Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Picu Kontroversi Pernikahan LGBT, Pater Otto Gusti Minta Maaf

Pater Otto Gusti, SVD/Ist.

Pater Otto Gusti, SVD, dengan rendah hati menyampaikan permintaan maaf atas pernyataannya mengenai sikap Gereja Katolik terhadap pernikahan sesama jenis atau pernikahan LGBT yang menimbulkan polemik di kalangan umat Katolik Indonesia.

Dalam pernyataannya, Pater Otto Gusti mengatakan bahwa dalam suatu periode waktu di masa depan, Gereja Katolik perlu didorong untuk menerima pernikahan sesama jenis ataau LGBT.

"Pernyataan saya ini telah menuai kontroversi, diskusi dan juga kemarahan banyak umat beriman. Untuk itu secara pribadi dan lubuk hati terdalam saya memohon maaf atas pernyataan publik saya itu yang telah melukai perasaan religius saudari-saudari sebagai umat Katolik," ujar Pater Otto Gusti dalam keterangan yang dikutip Grahabudaya pada Senin (31/5).

Sebagai pastor dan juga Ketua STFK Ledalero Maumere, lembaga pendidikan tinggi bagi calon imam Katolik, Pater Otto Gusti memohon kelapangan hati umat Katolik agar bisa memaafkan pernyataan kontroversialnya tersebut.

"Semoga saya boleh mendapatkan maaf dari saudara-saudari dan marilah kita saling mendoakan agar tetap menjadi pengikut Kristus yang setia," ungkap Pater Otto Gusti.

Lihat juga: Oknum TNI Tampar Petugas SPBU di Maumere


Sebelumnya, Pater Otto Gusti membuat umat Katolik geger karena pernyataan kontroversialnya yang diberitakan Media Indonesia, 27 Mei 2021 lalu.

Berbicara dalam sebuah kesempatan, Pater Otto mengatakan bahwa LGBT kerap mendapatkan kekerasan dan diskriminasi di masyarkat. 

Karena itu, dia berpikir gereja Katolik harus berpihak kepada mereka.

Namun, secara sakramental, gereja Katolik belum berpihak kepada kaum LGBT, salah satunya dengan tidak memberkati pernikahan LGBT.

"Dari penjelasan saya di atas tadi, bahwa gereja Katolik juga pernah keliru. Jadi saat ini kita perlu dorong secara sakramen pernikahan di gereja Katolik sehingga mereka LGBT itu juga kedepannya bisa diberkati pernikahan oleh para Pastor Katolik," ungkap Pater Otto.

Basis argumentasi etis mengapa Gereja Katolik tidak mengakui pernikahan sejenis, kata Pater Otto, adalah konsep hukum kodrat (ius naturale).

Ius naturale adalah ungkapan dari hukum Ilahi atau ius divinum. Karena itu pernikahan sejenis adalah praktik yang melanggar hukum Ilahi. Dengan demikian ia disebut dosa.

"Akan tetapi sesungguhnya premis hukum kodrat itu bukan sesuatu yang jatuh dari langit, tapi hasil dari pembuktian ilmu pengetahuan. Untuk mengetahui bahwa sesuatu itu sesuai dengan prinsip hukum kodrat, para ahli etika juga merujuk pada penemuan ilmu pengetahuan. Dari penemuan ilmu kedokteran kita tahun homoseksualitas itu bukan sesuatu yang abnormal tapi bersifat kodrati," jelas Pater Otto dalam sebuah pernyatan yang diterima Grahabudaya, Kamis.

Menurut Pater Otto, dengan temuan itulah pernikahan sejenis seharusnya sudah bisa diterima dalam Gereja Katolik, alih-alih menolaknya.

WHO bahkan sudah mencabut status penyakit mental pada homoseksualitas pada tahun 1990.

"Artinya, LGBT adalah sesuatu yang kodrati dan kalau kodrati, ia merupakan ungkapan dari "ius divinum"," papar Pater Otto.*

Lihat juga: Jokowi Anakemaskan NTT

Posting Komentar untuk "Picu Kontroversi Pernikahan LGBT, Pater Otto Gusti Minta Maaf"