Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Balas Dendam Alasan Gereja Jadi Sasaran Aksi Teror

 

Katedral Larantuka.

Gereja-gereja di Indonesia selalu menjadi sasaran aksi teror jaringan terorisme tanah air.

Sudah ada banyak peristiwa serangan yang menyasar gereja dan memakan korban di antara jemaat.

Salah satu serangan teror paling besar terhadap gereja terjadi pada tahun 2018 di Surabaya.

Meski tidak sampai menerjang bagian dalam gereja, tetapi jemaat dan fasilitas yang berada di luar gereja menjadi korban/sasaran serangan bom bunu diri yang melibatkan sebuah keluarga teroris di Surabaya.

Terakhir, sepasang suami-istri menyerang gereja katedral Makassar dalam sebuah bom bunuh diri pula.


Ali Imron, mantan terpidana teroris akhirnya buka suara, setelah korban berjatuhan tiap kali gereja diserang.

Menurut pelaku bom Bali 2002, salah satu dorongan penyerangan terhadap gereja adalah karena motivasi balas dendam, bukan karena umat Kristiani dicap sebagai kafir.

Hal itu diungkapkan Ali tatkala menjadi pembicara dalam acara Kabar Petang di TVOne, 29 Maret lalu.

Ali mengaku bahwa ia juga pernah melakukan serangan ke gereja-gereja dengan motif menyebarkan teror.

"Kami mengebom gereja itu ada tujuannya," ungkap Ali Imron.

Menurut Ali, motif itu terkait rencana Hambali alias Riduan Islamuddin yang saat ini ditahan di penjara Guantanamo, Kuba.

Hambali, salah satu pelaku Bom Bali, disebutkan memiliki motif tersendiri untuk menyerang gereja-gereja.

Meski Hambali sudah berada di penjara, tapi ideologi perjuangan itu diteruskan oleh pengikutnya.

Latar perjuangan itu adalah kasus Ambon dan Poso. Dalam kedua kasus itu, terjadi pertikaian yang tak berujung antara kaum Kristen dan Islam dalam memperebutkan pengaruh di teritori masing-masing.

Ketika peristiwa Ambon dan Poso meledak, tidak sedikit orang-orang muda Islam direkrut untuk melakukan jihad memperjuangan agama Islam.

Merasa dikalahkan dalam kasus-kasus itu, jihadis-jihadis pun melakukan serangan bom bunuh ke gereja-gereja sebagai bentuk teror.


Sementara itu, Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones menyebut, setidaknya ada tiga alasan yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. 

Pertama, kecenderungan penyerangan gereja terjadi sejak konflik agama di Ambon dan Poso. 

Jones mengungkapkan, dari konflik yang banyak memakan korban di kedua belah pihak, kelompok teroris memandang gereja adalah media untuk membalas dendam.

Kedua, ada banyak kasus di mana ada usaha membom gereja, pelaku melihat gereja sebagai tempat kristenisasi melawan Islam atau yang ingin melawan Islam.

Adapun alasan ketiga adalah eksistensi kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). 

Kelompok ini menyamakan gereja dengan kekuatan Barat di Timur Tengah. Akibatnya, gereja menjadi sasaran aksi teror mereka.

"Jadi disamakan dengan Barat. Faktor-faktor ini saya kira bisa terlihat kenapa gereja terus-menerus jadi target," ungkap Jones.*

Posting Komentar untuk "Balas Dendam Alasan Gereja Jadi Sasaran Aksi Teror"