Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bencana Siklon Tropis Pertama di Indonesia, 138 Warga NTT Meninggal

Kerusakan akibat bencana siklon tropis di NTT.


Masyarakat provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami mimpi buruk pada Paskah tahun ini. Seolah kejadian ini menjadi ujian dari Tuhan.

Persis di Hari Paskah, badai siklon tropis Seroja melanda wilayah kepulauan ini tanpa ampun. Hujan lebat disertai angin kencang melanda hampir seluruh wilayah Flobamora.

Hari itu, sekitar pukul 01.00 WITA. Segenap warga sedang berada pada puncak kepulasannya. Semua terlelap, seperti ketika tidak ada orang yang melihat kelahiran Yesus di kandang Betlehem, 20 abad silam.

Hujan lebat mengguyur wilayah Adonara di Flores Timur, Lembata, Alor, Pulau Timor, dan Sumba. Di Pulau Flores, hujan guyur tapi belum disertai angin kencang di daerah lain di NTT.



Yang membuat tambah parah, hujan itu disertai angin kencang. Tak berdaya, semua karya tangan manusia hancur berantakan; rata tanah.

Rumah, jembatan, jalan, bangunan pemerintah, fasilitas publik, semuanya luluh-lantah. Rumput-rumput pun seakan bergoyang menyaksikan badai melanda provinsi mayoritas umat Kristiani di Indonesia ini.

BNPB melaporkan pada Rabu ini, sudah ada sekitar 138 orang meninggal dunia akibat bencana siklon tropis yang pertama kali melanda Indonesia itu.

"Total korban meninggal yang ditemukan jasadnya mencapai 138 orang," kata Doni Monardo, Kepala BNPB dalam konferensi pers virtual dari Alor, NTT, Rabu (7/4) malam.



Doni mengatakan, korban meninggal dunia berasal dari 9 kabupaten/kota di provinsi kepulauan itu.

Jumlah korban terbanyak berasal dari Kabupaten Flores Timur, yaitu sebanyak 67 orang. Kemudian disusul Lembata dengan 32 orang korban meninggal.

Di Alor, lokasi bencana yang dikunjunginya hari ini, terdapat 25 orang meninggal dunia.

Sementara itu, di Malaka ada 4 orang, di Kabupaten Kupang 5 orang dan 2 orang di Kabupaten Sabu Raijua. 

Di tiga kabupaten/kota lain, yaitu Kota Kupang, Ende dan Ngada, masing-masing tercatat 1 orang korban. 



Doni juga melaporkan bahwa jumlah korban yang hilang atau tidak berhasil ditemukan sebanyak 74 orang.

Sementara, ada sekitar 61 orang yang masih hilang akibat banjir bandang dan belum ditemukan hingga saat ini.

Di Lembata, korban hilang ada 35 orang. Kemudian di Alor ada 25 orang dan di Flores Timur 6 orang.

Dari komposisi ini, tampak bahwa meski Flotim memiliki jumlah korban meninggal terbanyak, tetapi hampir semua korban berhasil ditemukan. Itu berbeda dengan di Alor dan Lembata yang masih sulit ditemukan.



Sebelumnya, BNPB melaporkan bahwa ada 11 kabupaten/kota di NTT yang terdampak bencana siklon tropis Seroja.

Kesepuluhnya adalah Kota Kupang, Flores Timur, Malaka, Lembata, Alor, Ngada, Ende, Sumba Timur, Rote Ndao, Sabu Raijua, dan TTS.

Bencana terbesar ada di Adonara, Flores Timur, menyusul Lembata dan Alor. Di daerah lainnya, meski terjadi hujan lebat dan angin kencang, tapi tidak sedashyat di tiga daerah ini.

"Paling parah yang pertama adalah Adonara dan Lembata di mana ada sejumlah korban hilang masih belum ditemukan, termasuk juga di Kabupaten Alor," ujar Doni saat jumpa pers virtual, Selasa (6/4).*

Posting Komentar untuk "Bencana Siklon Tropis Pertama di Indonesia, 138 Warga NTT Meninggal"