Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dear Nona, Maaf Kaka Masuk Biara

Ilustrasi/Pixabay.


Kita tidak pernah tahu kapan cinta itu datang. Kita juga tidak pernah tahu kapan ia akan pergi meninggalkan kita. 

Namun satu hal yang pasti kita tahu adalah bahwa cinta itu seperti perangkap. Ketika kita terjebak di dalamnya, yang kita lihat hanyalah bintangnya. Sedangkan kegelapan sedang menunggu kita di suatu sudut waktu tidak tentu.

Di sana ia akan merenggut dan meninggalkan kita seperti hembusan angin sepoi-sepoi basa ketika senja hari di tepi pantai saat mentari lelah menyinari bumi dan ia beranjak untuk menguncupkan teriknya. Pelan tapi menyakitkan. 

***
Aku duduk di bawah sebuah pohon bakau yang rindang dan teduh tepat di pinggiran Pantai Bita Ende. Pantai di mana dulu kami pernah menaruh hati dan menggantungkan sejuta impian dan romantika; sekedar menebar pesona hati sebagai remaja.

Di sini kami juga telah bergulat tentang cinta yang bertaburkan bintang-bintang keindahan, seolah melepas beban masa lalu.

Sementara para nelayan dan pengunjung tempat wisata lokal ini mondar-mandir, hiruk-pikuk -- entah apa yang mereka cari. Tampak sepasang kekasih berusia remaja menggebuk ombak yang menimpa mereka sebelum terjatuh di bibir.

Teriakan penjual ikan dan suara permintaan penghuni stanplot berhamburan di antara dedaunan.

Aku sebatang kara. 

Sambil termenung di bawah mentari dan indahnya kemilauan aurora langit yang membentang luas menghadap samudera Pasifik di sore itu, aku menunggu seseorang yang telah kujanji akan bertemu pada kesempatan terakhir ini.

Kuharap waktu ini janganlah cepat berlalu. Biarlah ia lelah mengayunkan dan mendetakkan jarum-jarum dari satu titik ke titik berikutnya, karena dia yang kunantikan belum juga sua. 

Setengah jam telah berlalu, hatiku kini menyisakan ketegaran sebagai seorang penakluk yang kuat dalam tantangan. Ibarat petualang dan pendaki gunung Ebulobo, berani mengambil segala risiko yang dihadapi di tengah pendakian. 

Aku mencoba memeras otak untuk mencari kata-kata dan alasan yang sebisa mungkin diterimanya. Makin lama aku makin lemas, tenagaku bagaikan terisap oleh sebuah penantian yang membosankan. 

Tapi inilah absurditas cinta. Ia membutuhkan kesabaran sekaligus pengorbanan; pemberian-keikhlasan sekaligus pengkhianatan.

Aku bergegas mencoba mencarinya di antara kerumunan orang, di tengah hiruk-pikuk, canda-tawa dan sorak-gembira para pengunjung objek wisata bahari ini. 

Mungkin dia ada di sana, bersembunyi karena tidak kuat menanggung perpisahan ini.

Dia tidak ada di sana.

Aku lalu mencoba menanyai teman-temannya, sahabat-sahabatnya, yang kebetulan lewat, mungkin mereka tahu di mana dia sekarang.

Nihil. Usahaku sia-sia. 

Tapi kami kan telah berjanji akan bertemu. Sore ini saja. Tidak lebih.

Tiba-tiba terdengar olehku sebuah teriakan memanggil namaku dengan hangat. Teriakan itu sepertinya sering kudengar tiap hari.

"Hay, Kak!"

Tak lebih dari itu. Suaranya yang khas dan manis membuat aku tidak mungkin menyangka orang lain selain dia sendiri. 

Aku menoleh, memandang ke arah sumber teriakan itu. 

Itu dia. Winda, sandaran hatiku selama ini, kataku dalam hati.

Tampak ekspresi gembira pada raut mukanya dan sambil berlari dia mendapati aku yang sedang duduk.

