Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berdayakan Anak-anak Putus Sekolah di Maumere Melalui "Sekolah Alam"

Penulis mendampingi anak-anak putus sekolah di Maumere/Dok. pribadi.

Oleh: Hildegardis Boleng Mali Dua, S.S, M.Pd.*

Saya sungguh jatuh cinta pada sekolah ini. Ya, sungguh. 

Mei  2020 adalah awal perkenalan saya dengan seorang wanita paruh baya. Gayanya nyentrik. 

Dia selalu menyebut dirinya “wanita gembel”; tidak mau sebutan lain. Tampaknya lusuh tapi kehendaknya kuat.

Bagi saya, dia adalah seorang wanita yang punya misi kemanusiaan yang luar biasa. Punya impian mencerdaskan anak bangsa, tapi sungguh tidak mau diliput media bahkan tidak punya handphone Andriod, atau bahkan media sosial.

Saya sampai berpikir, apakah tidak membosankan hidup tanpa gadget di zaman now. Seperti saya dan teman-teman generasi masakini rasakan: hidup tanpa gadget ibarat sayur tanp garam. Tapi, dia sangat menikmati hidup dan kesederhaannya.

Ya, nama wanita itu tidak bisa saya sebutkan. Ia ingin merahasiakan nama dan identitasnya dari dunia sosial. Hanya orang-orang dekat yang mengenalnya. 

Di antara kami ada perjanjian untuk tidak boleh menyebarkan identitasnya. Sepertinya ada hal yang amat rahasia dari kehidupannya. Ini bertolak belakang dengan karya-karya sosial yang dikerjakannya. Begitu menyentuh kemanusiaan.

Penulis membimbing kegiatan belajar anak putus sekolah di Maumere/Dok. pribadi.

LM, sebuah wadah pendidikan nonformal yang didirikan wanita paruh baya ini hadir di Maumere pada Agustus 2019. Ada beberapa sukarelawan yang tergabung dalam wadah ini, antara lain dari Maumere dan Jakarta.

Awalnya, LM memiliki banyak siswa. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak putus sekolah. LM berikhtiar menghimpun mereka dalam satu wadah khusus. Di sana mereka diajarkan dalam metode pembelajaran yang disebut “sekolah alam”.

Dalam perjalanan waktu, LM hanya mewadahi lima orang siswa. Mereka adalah yang tersisa, tapi bukan berarti anak buangan. Mereka adalah orang-orang tangguh. 

Dua orang dari mereka perempuan, sisanya laki-laki.

Keempat anak LM semuanya adalah anak anak putus sekolah, sedangkan satu anak lainnya tidak pernah duduk di bangku sekolah formal.

Ada banyak hal yang membuat mereka tidak bersekolah atau bahkan putus sekolah. Mulai dari perpindahan orang tua dari luar negeri, Malaysia, misalnya, atau yang baru pulang dari pulau Kalimantan setelah lama merantau. Ada yang putus sekolah ketika kedua orang tuanya meninggal. 

Seorang anak dari mereka tidak pernah sekolah karena alasan membantu kedua orangtuanya yang masih hidup prasejahtera.

Kegiatan belajar dilakukan di bale-bale untuk anak-anak putus sekolah di Waigete/Dok. pribadi.

Disinilah petualangan kemanusiaan saya dimulai. Saya diserahkan mandat untuk melanjutkan LM sendirian. Tak ada lagi rekan kerja. Betul-betul sendirian.

Wanita paruh baya memutuskan untuk kembali ke UK bersama keluarganya. Saya pun lantas dinobatkan menjadi guru bagi anak-anak hebat ini.

Konsep dasar pembelajaran LM adalah memanfaatkan alam bebas sebagai sarana dan bahan belajar. Jadi, kapan dan dimanapun, kita dapat bertemu dan belajar.

Konsep ini sangat menarik. Karena hampir tidak pernah diajarkan sepanjang hidup saya.

Wanita paruh baya benar-benar mengantar kami ke dalam satu metode belajar baru yang rasanya sangat cocok untuk anak-anak hebat tapi terkendala ekonomi untuk sekolah.

Ini seperti mengadopsi sistem pedidikan yang diterapkan pada sekolah Tomoe Gakun Sekolah Alam pada rel kereta api seperti diceritakan dalam buku Totto Chan The Litlle Girl at the Window

Saya membaca buku ini. Terdorong oleh kehendak untuk belajar, saya pun wajib menerapkan pada adik-adikku seturut kreativitas saya.

Saya pikir, metode ini sungguh sesuatu yang sangat kreatif dan inovatif untuk menciptakan lingkungan dan metode mengajar yang dapat diterima anak anak.

