Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Demi PPKM Mikro, Oknum Pol PP di Maumere Tega Aniaya Warga

Emanuel Manda dirawat di RSUD TC Hillers Maumere didampingi sang istri/Ist.

Demi pengetatan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro, oknum Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) tega menganiaya warga.

Korban yang diketahui bernama Emanuel Manda (30) tidak saja dipukul sehingga menyebabkan luka robek pada pelipisnya, tetapi juga diangkat dan dibuang ke mobil patroli dalam operasi Yustisi, Selasa (6/7).

Emanuel Manda adalah warga Jalan Lingkar Luar, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, Kota Maumere.

Lulus dari STFK Ledalero Maumere, Emanuel banting setir dengan menjadi montir.  Dia membuka usaha bengkel sepeda motor Fortuna di rumahnya yang terletak Jl. Lingkar Luar.

Dalam operasi PPKM Mikro yang dipimpin Kasat Pol PP Sikka Adeodatus Buang Da Cunha dan melibatkan Kasat Sabhara Polres Sikka Iptu Mikael Donis, bersama anggota Polres Sikka dan TNI dari Kodim 1603 Sikka, serta BPBD Sikka, Emanuel dianiaya hingga masuk RSUD TC Hillers.

Merasa dirinya dianiaya, Emanuel akhirnya melayangkan laporan polisi dengan Nomor Polisi LP/154/B/VII/2021/SPKT/POLRES SIKKA/POLDA NTT perihal pengeroyokan yang mengancam keselamatan jiwa korban.

Baca juga: NTT 914 Kasus Baru, Terbanyak di Ngada

Kronologi Kejadian

Menurut laporan Koran NTT, Jumat (9/7), kronologi peristiwa penganiayaan mula-mula terjadi ketika Emanuel dan istri baru kembali dari Kecamatan Kewapante.

Ketika tiba di rumahnya, ia mendapati kiosnya belum tutup. Akhirnya dia menegur adiknya, dan menanyakan kenapa kios belum ditutup padahal sudah lewat pukul 20.00 WITA.

Kemudian ia bergegas menutup kios bersama adiknya. Baru saja sebagian pintu kios ditutup, patroli gabungan tiba di tempat usahanya.

Lalu seorang petugas yang mengaku komandan memanggil saya sambil berteriak "woe woe sini kau."

Emanuel memalingkan muka melihatnya tapi karena tangannya tersangkut di gantungan sandal, dia berusaha memperbaiki gantungan sandal dahulu sebelum menghadap komandan.

Kemudian komandan itu tetap berteriak memanggilnya sembari berkata "kau melawan, kau bajingan, kau preman ka," sambil menanyakan kenapa tidak memakai masker.

 Emanuel pun menjelaskan bahwa dia baru tiba dan melepas masker karena hendak menutup kios, seraya tangannya menunjukan maskernya yang digantung di dinding.

Petugas tetap tidak mau mendengar penjelasannya, bahkan terus membentak dan saat bersamaan istrinya pun ke luar memeluknya untuk mencoba melerai.

"Tangan istri saya dihempas dari badan saya dengan sedikit kasar oleh Kasat Pol PP dan saya berusaha mau memeluk istri saya. Mereka lalu menarik lengan baju saya," kata Emanuel.

 Saat ditarik oleh petugas, ia sedang menundukan kepala dan seketika pukulan bertubi-tubi menghujam kepala dan mukanya sambil menyeretnya ke mobil patroli.

Seketika, darah mengucur membasahi wajah dan baju. Bahkan di mobil patroli pun dirinya diancam mau dipukul dengan senjata.

 Setelahnya, seorang petugas Satpol PP mengambil air mineral dan plester luka di kiosnya lalu membasahi wajahnya dan menutupi lukanya. Darah terus mengucur deras dan plester luka terlepas.

Namun petugas tetap membawanya di mobil, sambil terus melakukan razia terhadap beberapa kios dan tempat pesta yang berada di belakang Rutan Maumere.

"Di belakang kompleks Rutan Maumere ada beberapa kios yang masih buka tapi petugas menegur secara baik-baik, mengambil gambar dan mendata. Bahkan ada beberapa warga yang sedang berkumpul karena ada pesta tapi hanya ditegur saja," pungkas Emanuel.

 Emanuel bertanya-tanya mengapa perlakuan terhadap dirinya sangat kejam sementara yang lainnya hanya ditegur saja bahkan ada kios di samping Polres Sikka yang masih buka pun hanya ditegur saja.

Sementara itu, istrinya, Novayanti Alfrida Piterson, yang menyaksikan langsung peristiwa penganiayaan mengatakan, usai digebuk Emanuel diangkat dan dan dibuang ke atas mobil patroli dengan kasar.

Setelah dibawa oleh satgas dan keliling rumah warga menggunakan mobil patroli, Nova bersama teman-teman nekat mengikuti petugas untuk meminta agar suaminya segera diantar ke rumah sakit agar bisa diselamatkan.

Setelah mendapatkan perawatan dari petugas medis di rumah sakit, pihaknya langsung melaporkan kasus pengeroyokan tersebut ke pihak kepolisian perihal pengeroyokan yang mengancam keselamatan jiwa korban.

Kepala Satpol PP Adeodatus membela diri bahwa petugas sudah memberikan teguran karena tidak memakai masker.

Namun, mereka melihat bahwa Emanuel terkesan tidak mau menerima teguran.

"Saya juga tidak tahu tiba-tiba yang bersangkutan kena pukul dari petugas. Kemungkinan yang bersangkutan melawan karena tidak mau terima teguran dari petugas. Jadi anggota emosi dan pukul yang bersangkutan," ujar Adeodatus.

Sementara itu, Kasat Sabhara Polres Sikka Iptu Mikael Donis membantah bahwa ada tindakan pemukulan oleh petugas.

“Tidak ada masalah lain. Karena dia mau pukul saya anggota, maka anggota lain tidak terima. Masih banyak Pol PP, TNI liat situ. Tidak dipukul,” jelasnya, Selasa (6/7).

Donis juga mengaku tidak tahu soal adanya luka di pelipis korban.

“Itu anggota tarik, mungkin kena tanganya anggota atau anggota di dekat mobil toh. Agak gelap toh. Saya posisi masih omong sama isterinya. Jadi didorong naik mobil, tidak mau naik juga, jadi didorong naik. Itu fakta yang sebenarnya, karena saksi banyak. Ada Pak Kasat Pol PP di depan dengan saya. Intinya bahwa tadi kita operasi. Kita himbau, kita omong, mana maskernya, saya masuk, dia mau pukul ayun begini, anggota lain tidak terima. Itu faktanya,” pungkas Donis.*

Posting Komentar untuk "Demi PPKM Mikro, Oknum Pol PP di Maumere Tega Aniaya Warga"