Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Paus Fransiskus Prihatin atas Penemuan Tulang-Belulang 215 Siswa di Asrama Katolik Kanada

Paus Fransiskus/AmericanMagazine.

Graha Budaya -- Paus Fransiskus mengaku prihatin dan kecewa atas penemuan tulang belulang di asrama yang dikelola gereja di Kanada yang diumumkan pada 27 Mei oleh kepala Tk'emlups te Secwepemc First Nation.

Penemuan kuburan massal berisi tulang-belulang 215 anak itu ditemukan di bekas sekolah asrama yang didirikan untuk mengasimilasi masyarakat pribumi negara itu pada abad ke-18 lalu.

Anak-anak tersebut adalah pelajar di Kamloops Indian Residential School di British Columbia yang ditutup pada 1978.

Sekolah itu merupakan fasilitas terbesar di Kanada yang dioperasikan oleh Gereja Katolik antara tahun 1890 dan 1969.



Paus Fransiskus pun meminta otoritas agama dan politik di Kanada untuk menjelaskan "masalah yang menyedihkan itu."

Dalam sambutannya di depan umat yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus, Paus Fransiskus juga meminta pihak berwenang untuk mendorong penyembuhan namun tidak mengacu pada desakan Perdana Menteri Justin Trudeau dua hari sebelumnya, agar Vatikan meminta maaf dan bertanggung jawab.

Adapun pada abad ke-19 hingga 1970-an, lebih dari 150.000 anak-anak pribumi dipaksa menghadiri sekolah-sekolah Kristen yang didanai negara, dimana sebagian besar dijalankan oleh jemaat misionaris Katolik Roma, dalam sebuah kampanye upaya asimilasi pribumi ke dalam masyarakat Kanada.

Pemerintah Kanada mengakui kekerasan fisik dan seksual telah merajalela di sejumlah sekolah, dan anak-anak dihukum jika berbicara dalam bahasa ibu mereka.


Perdana Menteri Kanda Justin Trudeau mengecam gereja karena "diam" dan "tidak bertindak," sekaligus memintanya untuk secara resmi meminta maaf dan memperbaiki perannya yang menonjol dalam sistem sekolah asrama pribumi yang dikelola gereja pada masa lalu.

Trudeau mengatakan "Itu adalah pengingat yang menyakitkan dari babak sejarah negara kita yang memalukan."

"Sebagai seorang Katolik, saya sangat kecewa dengan keputusan yang diambil Gereja Katolik sekarang dan selama beberapa tahun terakhir. Kami masih melihat perlawanan dari gereja," ujarnya seperti dilansir Anadolu Agency pada Minggu (6/6).

"Saya pikir ini akan menjadi momen yang sangat penting bagi kita semua, khususnya umat Katolik di seluruh negeri, untuk menjangkau paroki-paroki lokal kita, untuk menjangkau para uskup, kardinal dan memperjelas bahwa kita mengharapkan gereja untuk melangkah, dan bertanggung jawab atas perannya dalam hal ini," imbuhnya.

Trudeau mengatakan, jika permintaan maaf dan membuat catatan publik tidak terjadi, dia mungkin harus mengambil langkah-langkah yang lebih kuat dan sebagai upaya terakhir dengan mengadu ke pengadilan.

"Sebelum kita harus mulai membawa Gereja Katolik ke pengadilan, saya sangat berharap para pemimpin agama akan memahami bahwa ini adalah sesuatu yang mereka butuhkan untuk berpartisipasi," katanya.

Ada sekitar 150 ribu anak Pribumi yang diambil dari keluarga dan dipaksa masuk sekolah mulai tahun 1820-an. Sejumlah besar menderita kekerasan fisik, psikologis dan seksual. Diperkirakan setidaknya 4.000 meninggal dan banyak yang terbaring di kuburan tak bertanda.

Tapi tangan pemerintah Kanada tidak sepenuhnya bersih ketika berbicara tentang catatan dari sekolah asrama.

Antara tahun 1936 dan 1944, diperkirakan pemerintah menghancurkan sekitar 15 ton dokumen yang berkaitan dengan sekolah, termasuk sekitar 20 ribu dokumen Urusan Indian.

Gereja-gereja lain telah meminta maaf karena menjalankan beberapa sekolah semacam itu, termasuk Gereja Bersatu, Gereja Presbiterian dan Gereja Anglikan.

Adapun The First Nation bekerja sama dengan spesialis museum dan kantor koroner untuk menentukan penyebab dan waktu kematian tapi hingga saat ini belum diketahui.

Kepala komunitas di kota Kamloops di British Columbia, Rosanne Casimir, mengatakan temuan awal mewakili kerugian yang tidak pernah didokumentasikan oleh pengelola sekolah.

Tk'emlups te Secwepemc First Nation mengatakan tulang-belulang itu ditemukan dengan bantuan radar penembus tanah selama survei sekolah.

"Sepengetahuan kami, anak-anak yang hilang ini adalah kematian tanpa dokumen. Beberapa bahkan paling muda umur tiga tahun," ungkap Casimir.

"Kami mencari cara untuk memastikan bahwa dengan mengetahui rasa hormat dan cinta terdalam bagi anak-anak yang hilang dan keluarga mereka, memahami bahwa Tk'emlups te Secwepemc adalah tempat peristirahatan terakhir dari anak-anak ini," tutur dia.

Suku pribumi tersebut mengatakan telah menjangkau komunitas asal yang anak-anaknya bersekolah di sana.

Mereka berharap mendapatkan temuan awal pada pertengahan Juni ini. (dari berbagai sumber)*

Posting Komentar untuk "Paus Fransiskus Prihatin atas Penemuan Tulang-Belulang 215 Siswa di Asrama Katolik Kanada"