Saya teringat pada cerita seorang profesor fisika yang turun langsung ke Papua meminta pada pemerintah Papua untuk memberikan anak anak paling bodoh untuk dididik. 

Pengalaman itu sangat menginspirasiku. Saya pun mulai menerapkannya untuk adik-adikku di Maumere. Semua kemampuan terbaik saya keluarkan untuk mereka.

Kegiatan belajar dengan media/sarana seadanya di Magerepu, Magepanda/Dok. pribadi.

Dalam perjalanan, kami bukannya tidak mengalami kesulitan. Bukan hanya pada mereka, tapi saya sendiri yang kesulitan membagi waktu.

Bayangkan, saya harus pulang-pergi ke dua tempat yang berseberangan dengan jarak yang hampir sama, yaitu sekitar 30 km dari pusat kota. Satunya ke arah barat, yang lainnya ke timur.

Setiap minggu, saya dua kali mengunjungi mereka. Artinya, empat kali saya menjumpai mereka untuk belajar bersama. 

Hari Selasa dan Jumat saya menjumpai adik-adik yang berada di kampung Magerupu, Desa Kolisia, Magepanda. Sementara, hari Senin dan Rabu, saya harus ke Waigete dan Blidit. 

Perjalanan ini sungguh melelahkan. Hanya kehendak baik dan niat tulus yang mengalahkan ego pribadi saya.

Anak-anak memanfaatkan media belajar berupa dedaunan untuk memahami cara berhitung/Dok. pribadi.

Tidak berhenti di situ kendala yang kami alami. Saya mengajar mereka tanpa buku panduan seperti kurikulum pada pendidikan formal. Saya mengajar mereka apa adanya.

Satu-satunya bahan pembelajaran kami adalah Majalah Bobo yang dititipkan wanita paruh baya sebelum keberangkatannya. 

Kami tidak memiliki target atau indikator, apalagi silabus dan RPP. Itu hanya untuk anak-anak generasi K-13.

Kami juga tidak memiliki papan tulis atau spidol atau kertas HVS. Semuanya kami serahkan pada kemampuan imajinatif masing-masing anak. Dan itu yang saya bangga. Meski terbatas, mereka berusaha semampunya untuk memahami apa yang saya ajarkan.

Kadang kami harus pergi sawah untuk mencari keong, atau mencari “lessan”, sebuah buah hutan seperti kedondong. Kadang kami duduk di bawah batuan yang besar, di bawah pohon mente, di atas tedang (sebuah bale-bale terbuat dari bambu) untuk belajar.

Sungguh nikmat. Kami benar-benar merasakan apa itu sekolah alam. Masuk ke alam dan belajar daripadanya.

Untuk membantu mereka, saya kadang menyusun bahan pembelajaran sendiri agar membantu mereka lebih memahami apa yang mereka baca, lihat dan dengar.

Penulis dan anak-anak mencari keong di sawah/Dok. pribadi.

Dalam hati, saya selalu optimis bahwa mereka pasti bisa. Mereka memiliki cita-cita luhur tapi tidak didukung oleh tingkat kesejahteraan keluarga.

Dalam pembelajaran, kadang mereka menyampaikan apa yang mereka inginkan di masa depan. Mereka memang tidak kehilangan visi untuk mengubah hidup. Semangat mereka juga tak pernah padam oleh keterbatasan finansial dan infrastruktur.

Dan satu hal yang penting, dalam komunitas ini, kami terbiasa untuk tidak saja belajar soal ilmu pengetahuan, tapi juga menyangkut sikap hidup. 

Di sini kami belajar pentingnya nilai kejujuran, cinta lingkungan, misalnya dengan memegang teguh prinsip “save the planet, dan juga belajar untuk saling menghargai dan toleransi pada perbedaan. Bagi kami, sikap hidup lebih penting ketimbang kecerdasan akademik.

Saya sendiri berkeyakinan bahwa di suatu waktu mereka akan mendapatkan wadah yang lebih layak untuk menjadi tempat belajar. Tidak di sekolah formal, tapi melalui wadah tertentu, seperti PKBM, mereka ditempa untuk belajar melanjutkan hidup.

Saya berkarya sendirian, secara sukarela. Saya merasa ada panggilan yang tidak pernah “mengeluh capek” dari dalam diri saya untuk membantu dan melayani anak-anak putus sekolah ini.

*Penulis adalah aktivis sosial, tinggal di Maumere. Menjadi volunter Komunitas Kasih Insani (KKI) Ende, dan juga Ibu Bhayangkari. Penulis baru saja menyelesaikan program Magister Pendidikan Bahasa Inggris pada Universitas Negeri Makassar (UNM).

2 komentar untuk "Berdayakan Anak-anak Putus Sekolah di Maumere Melalui "Sekolah Alam""