Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SMA Ilebura Flores Timur: Cahaya Kecil dari Tanah Nagi

Para guru SMA Ilebura di Flores Timur/AA.

Ab ortu lucis (Cahaya Kecil dari Timur) mungkin merupakan ungkapan yang tepat untuk menggambarkan independensi berdirinya salah satu SMA baru di Kecamatan Ile Bura, Flores Timur, NTT. Sekolah ini lahir dan dikelola masyarakat.

Berdirinya SMA Ilebura atau dikenal dengan SMA IBR menjawab kerinduan masyarakat di Kecamatan Ilebura selama bertahun-tahun.

Di Ilebura sendiri ada tujuh desa, yakni Desa Nobo Konga, Nurri, Birawan, Lewoawan, Ile Bura, Dulipali dan Riang Rita.



Sejak tahun 2019, gema pembentukan SMA IBR sudah mulai didengungkan masyarakat. Akhirnya dibentuklah yayasan yang bisa mewadahi aspirasi pembentukan sekolah.

Melalui Yayasan Persekolahan Masyarakat Ilebura (YAPERMAS IBR), ide pembentukan SMA IBR akhirnya terwujud pada 2021. Yayasan berdiri dengan Akta No. 1 Tahun 2019.

Berdirinya SMA baru ini menambah barisan SMA yang berkiprah di Flores Timur, untuk memberi harapan bagi generasi masa depan.


Adapun independensi SMA IBR bisa kita raba dalam visi dan misi pendirian sekolah ini, yaitu
"Mewujudkan masyarakat Ile Bura yang bebas dan merdeka dalam Intelektual."

Visi tersebut dijabarkan lebih mengerucut pada 2 misi, yaitu: 1) Mengembangkan dan meningkatkan SDM Ile Bura yang berdaya saing dan berkarakter; dan 2) Pendekatan pelayanan kepada masyarakat, agar masyarakat Ile Bura dapat tertolong dalam semua aspek kehidupan (ekonomi, politik, sosial, budaya dan hukum), agar menjadi subjek pembangunan yang maju, mandiri, dan berkepribadian. 

Perumusan hingga tercetusnya visi dan misi ini melibatkan beberapa stakeholder, antara lain Camat Ilebura selaku Pembina Yayasan, panitia dan pengawas serta para guru yang lolos seleksi menjadi tenaga pengajar dan tenaga pendidik di sekolah ini.

Perumusan visi-misi ini berlangsung alot dan kooperatif karena dibingkai dalam suasana tes atau wawancara terakhir seleksi penerimaan guru dan tenaga kependidikan.

Semua masukan terdata kemudian diolah, menjadi salah satu rumusan baku, berkualitas, sinergis dan tepat sasaran.

Visi dan Misi tercetus menjadi landasan atau koridor bagi setiap individu yang berkecimpung di bawah payung YAPERMAS IBR.



Labore et Cooperantur

Penyematan istilah ini pada visi SMA IBR diharapkan bisa mendorong kinerja seluruh komponen yang bernaung di sekolah ini, terutama bagi tenaga pendidik.

Bahwa baik Kepala Sekolah maupun para guru yang akan berbakti dan mengabdi pada sekolah baru ini akan harus "bekerja sama dan sama-sama bekerja" membangun model pendidikan yang humanis, independen dan berkepribadian, berasakan persaudaraan dan kekeluargaan di SMA IBR nantinya.

Terutama, setiap subyek mengambil bagian secara aktif, mengeluarkan segala kreativitas individu demi menyukseskan agenda besar yaitu pembukaan Tahun Ajaran Baru yang sedianya akan dilaksanakan pada 12 Juli nanti.
 
Inilah adalah momen yang paling ditunggu-tunggu. Momentum yang paling menentukan bagi para pejuang kemanusiaan untuk mengawali proses pendidikan sebuah sekolah baru yang lahir dari kebutuhan masyarakat.


Qualitas Quantitati Praeeminet

Ungkapan ini artinya "Kualitas lebih diutamakan daripada kuantitas."

SMA IBR adalah sekolah baru yang tidak terlepas dari banyak keterbatasan. Tetapi dalam keterbatasan itu, sekolah ini berikhtiar mengedepankan kualitas pendidikan. Bukan jumlah yang dilihat, tapi mutu yang akan diperjuangkan dan ditanam di sekolah ini.

