Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Paus Fransiskus Satukan Anak-anak Abraham di Irak yang Tercerai-berai

Paus Fransiskus ditemani Presiden Region Otonomi Kurdistan Nechirvan Barzani (kanan) menyapa massa yang berpakaian tradisional saat tiba di Bandara Erbil pada 7 Maret 2021/AFP.

Paus Fransiskus melakukan kunjungan bersejarah ke Irak, negara pusat konflik terbesar abad ini.

Ini merupakan kunjungan kedua Paus Fransiskus ke jantung Islam, setelah pertama dilakukan pada tahun 2019 ke Uni Emirat Arab.

Selama empat hari, sejak 5-8 Maret 2021, pemimpin tertinggi Gereja Katolik dunia itu bersilahturahmi ke Irak.

Kunjungan Bapa Paus ini merupakan yang paling ikonik dalam sejarah.

Pasalnya, Irak adalah episentrum pertarungan politik dan ekonomi Barat vs Timur Tengah (Islam) di dunia.

Di negara ini, kedua sumbu beradu kuat memperebutkan sumber daya ekonomi yang tidak ada bandingnya.

Namun yang paling epik dalam agenda internasional Paus Fransiskus ini adalah ikhtiarnya untuk menyatukan anak-anak Abraham yang tercera-berai selama perang dan kekerasan di Irak.

Dimulai dengan invansi AS pada awal tahun 2000-an sampai dengan aksi teror ISIS yang berpusat di Mosul, tanah asal Abraham itu bersimbah darah dan tangis, seperti bayi di Rama.

Irak, yang disebut dengan banyak nama dalam Kitab Suci Kristen, seperti Babilonia, Kasdim, Tanah Sinear, dan Mesopotamia, adalah tanah terjanji, dengan dua sungai besar mengapiti negara itu: Efrat dan Tigris.

Dalam Kitab Suci, kedua sungai ini persis merupakan nama sungai yang mengairi Taman Eden, tempat asal manusia pertama diciptakan.

Selain nama Israel, Irak adalah nama terbanyak kedua yang paling disebutkan dalam Kitab Suci.

Hampir semua kejadian besar para nabi besar dalam Kitab Suci, terjadi di Irak.

Mulai dari Abraham, Yakub, Daniel, Yunus, Amos, Ribka, Nabi Nuh, Yehezkiel, Orang majus dari Timur, Petru, Ester, dan beberapa persitiwa besar lainnya ada di tanah ini.

Yang tidak kalah penting adalah bahwa kekasairan terbesar pada masa awal dunia ada di Irak, yaitu kekasairan Mesopotamia atau Babilonia.

Sebut saja raja Nebukadnezar, adalah raja terkuat dalam sejarah, yang menawan bangsa Israel ke Irak.

Kehadiran Paus Fransiskus menjadi seruan universal untuk menghidupkan kembali perdamaian yang telah hilang selama puluhan tahun di Irak.

Dengan kunjungan Paus asal Argentina ini, terhembus harapan bahwa Irak akan menjadi kekuatan baru dunia dalam menyerukan perdamaian.

Masih ada harapan bahwa di antara konflik berkepanjangan di Irak, negara ini masih memiliki komunitas Kristen terkuat yang bisa bertahan di tengah gempuran perang dan terorisme.

Ini membuktikan bahwa Irak adalah negara yang kuat (sesuai arti nama "Irak") dengan komunitas agama yang tua dan sangat fanatik.

Jika Menara Babel di Babilonia runtuh karena keangkuhan atau kesombongan manusia, dari Irak modern, Paus Fransiskus mendambakan keutuhan dan perdamaian kembali sebelum ia menyelesaikan masa kepausannya.

Karena, kunjungan ini termasuk yang paling berani di tengah konflik yang belum sepenuhnya padam di Irak.

Pada Jumat (5/3), sekelompok otoritas agama, pemerintah, dan warga Irak menyambut kedatangan Paus Fransiskus di Baghdad.

Delegasi penyambutan termasuk Nuncio Apostolik untuk Irak, Uskup Agung Mitja Leskovar, serta perwakilan dari Archeparki Khaldea di Baghdad, Keuskupan Agung Latin di Baghdad, Archeparki Suriah di Baghdad.

Archeparki Armenia di Baghdad serta Perdana Menteri Irak, Mustafa Abdellatif Mshatat, Presiden Republik bersama istrinya juga menyambut Sri Paus, dikutip dari Vatican News, Jumat.

Di Irak, Paus Fransiskus memiliki jadwal padat, antara lain diisi dengan Misa, pertemuan dengan komunitas Kristen dan dengan perwakilan Gereja Katolik di Irak, serta pertemuan untuk mendorong dialog lintas agama.