Langsung saja dia memelukku. Dia bergembira karena bisa bertemu denganku. Dia tahu bahwa aku tidak pernah mengingkari janji. Selalu tepat waktu. Jika tidak, aku akan segera mengabarinya.

Tapi memang satu-satunya andalan untuk saling memberi kabar adalah lewat teman atau saudara. Zaman kami masih belum ada smartphone seperti generasi saat ini. Meski begitu, kami begitu menikmatinya.

Dalam hati aku berpikir, apakah dia tahu bahwa setelah ini dia akan menangis dan menanggung nyala kesedihan yang tak kunjung padam. 

Wajah polosnya menampakan cintanya yang tulus ikhlas kepadaku. Cintanya pun tak pernah terbagi. Terlalu bening untukku. Sudah tiga tahun kami pacaran.

Sementara berpelukan, aku berpikir dalam hatiku: 

"Apa yang akan kukatakan kepadanya dan apakah aku bisa menerima reaksinya setelah dia mengetahui semua skenario yang  kubuat ini?"

Aku hanya terpaksa untuk tersenyum menahan perihnya hatiku. Dia memeluk erat tubuhku, seakan tak mau lepas lagi.

Memang cinta kami telah terjalin sejak tiga tahun silam saat kami masuk di salah satu SMA di kota Ende. Dialah pijakan pertama cintaku yang kupendam bertahun-tahun. Kampung kami berdekatan.

Dia adalah gadis yang membuat aku kian terpesona dengan keindahan ciptaan dunia ini. Dia adalah sosok sempurna dari ciptaan Tuhan.

Aku selalu terpukau pada kepiawaiannya merespek obrolan dan ceramah-ceramahku.

Dia kian menggoda hatiku untuk tidak membagi belahan jiwa ini kepada mereka yang menghampiriku dan mencuri perhatian untuk dicintai atau yang mau singgah di hatiku. 

***

Aku sangat menyesal pada diriku sendiri karena tidak membicarakan hal ini kepadanya sebelumnya. 

Namun apa daya. Kini aku sudah berada di penghujung waktu. 

Selaput kebersamaan itu semakin menipis dan lembaran-lembaran diari cintaku akan kututupi dengan perasaan yang remuk.

Keputusanku kini sudah bulat dan pilihan yang kubuat ini tidak mungkin keliru lagi. Pikir aku.

Aku memang sengaja melakukan hal yang tersembunyi ini karena pikirku ini adalah hari terakhirku dan mulai esok kami akan berpisah. Aku memang egois, padahal cinta tak pernah egois. Cinta selalu berbagi.

Tapi ada daya. Aku akan pergi jauh ke negeri seberang meniti apa yang sudah menjadi pilihan hidupku.

Dan aku yakin dia pun pasti bisa membiarkan aku pergi walau sangat terpaksa dan mendadak.

Pelukannya seakan terasa hampa karena memang cintaku sudah diujung tanduk; tinggal menghitung menit saja bahkan detik dan semuanya akan berakhir. 

Aku benar-benar tidak bisa mencintai pujaan hatiku yang dulu pernah aku sandarkan kristal-kristal cinta yang indah-gemilang. 

Tak sedikit pun noda dalam kisah cinta kami yang dianggap sangat misterius oleh sahabat-sahabatku di sekolah.

Alasannya jelas, bahwa aku terlalu idealis untuk mendapatkan keping-keping cinta dari gadis jelita itu. 

Sementara aku hanyalah laki-laki biasa yang sebenarnya sangat tidak layak untuk mampu meluluhkan pertahanan cinta sang idola dan bintang di sekolah kami.

***

Aku mencoba untuk meraih tangannya yang memegang erat dari pundakku. Dia pun mengiyakan isyaratku. 

Kupegang tangannya, lalu sejenak aku terdiam. 

Rasanya tenggorokanku kering dan kata-kata seakan-akan tertahan.

Dengan parau dan terbata-bata aku berusaha untuk mengungkapkan apa yang bergeliat di dalam hatiku. 

Dadaku sesak seakan diserang asma bronchitis yang akut. 

Badanku rasanya sedingin es musim salju di daerah kutub. 

