Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Nasib Apes SMA Selamat Pagi Indonesia: Sekolah Gratis Berujung Kekerasan Seksual oleh Pemiliknya

SMA Selamat Pagi Indonesia/Ist.


Graha Budaya -- Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) dan Polda Jawa Timur sedang mendalami kasus dugaan kekerasan seksual yang terjadi di SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) di Kota Batu, Malang, Jawa Timur.

Pendiri SMA SPI Julianto Eka Putra (49) diduga berulangkali melakukan tindakan kekerasan seksual terhadap puluhan siswi SMA SPI di beberapa lokasi berbeda. 

Mirisnya lagi, selain di rumah pribadi pelaku di Surabaya, pelaku juga melakukan aksinya di bak mandi (bathup) dan di luar negeri.



SMA SPI dibentuk JE dengan misi yang sangat mulia. Melalui SPI, JE membantu anak-anak yatim piatu dan kurang mampu agar bisa melanjutkan sekolahnya di jenjang SMA secara gratis.

Keunikan dari sekolah SPI adalah keharmonisan dan toleransi yang dapat terjadi terhadap siswa dan siswi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dan dengan latar belakang, serta suku, agama, ras, dan budaya yang beragam.

Hebatnya lagi, SPI sangat menonjolkan semangat enterpreneurship, yaitu siswa dididik untuk menjadi seorang wirausahawan di masa depan.

Atas prestasinya, SPI mendapat perhatian pemerintah Jawa Timur dan pemerintah pusat. Para menteri dan lembaga negara sering mengunjungi sekolah ini sebagai bentuk apresiasi terhadap visinya yang sangat mulia, yaitu mendidik generasi muda menjadi orang-orang mandiri dan sukses.



Namun, di balik batu ada udangnya juga. JE menyimpan hasrat seksual yang salah terhadap anak-anak didikannya.

Puluhan siswi di SMA SPI digilirnya untuk melayani hasrat seksualnya. Di banyak tempat, JE melancarkan aksinya dengan modus yang bervariasi.

Lapor ke Polda Jatim

Dengan korban yang makin banyak, akhirnya kebejatan JE terbongkar. Para korban melaporkan peristiwa kekerasan seksual kepada Polda Jawa Timur.

Para terduga korban yang didampingi oleh Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mendatangi dan melaporkan ke Polda Jatim pada 29 Mei 2021.

Dari hasil pendataan awal Komnas PA setidaknya ada 15 korban yang telah mengadu. Dari belasan korban itu, tiga korban dilanjutkan pada proses visum di RS Bhayangkara Polda Jatim pada 31 Mei.

Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait mengatakan, dari pengakuan korban diketahui bahwa JE melakukan aksinya dengan perencanaan yang matang.

Di rumah pribadinya di Surabaya, para korban diminta untuk mengikuti pelatihan atau training. Tapi ternyata, pelaku menyalurkan nafsunya dengan menyetubuhi para korban di rumahnya.

"Dilakukan di rumah pribadi dan di ruang privasi, lalu sampai pada tempat-tempat yang dipaksakan seperti di bathup. Jadi memang terencana," ujar Arits, dikutip dari Okezone, Minggu (20/6).

Seorang korban, misalnya, mengatakan bahwa pelaku biasanya mengajak para korban ke rumah pribadinya di Surabaya untuk memperlihatkan bagaimana menjadi orang sukses di kemudian hari.

"Biasanya kami diajak ke rumah pribadi itu, karena rumahnya besar dan mewah. Jadi istilahnya si JE membuat atau mencontohkan ini lho kamu punya impian seperti ini atau tidak. Koko punya rumah mewah dan besar. Sehingga kita diharapkan bisa mewujudkan impian seperti itu," tutur seorang korban yang didampingi Arist di Kota Batu.

Korban lainnya menceritakan bahwa di rumah pribadi JE ini biasanya para siswa SPI terdiri dari 7-12 orang selama beberapa hari menjalani training.

