Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lihat Bagaimana Perjuangan Laki-laki NTT Demi Membayar Belis

Sepasang kekasih mengenakan pakaian adat Sumba/Matamatapolitik.


Belis telah menjadi salahsatu percakapan yang terbuka di kalangan anak muda NTT akhir-akhir ini.

Dengan keberadaan media sosial, diskursus yang terjadi mengenai problem belis atau mahar kawin dalam sistem perkawinan masyarakat NTT pun tidak lagi terkunci pada pintu rumah orangtua atau keluarga semata.

Problem belis kini telah menjadi pembicaraan ramai di antara generasi yang lebih muda yang sudah terpapar internet dan industri media.

Hal itu sejalan dengan perubahan kosntruksi pengetahuan dan budaya serta dinamika sosial mengenai belis di mata anak-anak zaman now.

Baca Juga: Tragis, Pria di Kupang Membunuh Seorang Gadis, Memperkosa dan Mayatnya Ditemukan Membusuk di Hutan


Sebagai salah satu orang muda NTT, fenomena ini bagi saya merupakan sebuah tanda kemajuan, bukti bahwa anak-anak yang lebih muda di NTT mulai sadar akan martabat kemanusiaan mereka sebagai laki-laki dan perempuan, yang memegang kendali atas masa depan masyarakat.

Artinya, mereka telah belajar sendiri dari banyak referensi tanpa harus terus berguru pada orangtua, kecuali untuk hal-hal tertentu yang penting.

Di antara percakapan mengenai belis, umumnya kaum perempuan adalah pihak yang paling banyak membuka suara. Seolah-olah ada beban memori budaya yang terus mereka pikul sehingga ruang media sosial menjadi tempat bagi mereka untuk mencurahkan unek-unek.

Bagi kaum perempuan Flobamora, sudah seharusnya seorang laki-laki membayar mahar sekian sebagai tanda cinta dan ikatan terhadap keluarga.


Sementara itu, bagi laki-laki, belis jarang dibicarakan. Seolah sudah menjadi kewajiban bagi mereka untuk membayar berapa mahar yang diminta pihak keluarga perempuan.

Jadi, apapun atau berapapun banyak belis yang diminta, pihak laki-laki biasanya rela berjuang, mengorbankan diri mereka untuk tetap membayarnya, bahkan dengan berhutang.

Kerap mereka menganggap belis sebagai beban yang mencekik leher, dan sebuah tanggung jawab besar. Apalagi dengan tuntutan pihak perempuan yang makin naik tiap tahun.

Untuk lebih terlihat gentle, kaum laki-laki dari bumi Flobamora biasanya mengekspresikannya dalam bentuk lagu. Lagu-lagu dengan tema belis biasanya cepat populer.

Bagi kaum laki-laki, di tengah perubahan realitas dan struktur sosial dalam masyarakat, belis sudah saatnya tidak lagi menjadi problem utama dalam proses perkawinan masakini.

Bukan berarti martabat anak perempuan tidak dihargai, tapi paradigma orangtua dan masyarakat mengenai proses perkawinan harus lebih fleksibel dan tidak memberatikan salah satu pihak, terutama laki-laki.

Tidak jarang, banyak laki-laki dari Nusa Cendana yang rela hidup membujang lebih lama, menghabiskan waktu untuk mengumpulkan dolar demi meringankan beban orangtua jika suatu waktu meminang anak orang.

Bahkan, ada hati laki-laki yang menangis karena berjuang demi memenuhi permintaan keluarga pujaan hatinya. Apalagi, dengan pendidikan yang makin tinggi, hampir pasti permintaan mahar yang ditawar keluarga perempuan makin tinggi pula.

Baca Juga: Kontroversi Miss Universe 2020 Asal Indonesia Sebut Komodo dari Sunda Kecil


Namun demikian, tiap-tiap kebudayaan besar di NTT memiliki sistem perkawinan dan besaran mahar kawin yang berbeda-beda.

Di Manggarai, misalnya, belis hampir seluruhnya sudah diuangkan dari sebelumnya menggunakan sistem pertukaran hewan atau barang. 

Diceritakan, belis terbesar dan tertinggi di daerah Manggarai pernah terjadi pada perkawinan sepasang suami-istri dari anak-anak pejabat di daerah itu. Nilainya mencapai sekitar Rp500 juta.

Sementara itu, di daerah Ngada, Nagekeo, Ende-Lio, Maumere, Larantuka, Lembata, Timor dan Sumba, masih mengandalkan sistem pertukaran hewan atau barang. Tapi besarannya berbeda-beda tiap daerah.

Yang paling besar ada di Sumba. Umumnya besaran belis untuk perempuan Sumba bisa mencapai ratusan ekor sapi, kerbau, dan kuda. Jenis mahar kawin ini sama seperti yang terjadi di Nagekeo, Ende-Lio, Maumere, tapi dengan besaran yang lebih kecil.

Sementara untuk tradisi perkawinan daerah Lamaholot di Larantuka dan Lembata, mahar kawin utama untuk perempuan adalah gading. Biasanya dua gading, dengan harga paling rendah Rp60 juta dan panjang hampir sedepa orang dewasa.

Di Pulai Timor, sistem perkawinan masih berbeda-beda tiap wilayah. Namun pada umumnya perempuan Timor tidak terlalu menuntut besaran mahar kawin. Yang penting bagi mereka adalah tanggung jawab di masa depan.

Sistem perkawinan yang paling berbeda di NTT adalah Ngada dan Malaka, di mana kedua daerah ini menganut sistem matrilineal. Artinya, perempuan memiliki hak dalam rumah adat keluarga. 

Dengan kata lain, kedua daerah ini menganut sistem kawin masuk, di mana laki-laki yang masuk ke rumah perempuan.

Haram bagi keluarga perempuan di kedua daerah untuk menawarkan mahar kawin kepada keluarga laki-laki. Tapi seorang laki-laki yang hendak meminang perempuan di kedua daerah ini harus masuk rumah adat mereka.

Jika terjadi perkawinan dengan perempuan di luar kedua daerah ini, maka laki-laki Ngada dan Malaka harus keluar dari rumah dan memasuki rumah perempuan yang dijadikan istrinya. 

Di rumah orangtuanya, dia sudah tidak memiliki hak atas aset keluarga.

Di masa depan, belis tetap menjadi percakapan yang hangat dan penuh sindiran di antara anak-anak muda NTT.

Tapi yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa percakapan tentang belis hendaknya tidak lagi diletakkan pada daya tawar seorang perempuan, tapi lebih pada bagaimana upaya mengentaskan konflik atau problem pasca prosesi belis, yaitu ketika kedua pasangan hidup sebagai suami-istri.

Konflik dalam rumah tangga terus membayangi keluarga-keluarga muda di NTT zaman sekarang. Meski sudah terpapar ilmu pengetahuan dan teknologi, paradigma paternalistik masih hidup kental dalam keluarga-keluarga muda di NTT. Hal itu tidak jarang membuat rumah tangga berantakan dan anak-anak yang baru bertumbuh terlantar dan terganggu.

Sudah saatnya generasi muda masakini bangun dari keterpurukan, membangun hidup perkawinan yang saling menghargai, mengenal dan mencintai satu sama lain, tanpa terikat lagi pada bayang-bayang berapa banyak belis yang sudah dibayar dan menjadi utang bagi keluarga baru.*

Posting Komentar untuk "Lihat Bagaimana Perjuangan Laki-laki NTT Demi Membayar Belis"