Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lebih Dekat Mengenal Akidi Tio: Agama, Kehidupan Pribadi hingga Lini Bisnisnya

Anak bungsu Akid Tio, Heriyanti, menyerahkan sumbangan Rp2 triliun kepada Kapolda Sumsel Irjen Pol Eko Indra Heri.

Sosok Akidi Tio masih menjadi tanda tanya publik. Siapa gerangan orang kaya itu? Apa pula agama dan lini bisnisnya dan bagaimana latar belakang kehidupannya sehingga begitu dermawan memberikan uang tunai yang begitu besar di masa pandemi COVID-19.

Senin, 26 Juli lalu, dia membuat masyarakat Indonesia geger. Tidak main-main, pengusaha yang hampir tidak terkenal sama sekali di kalangan pebisnis dan konglomerat Indonesia itu menyumpang Rp2 triliun uang tunai kepada Kapolda Sumatra Selatan, Irjen Pol Eko Indra Heri. Bantuan itu diberikan langsung oleh salah satu anak bungsunya yang bernama Heryanti yang berada di Palembang. 

Katanya, dana itu diperuntukkan bagi penanganan COVID-19 dan juga layanan kesehatan di Provinsi Sumsel.

Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan, bantuan tersebut diberikan melalui Eko dalam kapasitas pribadinya, bukan sebagai Kapolda Sumsel. Jadi dana tersebut belum tahu dikemanakan. Tapi yang jelas, sesuai tulisan pada kotak sumbangan, dana itu untuk penanganan COVID-19 meski atas nama pribadi Kapolda Eko.

Pemberian dana hibah kepada Kapolda Eko bukan tanpa alasan. Eko dan Akido diketahui telah lama bersahabat sejak keduanya pertama kali bertemu di Langsa, Aceh Timur beberapa tahun silam. Saat itu, Heri menjabat sebagai Kapolres Langsa, sedangkan Akidi Tio adalah pengusaha di daerah tersebut.

Medio 90-an, Eko tidak sengaja bertemu Johan alias Ahok, salah satu dari tujuh anak Tio, sebagai penjual es. Mereka menjadi teman sampai mati. Akido Tio sendiri meninggal pada tahun 2009 dalam usia 89 tahun, lalu diikuti oleh Johan. Sudah 12 tahun lalu wasiat akhirnya direalisasikan tahun ini.

Dari catatan Dahlan Iskan di Disway.id, istri Akidi Tio dilaporkan meninggal lebih dulu, yaitu pada tahun 2005 di usia 82 tahun. Mereka memiliki tujuh anak. Semuanya sukses sebagai pebisnis. Satu anak tinggal di Palembang, dan enam lainnya di Jakarta.

Lalu, seperti apa bisnis dan kehidupan pribadi Akidi Tio sang dermawan ini?

Akidi Tio lahir dan besar di Langsa, Aceh Timur sekitar tahun 1920. Salah satu adiknya memiliki pabrik di Langsa. Sementara Tio sendiri diketahui terlibat dalam bisnis infrastruktur dan konstruksi. Tetapi beberapa sumber mengatakan bahwa Tio memiliki bisnis di perkebunan kelapa sawit.

Prof. Dr. dr. Hardi Darmawan, dokter keluarga Akidi Tio secara turun temurun, mengatakan bahwa mendiang keturunan Tionghoa itu terlibat dalam bisnis baja dan peti kemas.

Dokter Hardi adalah Guru Besar Fakultas Kodekteran Universitas Sriwijaya Palembang. Ia juga adalah aktivis Gereja Katolik Palembang, termasuk mendirikan lembaga pendidikan Katolik, Caritas

Dia bahkan pernah mendapat penghargaan medali dari Sri Paus.

Persahabatan Dokter Hardi dengan Tio juga telah lama terjalin. Dia dipercaya keluarga Tio menjadi dokter keluarga selama kurang lebih 36 tahun lamanya.

Kepada Dahlan Iskan, Dokter Hardi mengatakan bahwa pemberian sumbangan sosial tersebut merupakan niat tulus dari almarhum Akidi Tio kepada Kapolda Eko.

Dia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai tujuan dan peruntukkan dananya. Intinya, untuk penanganan COVID-19. Tapi dana tersebut ditransfer ke rekening pribadi Eko dan bukan ke Pemprov Sumsel.

