Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Main Kasar, Moeldoko Rebut Kursi AHY

Moeldoko dan AHY.

Tanpa tedeng laing-aling, Moeldoko merebut kursi kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Pengambilalihan Ketum Demokrat dilakukan melalui Kongres Luar Biasa (KLB) yang dilaksanakan di Deli Serdang, Sumatra Utara, Jumat (5/3).

KLB tersebut digelar oleh kubu yang kontra dengan AHY.

Dalam KLB itu, Moeldoko terpilih berdasarkan hasil voting cepat, hanya sekitar 30 menit berjalan.

Ada satu calon lain yang diusulkan, yakni Marzuki Alie, tapi ia memutuskan mundur sebelum KLB.

KLB menunjuk mantan Sekjen Demokrat itu sebagai Ketua Dewan Pembina.

Selain itu, KLB juga memutuskan mencabut jabatan Ketua Majelis Tinggi Partai yang kini diemban Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 

Moeldoko tidak berada di lokasi kongres. Ia menyampaikan kesediaan menerima mandat dari KLB itu melalui sambungan telepon.

"Saya menghargai dan menghormati keputusan saudara. Oke, kita terima menjadi ketua umum," kata Moeldoko kepada Kompas.com.

Mantan Panglima TNI itu juga menyampaikan terima kasih kepada para kader yang mempercayakannya sebagai Ketum Demokrat.

Namun ia meminta kader Partai Demokrat berkomitmen untuk bekerja dengan penuh integritas.

Sementara itu, Marzuki Alie menyatakan siap bekerja sama untuk memenangkan Demokrat pada Pemilu 2024.

"Saya dan Pak Moeldoko akan bergandeng tangan untuk memenangkan PD 2024, termasuk memenangkan pilpres," sebut Marzuki. 

Namun, AHY menegaskan bahwa KLB yang digelar di Deli Serdang tidak sah, ilegal, dan inkonstitusional. 

Sebab, kongres tidak berdasarkan AD/ART partai yang telah disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM. 

Berdasarkan AD/ART, KLB baru dapat diselenggarakan apabila disetujui, didukung, dan dihadiri oleh dua pertiga dari jumlah DPD dan setengah dari jumlah Dewan Pimpinan Cabang (DPC). 

Tak hanya itu, penyelenggaraan KLB juga mesti disetujui oleh Ketua Majelis Tinggi Partai, dalam hal ini, SBY.

"Ketiga pasal ataupun klausul tersebut tidak dipenuhi. Sama sekali tidak dipenuhi oleh para peserta KLB ilegal tersebut," kata AHY. 

AHY menegaskan, tidak ada dualisme kepemimpinan dan kepengurusan Partai Demokrat.

"Saya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) adalah Ketua Umum Partai Demokrat yang sah dan legitimate," ucapnya. 

AHY pun menyinggung sikap Moeldoko yang akhirnya bersedia menjadi Ketua Umum Partai Demokrat versi KLB.

Sebab, Moeldoko selalu menepis tudingan terlibat dalam upaya kudeta atau pengambilalihan kepemimpinan di Partai Demokrat. 

"Bagi kami, sikap dan perilaku tersebut bukanlah sikap dan perilaku kesatria yang bisa dijadikan contoh," kata dia.

Sementara itu, SBY merasa malu dan bersalah karena pernah memercayai jabatan kepada Moeldoko. 

Moeldoko pernah menjabat sebagai Kepala Staf TNI AD (KSAD) pada era kepemimpinan Presiden SBY. 

Moeldoko kemudian diusulkan SBY sebagai calon panglima TNI ke DPR menggantikan Agus Suhartono.

"Rasa malu dan rasa bersalah saya, yang dulu beberapa kali memberikan kepercayaan dan jabatan kepadanya. Saya memohon ampun ke hadirat Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, atas kesalahan saya itu," ujar SBY.

SBY menilai tindakan Moeldoko jauh dari sikap kesatria. Bahkan, tindakan itu membuat malu para prajurit atau perwira yang pernah bertugas di bawah kepemimpinan Moeldoko. 

"Sebuah perebutan kepemimpinan yang tidak terpuji jauh dari sikap kesatria dan nilai-nilai moral. Dan hanya mendatangkan rasa malu, bagi perwira dan prajurit yang pernah bertugas di jajaran TNI," ujar SBY.

SBY pun meminta AHY dan semua kader Partai Demokrat bersabar dan berikhtiar untuk mencari keadilan. 

Ia juga percaya bahwa Presiden Joko Widodo dan pemerintah akan bijak dalam menyikapi gerakan perebutan kekuasaan yang terjadi di partainya.

"Saya tetap percaya bahwa Bapak Presiden Jokowi memiliki integritas dan kearifan dalam menyikapi gerakan pendongkelan dan perebutan kepemimpinan Partai Demokrat yang sah ini," ucap SBY.

Sumber: Kompas.com

Posting Komentar untuk "Main Kasar, Moeldoko Rebut Kursi AHY"