Stephanus Gelang Temu, selaku Kepala Sekolah terpilih, akan memimpin kiprah lembaga pendidikan ini. Sementara itu, tenaga pengajar berjumlah 12 orang, 1 orang guru BK, 1 orang operator dan 1 orang tenaga Tata Usaha.

Semua komponen ini telah berjanji memberikan pelayanan terbaik kepada para murid yang akan menuntut ilmu pada SMA IBR. 

Para murid yang notabene didominasi oleh putra-putri daerah setempat dan beberapa dari luar daerah, akan menjadi tonggak sejarah atau peletak dasar berdirinya SMA IBR. 

Mereka bukan lagi "batu yang dibuang oleh tukang bangunan", tetapi "batu penjuru" yang ditempa menjadi lebih kokoh dan berkualitas guna dinamikan kemajuan zaman.

Globalisasi dengan segala bentuk perkembangannya melahirkan realitas ambiguitas bagi generasi muda. Karena itu, mereka perlu digembleng agar mampu menanggapi risiko derap perubahan zaman yang tidak bisa dibengung lagi.

Sekolah ini melihat bahwa pola interaksi individualistik menjadi bahaya pada kalangan muda. Semangat antisosial didengungkan untuk menutup diri dari dunia luar. Mereka asyik dengan dunianya yang diakses pada layar handphone, smartphone, atau mobilephone.

Lebih dari pada itu paradigma berpikir dan berbicara diformulasi sesuai pemahaman kalangan mereka. Eksistensi Bahasa Indonesia yang baku perlahan bergeser dan digantikan oleh bahasa alay. Inilah fakta kecemasan yang perlu ditanggapi. Hadirnya SMA IBR, yang berafiliasi  dan bersinergi dengan segala pemangku kepentingan, instansi-instansi setempat, merasa perlu bertanggung jawab merespon realitas degradasi nilai zaman ini.

Masyarakat Ile Bura patut bersyukur karena kehadiran SMA IBR sudah di ambang batas penantian. Ucapan syukur itu dinyatakan dalam semangat gotong-royong, bahu membahu membangun gedung sekolah. 
Mereka memberi lebih dari keterbatasan. Air mata dan peluh bercucuran bukan tanpa alasan. Satu alasan yang pasti ialah mereka tak mau lagi tertipu oleh kekejaman dunia ini.

Pendidikan bagi masyarakat Ilebura adalah wadah dan lencana melepaskan penat kebodohan dan keterbelakangan. Mereka telah menyematkan secara erat atribut SMA IBR di dada mereka. IBR di dadaku, demikian ungkapan sederhana yang pas apabila melihat perjuangan masyarakat Ile Bura. 

Mereka telah menyematkan kemenangan sebelum pertandingan dimulai. Keyakinan dasar inilah yang mengharuskan mereka berjuang tiga kali lipat untuk menyamai rekor kecamatan sekitar. Jika kecamatan lain punya SMA, kenapa kami tidak?

Laeta Finis (Akhir yang Membahagiakan)

SMA IBR sudah, sedang dan akan berdiri selamanya di tanah Ile Bura. Gemanya akan membangunkan semua penghuni Nusantara dan dunia. Cahayanya akan mampu membuka tabir kegelapan pengetahuan umat manusia. 
Kita patut berbangga, bahwa kehadiran sekolah ini pertanda usailah sudah perdebatan, kesalahpahaman antara warga masyarakat Ile Bura, juga kungkungan keterbelakangan pendekatan pelayanan pendidikan.

Mari kita sama-sama mendukung niat baik ini agar SMA IBR menjadi rumah pengetahuan yang lezat yang mansuplai nutrisi pengetahuan bagi peserta didik menjadi berkarakter dan berdaya saing di kancah lokal dan global.

Prospera semper.
"Berjayalah selalu" SMA IBR tercinta.

Penulis: Arkas Aran, S. Fil
Guru pada SMA IBR

Posting Komentar untuk "SMA Ilebura Flores Timur: Cahaya Kecil dari Tanah Nagi"