Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tak Bisa Tertolong, Kepsek SDI Ndora Meninggal Usai Dirujuk ke Ende

Kepsek SDI Ndora dirawat di Puskesmas Nangaroro/Ist.

Graha Budaya -- Tak bisa tertolong lagi, Kepala SD Inpres Ndora Delfina Azi (59) akhirnya menghembuskan napas terakhir di RSUD Ende pada Rabu (9/6) dini hari.

Delfiana adalah korban penikaman oleh oknum orangtua siswa bernama Didakus Dame (45) pada Selasa (8/6) pagi.

"Informasi dari ibu Hesty (Guru SDI Ndora) bilang mama kepala (Kepsek) sudah meninggal dunia jam 03.00 pagi. Kami sangat terpukul dengan kondisi ini," ujar Stefania, guru SDI Ndora kepada Ekora NTT.



Korban sebelumnya sempat dirawat di Puskemas Nangaroro pasca kejadian penikaman di SDI Ndora, di Desa Ulupulu 1, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, NTT pada Selasa (8/6) pagi.

Namun, karena tusukan yang cukup dalam, korban tak bisa lagi bertahan hidup. Luka akibat tusukan pisau sangkur pelaku mengenai perut bagian kanan.

Adapun korban ditikam hanya karena mengusir siswa bernama Eusabius Deviceli Laja yang belum melunaskan uang sekolah sebesar Rp1,7 juta saat ujian kenaikan kelas.

Didakus Dame, orangtua siswa tersebut, tidak menerima perlakuan korban terhadap anaknya, langsung berangkat menuju sekolah dan melakukan penganiayaan.

Orang tua siswa yang menjadi pelaku penikaman tersebut diketahui merupakan warga Nagemi, Desa Ulupulu 1.


Adapun kronologi peristiwa penikaman terhadap Kepsek di Ndora tersebut dijelaskan oleh Kapolsek Nangaroro, Iptu Sudarmin Syafrudin kepada Pos Kupang.

Menurut dia, kasus tersebut bermula ketika anak pelaku atas nama Eusabius Deviceli Laja disuruh pulang oleh kepsek untuk tidak boleh mengikuti ujian akhir kenaikan jelas.

Setelah mendengar informasi dari sang anak, pelaku langsung menuju ke rumah Kepala Desa Emilianus Meze.

Pelaku ke rumah Kades untuk menyampaikan keluhan anaknya yang tidak bisa mengikuti ujian akhir kenaikan kelas.

Di rumah Kades, pelaku melihat sangkur milik Emilianus yang digantung pada dinding ruangan tamu.

Tanpa pikir panjang, pelaku pun langsung mengambil pisau tersebut tanpa pemberitahuan ke kepala desa.

"Saat itu juga pelaku menuju ke sekolah dan menanyakan kepada ibu Astin (guru/bendahara) tentang guru siapa yang menyuruh anaknya pulang. Namun tidak mendapat jawaban," terang Sudarmin.

Adapun korban sempat melihat pelaku memegang pisau dan berencana akan melaporkan ancaman itu ke polisi.

Akhirnya, setelah mendengar ancaman kepala sekolah, pelaku bangun dan langsung mencabut pisau sangkur dan langsung menikam korban mengenai bagian perut sebelah kanan.

Siswa yang melihat kejadian tersebut berhamburan keluar kelas karena takut. Ada yang menangis histeris dan pulang ke rumah mereka masing-masing.

Setelah menikam, pelaku menyerahkan pisau sangkur kepada penjaga sekolah bernama Heronimus Wonga.

Dia bergegas menuju ke rumah kepala dusun Kristianus Meze untuk menyampaikan kejadian penikaman.

Dengan tahu dan mau, pelaku meminta Kepala Dusun menemaninya untuk menyerahkan diri ke Polsek Nangaroro.

Di Polsek Nangaroro, pelaku diamankan dan akan diperiksa sebagai lebih lanjut.

Saat ini, Unit Reskrim Polsek Nanggaroro sedang mendalami kasus tersebut dan pada Rabu (9/6) ini akan dilakukan penahanan.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasa 351 KUHP tentang Penganiyaan. Pelaku terancam pidana 2,8 tahun penjara.

Adapun TKP sementara sudah diberi police line untuk kepentingan penyidikan dan baru dibuka lagi jika selesai penyidikan.*

Posting Komentar untuk "Tak Bisa Tertolong, Kepsek SDI Ndora Meninggal Usai Dirujuk ke Ende"