Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sujud Doa untuk 53 Awak KRI Nanggala 402

KRI Nanggala 402.

Kematian sungguh tak ada yang mampu menebaknya. Tapi semua orang akan menghadapinya. Entah waktu baik atau tidak, ajal pasti datang menghadang.

Seperti yang terjadi dengan 53 awak KRI Nanggala 402. Tidak ada yang tahu bahwa mereka akan begitu cepat hilang kontak setelah kapal selam yang mereka kemudi tenggelam di perairan Bali, Rabu (21/4) pekan lalu.

Semuanya masih dan sangat rahasia. Belum ada pembuktian soal penyebab tenggelamnya kapal buatan Jerman yang dijuluki sang "monster laut" itu.

Padahal kita tahu bahwa kesempatan itu mereka peroleh setelah mendapat izin kemudi setelah vakum beberapa tahun. Sekali dayung, mereka tak bisa lagi kembali ke tepian. Mereka seolah pamit menuju haribaan abadi.

Ada seorang anak yang mengunci ayahnya, yang menjadi salah satu korban dalam insiden mengenaskan itu. Dia mengunci ayahnya di kamar sesaat sebelum ayahnya pamit bertugas di perairan utara Bali.

Ayahnya mengikuti saja kemauan sang anak. Dari video yang beredar, sang anak laki-laki nan imut itu terlihat bahagia ketika ayahnya terkunci di dalam kamar.

Hampir tidak ada firasat sang ayah mengenai peristiwa itu. Tapi sang anak justru memiliki terawangan yang melampaui inteligensinya yang masih belum sempurna terbentuk.

Rupanya peristiwa itu direkam oleh sang ibu, dan baru teringat bahwa sudah ada "pesan" khusus dari sang anak mengenai kondisi masa depan suaminya. Tapi ia seolah abai begitu saja dengan firasat sang anak.

Menteri Sosial Tri Rismaharini sempat mengunjungi keluarga itu setelah video singkat itu viral di media sosial. Risma berjanji memberikan beasiswa kepada sang anak itu.

Di tempat lain, seorang istri terus menunggu kabar suaminya yang tidak pulang-pulang setelah sehari berlayar di perairan Bali. Ia terus memandangi foto pernikahan mereka yang baru saja dilakukan tahun lalu.

Sungguh pedih hatinya. Sembari memluk erat foto suaminya, ia menitikkan air mata perih, seolah membiarkan ia terjatuh bersama kedukaan yang dialaminya.

Sungguh, kematian tidak ada yang bisa meramalkannya. Tak ada yang bisa menentangnya. Ia betul-betul berada di bawah kuasa Ilahi.

Presiden Joko Widdo dan semua tokoh, elit, pejabat publik, dan masyarakat, menyampaikan duka mendalam atas gugurnya para patriot penjaga kedaulatan negara.

Jokowi telah menaikkan pangkat satu tingkat lebih tinggi bagi para awak, dan juga Bintang Jalasena sebagai penghargaan terhadap dedikasi, pengabdian dan pengorbanan para prajurit terhadap negara.

Kepala Negara juga menjamin masa depan anak-anak para korban dengan memberikan santunan pendidikan hingga jenjang S1. Dan juga santunan bagi keluarga.

Kehilangan ini sungguh merupakan pukulan bagi Indonesia, setelah sebelumnya ratusan warga tewas akibat terjangan badai Seroja.

Ini juga menjadi tantangan bagi pertahanan Indonesia, di mana menunjukkan bahwa kapal selam Indonesia sudah begitu tua. Tidak hanya KRI Nanggala, masih banyak alutista TNI yang sudah uzur dan semestinya segera diganti.

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto disoroti karena kinerjanya yang belum nampak dalam hal perbaikan mutu alutista TNI.

Dalam debat Pilpres 2019, ia menyerang Jokowi karena tidak memberikan anggaran yang besar pada sektor pertahanan.

Setelah ditarik Jokowi menjadi Menhan, dan menaikkan anggaran hingga Rp130 triliun lebih, justru kinerjanya begitu-begitu saja.

Kini sudah saatnya, Prabowo harus melakukan transformasi alutista TNI agar lebih modern dan mutakhir.

Dan untuk semua korban, mari kita sujud berdoa semoga mereka diberi tempat yang layak di perhentian abadi di surga. Semoga mereka berlayar menuju ribaan abadi, tempat semua orang beriman ada.

Selamat jalan patriot!

Posting Komentar untuk "Sujud Doa untuk 53 Awak KRI Nanggala 402"