Aku gelisah apa kata hendak diucap. 
Sambil meremas-remas jemariku yang kaku dan lemas, dia pun berani untuk bertanya padaku: 

"Kak, apa yang sedang kak pikirkan saat ini? Kakak, kok kelihatannya beda sekali. Aura wajahmu kok kelihatannya murung, terpaku penuh dengan kesedihan. Apa masalahnya kak? Tolong ceritakan padaku!"

Begitulah dia banyak bertanya padaku dan untuk saat itu aku tidak mampu menjawabnya. 

Aku kikuk. Tapi sebagai orang yang tidak mau melihat pujaan hatinya terhanyut dalam derita, aku mencoba menarik tangannya lebih dekat ke hadapanku dan kami berpapasan.

Sambil menatap dalam-dalam wajahnya yang cantik dan imut, apalagi kulitnya yang kuning  langsat, lembut, dan halus membuat aku hanya terpaku dalam alunan debaran jantung dan getaran jiwaku yang semakin kencang. 

Adrenalinku semakin menjadi-jadi. Dari wajahnya terpancar sinar cinta sejati. Berkas cinta yang murni dan tulus seperti mutiara putih yang memancar indah ditengarai cahaya.

"Win...da!" 

Sapaku memecah kesunyian yang terjadi hampir beberapa menit. 

Aku hanya berusaha untuk tidak melepaskan pegangannya. 

"Ya, kak," sahutnya. 

"Maafkan aku. Aku merasa sangat bersalah karena aku telah menyembunyikan semua perasaan hatiku selama ini. Aku  tidak jujur dan terbuka terhadapmu tentang satu hal ini. Tapi aku  harap ini semua tidak mungkin akan berakhir di sini. Selama hidupku aku akan tetap mencintaimu. Tetapi...

"Tetapi apa, kak?" desaknya. 

Seakan-akan ini merupakan rahasia terbesar yang pernah aku sembunyikan dari padanya. 

Ingin sekali dia mengetahui secara pasti lagi mendalam apa yang sedang terjadi dengan diriku. 

Dia mulai cemas.

"Aku telah memilih bagian yang terbaik dalam hidupku. Maafkan aku karena  aku harus berpaling kepada orang lain. Aku terpaksa  memutuskan ini karena  ini demi hidupku," kataku parau.

"Kak, apa yang kamu cari. Cinta kita adalah hidup dan itu tidak akan pernah mati. Kita sudah memilih untuk saling mencintai dan memiliki selama hayat dikandung badan. Apakah kak mau mencari orang yang lebih baik daripada aku sekarang ini? Kak ini jahat. Kak telah mengkhianati cinta kita selama ini," berontaknya sambil terus memukul-mukul dadaku dengan tangannya.

Ia meronta-ronta. Seakan-akan terjatuh dalam jurang yang paling dalam. Memang, jurang itu telah menjeratnya hingga tidak dapat kembali dari penderitaan sukma yang tak terperikan. 

Ia mengira bahwa cintaku selama ini hanyalah palsu dan hampa. 

Ataukah mungkin ia berpikir kalau aku telah bermain serong di belakang layar. Mungkin juga aku selingkuh? Tidak sayang eww…

Semua omelannya hanya bisa aku terima dengan tenang dan lapang. 
Ya, nasi telah menjadi bubur dan garam telah menjadi tawar. 

Aku terdiam membiarkan bongkahan es hatiku meleleh untuk mendinginkan suasana. 

Hatiku kini bagaikan pohon nyiur yang diterpa angin, mengayun-ayunkan batangnya ke sana-kemari sambil melambaikan dedaunan, tanda perpisahan akan segera tiba. 

Aku mencoba menenangkan dia dari kepanikan akan kenyataan yang tidak bisa diterimanya untuk saat itu. 

Ia mengelakkan badannya tanda penyesalan mendalam dari sebuah kehancuran perasaan cinta yang terjalin erat selama ini. 

Dengan sekuat tenaga aku berusaha memeluknya dan memintanya sedikit saja  mendengar penjelasan dariku walau aku pun tak bisa menahan deraian air mata yang sudah di ambang pintu mata. 

