Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

400 Bahasa Daerah di Indonesia Timur Terancam Punah

400 bahasa di Indonesia Timur terancam punah/Okezone.

Perkembangan teknologi informasi bukannya tak berdampak pada kebudayaan dalam masyarakat.

Adanya pergeseran, perubahan dan dinamika yang terjadi di masyarakat akibat tsunami informasi, membuat kebudayaan pun ikut bergeser.

Tidak hanya bergeser, arus urbanisasi yang mulai menggeliat, komunikasi lintas batas dan globalisasi telah membuat sejumlah bentuk kebudayaan tergusur hingga terancam punah.


Hal mana diungkapkan peneliti utama pada Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, Obing Katubi.

Bahwa di masa depan, akan ada sekitar 400 bahasa daerah di Indonesia yang terancam punah.

Jumlah tersebut adalah lebih dari setengah total bahasa daerah yang ada di Indonesia, yaitu 700 bahasa.

"Mayoritas hasil penelitian terkini menunjukkan bahasa-bahasa tersebut terancam punah," ujar Obing dalam webinar, Selasa (4/5).

Adapun bahasa Indonesia yang paling terancam adalah bahasa yang ada di wilayah Indonesia tengah dan timur. Dia menyebut di kawasan itu terdapat sekitar 400 bahasa.

Oding mengatakan banyak faktor yang membuat bahasa terancam punah, seperti penaklukan, pagebluk Covid-19, tekanan ekonomi, kontak bahasa dan budaya yang meleburkan bahasa, dan politik bahasa.

Sebagaimana dikatakan Seno Gumira Ajidarma dalam Pidato Kebudayaan tahun 2019, salah satu bahasa yang terancam punah adalah bahasa Komodo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ekspansi bisnis pariwisata Presiden Jokowi ke wilayah Pulau Komodo mengakibatkan bahasa lokal masyarakat terancam punah.


Faktor lainnya menurut Obing adalah sikap negatif atau sikap acuh tak acuh terhadap bahasa yang terancam punah, hingga sikap dan loyalitas dari komunitas bahasa.

Setidaknya ada dua kerugian jika bahasa punah, yakni bagi komunitas dan ilmu pengetahuan. 

Bagi komunitas, punahnya bahasa sama dengan hilangnya identitas budaya masyarakat setempat.

Kemudian, punahnya bahasa sama dengan punahnya ungkapan artistik dalam tradisi. Bagi komunitas, punahnya bahasa juga sama dengan punahnya pengetahuan budaya.

"Bagi dunia ilmu pengetahuan, punahnya bahasa merupakan ancaman terhadap pemahaman kita tentang sejarah manusia, kognisi manusia, dan dunia hayati," ujarnya.

Oding pun mengingatkan perlunya perencanaan berbasis komunitas. 

Dia menekankan bahwa tidak ada satu rute revitalisasi yang cocok untuk semua bahasa yang terancam punah di masa depan.


Untuk itu, memerlukan pandangan jangka panjang tentang proses revitalisasi atau proses antargenerasi, klarifikasi ideologi dan komitmen.

Obing juga berkata tidak ada bahasa yang tidak dapat diapa-apakan sama sekali atau selalu ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk bahasa yang dalam kategori terancam punah.

Isu-isu bahasa juga adalah isu manusia dan komunitasnya, sehingga perencanaan bahasa berbasis komunitas harus terpusat pada manusia dan komunitasnya, serta bukan pada bahasanya itu sendiri.

Di lingkup pendidikan, tidak semua revitalisasi bahasa harus melalui muatan lokal di sekolah. Itu karena secara ekologi belum tentu cocok. 

Oding berharap teknologi juga bisa dimanfaatkan, misalnya mendokumentasi bahasa.

"Harus merancang program revitalisasi bahasa berbasis keluarga di rumah," pinta Oding.*

Sumber: CNN Indonesia

Posting Komentar untuk "400 Bahasa Daerah di Indonesia Timur Terancam Punah"