Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dekranasda Nagekeo Hidupkan Kembali Teknik Pewarnaan Alami pada Tenun Ikat

Bupati Johanes don Bosco Do didampingi Ibu Bupati Eduarda Yayik Pawitra Gati menyerahkan penghargaan tokoh Pelopor Literasi Tenun Ikat Nagekeo NTT kepada Elias Djo dan Julie Laiskodat di Jakarta/SP.


Graha Budaya -- Tenun ikat merupakan salah satu warisan yang cukup terpelihara dengan baik di kalangan perempuan NTT. Salah satunya oleh perempuan Nagekeo.

Tenun ikat asal Nagekeo memang sudah terkenal karena keunikan dan kualitasnya. Oleh para penggiat kesenian daerah, tenun ikat Nagekeo bahkan sudah "go international".



Adapun tenun ikat di Nagekeo identik dengan kain tenun kombinasi warna hitam dan kuning. Lembar di bagian depan berwarna hitam, sedangkan di bagian belakang berwarna kuning keemasan.

Kombinasi warna mencolok inilah yang membuat tenun asal Nagekeo lebih mudah diingat dibandingkan tenun ikat dari daerah lainnya di NTT dan Indonesia.

Namun seiring perjalanan waktu, teknik menenun sudah mulai terlupakan, terutama teknik pewarnaan secara alami pada tenun.

Dengan adanya industri modern, teknik pewarnaan ini sudah mulai menggunakan bahan-bahan dari industri kimia.


Hidupkan Kembali Pewarna Alami

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Nagekeo, Eduarda Yayik Pawitra Gati, dalam tayangan Newsline Metro TV, Selasa (16/6) mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang berupaya menghidupkan kembali teknik pewarnaan secara alami pada tenun ikat.

Menurut Eduarda, teknik alami cenderung lebih terawat dan berkualitas dibandingkan teknik kimia yang cepat pudar warnanya.
 
Adapun bahan-bahan utama untuk pewarnaan alami seperti kunyit, kemiri, daun-daunan, serta kulit kayu. Bahan-bahan ini lebih mudah didapatkan oleh penggiat tenun ikat dan lebih murah untuk dimiliki.

"Karya nenek moyang ini sangat tinggi nilainya. Dan kita ingin mengembalikan itu. Selain melestarikan alam dan budaya, kita ingin membangkitkan kembali rasa bangga terhadap karya sendiri," katanya.

 
Dia menambahkan bahwa kegiatan pewarnaan alami tenun ikat di Nagekeo merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan meningkatkan pendapatan rumah tangga masyarakat Nagekeo.

Dengan teknik pewarnaan alami, perempuan dan masyarakat Nagekeo pada umumnya bisa terpanggil untuk merawat alam dan peduli pada lingkungan.*

Posting Komentar untuk "Dekranasda Nagekeo Hidupkan Kembali Teknik Pewarnaan Alami pada Tenun Ikat"