Air matanya bagaikan aliran dua sungai membanjiri kedua pipinya yang montok itu. 

Isak-tangisnya mereda dan aku berusaha mengusapnya dengan sapu tangan pemberiannya saat aku berulang tahun, tahun lalu. 

Sapu tangan yang kaya dengan kisah kasmaran.  Sementara ekspresi kepedihannya mendalam. 

Begitulah perasaan seorang wanita. Aku sangat memahaminya.

"Ya, sudahlah! Kuatkan hatimu dan teguhkan citamu bahwa tanpa aku pun kamu pasti juga akan bahagia,” tandasku mengiburnya agar kuat menghadapi kejamnya momen perpisahan itu.

Ia pun meraih tanganku, ingin mentapku dalam-dalam. Mungkin ini tatapannya terakhir. Lama tak pernah terpejamkan matanya. 

Akhirnya aku menjelaskan hal terpenting yang aku rahasiakan dari awal perjumpaan kami. 

"Sekarang aku telah memilih jalanku sendiri, tanpamu dan aku yakin bahwa pilihanku ini pasti membuatku bahagia. Maafkan aku karena aku jatuh cinta pada orang lain, yaitu Dia yang memberi kita cinta selama ini. 
Aku telah memilih Dia dan keputusanku sementara bulat. Izinkan aku untuk pergi kepada Dia, sumber segala cinta itu. 
Sebagaimana aku telah mencintai engkau demikian pula cintaku pada-Nya sebesar yang aku rasakan saat ada bersamamu. 

Cinta kita tidak akan lenyap selama Dia masih menghembusi kekuatan cinta kepada kita untuk hidup dan ada dalam waktu. Dari padamulah aku telah menemukan separuh dari moziak hidupku. 

Biarlah kepingan-kepingan dari lembaran lama kisah cinta kita terburai dalam alur waktu yang tak menentu ini. Dan aku rasa memiliki cinta adalah sebuah keegoisan. Karena tak selamanya harus dimiliki. Aku pergi darimu saat ini… karena Dia," kotbahku untuk meyakinkan dia agar kuat dan tegar dalam kepahitan hidup karena egoku sendiri. 

Dia pun hanya diam, terpaku. Aku tak tahu apakah itu tanda setuju.

Tak lama, aku mendaratkan kecupanku pada keningkanya. Kecupan terakhir di batas senja yang muram.

Dia pun pamit dan melangkah perlahan-lahan, sebentar menoleh ke arahku, tak tahan menerima kepedihan yang tak terobati. 

Aku tertegun ikut menanggung penderitaan batin yang dialaminya karena bagaimana pun aku harus kuat dan teguh dengan pilihan ini. 

Bayangannya mulai menghilang seiring dengan cepatnya sang waktu yang mulai beranjak dari siang. 

Hembusan angin pantai yang sejuk seolah-olah menghentakkan aku untuk menyuruh aku pulang. 

Biarlah perasaan ini tenggelam bersama gulungan dan derai ombak yang menghujam keras hingga membawa pergi setiap sisa kisah yang tertanam dalam kristal-kristal pasir kuning nan pekat ini.

Kini tirai kebersamaan itu hanya menyisakan jejak-jejak cinta dan jejak-jejak derita yang takkan habisnya.

Aku bergumam dalam hati.

Aku pun pulang ke asramaku yang letaknya tak jauh dari Pantai Bita dengan hati yang beku. 

Seberkas sinar jingga di ufuk barat mendampingi langkahku sekedar menunjukkan arah jalan untuk pulang.

Dia juga menghilang dan entah kapan waktunya akan kembali aku tidak pernah tahu. Mungkin selamanya tak pernah kembali. 

Aku selalu meyakini bahwa pergi adalah sebuah kepastian dan kembali adalah sebuah kesemuan. Kita harus pergi agar kembali dapat menjadi sebuah kepastian.*

Posting Komentar untuk "Dear Nona, Maaf Kaka Masuk Biara"