Dokter Hardi bercerita bahwa selama hidupnya, Tio sudah terbiasa memberikan sumbangan. Dia orang yang sangat dermawan. Tapi sangat sederhana. 

Satu hal yang menjadi istimewa adalah Tio memberikan sumbangan itu atas nama "hamba Tuhan". Dia tidak memberi kelebihannya, tapi dari rezeki yang diberikan Tuhan atas hidupnya. Dia sungguh menyadari penyelenggaraan Tuhan atas hidupnya.

"Setiap datang ke tempat praktik saya selalu hanya mengenakan baju dan celana putih. Beliau banyak sekali menyumbang. Tapi selalu hanya atas nama hamba Tuhan," ujar Dokter Hardi kepada Dahlan Iskan.

Sampai saat ini, banyak orang masih terheran-heran dengan ledakan peristiwa langka yang terjadi di Indonesia tersebut. 

Hampir tidak pernah terjadi peristiwa ini sebelumnya. Banyak orang mulai bertanya, apa agama Akidi Tio sebenarnya sehingga dia bisa mengagetkan para konglomerat di Indonesia yang mungkin jauh lebih kaya.

Beberapa orang mengatakan bahwa Akidio adalah seorang Kristen atau Katolik. Namun beberapa lainnya mengatakan agamanya adalah Buddha dan juga Konghucu. 

Di berbagai pemberitaan media, hampir tidak ditemukan identitas keagamaan Akidi Tio. Bahkan keluarganya tidak pernah membocorkan hal itu.

Namun sebetulnya, dari persahabatan Akidi Tio dengan Dokter Hardy kita kita bisa ketahui bahwa jika Akidi Tio barangkali merupakan anggota Gereja Katolik.

Satu hal yang menegaskan identitas agamanya adalah bahwa dia selalu memberi donasi dalam nama hamba Tuhan. Istilah hamba Tuhan tidak digunakan sembarangan dalam agama-agama. Istilah ini khusus bagi pemeluk agama Kristen atau Katolik, bukan di Buddha atau Konghucu. 

Dan mengingat keluarga Akidi Tio begitu dekat dengan Dokter Hardi, hampir dipastikan keyakinan Akidi Tio adalah Katolik.

Satu hal lain yang mengafirmasi keyakinan Akidi Tio sebagai orang Katolik adalah spiritualitas hidup sederhana yang ditanamkannya di dalam keluarganya. 

Dimana dia selalu berpesan kepada anak-anaknya untuk memberi sedekah kepada orang-orang miskin dari kekayaan yang mereka peroleh sebagai berkat Tuhan. Akidi Tio sendiri diberi kesaksian oleh Dokter Hardy sebagai sosok yang amat sederhana.

Di Indonesia, sudah menjadi hal yang lumrah oran-orang kaya Katolik menyumbangkan kekayaan mereka untuk pembangunan Gereja dan komunitas umat beragama. Nominal pemberian mereka bahkan tidak tanggung-tanggung. Di gereja-gereja Jakarta, minimal kolekte yang terkumpul dalam seminggu bisa menyentuh angka Rp50 juta. 

Bahkan di beberapa gereja, kolekte yang terkumpul bisa mencapai angka Rp150-an juta. Dan Anda tahu, kelompok mana yang paling banyak menyumbangkan kolekte? Tidak lain dan tidak bukan adalah saudara-saudara Tionghoa.

Ini membuktikan bahwa banyak orang kaya Katolik di Indonesia yang memberi tanpa ingin menonjol di antara para saudara yang lain. Mereka memberi dengan ketulusan.

Dan untuk Akido Tio, barangkali dia menghayati apa yang tertulis dalam Kitab Injil: "Tetapi jika engkai memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu" (Mat 6:3).

Dari cerita ini, ada satu hal yang jelas, bahwa donasi Tio telah membuka mata sebagian besar masyarakat Indonesia, dan yang lebih penting, orang-orang elit, termasuk di lingkaran Istana Negara.

Bisakah orang terkaya Indonesia lainnya, yang sering terlihat di Istana Negara, berkontribusi lebih dari almarhum Akidi Tio, terutama ketika pemerintah kekurangan biaya untuk menangani masalah COVID-19 saat ini?*

Posting Komentar untuk " Lebih Dekat Mengenal Akidi Tio: Agama, Kehidupan Pribadi hingga Lini Bisnisnya"