"Pendekatannya untuk training lima hari. Biasanya yang diajak berangkat bisa sampai 7 orang 10 orang, hingga 12 orang. Jadi tujuannya itu untuk pengkaderasasian dibentuk untuk lapisan yang bisa memimpin selanjutnya," ucap sang korban.

Dia mengatakan, kebanyakan dari siswa yang dibawa ke rumah pribadi JE adalah perempuan, meski ada laki-laki namun jumlahnya tak sebanyak perempuan.

"Dibawa ke SBY ada tiga hari sampai lima hari apakah ada pembina lain kadang ada dan kadang hanya bersama dengan JE. Biasanya saat keberangkatan memang lebih banyak perempuan, tapi pasti ada laki-laki satu atau dua anak," beber korban.

Dari penuturan korban lainnya, Arist mengatakan bahwa di luar negeri, JE mengajak korban berjalan-jalan dan melakukan persetubuhan di kapal pasiar.

"Selain lingkungan SPI, di luar SPI bahkan ada yang di luar negeri. Anda bisa bayangkan bahwa di luar negeri juga mereka lakukan itu di kapal-kapal pesiar jadi memang terencana," kata Arist saat mendampingi korban di Batu, Sabtu (19/6). 

Tidak hanya itu, korban juga ada yang mengalami kekerasan seksual di bathtub atau bak mandi. Arist mengatakan, kekerasan seksual berupa persetubuhan itu dilakukan secara terencana. 

Arist meminta tempat kejadian perkara patut dan harus diselidiki oleh Polda Jatim.

Menurutnya, kekerasan seksual ini tidak hanya dilakukan sekali, tapi berulang kali.

JE sendiri akan diperiksa oleh penyidik Polda Jatim pada Selasa (22/6) pekan depan.

"Kemarin saya diberitahu oleh Kabid Renakta Polda Jatim bahwa hari Selasa ini, dari hasil pengembangan penyidikan terduga pelaku JE itu segera dipanggil untuk dimintai keterangan," terang Arist.

Namun JE dan pihak sekolah telah membantah rentetan kejadian yang telah dilaporkan para korban kepada Polda Jatim dan kini sedang didalami.

Dalam konferensi pers yang dilaksanakan di SMA SPI pada Kamis (10/6), pihak sekolah dan terlapor mengelak bahwa kasus yang dilaporkan itu tidak benar dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

"Yang diberitakan itu sama sekali tidak benar," ujar Kepala SMA SPI Risna Amalia Ulfa kepada CNN Indonesia.

Korban Ketakutan

Adapun para korban dugaan kekerasan seksual saat ini mengalami ketakutan. Mereka cemas dan khawatir menghadapi proses hukumnya sekarang.

Karena itu, kepada Ketua Komnas PA Arist mereka meminta bantuan agar didampingi juga oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

"Korban meminta kepada saya untuk menghubungi LPSK, karena korban 14 orang, itu secara khusus yang 3 orang sebagai leading pelapor itu dalam keadaan ketakutan," kata Arist, Jumat (11/6).

Menurut Arist, ketakutan itu dialami korban lantaran JE, pemilik sekolah SPI adalah orang dengan kekuatan dan kekuasaan.

Di kesempatan terpisah, Polda Jawa Timur yang turut mendalami dugaan kasus kekerasan seksual tersebut, memastikan akan mendampingi para korban.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko mengatakan, polisi juga telah memeriksa sejumlah saksi, di antaranya kepala sekolah dan guru serta saksi.

Dia memastikan, selain memeriksa sejumlah saksi, polisi juga telah memberikan pendampingan penanganan psikolog dan psikiater dari kepolisian.

"Kami memberikan pendampingan psikolog dan psikiater. Kemudian yang sudah dilakukan visum, ada empat orang," katanya.

Polisi kata dia, juga telah membuka saluran hotline aduan bagi terduga korban pemilik SPI lainnya. Dan sementara ini ia menyebut total ada 20 pengadu yang masuk.*

Posting Komentar untuk "Nasib Apes SMA Selamat Pagi Indonesia: Sekolah Gratis Berujung Kekerasan Seksual oleh Pemiliknya"