di sana, ia dijemput seorang polisi tidak berseragam dan mengaku dirinya sebagai anggota Unit Buru Sergap atau Buser dan bertugas di Polsek Golo Welu.

"Dia langsung pegang krah baju saya lalu meninju wajah dan perut saya sambil teriak, ‘Ini premannya!’ Beberapa tentara juga keluar dari dalam rumah sambil teriak, ‘Mana premannya?’ Sambil memaki saya, tentara-tentara itu datang langsung hantam di ulu hati saya. Saya sempat tanya, ‘Pak, tolong jelaskan dahulu, apa persoalannya. Mengapa langsung dengan cara kasar begini’. Mereka tidak mau jawab saya. Mereka terus pukul dan tendang saya,” tutur Yosef.

Polisi dan beberapa tentara itu terus menganiaya dan mendorong tubuhnya ke jalan raya hingga ia jatuh dan kain sarung songke yang dikenakannya terlepas. 

Saat mengambil sarung dan membetulkannya, ia menoleh ke belakang. Ia melihat anaknya menangis sambil angkat tangan untuk memohon pada tentara dan polisi agar tidak melanjutkan penganiayaan.

"Hati saya hancur. Di depan anak perempuan saya, saya diperlakukan secara tidak manusiawi. Saya bilang, ‘Pak silahkan tembak saja saya sampai mati’ mereka tambah emosi lalu menyeret saya,” ujarnya. 

Selanjutnya, tutur Yosef, ia digiring menuju rumah Kades Golo Poleng Siprianus Mansur. 

Saat itu, banyak warga kampung menyaksikannya, namun tidak seorang pun berani menghentikan tindakan tentara dan polisi tersebut. 

Dalam perjalanan, tubuh Yosef didorong-dorong menggunakan sepeda motor.

Bahkan seorang tentara sempat melakukan atraksi standing motor hingga roda depannya menabrak punggung Yosef. 

Saat itu, Yosef tersungkur hingga tak mampu lagi berdiri melanjutkan perjalanan. 

Mereka memaksa Yosef untuk bangun dan melanjutkan perjalanan menuju rumah kades. 

Namun, melihat Yosef yang tidak mampu lagi berjalan, mereka akhirnya mengangkat tubuhnya lalu mengangkutnya dengan sepeda motor. 

Di rumah kades, Siprianus bersama seluruh stafnya sudah menunggu. Ia dipersilahkan duduk di kursi.

Setelah polisi dan tentara masuk rumah, Siprianus mengunci pintu rumahnya. 

Kemudian penganiayaan dilanjutkan. 

Sekujur tubuhnya dihujani pukulan dan tendangan. 

Kades bersama staf dan keluarganya hanya menonton, sambil sesekali tertawa ketika menyaksikan Yosef jatuh dari tempat duduknya ke lantai.

"Entah berapa kali saya dipukul dan ditendang, kemudian saya jatuh lagi ke lantai dan tidak sadarkan diri. Setelah lama pingsan, saya perlahan sadar. Saat itu pandangan saya mengarah ke jendela. Dari balik kaca jendela, saya melihat anak laki-laki saya melihat saya sambil menangis. Hati saya hancur. Saya ingin mati saja. Saya terpukul karena anak saya menyaksikan saya diperlakukan seperti penjahat,” kenang Yosef sambil menangis. 

Setelah sadar, ia dipaksa makan. Meski Yosef menolak untuk makan, kades Siprianus terus memaksa dengan mencedok makanan yang banyak ke atas piringnya.

Lantaran terus menolak, Yosef disuruh berdiri lalu dipukul oleh tentara dan polisi. Mereka baru menghentikan penganiayaan ketika istri Yosef, Fransiska Sanur (37), tiba. 

Fransiska yang sejak pagi menjaga kios yang terletak di desa tetangga, awalnya tidak mengetahui peristiwa itu. Ia baru mengetahuinya ketika didatangi anaknya. 

Saat pulang, ia mendapati suaminya tengah dianiaya di rumah kades.

"Dari halaman rumah kepala desa saya teriak, ‘Kenapa kalian pukul suami saya?’ Mereka tipu saya dan bilang, ‘Kami tidak pukul suami ibu’ tapi saya terus teriak, ‘Kalau tidak pukul, kenapa dia berdarah-darah seperti ini?’ Mereka tidak mau hiraukan saya lagi,” tutur Fransiska.

Menjelang malam, tentara dan polisi membawa Yosef dan istrinya ke Polsek Golo Welu menggunakan sepeda motor. 

Dalam perjalanan, Yosef sempat minta berhenti muntah. Setiba di Polsek Golo Welu, banyak tentara sudah menunggu.

Mereka menyambut Yosef yang terus meringis kesakitan dengan makian dan bentakan. 

Mereka juga membentak istri Yosef yang berusaha menghubungi keluarganya. 

Di Polsek itu, Yosef mengaku tidak diinterogasi oleh polisi. Malam itu hanya ada dua orang polisi, selebihnya ada banyak tentara yang mengelilinginya. 

Seorang tentara yang mengaku diri sebagai Babinsa mengajak Yosef untuk berdamai dengan Vendi, pemuda mabuk yang berkelahi dengannya. 

Babinsa tersebut meminta uang Rp6 juta sebagai syarat untuk perdamaian. 

Melihat Yosef gemetaran dan berteriak menahan sakit dan dingin, mereka membawanya ke Puskesmas Golo Welu. 

Namun di ruang rawat, Yosef masih dikerumuni tentara yang terus mengintimidasi Yosef. 