Selama kunjungan kehormatan, dia bertemu secara pribadi dengan Presiden Barham Ahmed Salih Qassim.

Setelah kunjungan kehormatan Paus bersama Presiden Irak dan rombongannya, Paus Fransiskus bertemu dengan otoritas politik, sipil dan agama, korps diplomatik, dunia bisnis, dan perwakilan lembaga budaya.

Menurut laporan Reuters, Irak mengerahkan ribuan personel keamanan tambahan untuk melindungi Paus berusia 84 tahun itu selama kunjungan, yang terjadi setelah serentetan serangan roket dan bom bunuh diri menimbulkan kekhawatiran akan keselamatannya.

Paus juga akan mengunjungi Ur, tempat kelahiran Nabi Abraham, yang dihormati oleh umat Kristen, Muslim dan Yahudi.

Ia juga bertemu dengan ulama Muslim Syiah Irak yang dihormati, Ayatollah Ali al-Sistani yang berusia 90 tahun.

Pertemuan dengan Sistani, yang memiliki pengaruh besar atas mayoritas Syiah Irak dan dalam politik negara itu, akan menjadi yang pertama yang dilakukan oleh seorang Paus.

Beberapa kelompok militan Syiah telah menentang kunjungan Paus Fransiskus, menyebutnya sebagai campur tangan Barat dalam urusan Irak, tetapi banyak warga Irak berharap hal kunjungan Paus dapat membantu menciptakan kesan baru tentang Irak.

Berikut lima tempat utama yang  dikunjungi Paus Fransiskus.

1. Katedral Baghdad

Pada hari pertama kunjungannya di Baghdad, Paus Fransiskus akan mengunjungi Gereja Katedral Katolik Suriah "Bunda Maria Keselamatan" di distrik komersial utama Karrada.

Pada tanggal 31 Oktober 2010, militan Islam menyerbu gereja tersebut dan membunuh 44 orang umat, 2 orang imam dan tujuh orang aparat pasukan keamanan dalam salah satu serangan paling mematikan dalam komunitas Kristiani Irak yang semakin merosot tersebut.

Sekarang, jendela kaca patri di gereja itu bertuliskan nama para korban dan pesan menentang di atas altar yang berbunyi, "Di mana kemenanganmu, oh maut?".

Namun umat telah menyusut dan dinding ledakan beton mengelilingi gereja, membuat akses menjadi sulit.

Pada hari-hari menjelang kedatangan Paus Fransiskus, seorang seniman Irak melukis gambar Paus Fransiskus di dinding beton itu, di samping bendera Irak dan burung merpati yang melambangkan perdamaian.

2. Kota Najaf

Sebagai bagian pendekatannya kepada kaum Muslim, Paus Fransiskus akan mengunjungi Najaf, kota berusia 1.230 tahun yang merupakan ibu kota rohani sebagian besar kaum Syiah di seluruh dunia.

Di sana tempat suci berdiri megah - dengan berkubah emas dan jalinan lantai di dalamnya -- adalah tempat pemakaman Ali, menantu Nabi Muhamad, yang sangat dihormati dalam Islam Syiah.

Kota tersebut lama berada di bawah kekuasaan Ottoman, tetapi selama Perang Dunia I Inggris mengambil kendali dan bertahan meskipun ada pemberontakan dari para ulama setempat.

Mantan Presiden Irak Saddam Hussein melarang peziarahan ke kota suci tersebut, tetapi kota itu menggeliat kembali setelah ia digulingkan dalam invasi pimpinan Amerika Serikat tahun 2003.

Di Najaf, Paus Fransiskus akan bertemu dengan Ayatollah Agung Ali Sistani, pemimpin tertinggi bagi sebagian besar Muslim Syiah.

Ulama berusia 90 tahun itu tidak pernah terlihat di depan umum dan jarang memberikan akses kepada pengunjung, menjadikan pertemuan itu salah satu bagian paling luar biasa dari perjalanan kepausan.

Keduanya akan bertemu di rumah satu lantai milik Sistani yang sederhana, dengan sebagian besar wartawan dilarang menghadiri acara duduk tersebut.

3. Gurun Ur

Paus Fransiskus juga melakukan perjalanan ke gurun Ur, yang didirikan pada 4.000 tahun sebelum Masehi, dan menjadi kota besar di Kerajaan Sumeria-Akkadia kuno.

Ciri khas utamanya adalah zigguratnya, bangunan seperti piramida terhuyung-huyung yang digali antara dua perang dunia.

Ur, yang berarti "kota" dalam bahasa Sumeria, diyakini sebagai tempat kelahiran Abraham - bapa Yudaisme, Kristen, dan Islam - pada 2.000 tahun sebelum Masehi.

