Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jokowi Dikritik BEM UI, Mahasiswa NTT Pasang Badan

Preisden Jokowi menangis ketika menjumpai masyarakat korban Seroja di NTT.


Mahasiswa di Provinsi Nusa Tenggara Timur pasang badan membela Presiden Joko Widodo setelah dikritik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia sebagai "The King of Lip Servie" beberapa waktu lalu.

Dukungan kepada presiden ketujuh Republik Indonesia itu bukan tanpa sebab. Bagi mahasiswa NTT, Jokowi adalah pemimpin terbaik yang pernah ada di bumi Nusantara.

Sejak 2014 Presiden Jokowi telah membangun Indonesia dari keterpurukan dan keterbelakangan menjadi bangsa yang lebih maju dalam sektor infrastruktur.

Dan NTT adalah salah satu provinsi yang paling dicintai oleh Presiden Jokowi. Sudah beberapa kali, dan mungkin paling banyak Jokowi mengunjungi provinsi di selatan Indonesia ini.



Menurut mahasiswa NTT, Jokowi adalah bapak pembangunan Indonesia-sentris, untuk menggantikan posisi Soeharto yang membangun Indnonesia secara Jawasentris.

"Saya sebagai anak luar Pulau Jawa tepatnya berada di selatan Indonesia sangat senang dengan perkataan Presiden Joko Widodo yang mengatakan bahwa pembangunan hari ini tidak lagi Jawa sentris tapi sudah Indonesia sentris. Dan kami melihat Jokowi tidak hanya lips service, tapi membuktikan kata-katanya dengan pembangunan nyata," ujar Wakil Presiden BEM San Pedro NTT Frengki Harim kepada wartawan, Sabtu (3/7).



Dia menilai postingan kritik BEM UI terhadap Presiden Jokowi tidak wajar dan tidak menunjukkan kualitas akademik.

Sebagai agen kontrol sosial, sudah menjadi tugas mahasiswa mengawasi dan mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Tapi menurut dia kritikan tidak dilayangkan untuk menyerang personal presiden.

Apabila kebijakan atau peraturan yang diberikan pemerintah memberatkan dan merugikan masyarakat, kata dia, tentu BEM harus bersuara dan memberikan solusi agar pemerintah melakukan apa yang menjadi aspirasi dari masyarakat.

Namun sebaliknya, kata Frengki, apabila program pembangunan yang dilakukan pemerintah bermanfaat namun tidak ada dukungan dari masyarakat, sebagai kelompok intelektual, mahasiswa harus objektif dan bersuara agar masyarakat memahami tujuan dari pembangunan tersebut.

Sebagai rakyat NTT, Frengki tidak memungkiri bahwa Jokowi adalah presiden yang mencintai mereka dengan sepenuh hati. NTT yang terkenal dengan daerah tertinggal sangat merasakan pembangunan di era kepemimpinan Presiden Jokowi.

"Kami sebagai anak miskin di NTT sangat merasakan KIP di masa Jokowi. Kami sebagai masyarakat petani dimana NTT yang selama ini merasakan kekeringan dan disebut 'sumber air sudah dekat', pada masa pemerintahan Jokowi telah dibangun tujuh bendungan, dan semua akan rampung tahun 2024. Ini adalah pembuktian dari kata-kata Jokowi," tandasnya.


Oleh karena itu, ia meminta mahasiswa untuk objektif memberikan penilaian dan kritik atas pembangunan yang dilakukan oleh pemerintahan Jokowi.

"Saya bukan pro atau kontra dengan Jokowi, tetapi saya bersama masyarakat dan Presiden Jokowi untuk mewujudkan Indonesia Maju. Kami meminta mahasiswa di Pulau Jawa bisa melihat pembangunan yang saat ini dilakukan Pemerintah Jokowi di luar Jawa," pungkasnya.

Senada dengan BEM Universitas San Pedro NTT, BEM se-Jabodetak juga menyayangkan kritikan yang dilakukan oleh BEM UI.

Koordinator BEM se-Jabodetabek Budi Rahmansyah menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh BEM UI tidak ada korelasinya dengan solusi atas krisis yang dirasakan oleh Indonesia.

"Tidak ada korelasinya mengolok-olok presiden dan perubahan keadaan krisis saat ini. Apakah dengan BEM UI mengolok-olok Jokowi lantas Covid langsung hilang dan krisis langsung selesai?," katanya.

Dia mengatakan, yang mahasiswa rasakan saat ini adalah rasa duka akibat banyak keluarga mereka yang sakit bahkan meninggal gara-gara terkena serangan virus Corona.

"Saat ini yang kami rasakan dan banyak dari keluarga mahasiswa yang berduka karena keluarga mereka banyak yang sakit bahkan meninggal karena Covid," tandasnya.

Karena itu dia menilai kritikan terhadap Presiden Jokowi merupakan upaya BEM UI mengambil kesempatan politis di tengah kesulitan rakyat akibat pandemi Covid-19.

"BEM UI tanpa pernah mengetahui perasaan kita mengambil kesempatan politis di saat yang sulit," ungkap Budi.*

Sumber: Suara.com

Posting Komentar untuk "Jokowi Dikritik BEM UI, Mahasiswa NTT Pasang Badan"