Hal itu membuat dokter Puskesmas marah sehingga para tentara itu pergi. 

Malam itu, Yosef ingin istirahat saja di Puskesmas. Namun pihak Puskesmas menolak sehingga ia dikembalikan ke Polsek. 

Ia bersama istrinya sempat istirahat di dalam sel tahanan sebelum seorang polisi mengizinkan untuk menginap di rumah keluarga yang letaknya tak jauh dari kantor Polsek.

 Polisi lamban Anehnya, keesokan harinya, Yosef tidak diperiksa polisi. Keluarganya datang bersama pengacara pun membuat laporan di Polsek Kuwus atas penganiayaan yang dialaminya. 

Pihak-pihak yang dilaporkan adalah Kades Golo Poleng Siprianus Mansur, seorang polisi, dan lima tentara. 

Selain itu, ia bersama pengacaranya juga melaporkan anggota polisi ke Propam Polres Manggarai Barat dan anggota TNI ke Kodim 1612/Manggarai. 

Namun respon institusi kepolisian terkesan lamban dan berupaya melindungi anak buah mereka. Pelapor baru sekali diperiksa di Polsek Kuwus, yakni pada tanggal 1 Maret 2021. 

Selanjutnya, ia tidak pernah mendapat kabar terkait perkembangan penanganan kasus tersebut. 

Sementara dari pihak Kodim 1612/Manggarai mengirim utusan yang dipimpin Pasi Intel. 

Pihak Kodim 1612/Manggarai menyampaikan permohonan maaf dan meminta agar persoalan tersebut diselesaikan secara adat Manggarai.

"Sedangkan dari pihak kepala desa dan polisi itu, sampai detik ini tidak pernah berkomunikasi dengan saya. Mungkin untuk memaafkan atau berdamai itu mudah. Tetapi tindakan mereka harus diproses secara hukum agar ada efek jera dan tidak ada lagi Yosef-Yosef lain yang jadi korban kejahatan aparat di kemudian hari,” tegasnya. 

Ketua PMKRI Cabang Ruteng Hendrikus Mandela menyayangkan peristiwa itu. Ia mengatakan penganiayaan yang dilakukan oleh aparat terhadap warga sipil seharusnya tidak boleh terjadi. 

Jika korban melakukan kesalahan, mestinya kepala desa atau polisi menjalankan tugasnya secara profesional. Karena itu, pihaknya akan mengawal kasus tersebut hingga tuntas. 

"Tindakan kekerasan aparat dan kelalaian kepala desa dalam menangani persoalan ini tidak bisa dibiarkan. Mereka harus bertanggungjawab atas peristiwa ini. Polisi harus profesional menegakkan hukum meskipun anggotanya termasuk dalam pelaku penganiayaan," tegas Hendrikus. 

Upaya Damai 

Sementara itu, Dandim 1612/Manggarai Letkol Kav Ivan Alfa melalui Pasi Intel Letu Inf Valentinus Lanar mengakui adanya keterlibatan tiga anggotanya dalam peristiwa itu. 

Pihak Kodim sudah menindak tiga anggota tersebut serta pimpinan mereka. 

"Komandan kami komit, kalau salah masukkan di sel. Dan mereka (keluarga korban) saksikan sendiri. Bahkan pimpinan mereka yang tidak ikut serta juga dihukum. Tindakan ini diambil supaya menimbulkan efek jera. Supaya anggota kami yang lain tidak boleh melakukan hal serupa," ujar Valentinus, Sabtu (13/3).

Ia membantah pengakuan korban bahwa tentara meninju dan menendang korban hingga melakukan standing sepeda motor hingga membuat korban terjatuh.

"Yang jemput dia itu tiga orang Babinsa dan seorang polisi berpakaian preman. Polisi itu yang tonjok dia sampai luka. Sedangkan anggota kami hanya tempeleng. Tampar. Kalau pakai tinju, kami ini kan terlatih. Minimal masuk rumah sakit. Yang standing motor juga tidak benar. Kami sudah interogasi anggota," ujarnya. 

Namun apa pun yang dilakukan anggotanya, pihak Kodim tetap mengakui sebagai kesalahan.

Atas kesalahan itu, selain menindak anggota, pihak Kodim juga mendatangi keluarga korban untuk memohon maaf dan meminta persoalan diselesaikan secara adat Manggarai.

"Upaya penyelesaian secara adat Manggarai dimaksudkan demi normalisasi hubungan antara anggota kami yang bertugas di tengah masyarakat," ujarnya.

Sementara itu, pihak kepala desa dan oknum polisi belum pernah mendekati korban, meskipun hanya untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf.

Kapolsek Kuwus IPDA Matheos yang dihubungi melalui aplikasi pesan WhatsApp, Sabtu (13/3) pagi, mengatakan pihaknya sudah melimpahkan berkas perkara yang dilaporkan korban ke Polres Manggarai Barat.

 Ia juga mengaku oknum polisi yang menganiaya korban belum dihukum.

"Untuk kasus penganiayaan yang dilaporkan saudara Yosep, kami limpahkan ke Polres, penanganannya di Polres," tulis Matheos.

Sementara Kapolres Manggarai Barat AKBP Bambang Hari Wibowo yang juga dihubungi melalui aplikasi pesan WhatsApp, belum memberikan penjelasan.

Sumber: Media Indonesia

1 komentar untuk "Kronologi Tentara dan Polisi Aniaya Warga di Manggarai Barat"