Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

7 Tahun di Kupang, Pengungsi Afghanistan Minta Dipulangkan

Seorang remaja puteri imigran gelap asal Afghanistan berada di Kantor Imigrasi Pekanbaru, Riau, pada tahun 2016/Antara.


Sejumlah pengungsi asal Afghanistan di Kota Kupang, NTT, menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor International Organization for Migration (IOM), Senin (3/5).

Unjuk rasa itu digelar setelah pekan lalu mereka menggelar dua kali unjuk rasa yakni pada Rabu dan Jumat.

Aksi tersebut didominasi oleh pengungsi dari Hotel Kupang Inn dan sebagian dari Hotel Ina Bo'i.

Dalam unjuk rasa itu, mereka meminta IOM segera memindahkan mereka dari Kupang ke lain yang lebih aman untuk pengungsi.

"Kami sudah tinggal di Kupang selama tujuh sampai delapan tahun, tapi nasib kami tidak menentu," kata Bashkir Rasikh, salah seorang warga Afghanistan, mengutip Kompas.com.

Rasikh mengatakan, mereka ingin pindah ke sejumlah negara seperti Australia, Selandia Baru, Inggris, Amerika Serikat ataupun Kanada.

Di Indonesia mereka tidak bisa bekerja, karena tidak ada lapangan pekerjaan untuk mereka.

"Banyak anak-anak kami yang tidak sekolah. Apalagi kami setiap bulan hanya dikasih uang oleh IOM sebesar Rp1,5 juta bagi yang sudah berkeluarga dan Rp500.000 bagi yang masih muda," ujar dia.

Dia berharap, pihak IOM bisa memperhatikan tuntutan mereka untuk segera pindah ke negara lain.

Pengungsi lainnya, Kubra Hasani mengaku, ia dan imigran lainnya ingin segera pindah dari Indonesia menuju negara rujukan yang telah disepakati badan pengungsi dunia.

"Harapan kami, ingin pindah ke negara tujuan yang aman, karena kita pengungsi sehingga harus pindah. Kami juga belum tahu negara mana yang jadi rujukan karena masih dalam proses," ungkap Kubra di lokasi, Rabu pekan lalu.

Kubra mengaku sudah tinggal di Kupang selama tujuh tahun, sehingga butuh kepastian masa depan mereka dan anak-anak.

Dia menuturkan, akibat belum adanya kepastian, banyak pengungsi asal Afghanistan yang mengalami gangguan mental.

"Banyak laki-laki muda di sini yang tengganggu masalah mental dan setiap hari minum obat saraf. Tidak makan, minum, dan tidak tidur hanya minum obat. Mereka semuanya hampir gila," katanya.

Ia pun meminta IOM segera merespons dengan membawa mereka ke negara rujukan.

Kubra mengaku, mereka tidak akan berhenti berjuang dan terus menggelar aksi sampai mendapatkan kepastian dari otoritas.*

Posting Komentar untuk "7 Tahun di Kupang, Pengungsi Afghanistan Minta Dipulangkan"