Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Danau Kelimutu Mengering Diduga karena Geotermal Sokoria

Dnaau Kelimutu dan Geotermal Sokoria/Kolase.


Danau Kelimutu di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur terus menyusut dalam setahun terakhir.

Laporan terbaru menyebutkan permukaan air di Tiwu Ata Mbupu, salah satu kawah dari tiga kawah di Danau Kelimutu menyusut hingga 5 meter.

Tiwu Ata Mbupu artinya kawah atau danau tempat arwah orang-orang tua.

Menyusutnya permukaan air di Tiwu Ata Mbupu tentu mengkhawatirkan.

Pasalnya, jika terus menyusut maka bisa berpotensi mengaktifkan kembali kekuatan vulkanik Gunung Kelimutu yang terakhir meletus tahun 1886.

Gunung Kelimutu seperti raksasa lembut yang sedang tidur, tapi sangat berbahaya jika kembali aktif. Dari catatan historis, terbukti bahwa Danau Kelimutu menjadi sumber erupsi freatik minor dari Gunung Kelimutu.

Keelokan gunung ini pernah menjadi penghiasa mata uang Rp5.000. Gunung dengan ketinggian 1.639 meter dpl ini menyimpan misteri geologi yang belum terpecahkan.




Manajemen Taman Nasional Kelimutu sampai saat ini belum mengeluarkan pernyataan mengenai kondisi tersebut.

Sementara itu, persekutuan masyarakat adat di Kecamatan Moni, Kabupaten Ende terus mendesak pemerintah dan DPRD untuk menginstruksikan pihak terkait melakukan kajian ilmiah.

Memang perubahan warna air dan kondisi air di Danau Kelimutu berkaitan dengan mitos atau keyakinan masyarakat setempat yang menganggap bahwa perubahan itu sebagai tanda atau alarm bahwa akan terjadi sesuatu hal di masa depan.

Namun, dengan banyaknya kabar alternatif yang berkembang dan beredar di masyarakat, sudah seyogyanya pihak berwenang untuk melakukan kajian dengan melibatkan pihak yang berkompetensi.

Masyarakat adat menduga penyusutan terjadi akibat aktivitas geotermal untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sokoria yang mulai dikerjakan di Desa Sokoria, Kec. Ndona Timur.

Dengan wilayah Sokoria dan Gunung Kelimutu berdekatan, aktivitas pemboran geotermal Sokoria diduga turut mempengaruhi kandungan air di danau tiga warna tersebut.

Pengembangan PLTP Sokoria memiliki kapasitas listrik 30 MW dan merupakan salah satu proyek strategis nasional dan menjadi bagian Program 35.000 MW maupun Fast Track Programme (FTP) 10.000 MW Tahap II pemerintah.




Geotermal Sokoria dikerjakan PT Sokoria Geotermal Indonesia (SGI) yang merupakan Special Purpose Company (SPC) yang dibentuk oleh Konsorsium yang terdiri dari KS Orka Renewables Ltd. (Singapura) dengan saham 95 persen, PT Bakrie Power (Indonesia) dengan saham 3 persen, dan PT Energy Management Indonesia dengan saham 2 persen.

PT SGI telah melaksanakan kegiatan pengeboran 5 sumur eksplorasi yang dipusatkan di lokasi prospek Sokoria-Mutubusa (MTB). Adapun rencana biaya untuk pengembangan proyek PLTP Sokoria hingga 30 MW mencapai US$212.85 juta, dengan cakupan wilayah kerja seluas 42.570 Ha.

Target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan Bonus Produksi Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Sokoria, dengan asumsi 5 MW mencapai US$ 199.000/tahun (Iuran Tetap Eksploitasi), USD 110.292/tahun untuk royalti/iuran oerasi produksi, dan USD 22.058/tahun untuk bonus produksi (0,5% gross revenue dengan asumsi pembangkitan listrik 5 MW).

Tak hanya menyumbang penerimaan negara, melalui WKP Sokoria juga telah direalisasikan kegiatan Community Development (Comdev) sebesar USD 387.937 untuk tahun 2017-2018.

Geotermal Sokoria direncanakan akan beroperasi tahun lalu tapi karena pandemi Covid-19, pemerintah menundanya hingga waktu tak tentu.

Kehadiran PLTP Sokoria akan membantu menurunkan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik, khususnya di wilayah Flores. Imbasnya, BPP di Nusa Tenggara juga akan ikut menyusut.

Dengan biaya 12 sen per kWh, tarif listriknya sangat terjangkau. 

BPP PLTP Sokoria ini lebih murah ketimbang BPP Flores yang rata-rata mencapai Rp 2.542 per kWh. Tingginya BPP tersebut sebagai imbas dari penggunaan PLTD yang masih mendominasi di wilayahnya. 

Di Flores, komposisi bauran energi untuk kelistrikannya yang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebesar 10,35 persen, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) 48,7 persen, Pembangkit Listrik Tenaga Mesin dan Gas (PLTMG) 22,64 persen, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 0,56 persen, Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) 4,28 persen, dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) 13,44 persen. 

Khusus untuk pembangkit EBT, secara keseluruhan mampu menghasilkan listrik sebesar 20 mW. Daya mampu keseluruhan pembangkit di Flores mencapai 112 mW dari total kapasitas terpasang sebesar 190 mW. Beban puncaknya rata-rata mencapai 85 mW.

Untuk memasok kelistrikan Flores dan sekitarnya, PLN akan menuntaskan jalur transmisi di seluruh pulau yang mencapai 600 km. Transmisi ini akan menghubungkan kelistrikan mulai dari Larantuka sampai dengan Labuhan Bajo.*

Posting Komentar untuk "Danau Kelimutu Mengering Diduga karena Geotermal Sokoria"