Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ternyata Ini Alasan Umat Katolik Tolak Pernikahan LGBT

Pernikahan sesama jenis di Taiwan pada 24 April 2019/dw.


Pernyataan Pater Otto Gusti, SVD yang mengatakan bahwa dalam suatu periode waktu di masa depan Gereja Katolik perlu didorong untuk menerima pernikahan sesama jenis ataau LGBT menuai kontroversi.

Di berbagai platform percakapan, pernyataan Pater Otto Gusti ditolak dan ditentang karena tidak sesuai dengan ajaran Magisterium Gereja.

Tidak sedikit umat Katolik yang membaca pernyataan Pater Otto Gusti di media sosial mempertanyakan keimanan dan juga keimamatan pastor dari tarekat SVD itu.

Bahkan, banyak awam Katolik yang melakukan "serangan verbal" kepada imam lulusan Jerman tersebut dengan kata-kata yang kurang sopan dan bahkan cenderung kasar.

Menurut mereka, apa yang disampaikan Pater Otto Gusti bertentangan dengan apa yang mereka baca, dengar dan yakini dalam perasaan religius mereka.



Di berbagai diskusi lain, yang diwakili oleh sebagian umat Katolik yang cukup memahami teologi Katolik, ada perdebatan sengit untuk memisahkan secara jernih asumsi teoretik Pater Otto Gusti sebagai akademisi dan pengiat HAM, dan di sisi lain predikatnya sebagai imam Katolik.

Sebagai akademisi dan pegiat HAM, sah-sah saja Pater Otto Gusti mengemukakan isu pernikahan sesama jenis untuk menghidupkan diskursus keberpihakan terhadap kelompk marjinal, yaitu LGBT.

Namun sebagai imam Katolik, wacana yang dikemukakan Pater Otto sangat sensitif dan berbahaya. Karena sebagai imam, seharusnya Pater Otto mengutarakan pandangan yang sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.

Karena itu, harus diakui bahwa dalam pandangan pribadi sebagai imam pun Pater Otto Gusti tidak bisa menggeser pendirian dan ajaran Gereja Katolik mengenai hukum dan moralitas perkawinan dalam Gereja yang mengandaikan perkawinan antara seorang pria dan wanita, meski dalam berbagai studi disebut bahwa LGBT juga merupakan sesuatu yang kodrati.

Artinya, yang berhak mengeluarkan ajaran mengenai hukum perkawinan adalah Magisterium Gereja yang terdiri dari Paus dan para Uskup di seluruh dunia. Soal ajaran iman, tidak ada seorang imam di gereja lokal bisa menggeser atau mengubahnya.

Dengan demikian, apa yang disampaikan Pater Otto Gusti tidak sama sekali mewakili kepentingan atau wewenang Gereja, tapi murni merupakan pandangan pribadi meski statusnya adalah imam Katolik.

Adapun atas pernyataannya, Pater Otto Gusti, dengan rendah hati menyampaikan permintaan maaf karena menimbulkan polemik di kalangan umat Katolik Indonesia.

"Pernyataan saya ini telah menuai kontroversi, diskusi dan juga kemarahan banyak umat beriman. Untuk itu secara pribadi dan lubuk hati terdalam saya memohon maaf atas pernyataan publik saya itu yang telah melukai perasaan religius saudari-saudari sebagai umat Katolik," ujar Pater Otto Gusti dalam keterangan yang dikutip Grahabudaya pada Senin (31/5).

Sebagai pastor dan juga Ketua STFK Ledalero Maumere, lembaga pendidikan tinggi bagi calon imam Katolik, Pater Otto Gusti memohon kelapangan hati umat Katolik agar bisa memaafkan pernyataan kontroversialnya tersebut.

"Semoga saya boleh mendapatkan maaf dari saudara-saudari dan marilah kita saling mendoakan agar tetap menjadi pengikut Kristus yang setia," ungkap Pater Otto Gusti.




Sebelumnya, Pater Otto Gusti membuat umat Katolik geger karena pernyataan kontroversialnya itu.

Berbicara dalam sebuah kesempatan, Pater Otto mengatakan bahwa LGBT kerap mendapatkan kekerasan dan diskriminasi di masyarkat. 

Karena itu, dia berpikir gereja Katolik harus berpihak kepada mereka.

Namun, secara sakramental, gereja Katolik belum berpihak kepada kaum LGBT, salah satunya dengan tidak memberkati pernikahan LGBT.

"Dari penjelasan saya di atas tadi, bahwa gereja Katolik juga pernah keliru. Jadi saat ini kita perlu dorong secara sakramen pernikahan di gereja Katolik sehingga mereka LGBT itu juga kedepannya bisa diberkati pernikahan oleh para Pastor Katolik," ungkap Pater Otto.

Basis argumentasi etis mengapa Gereja Katolik tidak mengakui pernikahan sejenis, kata Pater Otto, adalah konsep hukum kodrat (ius naturale).

Ius naturale adalah ungkapan dari hukum Ilahi atau ius divinum. Karena itu pernikahan sejenis adalah praktik yang melanggar hukum Ilahi. Dengan demikian ia disebut dosa.

"Akan tetapi sesungguhnya premis hukum kodrat itu bukan sesuatu yang jatuh dari langit, tapi hasil dari pembuktian ilmu pengetahuan. Untuk mengetahui bahwa sesuatu itu sesuai dengan prinsip hukum kodrat, para ahli etika juga merujuk pada penemuan ilmu pengetahuan. Dari penemuan ilmu kedokteran kita tahun homoseksualitas itu bukan sesuatu yang abnormal tapi bersifat kodrati," jelas Pater Otto dalam sebuah pernyatan yang diterima Grahabudaya, Kamis (27/5).

Menurut Pater Otto, dengan temuan itulah pernikahan sejenis seharusnya sudah bisa diterima dalam Gereja Katolik, alih-alih menolaknya.

WHO bahkan sudah mencabut status penyakit mental pada homoseksualitas pada tahun 1990.

"Artinya, LGBT adalah sesuatu yang kodrati dan kalau kodrati, ia merupakan ungkapan dari "ius divinum"," papar Pater Otto.*

1 komentar untuk "Ternyata Ini Alasan Umat Katolik Tolak Pernikahan LGBT"