Paus Fransiskus akan mengadakan ibadat lintasagama di sana dengan beberapa minoritas terkecil Irak, termasuk kaum Yazidi dan kaum Sabean pra-Islam.

4. Kota Mosul dan Qaraqosh

Provinsi utara Niniwe adalah jantung komunitas Kristen Irak dan ibukotanya, Mosul, adalah tempat ISIS memilih untuk mengumumkan pembentukan "kekhalifahan" pada tahun 2014.

Di kota Mosul, Paus Fransiskus mengunjungi Gereja Al-Tahera di barat kota, yang dihancurkan oleh ISIS dan pertempuran yang akhirnya memaksa kaum jihad tersebut meninggalkan kota.

Ribuan Kristiani mengungsi dari Mosul buntut pendudukan ISIS, yang menyiksa, membunuh, atau memaksakan pajak.

Kota itu lalu terbebas pada 2017, setelah perang selama tiga tahun membunuh 9.000-11.000 orang.

Saat datang ke Mosul, Sri Paus berhenti di depan reruntuhan katedral maupun rumah, dan mengheningkan cipta. 

Dia kemudian memimpin doa di lapangan gereja, yang kini menjadi puing-puing saat ISIS menguasai daerah itu pada 2014.

Kepada massa di Mosul, Paus menyampaikan keprihatinan karena Irak yang menjadi salah satu tempat lahirnya peradaban terkena hantaman yang tak berperikemanusiaan.

"Tempat ibadah kuno dihancurkan dan ribuan orang, Kristen, Muslim, Yazidi, secara paksa dibunuh atau mengungsi," ujar Paus Fransiskus.

"Hari ini, bagaimana pun, kita harus menekankan keyakinan persaudaraan lebih penting dari perpecahan, harapan lebih kuat dari kebencian, damai lebih indah dari perang," tambah Sri Paus.

Paus Fransiskus berujar, harapan tidak bisa dihancurkan oleh pertumpahan darah, yang menggunakan nama Tuhan untuk mencari kehancuran.

Dalam doanya, Paus menekankan bahwa membunuh sesama dilarang. 

"Jika Tuhan adalah Tuhan yang mencintai, dan memang Dialah itu, tentunya salah jika kita membenci saudara kita," tegasnya.

Dilansir Sky News Minggu (7/3), di akhir doanya Paus mempercayakan semua orang yang tewas karena konflik ke pangkuan Tuhan.

"Semoga mereka bertobat, tersentuh oleh kekuatan belas kasihan dari Dikau," ujar Paus bernama lengkap Jose Mario Bergoglio.

Ia kemudian melepaskan seekor merpati putih sebagai lambang perdamaian.

Sekitar 30 kilometer (20 mil) ke selatan terletak kota Qaraqosh, juga dikenal sebagai Bakhdida dan Hamdaniya, yang memiliki sejarah pra-Kristen yang panjang tetapi penduduknya saat ini berbicara dengan dialek Aram masa kini, bahasa Yesus Kristus.

Qaraqosh sebagian besar dihancurkan oleh ISIS dan situasi keamanan tetap menegangkan, dengan kelompok bersenjata yang disponsori negara dikerahkan dalam jumlah besar di dataran sekitarnya.

5. Kota Erbil

Salah satu perhentian terakhir Paus Fransiskus adalah misa terbuka di kota Erbil, ibu kota wilayah Kurdi Irak.

Ketika ISIS menyerbu utara Irak, ratusan ribu orang Kristen serta Muslim dan Yazidi mencari perlindungan di wilayah Kurdi Irak, yang telah menampung minoritas pengungsi dari putaran pertikaian sebelumnya di Irak.

Ada jejak pemukiman manusia di Erbil sejak 5.000 tahun sebelum Masehi. 

Erbil kemudian menjadi pusat kota utama dan mempertahankan status itu selama periode Asiria.

Benteng Arbil, sebuah kompleks puncak perbukitan yang luas yang menghadap ke pasar kota, dimasukkan ke dalam daftar Situs Peninggalan Dunia oleh UNESCO pada tahun 2014.

Pada hari terakhirnya, Paus Fransiskus menggelar misa terakhir di Erbil, sebelum dijadwalkan kembali ke Vatikan.

Kepada ribuan umat yang memadati Stadion Franso Hariri di Erbil, Paus berkata dia akan selalu mengenang Irak dan kesejarahannya.

"Irak akan selalu saya kenang, di hati ini," kata Paus diakhiri dengan ucapan salam, salam, salam (artinya damai).*

*Dari berbagai sumber

Posting Komentar untuk " Paus Fransiskus Satukan Anak-anak Abraham di Irak yang Tercerai-berai"